Melewati part kritikal. Yup, Jin Botol adalah part kritikal buat saya. Memasukkan tokoh sentra baru dan tidak terduga. Semoga berkenan untuk terus membaca kisah Ari.
-------------------
Pimmm ….
Ari tergagap ketika sebuah mobil hitam menepi. Lamunannya tentang Amanda dan jin botol lenyap seketika.
Gadis itu melirik pergelangan tangan kirinya, sudah dua puluh menit berlalu, hampir setengah enam sore. Beberapa angkot dari arah Anyer terlihat selalu penuh. Sebagian penumpang pria bahkan sampai berdiri mengelantung di depan pintu. Untung Ari sudah salat Asar di masjid perusahaan, jadi sesampainya masjid raya tinggal menunaikan salat Magrib.
“Masuk, yuk!” pinta seorang perempuan cantik yang memangku balita menawarinya tumpangan.
"Saya, Bu?"
Ari menusuk jari pada dadanya karena merasa tidak mengenal perempuan itu. Perempuan berparas cantik dengan dandanan begitu memukau. Rambutnya yang pasti dihasilkan dari mesin pengeritingan digital. Digital wave yang sedang ng-hitz. Bentuk dan tekstur yang dihasilkan dari jenis ini berbeda dari manual wave. Keriting yang dihasilkan cenderung lebih berbentuk gelombang pasang yang ingin menenggelamkan tepian pantai. Selain trendy, digital wave juga dapat membantu rambut yang lepek menjadi lebih bervolume, tetapi tidak terlalu bergelombang.
Namun, Ari tahu harus berpikir ligat. Seketika itu pandangan matanya yang tengah bergerilya bertembung dengan sosok yang berada di belakang kemudi. Bibir gadis itu sedikit membulat membentuk huruf O.
Ia paham sekarang siapa perempuan jelita di kursi depan mobil yang mendapat gelar kehormatan sebagai ‘mobil sejuta umat’ itu. Mobil yang setahu Ari pertama kali diluncurkan pada tahun 2003. Ari melirik plat nomornya, ternyata mobil berwarna hitam itu berusia kurang dari setahun.
Baru, oi. Orang-orang BUMN ternyata tajir-tajir, ya? Bininya pun berkesempatan pegang mobil sendiri. Mobil ini jelas berbeda dengan yang digunakan Pak Rahmadi sewaktu bekerja tadi. Mobilnya jenis trail. Pak Imam Kijang LGX. Lusa, Ari akan mengintip mobil jenis apa yang ditunggangi Pak Rendy dan Pak Ahmad.
“Tuh, kenal kan sama yang nyetir. Bingung, ya? Katanya mau pulang ke Bogor, keburu gelap. Hayuk!” ajak perempuan itu sambil merekahkan bibir merahnya.
"Oh, iya, Bu."
Akhirnya Ari membuka pintu belakang. Gadis dengan gamis kotak-kotak kecil warna kunyit itu duduk dengan keringat yang menyimbah sekujur tubuhnya. Rupanya pendingin udara di mobil Pak Manajer belum mampu mengusir kesan basah pada wajahnya yang mengilat.
“Terima kasih, Pak Adi, Ibu ….”
“Saya, Erlita. Istrinya Pak Rahmad. Ini, Dedek Nadi.”
“Saya Nareswari. Anak magang di tempat Pak Adi kerja. Departemen Produksi, Cidanau Tirta Industri.” Ari mengenalkan diri dengan santun.
"Jauh, ya, magangnya. Harus wara wiri gitu kalau mau input data."
"Iya, Bu Erlita. Namanya juga demi memenuhi SKS."
Balita berkulit putih dengan pipi bakpow tampak meronta. dia berusaha melompat ke belakang. Apa yang bayi itu inginkan adalah menggapai tangan Ari yang memegang ponsel.
“Hallo, assalamualaikum, Dedek Nadi cantik. Gemes, deh.” Ari menowel pipi gembul Nadi. “Eh, mau pinjam hape? Mau maen tetris, ya?”
Balita itu berusaha merebut ponsel milik Ari.
“Ma, a-pe!” balita itu kembali menoleh ke belakang.
“Ih, nggak boleh, Nadi! Itu punya kakak,” ujar Erlita berusaha menahan putrinya. “Nih, punya, Abah, aja.”
Lalu suara lagu itu terdengar. Moonlight Densetsu mengalun mengiringi Nadi yang bergoyang-goyang tak tentu arah di atas pangkuan ibunya.
Ari terkikik geli, dia teringat lagu itu. Lagu yang ketika mengalun membuat muka Pak Manajer merah seperti kepiting rebus. Yah, peristiwa itu terjadi persis di hari pertama ketika dirinya harus menghadap Rahmadi. Bagaimana mungkin, balita yang belum jelas bicaranya ini, tahu lagu itu. Bukankah Sailor Moon itu kartun yang sudah lama tidak tayang? Rasanya sekitar tahun 2000 terakhir tayang di televisi ikan terbang. Ari masih tertawa, apalagi melihat balita itu bergoyang mengikuti irama lagu. Cute!
“Gimana Cilegon? Panas, ya? Eh, Pak Rahmad kalau di kantor, galak, enggak?” berondong Erlita antusias.
“Pak Adi iya galak. Ehmmm ... lumayan bikin kesal, Bu. Susah gitu kalau mau dimintain data. Data saja, dipersulit,” cibir Ari berupaya mengadu.
"Iya?" Erlita memanyunkan bibir. "Cie, galak," godanya pada sang suami.
Rahmadi yang sejak tadi mengunci bibirnya pun sekarang hanya melirik sekilas ke arah cermin tengah. Pria itu tidak bereaksi apapun. Ia kembali fokus pada jalanan yang lumayan padat sore itu.
"Heee! Marahin saja, Buk." Ari menutup bibirnya dengan belakang telapak. tangannya. "Saya sebagai anak magang jadi kesel. Serasa jadi perkedel kalau lagi ngadep, Pak Adi."
“Ari panggil Pak Rahmad, Pak Adi, ya? Wah, spesial ini,” tanya Erlita mulai tidak singkron.
Erlita melirik suaminya sekilas, senyumnya tersungging, seperti ada pesan tersirat di sana.
“Iya, Bu. Singkat dan hemat kata,” jawab Ari diplomatis. Spesial naon? geram Ari dalam hati.
Pak Imam juga memanggil bosnya itu Pak Adi. Juga orang produksi lainnya. Ibu Tutik penjaga gerbang ruang bawah tanah, eh, ruang laboratorium juga memanggilnya Pak Adi. Lebih sering Adi saja. Entah ada sejarah apa antara Ibu Tutik dengan Bapak Rahmadi sehingga perempuan itu seperti kebakaran jengot setiap nama Rahmadi diungkit. Mungkin cinta tak terbalas atau soal senioritas. Maklum, pria yang digadang-gadang akan mengampu jabatan tertinggi di Departemen Produksi itu masih lumayan muda.
33 tahun. Usianya terpaut 13 tahun dengan si bapak. Plak! Kenapa Ari menghitung jarak usianya dengan Pak Rahmadi? Akan seperti apa usianya saat 33 tahun.
Menurut ceramah Pak Zainudin MZ di kaset-kaset jelang Magrib saat berbuka, 33 tahun itu usia ranum manusia. Penghuni surga nanti usianya juga 33 tahun. Tidak ada nenek dan kakek tua renta. Bayi dan kanak-kanak juga menjelma menjadi manusia dewasa.
“Jam berapa kamu sampai kos-an?” Erlita kembali bertanya, kali ini sedikit tinggi suaranya. Mobil mereka terjepit antara bahu jalan dan truk besar.
“Ya, Buk. Anu, kalau enggak macet daerah Tangerang sama Kebon Jeruk, sekitar setengah satu malam. Tapi, kalau macet—setengah dua gitu, Buk.” Ari melihat ponselnya, ada satu pesan masuk dari Kamila.
[Pinjam buku enceng GODOK!] Kamilo.
Idih, nggak sopan. Udah pinjam pakai capslock. Ngajak perang betul ini.
[Ari manis pinjam, donk] Nares.
[Gitu]
[:-P]
"Selalu, ya, tengah malam. Hati-hati, lho. Anak gadis ini."
“Yah, demi target SKS, Buk. Insya Allah, Ari hati-hati, kok. Jangankan macet, lautan api kuseberangi." Ari terkikik geli sendiri.
"Bocah ada-ada saja."
Ari hanya nyengir. "Pernah juga dari sini jam setengah delapan malam, Bu, makin lambat deh. Apalagi pintu Tol Ciawi kalau akhir pekan, macet gila. Daerah Simpang Gadog, tuh.”
“Biasanya, Pak Imam, antar kamu? Hati-hati, nanti istrinya tahu. Bisa marah, lho!”
Ari tak langsung menjawab. matanya melirik tajam pada si pengemudi. Wajah Ari yang senantiasa ramah menjadi judes seketika. Pak Manajer mulutnya bocor, batinnya. Minta dirugyah. Bagaimana Bu Erlita bisa tahu soal dirinya menumpang Pak Imam. Ari kembali menaikkan pandangan pada cermin tengah, kali ini, pandangannya bertembung dengan dua pasang mata. Pasangan suami istri itu, sama-sama menunggu jawabnya.
“Bukan antar, sih, Bu Erlita. Kebetulan beliau kasih tumpangan.”
Ari mengaruk kerudungnya. Dia menyesal naik mobil Rahmadi lalu diintrograsi perempuan cantik dengan bibir merah juga alis melengkung sempurna seperti alis bulan sabit itu. Alis Krisdayanti, saudara. Ada rasa, tak sedap. Apakah tadi dari jauh Rahmadi bergumam? Lalu istrinya mendengar gumamanya itu, Ari bocah magang belum mendapat angkot.
“Iya, saya cuma mengingatkan. Juned itu ganteng, duit ada, sedikit ganjen juga. Jadi, kamu itu masih hijau, jauh dari orang tua, mesti hati-hati, ya!”
“Lita …!” Rahmadi akhirnya bersuara, mengingatkan istrinya. Erlita menepuk bahu sang suami lembut, kemudian mendaratkan kecupan di pipi pria itu.
Gila! Adegan 21 plus sesaat sebelum Magrib berkumandang.
Ari membuang pandanganya ke kiri, jalan yang penuh sesak mobil berplat nomor F dan B menghala ke arah Anyer. Dia juga sesak, melihat kemesraan pasangan di depannya yang seperti sengaja dipamerkan.
Mendingan pamer emas satu kilogram, saja, Bu Erlita, batinnya dongkol. Apa sih maksudnya? Tiada punya iffah langsung. Meskipun pasangan sah, tidak seharusnya pamer kemesraan di hadapannya. Harusnya ada rasa malu, 'kan?
Adegan Shah Rukh Khan yang hampir di sun sing sue oleh Rani Mukerjee saja membuat Ari panas dingin. Maklum saja, dia saat itu masih esempe. Masih sangat polos. Putih polos seperti kertas kwarto yang dibeli eceran di tempat photo copy dengan logo merah biru bertulisakan; Xerox!