Selamat membaca, semoga berkenan. Setelah membaca, pejamkan mata sejenak dan bayangkan laut serta kapal-kapal yang terombang-ambing di tengah lautan sana. Itu, luarr biasa.
-----------------
Setelah sekian lama, semua kenangan itu bahkan telah terkubur melewati satu dasa warsa. Itu janji Ari pada Opick kala itu.
Melupakan seseorang yang demi apapun jua, tidak ada rasa setitikpun di hatinya kala itu selain sebuah kekaguman. Kagum karena kesan galak Rahmadi ternyata setelah saling bertukar cerita, pria itu lumayan perhatian.
Tentu apa yang sudah pria itu lakukan untuknya, tidak seluruhnya Ari ceritakan. Sekali lagi, Ari malas mengingatnya—sampai kewujudan Rahmadi yang muncul pada malam gelap disertai hujan dan petir sehari setelah tsunami Banten.
Pria itu tiba-tiba muncul setelah belasan tahun tidak terdengar kabar beritanya. Pergerakanya selama ini tak terduga seperti geliat Anak Gunung Krakatau yang memamerkan rekahan merah sepanjang perjalanan di pesisir pantai Banten.
Perjumpaan tak sengaja kali ini justru membuatnya Ari kembali berkubang akan ingatan lampau. Membuat dadanya berdentam tanpa tahu siapa yang menabuhnya.
“Jadi, dua orang ini, sudah saling kenal? Sedang bernostalgia?” sela Budi sedikit takjub, sekaligus memecah kebisuan.
Karena baik Rahmadi maupun Ari seperti tersedot pada pusara masa lalu yang begitu dalam dan kelam.
Ari mengangguk. Pertemuan tak terduga ini mengusir kantuk yang sempat menyelinap karena meladeni obrolan ngalor-ngidul Budi.
“Budi, Mbak Indah, kenalkan Ir. Eko Rahmadi Widagdo. Beliau ini pembimbing saya saat magang dulu."
"Hallo, saya Rahmadi."
"Pak Adi, mereka berdua teman saya, sesama relawan. Sama-sama berjodoh karena beberapa kali jadi satu tim saat tanggap darurat bencana.”
Rahmadi mengangguk-angguk meski dengan dahi sedikit berkerut. “Bukan NGO Lingkungan, ya?”
Ari menggeleng pelan.
“Terjun ke masyarakat itu, ibarat sebenar-benarnya pengabdian. Alhamdulilah yang penting niatnya, Pak.”
Nada suaranya Ari sedikit melemah disertai helaan napas. Seperti tak yakin sepenuhnya dengan jawabannya sendiri. Ari tak sepenuhnya jujur. Padahal, menjadi relawan upayanya melarikan diri dari luka pengkhianatan seorang Opick.
“Tapi, saya beneran lupa nama kamu?”
Ari mengangguk sekali lagi. Akur karena pria itu memang tidak pernah memanggil namanya sejak dulu.
Rahmadi ingat sosok ini. Tapi demi Allah, dia lupa siapa nama perempuan muda di hadapannya. Bocah magang yang sering digoda oleh stafnya. Yang tanpa sengaja, dia memergoki beberapa kali menumpang mobil Imam setiap Jum’at sore. Kenapa setiap Jum’at, dia bahkan enggan untuk bertanya pada mereka berdua. Kenapa seorang gadis berhijab syari yang pada masa itu masih bisa dihitung dengan jari bisa seterbuka itu dengan laki-laki. Meskipun itu Imam Junaidi.
Sampai peristiwa yang membuatnya berdarah-darah itu wujud dan melibatkan gadis di hadapannya.
“Saya pikir kamu tetap ngotot, konsen di lingkungan? Tapi, tetap tulus mengabdi, berdedikasi untuk humanity.”
“Pemberdayaan potensi masyarakat, awalnya. Semakin ke sini, saya lebih memilih konsen pada pemulihan pasca bencana. Melihat mereka bangkit, membuat hidup lebih hidup, Pak.” Ari mengurai secara diplomatis.
“Losta masta,ya ….” Sengih Rahmadi menirukan selogan iklan rokok jadul.
“Duh, sekarang beda, deh, Pak Adi. Lebih ngocol.”
“Biar awet muda,” ujar pria itu. “Jadi, kenapa tidak ke lingkungan?”
Ari menghamburkan tawa sambil memandang jalanan, kemudian berpaling memandang persis pada mata berbingkai itu.
“Kenapa mesti menukil kenangan menjemukan jaman baheula. Bukan tiga tahun, Pak. Ini sudah hampir dua belas tahun.
"Sudah lama banget. Saya sudah skip keinginan jadi ahli lingkungan. Lagi pula, mana ada instansi yang terima cewek baju tempur gini, ribet! Ingat, Bapak ngomong apa; itu memang kostum tempur kamu, kek, gitu? Bisa cedera kalau ambil sampel.”
“Iya, saya ngomong gitu?” Rahmadi berkerut tak percaya. “Kalau yang naik tower waktu itu, karena apa?”
Ari menutup mulutnya menahan pekikan. Yah, bagian paling memalukan itu kenapa pria ini masih mengingatnya dengan jelas. Prediksinya meleset. Ingatan pria ini terang benderang! Kecuali namanya. Tidak terjadi cedera atau amnesia akibat peristiwa berdarah itu.
“Duh, bagian itu kok masih ingat, sih, Pak.”
Rahmadi justru memamerkan senyum yang membuat Ari dibebat rasa mencekam.
***
Saat itu jam di dinding kantor Departemen Produksi atau jam di manapun ia berada telah menunjukkan setengah empat sore. Hari masih lumayan hangat. Namun, keberadaan Ari tidak diketahui di mana sampai seorang satpam berteriak nyaring sambil menyalakan peluit.
Prittttt! Pritttt! Pritttt!
"Woi, turun, Nong!"
"Gaswat, ketahuan sama Mang Satpam."
"Sukurin," teriak Eki salah satu anak dari Serang.
Ternyata, gadis itu sudah nangkring di atas tower air yang berada tepat di samping gedung perawatan. Tower setinggi 44,4 meter itu tentu bukan mudah untuk sampai ke atas sana. Sebenarnya Ari tidak sendiri, tetapi bersama empat anak magang lain yang sedang menikmati sore dengan binokuler di tangan.
“Woi … turun, Nong!” teriak Mang Satpam sambil berlari kecil.
Masalahnya perut Mang Satpam yang seperti cendol itu begerak-gerak. Ari meneropong dari atas sambil tergelak. Gadis itu mengilir binokuler pada keempat anak serang yang akhirnya terduduk menahan tawa.
"Menurutmu, Mang Satpam itu masuk Cidanau Tirta Industri hasil seleksi atau nepotisme?" ujar Ari memancing kerusuhan.
"Sudah jelas."
"Belum tentu," sergan Hadi. "Bisa jadi saat masuk dahulu beliau slim. Minimal body seperti Chris John."
"Chris John kamu bilang? Yang juara dunia kelas bulu. Argh, demi apa coba? Sekalian kamu bilang dia bodynya dulu sebelas dua belas dengan Om Ade Rai."
Semua yang ada di atas atap tower tergelak.
"Enak di sini banyak angin. Aturan kita bisa maen gaple."
"Hust! Ada Ari. Ngadu, dia ntar sama Pak Rahmadi."
"Idih, aku bukan tukang ngadu, ya. Kawan!"
“Udah-udah. Kita di suruh turun, woi!” ujar salah satu anak dari Serang yang lain.
“Si Ari yang disuruh turun. Kamu enggak dengar, mereka panggilnya, Nong.” Kekeh yang lain. “Si Andri, ya, nggak berani manjat. Dia sejatinya, Nong.”
“Dia di bawah sama Kamila, ya? Jangan-jangan lagi pacaran.”
“Eh, timnya Pak Imam yang ke Rawa Dano udah balik belum, sih?”
“Udah tadi mobilnya udah parkir, kok, tuh!” Semua anak melihat ke arah parkiran.
“Woi turun, woi …!” suara laungan terdengar lagi dari bawah.
Mereka berempat bergegas membuka pintu tower kemudian turun ke bawah meninggalkan Ari yang masih asik berdiri sambil berpegangan pada besi penangkal petir. Gadis itu memegangi binokuler dan mengarahkan ke berbagai sudut.
Saat naik tower tadi, Ari juga yang paling belakangan. Konon katanya, karena gadis itu beralasan takut di intip. Meskipun dia memakai dalaman celana kargo. Ari masih asik mengarahkan bionokuler itu ke arah utara.
Di sana laut Jawa dengan biru yang begitu membius mata. Birunya Selat Sunda juga tersaji di hadapannya ketika Ari mengeser pandanganya ke arah barat laut. Hilir mudik kapal tongkang batu bara sepertinya sedang merapat di dermaga milik perusahaan. Di sepanjang jalanan banyak sekali ongokan limbah pembakaran batu bara. Mungkin, kalau tidak dikelola dengan baik, diserap sebagai komoditi industri batako untuk bahan campuran konstruksi, kota ini akan menjadi gunung limbah batu bara. Garis pantainya saja sudah seluruhnya terisi industri berat semua.
“Ari!”
Gadis itu menoleh, sehingga kerudungnya yang tertiup angin menutup sebagian muka. Dia melihat Pak Imam sudah ada di atas atap tower air. Tidak terdengar derit pintu yang terbuka. Penampilannya sudah tidak seperti saat berangkat tadi. Baju seragam lapangannya sudah keluar dari celana.
“Mana buayanya, Pak Imam? Nggak ada, ‘kan?”
Pak Imam tersengih, justru meraih binokuler dari tangannya, “Seger anginnya, ya, Nong. Elok, ya, dari atas sini?”
Ari hanya diam. Masih dongkol karena kali ini, pria di sampingnya itu gagal mewujudkan kemauannya untuk melihat secara langsung Rawa Dano. Geo park yang merupakan sumber air tawar berupa rawa gunung. Sumber air dengan mutu terbaik bagi industri dan kehidupan kota ini. Air di kota ini jelas air payau yang tidak sesuai dengan standar air baku yang bersih dan sehat.
“Kamu marahnya sama saya, atau Pak Rahmadi? Bapak bersedia dengar keluhan kamu. Anggap saja catcment area, deh!”
Hah, catchment area? Wah, modus operandi. "Ari nggak marah sama siapapun, kok." Ari meraih binokuler di tangan Pak Imam.
"Halah. Mukanya cemberut gitu. Merah juga."
"Wah, Rumah Pompa II dari sini kelihatan bagus, Pak. Padahal kalau dari dekat airnya butek. Ikan kecil-kecil pada mabok."
Rumah Pompa II atau Waduk Nadra yang luasnya sekitar 1 Km2. Fungsi tandon buatan itu untuk menampung air dari DAS Cidanau.
"Itu sepertinya lagu anak-anak, deh."
"Iya, Pak. Lagunya Johsua."
"Jadi, kamu sudah nggak marah, Nong?"
"Astagfirullah, kok itu lagi."