Edisi flashback panjang sudah hampir kelar ....
Selamat membaca, semoga berkenan.
-----------
Ari selalu bahagia berjumpa dengan hari Jum’at. Hari Jum’at memang istimewa dan utama. Penciptaan Nabi Adam pada hari Jum'at, juga saat Sang Nabi harus terusir dari syurga ke bumi karena tidak dapat menghadang permintaan pelik Hawa soal buah terlarang.
Ari sendiri lahir di hari Jum’at Legi pada waktu Dhuha. Sedangkan hari ini adalah Jum’at terakhirnya berada di Cidanau Tirta Industri meskipun masih ada empat hari lagi keberadaanya di tempat magang untuk menggenapkan dua bulan. Dia telah mengajukan absen untuk dua hari. Senin dan Selasa depan. Jadi ….
“Woi, senyum sendiri,” cibir Pak Imam yang menyembul dari pintu ruangan arsip dengan wajah merah padam.
"Assalamualaikum, Pak."
“Waalaikumussalam. Buat apaan, Ri?” imbuhnya.
“Persiapan interview, haaa … gaya, ya, Pak.”
Ari memainkan tape recorder di tangannya. Ada dua kaset kosong berada di atas meja. Sekali lagi Ari menoleh pada pria yang kini berdiri menjulang di sampingnya.
"Interview?"
“Iya. Apa Pak Imam? Hari ini, kok, enggak ganteng maksimal, ya?”
“Kamu itu ….”
Tangan Pak Imam berniat menepuk kepala Ari. Namun, gadis itu menelengkan kepalanya mencoba menghindar. Tidak elok rasanya apalagi mereka hanya berdua di temani desisan suara AC.
"Eh," tepis Ari.
“Biasanya terlihat ganteng maksimal, ya?”
“Woi, iya. Banget.”
Ari menghentikan gerakan menekan tombol, lalu mengangkat jari, kembali menekan, menghapus rekaman suaranya sendiri.
“Gini, Pak. Saya ada nasihat. Nasihat bocah, bukannya kurang ajar, sih. Pak Imam itu ganteng, tapi jangan keseringan senyum gitu. Iya, sih, senyum itu sedekah, kalau keseringan bisa membuat orang salah paham.”
“Dikira gila gitu?”
“Enggak, juga. Kalau enggak imun bahaya. Kalau imunitasnya rendah, bisa terinfeksi virus naksir, Pak.”
“Masak, iya. Siapa? Kalau kamu nggak sampai naksir, ‘kan?”
Ari tergelak. Teringat puja puji Kamila pada pria di sampingnya itu.
“Saya, enggak mungkin, ada acara naksir, hahaha. Pak Imam dan semua bapak-bapak di sini ini, ya, sedari awal lagi, sudah saya anggap guru. Digugu lan ditiru. Diambil suri tauladanya."
"Bermakna masih ijo. Belum siap naksir cowok, belum siap berbagi, ya."
"Nanti Ari kalau sudah siap, nggak pakai naksir-naksir kacang buncis. Taaruf aja. Kecuali memang dapatnya teman sendiri, nggak usah kenalan lagi. Langsung ke KUA.”
“Jadi, nggak kepikiran bakal langsung nikah dalam waktu dekat atau pasca wisuda nanti?” Ari menggeleng cepat.
“Mikirin ngumpulin data aja ngos-ngosan, mana kepikiran lulus terus kawin.” Ari tergelak. “Kasihan Ibuk, sih. Nyenengin beliau dulu.”
Ari memandang langit-langit ruangan sekilas. Teringat akan ibunya yang seorang janda. Entahlah, yang jelas Ari tidak pernah memiliki ingatan tentang ayahnya. Dari foto yang ada lah ia tahu seperti apa ayahnya yang konon seorang pelaut.
Ada yang bilang pelaut itu istrinya banyak. Bisa jadi ayahnya tidak pulang karena bersama perempuan lain. Memiliki anak lain. Ada juga yang membawa cerita, bahwa ayahnya tenggelam karena kapalnya diterjang badai. Cerita paling ekstrem adalah kapal tempat ayahnya bekerja hilang di segitiga bermuda.
Itu tentu saja mengarut. Dari kurun waktu dia balita, tidak ada laporan kehilangan atau tenggelamnya kapal.
Namun, Ari tidak peduli. Rasanya kasih sayang Ibu tiada galang ganti. Tidak yang kurang. Keluarga dari pihak ayahnya juga biasa saja. Mereka tidak pernah membuka cerita soal ayahnya.
"Kamu anak bungsu, ya?"
"Iya, Pak. Kelihatan, ya, Pak? Ada stempelnya gitu."
"Iya, kelihatan, sih. Meskipun nggak manja, tapi suka angin-anginan. Berapa saudara?"
"Bapak telat baru tanya sekarang." Ari terkekeh. "Saya tiga bersaudara. Dua lelaki dan saya bungsu."
"Abang semua sudah menikah?"
"Sudah. Abang saya yang tengah justru menikah saat masih kuliah."
"Oh, ya? Wah, biasanya cewek banyak yang seperti itu."
“Iya. ada, sih. Hebat juga teman kuliah, ada yang menikah pas semester tiga kemarin. Suaminya lumayan, sih. Pilot, tetapi duda. Kebayang, repotnya. ”
“Karena duda?”
“Iya, enggak tahu. Dia sering absen, nggak tahu kenapa?”
Pak Imam yang tadinya berdiri, kini menyeret kursi, duduk mendekat pada Ari. “Duda cerai hidup atau cerai mati?”
Ari menghentikan gerakan jarinya yang sibuk memutar kaset dengan pena. “Ada apa, ya, Pak? Kok, Pak Imam detail gitu, nanya? Saya yang mau interview ini.”
Pak Imam menggaruk rambut cepaknya.
“Gini, Nong, soalnya, pas kamu ikut senam tiap hari Jum’at pagi, pasti ada yang nyeletuk. 'Bisa jadi, mahasiswi yang kelihatan alim gini terlibat nikah mut’ah gitulah', yang lagi trend. Pernah dengar?”
Ari langsung menegakkan badannya.
“Pernah. Ari bahkan pernah interview. Sosok yang mengamalkanya hal itu dari kalangan mahasiswa. Sempat heboh juga yang menjadi dilematis. Nikahnya sama ekspatriat, gitu.” Ari merendahkan suaranya, “Memang ada yang omong gitu di belakang? Ngomongi, Ari?”
Pak Imam mengangguk, membuat gadis berkerudung coklat tua itu tersenyum kecut. Pria di depannya tidak memperlihatkan semacam gelagat kalau itu sebuah gurauan.
“Itu untuk interview apa? Tema apa?”
“Bapak tahu dunia remang-remang tidak hanya dihuni kupu-kupu malam. Nyebong, tau?”
Pak Imam menggelengkan kepala. Pria itu tampak melipat lengan baju atasan berbahan denim itu. Iya, pria itu memang memakai seragam lapangan hari ini.
“Waria yang menjajakan diri.”
“Kamu!? Hati-hati, Nong. Itu lebih bahaya dari ketemu buaya di Rawa Dano.”
Ari hanya tersenyum dikulum. Apalagi, saat melihat wajah Kabag Pengadaan Air yang biasanya seperti oase, segar di mata, kini terlihat keruh.
“Bapak tadi mau ngapain ke ruang arsip? Nanti ada yang curiga, lho!” Ari menyipitkan matanya. "Ini masuknya berkhalwat. Berdua-duaan."
“Kalau dunia kerja susah, ya, Nong. mesti ada waktu berkhalwat itu tadi. Bagaimana kamu nanti kerja?"
"Nanti saja. Ari ingin di LSM." Pak Imam mangut-mangut mengaminkan aoa yang jadi keinginan Ari di masa depan.
"Nih, mau kasih foto-foto di Rawa Dano.” Pak Imam menyodorkan cakram padat. “Data debit semua sudah, ya. Ini, foto gulma, flora dan faunanya juga sudah ada, ya.”
“ER, apaan, Pak?” Ari menimang cakram padat berwarna metalik tersebut. Ada tulisan ER kecil. Dia seperti berusaha mengingat sesuatu. “Emergency Room?” Mau tak mau mereka berdua tertawa.
“Inisialnya Pak Bos, itu. Dokumen pribadinya, Pak Rahmadi. Saya pinjam, karena kamu enggak mau minta sama beliau. Foto-fotonya diambil tahun lalu.”
"Oh."
Eko Rahmadi. Itu ER. Bukan Emergency Room. Password komputernya juga ER2003.
"Kenapa, oh, Nong?
“Yah, kalau niat membantu, Pak Adi harusnya ngasih aja. Kenapa harus nunggu anak magang minta. Aneh buanget.”
Ari mengeser kursinya lalu memasukan cakram padat ke dalam CD-Rom. Gambar yang muncul sangat memanjakan matanya. Aliran sungai yang meliuk, di bawah rimbun pohon. Sungai yang hanya menyisakan satu meter permukaanya karena dipenuhi tanaman kiambang, enjeng gondok juga tanaman air lainnya. Beberapa gambar monyet, burung dan ular.
Berbakat jadi pesaing Riza Marlon, si Monster Ijo ini, pikir Ari.
“Tugas saya sudah selesai, ya?” helaan napas Pak Imam terdengar keras, membuat Ari menoleh. “Pasti sepi banget sepeninggal kamu.”
“Nambuh kendang, Pak. Pasti riuh.”
“Iya, ntar kalau kamu nikahan, Bapak diundang, ya. Saya yang nabuh kendang.”
Ari tergelak, mengacungkan jempolnya, ketika sosok tegap itu menyelinap menuju pintu, berlalu diiringi tawa panjang.
Ari lantas berdiri, melarikan pandangannya pada ruangan yang sudah dia tempati hampir dua bulan ini. Kilasan suara tinggi dari manajer yang mengherdiknya, para kabag yang begitu terbuka menyambut kedatanganya, teman magang yang bahkan dia tak sempat untuk sekadar bertandang ke rumah mereka satu per satu.
Dua bulan yang lumayan menguras isi dompetnya, karena harus pulang-pergi Cilegon-Bogor setiap akhir pekan. Meninggalkan kehidupan kampus, rohis, para murid bimbel juga perjumpaan dengan sosok se-fenomenal Amanda.
Dia tidak menyesal. Banyak ilmu yang bisa berhasil diserapnya.
Ari melirik pergelangan tangannya, sudah setengah empat sore, saatnya konsultasi. Mungkin akan jadi konsultasi terakhirnya. Dia membereskan semua kertas yang berserak, meraih binder clip, menjepitnya draf laporannya dengan rapi.