Terkadang saat kita bergaul dengan orang tua, tidak di manapun pasti ada nasihat-nasihat tentang jodoh. Enggak nyambung nggak apa-apa, ya.
--------------------------------
Saat itu awal bulan April, dari Bahasa Latin 'Aperire' yang artinya membuka.
Cuaca cerah seperti biasa, tetapi muram di beberapa sudut, salah satunya sudut hati Ari. Rombongan magang dari Serang menyisakan anak SMK Kelompok Administrasi dan Perkantoran di kantor pusat. Sedangkan yang tersisa di produksi hanya dirinya. Praktis sendirian memonopoli komputer di ruang arsip yang selama ini menjadi rebutan anak magang.
Ari memang mendengar suara gemuruh, tepuk tangan, saat keluar ke toilet. Ada suara merdu orang menyanyi.
Wah, ternyata si Monster Ijo punya suara empuk seperti roti bolu kukus, cibirnya dalam kesendirian.
Ari memang sudah tahu, perusahaan sedang mengadakan perayaan ulang tahun. Sesaat tadi, Pak Imam juga menawarinya untuk bergabung, tetapi ia enggan. Sekarang dirinya terkantuk-kantuk di depan komputer untuk memperbaiki draf laporannya. Kebengongannya di depan komputer diinterupsi oleh pesan dari anak rohis di kampus. Ari berdiri berusaha membalas pesan ketua bironya. Gadis itu harus berdiri di pojokkan dekat jendela agar mendapat sinyal.
[Jum'at ada demo bsr soal MP , tulis dr skrg, Ukh. Demo buruh jg, klo gak bs plng, ]
Ari memandangi layar ponselnya yang berkedip-kedip. Masalahnya saldo pulsanya habis, menyisakan bonus yang tidak bisa digunakan. Nomor Kabironya beda provider dengan dirinya.
"Argh! Piye iki?"
"Bocah, kamu lagi ngapain mojok di situ?"
"Astagfirullah, kaget saya, Pak."
Ari yang masih mengangkat tinggi-tinggi ponselnya terkejut ketika pintu ruangan arsip terbuka. Rahmadi membawa masuk dua kotak berwarna putih, menaruhnya di atas meja.
"Kenapa mojok di situ?"
"Anu, Pak, cari sinyal. Ada mandat dadakan."
Ari melirik kotak bersusun dua itu. Meski dari jauh dia mampu mengeja tulisannya; 'Selamat menikmati'. Sesungguhnya tidak berani juga Ari langsung kegeeran dan mengklaim kotak makan itu. Sesuatu yang membuat perutnya bergejolak ingin ditentramkan. Akan tetapi, lapar membuat rasa malunya lenyap.
"Buat saya, ya, Pak. Itu nya."
Rahmadi hanya mengangguk lalu meletakkan dua kotak itu di atas meja oval yang berada di tengah-tengah ruang arsip.
"Pak Adi, boleh pinjam ponselnya, bentar gitu. Minta dua sms, boleh, ya, Pak. Pulsa saya habis, tinggal bonus sesama provider, nih."
Pria itu urung membuka pintu ruang arsip. Merogoh sakunya, lalu mengulurkan ponselnya tanpa dipinta dua kali.
Ruang arsip sebenarnya terdiri dari dua ruangan. Depan dan belakang. Bagian depan berisi dua meja meeting berukuran besar beserta layar dan OHP. Sedangkan ruangan ke dua berisi dua komputer, meja meeting ukuran sedang juga rak yang berisi laporan dan banyak data yang berhubungan dengan plant I, II dan III beserta semua hal yang berbau produksi air.
Ari bergegas menerima kebaikan Pak Manajer yang benar-benar baik hari ini. Dari membawakan kotak jatah makan sekaligus meminjamkan ponsel.
"Pak Adi selamat, ya, promosi jadi Kadiv produksi."
"Terima kasih."
Wew, gitu saja. Ari jadi salah tingkah. Masak si bapak diam sedakep melihat ke arahnya terus.
"Pak Adi tahu Majalah Playboy?"
Rahmadi sontak mengerutkan dahi, lalu memandang ke arah jendela. Sebenarnya dia hampir tersedak ludah untuk menjawab pertanyaan yang memancing sisi primitif seorang pria dewasa sepertinya.
Dasar, bocah! Minta diperkedel betul.
Ari terkekeh geli melihat ekspresi kaget pria di depannya. "Jangan gitu, dong, Pak, ekspresinya. Saya hanya bertanya random, sekalian survei. Sesuatu itu wujud, karena ada peminatnya. Prinsip ekonomi, supply and demand. Ya, 'kan?
"Jadi, nggak salah, saya tanya pria matang dan dewasa seperti, Pak Adi."
"Iya, saya tahu. Kenapa memangnya?"
"Kepikiran untuk beli majalahnya itu kalau terbit nanti? Edisi Indonesia?"
"Saya enggak kepikiran beli. Buat apa? Sudah ada istri di rumah, dosa lah berfantasi liar. Meskipun, versi pendirinya, itu bukan sekedar majalah yang menjurus pada seks semata. Beberapa edisinya ada interview dengan tokoh yang dianggap penting. Seperti Martin Luther King Jr, penyanyi John Lenon, juga pemimpin Kuba, Fidal Catro dan banyak lagi.
"Banyak segmen yang beranggapan Playboy adalah majalah tentang gaya hidup. Di mana bagi orang barat dan liberal. s*x merupakan salah satu unsur penting dalam gaya hidup mereka. Kebutuhan biologis yang bila tidak dipenuhi berujung mati. Beda, padangan dengan kita kaum beragama, naluri, hasrat s*x itu bagian dari kasih sayang, tak terpenuhi ya, jiwa hanya akan merana. Tak sampai mati."
Ari mengangga mendengar pemaparan Rahmadi. Panjang, lebar dan ternyata dalam diam bisa juga pria itu berbicara tanpa marah-marah. Tak ada bumbu kerlingan, atau suara terkesan malu-malu. Meski, yah, pria itu tadi sempat terkejut.
Kini, giliran Ari yang bersemu merah. Ibu Erlita sangat cantik, memang tidak ada perlunya, sih, pria di hadapannya ini menambah langanan majalah polos di rumahnya. Membuat bengkak bujet, iya. Akan lebih baik apabila si bapak berlangganan Majalah Trubus. Halaman rumah dinas pegawai CTI lumayan luas. Apalagi level manajer yang naik jenjang jadi kepala divisi.
"Sudah?"
"Iya, sudah, Pak. Terima kasih, ponselnya."
"Kamu, nulis artikel untuk media?" Ari mengangguk, sedikit ragu. "Boleh saya lihat tulisan kamu?"
Ari berjalan menuju komputer, lalu memperlihatkan tulisannya. Yang ada di layar memang bukan ulasan tentang MP, tetapi tentang demo buruh.
Bulan April sampai Mei mendatang buruh bersiap melakukan demo maraton terkait penolakan revisi UU Ketenagakerjaan No 13/ 2003. Undang-undang yang akan digaungkan tahun ini setelah tiga tahun mengalami penggodokan di DPR.
Rahmadi mensejajarkan pandanganya pada komputer, membuat Ari mengeser pelan kursinya. Kedekatan yang membuat gadis itu sedikit meremang. Mereka hanya berdua. Bisa saja ada syaiton yang keluar dari lubang air conditioner. Apalagi Ari bisa melihat ada beberapa t**i lalat kecil membayang pada pipi Rahmadi, ketika mereka bersampingan seperti ini. Ari duduk dan Rahmadi berdiri setengah membungkuk menekuni komputer.
Sekali lagi Ari menelan ludah. Ia gusar.
Meskipun beberapa kali masuk ke ruang manajer untuk sesi konsultasi, tetapi mereka tidak pernah sedekat ini. Wanginya parfum Pak Manajer lembut seperti milik—Amanda.
Ya Allah, kenapa jadi ingat dia, sih? Amanda hust! Hust!
"Kenapa kamu berdesis?" tanya Rahmadi tanpa menoleh.
"Anu. Lapar, Pak." Memang Ari sudah sangat lapar. Matanya nyalang melirik kotak karton dengan gambar bunga mawar itu.
"Boleh saya edit sedikit?" Pria itu justru sudah mengedit beberapa kalimat sebelum meminta izin pada Ari.
"Boleh. Sudah lumayan, ya, Pak, tulisan saya?" bisik Ari.
Rahmadi hanya mengangguk, menoleh sebentar, "Aktif di pers kampus?"
"Lebih tepatnya rohus kampus. Biro Syiar dan Pers, Pak."
"Pantes, pinter kasih ceramah, ya."
"Sampaikanlah walapun satu ayat."
Ketika mata sipit milik bocah magang itu berbinar karena meresposnya, Rahmadi tahu harus lekas pergi dari ruangan ini.
"Oke! Jangan lupa bagi waktu dengan laporan kamu, ya. Nggak usah molor-molor! Malas saya mau kasih tanda tangan juga."
Sepeninggal Rahmadi, Ari mengikik dalam diam. Sempat juga bergoyang-goyang tidak jelas, mumpung tak ada orang di ruangan arsip.
Banyak yang bilang meski telah berhijrah, sikapnya terkadang ekspresif. Baginya, tak masalah, toh, hanya kepada orang yang benar-benar dekat saja. Tidak lantas kalem seperti Ndoro Putri berbicara lemah lembut, klemak-klemek.
Ari bergegas melirik kotak makan itu. Secepat kilat ia keluar untuk cuci tangan, secepat itu juga ia duduk dan menyantap hidangan ayam bakar dengan lalapan di hadapannya.
"Ting ... tong! Udah, makan ternyata?"
"Eh, Pak Imam. Iya, Pak. Mangga ...."
Salah satu yang tidak mengenakkan berada di ruangan arsip adalah, penghuninya tidak akan tahu kalau ada orang berkepentingan masuk ke dalam. Kondisi luar yang seperti kedap suara itu penyebabnya. Ari pernah beberapa kali terjebak saat melakukan hal nista.
Sebenarnya bukan rahasia bagi sesama anak magang, sih. Seperti rebahan di kolong meja meeting, karena meski di bawah hanyalah karpet bulu penuh tungau, tetapi sangat nyaman. Pernah juga, dirinya kedapatan terliur di antara setumpuk data debit sungai dan waduk.
"Mau nambah, biar kenyang, biar cepat gede."
"Sudah gede ini, Pak. Kalau boleh itunya, snack. Buat oleh-oleh Kamila. Makannya udah kenyang ini," tunjuk Ari pada kotak makan yang masih setengah.
"Nih. Nasinya gak papa. Kasih Kamila sekalian."
"Hari ini, syukur alhamdulillah, banyak rezeki. Tumben, Pak Manajer baik memberi Ari kotak makan. Tadi saya sempat pinjam ponsel buat balas sms teman juga."
"Masih ingat yang Pak Rendy bilang, Pak Manajer itu baik. Apalagi sama kamu." Pak Imam menaikkan alisnya sambil tersenyum mengejek.
Ari menusuk dadanya sendiri. "Iya, baik ternyata. Enggak jutek, nggak banyak omong juga, persis air Waduk Nadra yang tenang tanpa riak, kecuali tadi. Mungkin, kasihan liat saya kesepian di sini." Ari terkekeh, memilah tulang ayam dengan dagingnya, sambil menyendok nasi. "Yang Pak Imam, naikin alis kenapa?"
"Lucu ngliatin kamu cerita. Mengemaskan."
"Idih, Pak Imam. Apanya yang lucu, coba." Ari menelan suapannya, memandang sengit pada Pak Imam.
"Oke. Nggak lucu. Tapi lihat kamu, Bapak jadi ingin tertawa terus." Imam Junaidi lagi-lagi memamerkan senyum lebar.
"Aturan Ari iku Ketoprak Humor. Jadi anaknya Yati Pesek!"
"Ari-Ari. Humor kamu memang tiada duanya."
"Ck, begini, Pak. Kemarin kapan itu, saya pernah numpang mobil Pak Adi. Terus ada Bu Erlita. Yang Jum'at waktu itu, Pak. Nah, tahu apa yang Ibuk bilang: hati-hati sama Juned, dia itu ganjen!" Ari menirukan suara Bu Erlita.
Imam Juanidi lagi-lagi tergelak mendengar laporan Ari. Pria itu menghampiri tempat Ari yang masih berkutat dengan makan siangnya. "Kamu memang harus hati-hati, Nong. Tapi bukan dengan saya."
Imam tahu setiap anak magang gagal ke lapangan, terutama jelajah tempat yang sedikit ekstrem, dia mendapat mandat untuk membawa anak-anak ke tempat makan atau sekedar piknik sekitar Anyer. Tentu menjadi jangal, karena bukan sekali ini perusahaan menerima anak magang. Meski baru kali ini ada anak magang berjenis kelamin perempuan di Departemen Produksi. Dia tahu, kedatangan Ari memang mengusik sisi melankolis bosnya.
Di matanya, apa yang dilakukan Rahmadi antara kangen Shinta dan naksir gadis bernama Nareswari beda tipis ternyata.
Pak Imam meraih pegangan pintu, membukanya, "Bapak keluar dulu, takut yang di luar bingung dan mati penasaran nanti," ujar pria itu menutup pintu sekaligus mengedipkan satu matanya.
"Idih beneran ganjen. Ganteng, sih, iya, tetapi kalau ganjen gitu, wah, makan ati, deh!"
Ari bersungut keras. Padanganya menerawang pada ruangan kosong itu. Dia teringat Kamila. Kenapa sahabatnya itu bisa menyukai tipe pria dewasa, matang pengalaman dan yah, punya hobi tebar pesona seperti Pak Imam.
Jujur saja, kalau ada jodohnya nanti dengan siapapun, Ari lebih memilih tipe pria pendiam, bukan pendiam seperti arca. Tak perlu terlalu menawan, asal nyambung, baik, saleh, pintar cari duit.
Hah, kenapa pikirannya ngalantur tentang kriteria jodoh, ya?