Bab 10-Jin Botol

1767 Kata
Selamat membaca, semoga berkenan. Untuk pembaca setia Jejak Hati, insya Allah ada kejutan di akhir bulan. tinggalkan jejak, ya. -------------- Rahmadi sekali lagi mengangkat wajahnya, bukan menoleh ke samping. Tetapi memilih bertentang mata dengan Ari melewati cermin tengah. Yah, semua sudah dia ingat. “Pas kamu ngambek itu, marahnya sama saya atau Pak Imam? Sampai-sampai kamu nekat naik tower air?” “Oh, itu enggak ngambek, Pak. Pamer ketrampilan panjat tebing lebih tepatnya.” Rahmadi tersenyum kelat. Pria itu melarikan pandangannya pada jalanan yang tersendat karena arus kendaraan yang coba masuk ke daerah terdampak bencana maupun keluar saling berebut jalan. Hebat, batin Ari. Waktu memang mengubah banyak hal termasuk kemampuan otot wajah ex-manajer produksi itu yang sebentar-sebentar memamerkan senyum, alih-alih memasang muka jutek seperti dahulu. “Semoga keluarga Bapak baik-baik saja, tidak kurang satu apapun.” Ari tahu dia kelepasan. Keberadaan Rahmadi menumpang mobil relawan ini karena mencari keluarganya? Tentu ada tanya yang mengelayuti minda Ari. Soal kabar yang disampaikan Bobby dan bagaimana hubungan Rahmadi dan Imam Junaidi dengan pasangannya masing-masing setelah peristiwa yang melibatkan dirinya di masa lalu. “Terima kasih. Masih ingat saja, ya.” “Tak akan saya lupakan seumur hidup, Pak.” Meskipun mengubur dan coba sekuat tenaga melupakannya, sebuah memori buruk itu akan terpatri dalam alam pikiran. Juga ceruk terdalam, jauh di dalam sana. Untuk berdamai dengan semuanya, hanya sabda Illahi yang mampu menembusnya. *** “Nong, pulang sendiri lagi? Mana Kamila?” “Kamila sudah duluan, Pak Imam.” “Naik!” Pak Imam sudah memanjangkan badan hingga pintu mobil penumpang terbuka. “Atau, mau numpang mobil belakang?” Pria itu menaikkan alisnya sambil tersenyum simpul. Apa maksudnya coba? Ari menoleh sekilas, matanya langsung bertembung dengan mata yang saat itu tidak berbingkai seperti biasa. Mungkin kaca matanya pecah akibat terlalu sering marah-marah. “Pass saja, Pak Im. Hari ini Ari mau mampir ke satu tempat.” Setelah deru mobil kedua orang Departemen Produksi itu meninggalkan dirinya, baru Ari merasa lega. Dia mulai tak enak karena sudah sering menumpang pada Pak Imam. Bukan sering, hanya dua kali sebenarnya. Apalagi Kamila yang makin ketus saja memperlakukannya. Membuat Ari yang menumpang di rumah gadis itu tak ubahnya pendatang haram. Untung Abah dan ibunya si Kamila sangat baik. Menganggap Ari sebagai anak sendiri. Ari juga tak perlu khawatir lagi kalaupun menjelang dini hari baru sampai ke Bogor. Ada sosok Amanda. Yah, Amanda tidak semenakutkan seperti yang orang-orang anggap. Baik. Terlampau baik malahan. Entahlah, Ari selalu mengakhiri Jum’at sore dengan riang. Karena dia akan berjumpa dengan seseorang yang membuatnya teruja. Sosok itu menanyakan ini, itu, tentang dunia yang hampir tak pernah terbayangkan akan menghampirinya. Membuka cakrawalanya. Namun, Kamila selalu mengartikan lain, bahwa Ari riang karena akan diantar menuju pemberhentian bus atau pertokoan depan Masjid Raya oleh Pak Imam. Duh, Pak Imam lagi, Pak Imam lagi. Mendingan mengingat Amanda, batin Ari dongkol. Ari ingat awal perkenalan itu. Pada malam yang mulai merayap pagi. Perkenalannya dengan sosok lakuran hawa dan adam itu berlangsung begitu saja. “Assalamualaikum. Baru pulang, Neng?” sapa seseorang dengan suara sedikit kemayu yang dibuat-buat. Sosok jangkung itu, terlihat menjulang seperti menara. Tentu saja, dia memakai heels. Rambut palsu coklat kriwil, celana ketat warna khaki, menyampirkan tas warna abu-abu. Entah karena pandangannya yang sedikit buram atau memang warnanya sudah pudar. Hanya pencahayaan lampu dari pertigaan Tugu Kujang yang menyuluhnya. “Iya,” jawab Ari serupa gumaman. Aroma sosok yang baru menyapanya, harum. Rasa-rasanya, bukan jenis parfum murahan. Ari tahu bau parfum murahan yang dijual di sepanjang Stasiun Bogor. Tak sengaja mengendusnya di samping lapak buku-buku bekas yang sering ia hampiri jika berkesempatan pergi Cawang untuk mengunjungi Mas Budi, kakak sulungnya. "Takut, ya, Neng?" "Nggak." Ari mulai mencuri intip lewat kerlingan sekilas. Terus terang saja ia merasa gemetar. Disergap dingin juga takut. Yah, malam telah larut, bahkan merangkak pagi, dingin mulai menusuk. Sosok jangkung itu merapatkan jaket. Ari pun sama. “Malam-malam gini, bahaya, awewe keliaran seorangan wae. (1) Dari mana, setiap akhir pekan pulang larut?” Setiap akhir pekan? Baru dua kali, pikir Ari. “Kok, tahu?” “Kan eike mangkal, Neng. Tiap akhir pekan gini.” Oh, akhir pekan saja? "Cilegon, Aa. Ehm, Teh … eh, maaf … Kak.” Ari menampar mulutnya sendiri, melirik lewat ekor mata. Sedikit risih, secuil segan terbit, takut sosok jangkung di sampingnya tersingung. Namun, sosok itu hanya terkekeh. “Ah, biasa wae. Mau panggil, Teteh ... boleh. Aa—sok mangga. Mas juga enggak nolak. Asal jangan panggil Mamang, ya!” ujar suara garau yang tiba-tiba tercetus. Sosok Jangkung itu mengajaknya mengumbar tawa bersama. “Kuliah atau gawe di sana? Asli Bogor, sini?” Entah dari mana mulanya dan kenapa Ari menceritakan perihal kegiatan magangnya. Jarak jauh yang terpaksa harus ditempuh. Kenapa harus pulang pada Jumat sore, memaksakan diri harus sampai ke Kota Hujan saat dini hari. Ari harus mengejar kegiatan kampus, kerohanian, dan seabrek amanah yang harus dia tunaikan. Hanya sepanjang Sabtu sampai Minggu siang, kemudian kembali lagi ke tempatnya magang. Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, setiap Sabtu dini hari, seperti seorang pengawal, sosok itu selalu mengiringi langkahnya sampai gapura menuju kosan di daerah Bapeuny. “Nama eta, saha Salihat?” “Nareswari.” “Nareswari. Hmmm, manislah nama. Sesuai orangnya.” Sosok itu mengedipkan mata. Bulu mata yang panjang itu bergerak-gerak, seperti kepakkan sayap burung gagak. “Jurusan apa, Neng?” imbuhnya. “Merak-Bogor-Cianjur, Aa ….” Ari terbelit lidah, mencoba melawak. Yang ditimpali tawa terbahak oleh sosok jangkung itu. Karena Ari memang belum tahu nama sosok yang sudah ketiga kalinya ia jumpai. "Jurusan puncak intinya, mah. Oh, ya, nama eike, Amanda.” Sosok itu menjulurkan tangan, meski terbiar, dia tak tampak marah pada Ari. "Bagus namanya. Seperti brand kue brownis, Aa." “Huh, iya, ya? Sttt! Itu nama belakang keluarga saya." Amanda tergelak meningkahi nama panggungnya sebagai puan jadi-jadian. Ari hanya bengong karena apa yang Amanda utarakan tidak lucu sama sekali. Memang ada nama keluarga Amanda? Family bunga, sih, mungkin saja. "Jangan dikikis, ya, sampah masyarakat macam eike,” imbuh Amanda. “Gini-gini, Aa masih bisa, lho, didaur ulang." "Aa persis sampah organik." Amanda tergelak besar sampai-sampai gerombolan sosok jejadian di srberang jalan ikut dadah-dadah. "Eh, nggak takut sama eike, ‘kan?” Ari menggeleng, sambil mengguncang ranselnya. “Awalnya, sih, takut, iya. Jengah, iya. Kesininya, enggak lagi." "Syukurlah. Ada yang langsung lari lihat sosok seperti Aa." "Aa, bukan orang jahat, ‘kan? Hanya kesasar. Eh. Ya, gitu.” Sosok itu mengernyit. “Kesasar, ya? Biar enggak kesasar, eike boleh tanya sesuatu?” “Hmm … boleh. Malu bertanya, sesat di jalan, Aa.” “Ntuh, tahu. Tapi, gratiskan, Neng.” Mereka berdua tertawa lagi. Terlihat akrab. Tinggal seratus meter lagi sampai gapura. Sosok seperti Amanda memang posesif. Akan berlalu bila si gadis yang selalu dia tunggu itu sudah masuk gang kosannya persis di bantaran Kali Ciliwung itu. Sekitar 50 meter jaraknya dari tepi sungai, hingga gemuruh sungai itu terdengar bila debit air sedang mengelegak tinggi. “Mungkinkah diriku akan lebih baik di mata keluarga bila memutuskan menikah?” Amanda membahasakan diri, aku. Suara kemayunya bersalin garau. Sangat berat dan maskulin. “Saya aminkan dulu, kalau Aa mau berubah. Saya juga tak pasti kenapa Aa, seperti ini. Asal dia seorang perempuan yang berani menanggung risiko, kalian saling menyayangi. Itu syarat mutlak untuk sebuah berkomitmen." "Komitmen? Apa ada perempuan yang mau sama aku?" "Banyak berdoa, Aa. Ingat hubungan kita dengan Tuhan, karena apa pun jua kita hidup di negara berketuhanan. Norma agama dijunjung tinggi. Udah ada calon, Aa?" Amanda meledakkan tawa. "Kamu mikirnya, aku nggak normal, ya, Neng?" "Iya. Tadi Aa tanya apa ada perempuan yang mau apa nggak? Eh, anu?! Atau, Aa sedang galau karena dijodohkan, ya?” goda Ari. “Enggaklah. Enak juga nyari sendiri. Gerilya gini. Semoga perempuan salihat, manis, pintar menjaga kehormatan masih tersisa di muka bumi. Aamiin ….” “Aamiin. Memang zaman kompeni, gerilya?” Ari membekap mulutnya menahan tawa. Apakah tidak naif dia menasihati Amanda yang belum lama dia kenal dekat. “Apa?” Amanda memangkas jarak, “pasti bukan itu yang ada di kepalamu? Hayo, gaku!” Ari mundur dua tapak kembali mengukur jarak. “Enggak, kok, Aa. Yang penting sih, niat dulu. Berhijrah itu, istiqomahnya yang sulit." Ari bercerita soal perjalanan hijrahnya. "Seperti saya, dulu. Ada yang bersuka cita, ada yang setengah hati melepas untuk berhijab. Dianggap radikal lah, terlalu eksklusif. Demikian juga, Aa. Teman-teman Aa, pasti terpecah belah. Ada yang memerli, ada pula yang memuji. Ada yang merentang tangan menyambut dengan suka cita. Keluarga, pastinya. Itulah lumrah hidup.” Amanda mengangguk. Tidak ada protes yang terucap, justru pandangannya memaku Ari yang ditingkahi gadis itu dengan menundukkan pandanganya. Gelombang malu kembali menyerbu. Gelap yang menghalanginya untuk merekam lebih lama wajah itu. Ari pun sama. Wajah dengan topeng itu, mengelitik panca indranya. Tentu saja, meski dengan wujud seperti itu, sosok di depannya tetap lelaki. Tinggi tegap dengan bahu lebar yang harusnya nyaman menjadi tempat untuk bersandar, tempat yang dapat mengayomi seorang perempuan. Ari berdebar dalam kesunyian. “Aa.” “Hmm .…" “Aa, tahu cosplay?” “Tahu. Kenapa memangnya?” suara Amanda menjadi serius. Tegas. “Maaf sebelumnya, ya. Cuma saran. Aa bisa memulainya dengan menjelma menjadi cosplayer. Menjadi super hero bagi anak-anak. Kalau beruntung memilih karekter, banyak tuh cewek cakep pada ngajakin foto. Jadi ….” “Dasar!” Amanda tertawa, dengan andaian gadis di sampingnya. Dia hampir membuat gerakan mencubit pipi Ari. Gadis itu sontak menapak ke belakang. "Coba dulu!" “Imajinasi liarmu, boleh juga. Terus, kamu maunya Aa jadi siapa? Nareswari.” Itu adalah kali pertama Amanda memanggil nama Ari. Dengan suara maskulinnya. Yang membuat jantung Ari bertalu nyaring. “Batman. Cosplay Batman, gimana? Pahlawan Borjuis. Dari pada baju cewek gitu ….” “Tau dari mana aku borjuis?” Amanda merenung Ari dalam-dalam. "Saya cuma bilang Batman pahlawan borjuis. Oke, ganti sam Robin Hood atau Sunan Kalijaga yang lebih ada muatan lokalnya." "Bisaan kamu. Bikin Aa ketawa." Alasan sosok-sosok seperti Amanda berkeliaran, menjajakan diri, atau entahlah. Ari tidak pasti. Dia belum berani mengoreknya. Ada yang asli, ada yang cuma aksi. Amanda terlihat baik, sopan di matanya. Tidak mengolok-oloknya sebagai sosok ukhti sok suci atau julukan kolot lain. Terbersit keinginan melihat sosok Amanda dalam wujud aslinya, yang tanpa topeng, tanpa polesan. Mungkin, Amanda bisa menjadi narasumber pada rubrik hijrah. Meski untuk itu, Ari akan meminta bantuan pihak ikhwan. Tidak mungkin membawa bendera Majalah Uswah dan menginterview Amanda yang notabene seorang lelaki. Tengah malam pula. Mungkin Minggu terakhir ketika masa magangnya berakhir, Ari bisa menagihnya. Karana Amanda berjanji mengabulkan satu keinginannya. Kenapa satu, bukan tiga. Karena Amanda bukan Jin Botol. ---------- 1. Bahaya gadis sendirian begini
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN