"Abah ...." "Apa sayang?" "Abah sayang Nadi, sayang Suhu Nares. Apakah Abah juga masih sayang, Mama?" Rahmadi terkedu. Jalinan tangannya pada jemari mungil itu terlepas. Dia melihat sisi wajah anak gadisnya sekilas. Fokusnya kembali ke jalan. Tangannya kini mencengkram erat kemudi. Dengan Erlita dia membangun mahligai tanpa cinta. Lalu kandas. Dengan, Nares? Cintakah? Jelas, belum ada cinta itu. Hanya rasa sayang dan kecipak rindu senantiasa datang bertandang. Seakan ombak, rindu itu bertandang terus menerus, tetapi kadang kala ianya jauh ada di tengah samudra yang tak terjangkau Rahmadi. Dia sendiri tak pasti dengan perasaannya. Rahmadi merasa berdebar. Debaran yang dahulu ingin dia tepis jauh. Nadinya bahagia, nyaman. Apapun itu yang membuat putrinya bahagia dan nyaman, hukumnya menj

