"Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya". - Ali bin Abi Tholib-
--------------
Rahmadi menggantung kalimatnya, "Dua belas tahun, ya. Dan ...."
Dua belas tahun rentang waktu yang panjang. Bocah magangnya masih setia dengan jubah labuh meski sedikit berbeda dari pemilihan warnanya. Masihkan dia berpegang juga pada prinsip ndakik tentang banyak hal-hal religius. Prinsip lurus tanpa kelokan yang membuat Rahmadi membandingkan si bocah magang dengan sosok lain di hatinya.
Pada masa lampau, di sela-sela konsultasi laporan, terkadang ada saja sentilan untuk mengajak gadis itu berdebat. Akan tetapi, harus diakui, yang di hadapannya kini bukan gadis ingusan lagi. Perempuan muda ini berani bertentang mata, dia juga menjelma jadi sosok yang luar biasa menawan. Bukan bermakna dahulu sosoknya tidak menawan. Sama menawannya. Hanya saja sosok yang ini memang serupa bunga yang mahal.
Pada pandangan Rahmadi, perempuan ini lebih bersinar, bersih terawat, tetapi secara bersamaan auranya menghipnotis dan mematikan. Entahlah. Debaran yang sulit untuk ia terjemahkan. Meskipun perempuan ini memiliki penampilan yang mungil dan halus.
Seperti lily of the valley yang memiliki aroma manis, tetapi sangat beracun. Dari sekadar muntah samoai srangan jantung. Our ladys tears itu nama lainnya. Ada banyak tangis akan tercipta. Seperti saat Hawa turun ke bumi. Semoga saja itu hanya halusinasi. Toh, Rahmadi bukan seorang cenayang.
Yang jelas Rahmadi melihat banyak perubahan lumayan mencolok yang masih enggan dia cetuskan.
Semoga keluarga Bapak baik-baik saja, tidak kurang satu apapun.
Satu kata, berani berkonfrontasi. Rahmadi kembali menelan senyum yang kali ini terasa hambar ketika pandangannya menyapu jalanan yang di lalui kendaraan mereka. Akhirnya semua diam, hanya terdengar lirih suara radio yang mendengungkan lagu tempo dulu.
Yang, hujan turun lagi di bawah payung hitam kuberlindung ....
Basah tubuh ini, basah hati ini karenamu ....
Ari tanpa sadar mengetuk jendela yang berembun mengikuti rentak lagu sendu itu. Melongok ke belakang melihat Indah yang kembali terlelap, seperti tidak ada apa yang terjadi. Mungkin memilih menghemat tenaga, mengingat malam ini, akan menjadi awal yang melelahkan. Sebentar lagi mereka akan sampai di pos pengungsian.
Budi terlihat anteng di samping sopir, mungkin sedang semedi. Berbeda sesaat sebelum Rahmadi bergabung, dia tak ubahnya seperti petasan banting.
Rahmadi sendiri melayangkan pandangannya pada apa saja yang di lalui kendaraan, sesekali jarinya menguis kaca yang berembun. Hujan memang semakin deras menyambut mereka sejak sore ketika keluar dari Gerbang Tol Cilegon Timur.
"Dulu beneran, ya, saya terlalu keras sama kamu?" lanjutnya.
"Eh, enggak lah, Pak. Sudah seharusnya. Apa yang Bapak lontarkan, lebih kepada wejangan. Bapak lebih dahulu terjun di korporasi. Lebih paham bagaimana manajerial dalam dunia industri. Dunia kerja yang keras. Tanggung jawab pada keselamatan bawahan, meski lavelnya masih anak magang. Saya yang terlalu naif. Ingin ini itu, mencoba sesuatu yang bukan wewenang saya. Saya, ngelonjak, Pak?"
"Nggak ngelonjak. Syukur, deh. Oh ya, Andri, teman magang kamu yang dari Serang itu, kerja di sana setelah lulus. Itu tahun terakhir saya sebelum resign."
Ari hanya bergumam, lagi-lagi teringat pesan dari Bobby.
"Ah, kesampaian juga jadi anak buah Bapak. Andri memang pinter, Pak. Lagi pula ...," Ari menjeda kalimatnya.
"Lagi pula kenapa?"
"Ini bercanda, lho, Pak Adi." Ari tersengih. "Soalnya, Andri nggak pakai rok, sih. Apalagi, baju tempur."
Ari menyempatkan diri melirik cermin tengah, mengintip ekspresi tak terbaca pria paruh baya itu. Mata mereka bertembung. Rahmadi terlihat berusaha menahan tawanya.
"Saya nggak mau berkomentar seksis."
"Dahulu saya menganggap Pak Adi sombong. Beneran. Tetapi, pas lagi insaf saya buka buku biografi tentang tentang sahabat Rosul. Mungkin Bapak ada pada fase itu."
"Buku apa? Novel? Biografi?"
"Nah, Bapak pinter. Biografi. Dalam buku tersebut ada sebuah nasihat tentang bagaimana bersikap terhadap seorang teman. 'Jangan menganggap diamnya seseorang sebagai sikap sombongnya, bisa jadi dia sedang sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri'.
"Kutipan itu saya dapat dari buku tentang Sayidina Ali bin Abi Thalib. Judulnya Ali bin Abi Tholib sampai kepada Hasan dan Husain. Pengarangnya Ali Audah. Meskipun cetakan, lama, sekitar tahun 2003, tetapi oke. Buku lama yang bisa dibilang bagus, jernih tanpa sembarang kepentingan. Bapak tahu, maksud saya?"
Rahmadi mengangguk. Ia paling takut aliran-aliran yang bisa membuat pengikutnya gelap mata. Seperti Shinta dan suaminya.
"Bapak mau beli bukunya? Pengarangnya sudah wafat setahun lampau. Seorang penterjemah yang fenomenal."
"Kamu sekarang buka bisnis lapak buku-buku agama? Atau buku bekas?
Duh, sak peknak sendiri.
"Nggak, kok. Saya kasih rekomendasi kalau Pak Adi minat. 'Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya'. Saya gitu juga kalau ke beberapa teman. Mereka akan tanya, buku ini oke, Mbak? Baru memutuskan beli."
"Baiklah, mulai sekarang kita berteman meskipun nggak bisa salaman. Tolong review buku tentang Sayidina Ali tadi."
Ari berdeham sejenak.
Ada cerita menarik tentang Akhlak Ali bin Abi Talib. Suatu ketika Ali membeli seorang b***k, lalu oleh Ali, sang b***k diberi pelajaran agama hingga benar-benar paham, setelah itu sang b***k dimerdeka kan. Akan tetapi, bekas b***k itu, tak mau pergi meninggalkannya. Ketika Raja Najasyi, Raja Abisina meninggal dunia, terjadi sebuah kegelisahan politik di negri itu. Ketika itu kalangan terkemuka Abisina baru tahu bahwa b***k itu adalah putra Raja Najasyi. Pada waktu kecil dulu diculik seorang pedagang b***k dan kemudian dijual di Mekkah.
Mereka kemudian datang ke Mekkah dan menawarkan tahta kerajaan Abisina padanya, menggantikan mendiang ayahnya. Ternyata, tawaran kerajaan itu ditolak dan ia tetap dalam Islam bersama Ali. Sebuah gambaran, bagaimana kuatnya pesona kharisma Ali pada orang-orang yang mengenalnya secara dekat.
"Sesungguhnya, aku tidak berani untuk besar kepala. Aku sudah baca buku biografi Ali. Meski bukan buku yang kamu rekomendasikan. Hanya saja, kenapa kamu menceritakan bagian itu? Bermakna saya cukup kharismatik, begitu?"
"Haaaa! Kena, loh!" Tawa Pambudi meledak.
"Kamu nguping, ya, Bud?" tuduh Ari sedikit dimamah rasa malu. Untung remang cahaya dalam mobil menyamarkan rona di wajahnya.
"Tidak ada pengumuman kalau pembicaraan kalian berdua privat! Jadi, sah-sah saja aku ikut nyeletuk."
Jawaban Pambudi membuat Ari tambah malu. Ia begitu mengagumi penulis itu. Seorang yang bahkan tidak lulus madrasah ibtidaiyah, tetapi mampu menterjemahkan karya sastra, filsafat, bahkan biografi dan teks arab.
Rahmadi merogoh saku celana bahannya, mengeluarkan ponsel, lalu menyerahkannya pada Ari yang kini sudah kembali fokus ke depan.
"Ini."
Perempuan itu sedikit terkejut dan kebingungan, tetapi diterima juga ponsel itu.
"Buat apa ini? Pake fingger print atau apa alfa numerik gemboknya?"
"Masih ingat pass masuk komputer saya?"
Semua komputer di kantor produksi sudah pernah Ari bajak. Yang paling sulit di bajak, komputer Pak Rendy yang gemar menelpon sepanjang waktu kerja. Memantau kondisi istrinya yang tengah hamil muda kala itu. Saat itulah, terkadang Monster Ijo berbaik hati menawarkan komputernya. Tidak selalu, karena horor juga berada di ruangan si Monster sendirian.
Budi yang sejak tadi hanya jadi pendengar dan pengamat, kini tampak tertarik dengan interaksi dua orang itu, yang seakan-akan mengenyahkan keberadaanya dirinya. Dia segera berdehem, lalu menggeliat, menimpali obrolan Ari dan Rahmadi.
"Ehem! Sebentar lagi kunci mobil sama rumah bisa pindah tangan, tuh," goda Budi sampai sopir mereka ikut tergelak. "Jangan marah, Pak Adi. Saya sama Mbak Ari memang suka bercanda." Budi berkedip pada Ari.
"Halah keminter kamu, Bud."
"Wkwkwk, itu cincin berliannya, dijual, ya, Mbak? Kok, jarinya sekarang kosong mlompong?"
"Hah? Oh, haaa. Iya, aku jual, buat modal, nih." Ari gelagapan.
Ari? Namanya, Ari.
Rahmadi mengangguk, akur dengan lelaki muda itu. Dia membaca sebuah ungkapan lain dari cemburu. Ada hubungan spesial tampaknya? Satu sinyal yang mampir di minda Rahmadi, masih melajang kah perempuan muda ini? Begitu memesona dan semenarik ini, tetapi masih melajang.
"Masnya tenang saja. Yang diminati dia setipe-tipe Mas, kok." Rahmadi menjulurkan tangan pada Budi, keduanya lantas bersalaman.
"Pak Adi tahu rupanya tipe saya seperti apa? Kamu juga, Bud, enggak lucu ya! Kalau bukan patner di daerah bencana, aku cincang kamu jadi perkedel!"
Rahmadi terkejut. Ancaman perempuan muda itu begitu frontal. Dia melihat sisi Ari yang berbeda. Memang tahu apa dia tentang perempuan di sampingnya?
"Aih, mendadak sangar. Cincang. Kelamaan di dapur umum, ya, Mbak? Kan ngeri, ya, Pak?" decak Budi meminta Rahmadi membelanya.
Ari mencebik sambil mengetik kata kunci. Perempuan itu memetik jari dengan sedikit meringis dengan satu kenyataan bahwa password Rahmadi masih sama. Wah, setia sekali si Bapak Rahmadi dengan satu kombinasi itu, pikirnya sambil merenungi pria yang sedang mengelap kaca matanya.
Rahmadi hanya melirik lewat ekor mata, girang karena sosok di sampingnya ingat password-nya, meski itu sudah sekian tahun.
"Buka pesan dari Pak Im—mam!" perintahnya sedikit memberi tekanan.
Maksudnya, apa coba?
Mengetuk ponsel itu pada dagunya, Ari tampak berpikir sedikit keras. Rupanya kedua sahabat itu sudah baikan. Syukurlah.
Rahmadi mengangguk. "Heeh. Masih ingat kan? Enggak mungkin kamu lupa." Nadanya datar, tetapi nyelekit.
"Pak Imam?" Ari, yah, tentu saja lebih dari pada ingat. Imam Junaidi. Imam impian Kamila itu. Ari berdecak karena Rahmadi berusaha memancing di air keruh. "Pak, ini ponsel kalau tiba-tiba ada yang telepon, terus yang terdengar adalah suara saya yang merdu, apakah tidak apa-apa? Enggak ada yang marah gitu? Bapak nggak ada kapoknya, ya!"
"Enggak ada yang bakalan marah. Siapa berani marah sama saya? Buka saja dulu."
Ari mendengkus. Siapa berani memarahinya? Bukannya Anda menjawat Presiden Ikatan Suami Takut Istri. Kutu kupret! Batin Ari. Dia kembali membuka layar yang sempat terkunci.
ER2003. Itu gembok ponselnya Rahmadi.
Ari tidak tahu, apakah hubungan keduanya baik-baik saja pasca insiden memalukan dan mengharubiru yang melibatkan dirinya itu. Apakah mereka sempat bersitegang hebat, lalu kembali rukun. Bahkan saling mendukung. Namun, dari pesan itu, sepertinya Rahmadi ingin memberi tahu bahwa dia bahkan sudah lama tidak lagi berada di Kota Baja.
"Syukurlah, Pak Adi dan Pak Imam tetap rukun."
Rahmadi menaikkan kaca matanya.
"Ibarat pepatah Jawa nih, 'Rukun agawe santoso crah agawe bubrah'!" (1)
"Filosofis sekali," ujar Rahmadi dan Budi secara bersamaan.
"Pak Adi tahu, ya, artinya?" Ari memiringkan tubuhnya, sambil mengulurkan ponsel pada Rahmadi.
"Enggak ada yang bubrah, setelah kejadian itu, 'kan?" lirihnya.
-------------
1. Rukun membuat sentosa atau kokoh, bertengkar membuat rusak atau menimbulkan kehancuran.