Maksudnya baik tetapi caranya salah. Tujuan baik tidak boleh menghalalkan segala cara. Terkadang kita sering melakukan itu. Seperti Neng Ari. Tidak boleh ditiru. Tak boleh!
------------------
Pagi itu Ari terduduk sambil bertopang dagu di tangga menuju Departemen Produksi. Dia menepuk dadanya, mencoba bersabar. Apa yang ditakutkan manajer itu hingga menghalangi dirinya dan Kamila ikut ke Rawa Dano. Ari mengamati Pak Imam yang baru keluar dari bangunan samping. Tempat yang belum pernah ia masuki. Seragam yang digunakan Pak Kabag tampak berbeda. Saat ini, pria itu mengenakan setelan atas bawah berbahan denim warna biru tua, lengkap dengan sepatu laras. Dua anak magang membuntutinya sambil memanggul tambang besar.
“Pak Imm, boleh, ya, kita ikut?” pinta Ari memelas. “Anak Serang boleh ikut, mosok anak Bogor nggak boleh ikut. Pilih kasih, deh!”
Pak Imam hanya membalas dengan senyum lebar khas matahari pagi sambil menggerakkan tangan seperti mengajak pergi.
"Beneran ini?" pekik Ari antusias.
"Kasihan, deh, ibu-ibu jaga produksi, ya."
Ternyata ada dua orang produksi yang juga ikut untuk lawatan kali ini. Mereka menggerakkan dua jari naik turun persis di bawah mata seperti adegan air mata yang jatuh. Menggoda Ari yang gagal menyertai rombongan ke Rawa Dano.
Tidak sopan betul, bapak-bapak ini!
“Pak Imm, kira-kira, Pak Manajer, pernah gitu pakai baju lapangan seperti itu?”
Pak Imam mengangkat kerah bajunya, “Ya, pernah atuh, Nong. Beliau dulu juga berkarir dari bawah, nyebur ke lapangan. Belum lihat Pak Rahmadi renang, ya?”
Ari mencebik tak yakin. Pasti renang gaya batu. “Pak Manajer bisa enggak, ya, dirayu—aduh!”
Kamila tiba-tiba datang dan dengan sengaja menyodok lengan Ari menggunakan ujung box berisi flowatch meter—alat pengukur debit air.
“Bantuin, kek! Malah ngedumel aja persis ayam mau betelor!”
“Aku udah, ya, ngangkut pelampung tadi.”
“Kalau diluluskan Pak Rahmadi, boleh, Nong. Coba saja!” Pak Imam membantu memasukkan tambang sambil mengedipkan matanya.
"Idih gitu amat, sih, Pak Imam."
“Bapak mau lihat usaha kamu.” Pria itu mengepalkan tangan memberi semangat. "Ayo, mosok cuma segitu usaha untuk lihat buaya rawa. Hmmm."
"Iya, ya. Kapan lagi lihat buaya rawa. Kalui buaya darat, mah, di area produksi sini buanyakk," kekeh Ari yang disongsong cibiran anak magang dari Universitas Serang.
Ari langsung berbalik menaiki tangga buru-buru membuka pintu kaca Departemen Produksi. Naik tangga sekali lagi untuk sampai ke lantai dua. Dia mengatur napas ketika berhadapan dengan pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka dari dalam, menampilkan wajah Rahmadi dengan rona kebingungan.
“Bocah magang, kenapa kamu sampai terengah-engah? Habis di kejar hantu?”
“Pak Adi—bentar, ya. Fuuuh. Saya ambil napas dulu!” Ari menempelkan dahinya ke dinding, menetralkan napasnya yang bengek. “Pak, kita boleh ke Rawa Dano, ya. Please!”
“Enggak! Ada buayanya. Bahaya!”
“Saya mohon dengan sangat, Pak. Saya anak baik-baik, enggak akan ketemu buaya rawa, kalau buaya darat mungkin, sih. Di area produksi banyak soalnya."
"Heh? Maksud kamu apa?"
"Enggak apa-apa, Pak. Gini, lho, Pak Adi pembimbing lapangan yang baik dan tidak sombong. Rawa Dano adalah judul yang saya ambil. Bagaimana saya akan mengidentifikasi jenis gulma, luasan sebaran gulmanya, kalau saya asik ndekem wae di laboratorium sama ruang arsip. Pak ….”
“Baru dua minggu, kalau kamu niat ganti tema, masih sangat mungkin. Ambil judul tentang BOD—Biological Oksigen Demand, lebih aman buat kamu, Bocah!”
“Sama aja, Pak. Bukankah saya tetap harus mengambil sampel. Banyak hitungannya in situ: pH, suhu, total dissolved solids atau padatan tersuspensi (TDS), sebagai data penunjang. Artinya, saya, harus ke lapangan juga.”
Rahmadi berkacak pinggang, pusing dibuat bocah magang di depannya, yang tak berhenti merengek. Bahkan sudah sejak tiga hari lalu ketika menyertai Imam Junaidi mengajukan surat jalan ke balai konservasi.
“Sini, kamu, Bocah!” Ari mendekat, siap untuk satu berita baik.
"Alhamdulillah, Pak Adi baik saya doakan segera dapat giliran naik haji yang difasilitasi perusahaan. Naik jabatan pada level direksi."
“Hadew, kamu, ya. Gini, bocah, ya. Untuk sampel di Rawa Dano, memang ada yang akan datang ke sana, dan itu tak selalu. Sebulan sekali, bukan tiap minggu. Kecuali pengukuran BOD di sini. Plant III yang dekat kepada konsumen. Itu yang harus diukur setiap hari, paham?!”
Ari mengangguk, tetapi masih berusaha membuka mulut. Dia tidak bisa melupakan bagaimana indahnya Rawa Dano ketika melihatnya dari atas bukit mengunakan binokuler.
“Pak, kami biasa, kok. Sudah biasa banget, praktikum gitu nyebur ke kali,” rayunya sambil memainkan jari di udara. Ini sangat bukan dirinya, Ari hampir frustasi.
“Saya juga tahu, kamu ikut-ikutan Pak Rendy memeriksa water tunnel. Ngaku, hmmm! Bagaimana kalau ada apa-apa?”
Terowongan air setinggi dua meter itu berada persis di belakang gedung produksi. Water tunnel merupakan saluran limpasan ketika chamber utama kelebihan kapasitas.
“Buktinya tidak terjadi apa-apa. Nanti, saya pasti akan bantu habiskan makan siangnya, Bapak. Kalau bekal dari Ibu yang hambar itu enggak habis.”
Rahmadi hampir melengkungkan bibirnya, akibat sindiran Ari yang tepat sasaran. Kurang ajar sekali, bocah satu ini.
Tampang semacam Pak Adi, dengan istri yang konon cantik tiada tara keturunan ningrat entah dari kerajaan mana, yang juga rajin memasak. Bahkan, apa yang dia lihatnya sangat lucu dan unik. Di awal-awal konsultasi saat jam istirahat, ketika semua pegawai rata-rata keluar untuk makan siang, Rahmadi tetap bercokol dalam ruangannya. Bekas makan berisi sup kaldu, sambel, ayam goreng dan tempe goreng. Istrinya yang menyiapkan. Masalahnya, sup masak Subuh, buat makan siang. Apa kabar lambung?
Di luar keganjilan soal menu, tetapi melihat manajer itu menyuap makanan yang dimasak istrinya itu terlihat sangat manis dan romantis. Itu yang terlintas dalam pikirannya. Ari bahkan berandai-andai membuatkan bekal buat suaminya kelak, seperti Rahmadi yang selalu memakan bekal istrinya. Namun, suara sumbang Bu Tutik membuatnya garuk kepala.
“Romantis, opo! Dia kadang ngiler juga pingin makan di luar. Takut, tapinya. Liat badannya yang setipis triplek itu. Kamu belum lihat hal aneh-aneh lagi. Tunggu, aja!”
Ketika dia bertanya pada Kamila, jawabnya menohok, “Aku bahkan disuruh bantu ngabisin makanannya, sebelum kamu ke sini. Itulah jadwal konsultasi aku rubah jadi sore. Tidak ada lagi nasi lembek, sayur hambar. Syukurlah, sudah ganti sasaran si Bapak.”
Rahmadi berdeham, kemudian berjalan meninggalkan koridor Departemen Produksi yang diikuti oleh Ari dengan sedikit berlari-lari kecil.
“Bocah iki klipen ngintil sire bae?” [1]
“Si Juned bikin gara-gara. Bocah magang digoda buat ikut ke Rawa Dano.” Rahmadi menoleh ke arah Ari yang masih setia membuntuti di belakangnya. “Dia pikir tempat main-main, merengek dari tiga hari.”
“Nong, mau ikut Pak Rahmadi pulang ke rumah, nggak? Kalau mau, pasti dikasih ijin ke rawa. Buruan, Nong!” Pria itu mengedipkan mata.
Ari mengerutkan dahi, kemudian melirik ke arah Rahmadi yang terlihat langsung memerah mukanya. Wah, ada apa ini?
“Bapak mau nipu, ya?”
Ari tak tahu siapa pria yang sedang berbicara dengan Rahmadi. Keduanya menuruni tangga, kemudian berjalan lurus sampai bertemu pintu lagi. Rahmadi menoleh, membuat Ari cepat menelusup pada pintu kaca yang sedang di tahan pria itu.
“Terima kasih, Pak!”
“Mobilnya sudah berangkat. Maaf, ya, Nak!”
Rahmadi meneruskan langkah, menuruni tangga, menyebrangi jalan menuju kantor utama atau entah ke mana, yang diikuti tatapan membara penuh kegeraman Ari.
“Rayuan mautmu, gagal totol, ya? Pak Rahmadi, mah, beda dengan Pak Imam.”
“Kok, kamu ngomong, gitu, Mil? Masih kesal perkara kemari?”
"Kesal. Buat apaan. Pesenku, hati-hati. Jangan maen api, ntar kebakaran. Air Cidanau itu diperuntukkan korporasi bukan untuk memadamkan gairah pribadi!"
"Mila! Kamu, tuh, ngawur banget kalau ngomong. Nylekit tau!"
"Makanya hati-hati. Malu, tuh, sama baju yang kegedean, wahai Ukhti Salihat dari Kampus Hijau!"
Ari menghela napas pelan. Belum hilang rasa kesal karena gagal melakukan kunjungan lapangan ke Rawa Dano, kini sahabatnya sendiri menikamnya dengan selusin tuduhan.
Kemarin mereka menemani Pak Imam dan timnya ke waduk. Atau kawasan Plant II. Pengukuran debit air yang masuk di beberapa titik, juga mekanisme pembuangan kelebihan air. Salah satunya persis di kilometer lima sebagai catchment area atau area resapan.
Di sana, sampel diambil dengan mengulir sebuah pintu besi berdiameter limabelas sentimeter berisi pipa yang langsung masuk ke dalam waduk. Tutup ulir besi itu terdapat banyak karat bercampur oli. Dengan iseng Pak Imam mengoles oli bercampur karat kekuningan tersebut ke punggung tangan Ari. Tadinya Ari hanya tertawa-tawa menanggapi keisengan pria tersebut. Dia membalas dengan mencalitkan oli pada tangan anak buah Pak Imam lainnya, begitu seterusnya. Namun, ketika melihat muka Kamila sudah berlipat, dia baru paham yang sahabatnya itu ditelan cemburu.
Patesan semalam juga Ari tidur di kamar sendiri, sedangkan Kamila memilih tidur di depan sofa televisi. Kamila bahkan menyindirnya sebagai jilbaber karbitan ganjen.
“Ngeri banget kamu, sampai segitunya, Mila. Anaknya udah gede itu, si Pak Imam. Mikir!
"Kalau bukan nguber data, aku juga ogah. Nggak bakalan pakai acara rayuan gombal. Lagian ini, masih wajar. Aku minta data di depan kamu, bukan main belakang. Aku tanya sama kamu, apa data yang sudah kamu dapat satu bulan di sini? Pernah kamu dibawa ke lapangan?”
“Oh, jadi kamu ngerasa, kita anak magang dibawa ke lapangan karena kamu, Ri! Besar kepala, ya? Gara-gara tiap Jum’at kamu pulang nebeng Pak Imam.”
Ari kesal, dari data, kesempatan ke lapangan, larinya ke bahasan yang nggak ada kena mengena. Soal nebeng Pak Imam adalah soal lain.
"Dasar jilbaber ganjen!" ulang Kamila seperti saat sarapan tadi pagi.
Ari memilih tak endah, justru menuruni tangga menyusuri jalan menuju gedung perawatan. Biasanya anak maintenance lebih produktif humornya termasuk mahasiswa magangnya, dari pada orang produksi, songong. Termasuk yang magang. Ari menunjuk pada diri sendiri sebenarnya. Apakah dirinya songong?
Hubungannya dengan Kamila memang sempat dingin. Tegur sapa hanya sekadar di depan orang-orang produksi. Padahal jelas-jelas Ari menginap di rumah Kamila. Gadis itu juga memilih hari yang berlainan pada setiap konsultasi baik dengan Pak Agus sang dosen maupun Rahmadi sebagai pembimbing lapangan.
Setelah sekian lama, semua kenangan itu bahkan telah terkubur melewati satu dasa warsa. Itu janji Ari pada Opick kala itu. Ari malas mengingatnya—sampai kewujudan Rahmadi muncul pada malam gelap disertai hujan dan petir sehari setelah tsunami Banten. Pria itu tiba-tiba muncul setelah belasan tahun. Tak terduga seperti geliat Anak Gunung Krakatau yang memamerkan rekahan merah sepanjang perjalanan di pesisir pantai Banten.
Perjumpaan tak sengaja kali ini justru membuatnya Ari kembali berkubang akan ingatan lampau. Membuat dadanya berdentam tanpa tahu siapa yang menabuhnya.
---------
1. Bocah ini kenapa ikut di belakang kamu terus.