Saat kamu menghadapi soal matematika dan lupa rumusnya, apa yang kamu lakukan?
Saya, ngitung kancing.
-------------
Ari tersenyum ketika berhasil mengetuk pintu yang langsung mendapat sautan dari dalam dan mempersilahkan dirinya masuk. Kelegaan itu tidak dapat ia tutupi.
"Assalamualikum, bapak-bapak ...."
"Wa'alaikumussalam, b***k Magang."
Ruangan kepala bagian itu hampir sama besar dengan ruangan manajer. Bedanya, berisi tiga kubikel yang memanjang ke belakang berhampiran jendela kaca besar. Sedangkan ruang manajer hanya ada satu meja dan satu set sofa tamu. Ari masih bergeming membiasakan diri dengan suasana ruangan itu. Pak Ahmad memundurkan kursinya, lalu memamerkan seringai lebar. Tentu saja kumisnya yang lebat ikut megar.
"Cari siapa, Nong?"
"Pak Rahmadi menyuruh saya jumpa Pak Imam. Tapi, karena Pak Imam sedang ke Rumah Pompa II, jadi saya di suruh jumpa dengan, Pak Rendy."
"Halo ... manis. Sini-sini, meja Bapak paling belakang." Seketika Ari melihat sepasang tangan terangkat ke atas. Dari kubikel paling belakang.
"Siyap, Pak Rendy. Mari, Pak Ahmad." Ari bertolak ke belakang.
Sampai pada kubikel paling belakang Ari mengedarkan lagi pandangannya pada meja di depannya. Sedikit melirik aktifitas pria yang saat ini masih fokus menekuni komputer. Sekilas, Pak Rendy terlihat paling muda di antara trio Kabag. Pandangan Ari beralih ke jendela, dengan tirai yang sedikit terbuka ia dapat melihat tiga chamber raksasa yang dikatakan Kamila.
"Gimana, hari pertama di sini? Oke, 'kan? Sudah keliling lihat WTP?"[1] Pak Rendy bertanya sambil tangannya terus saja menari di atas tombol-tombol hitam itu. Sesekali menoleh pada Ari yang berdiri dengan memilin ujung jaket almamaternya.
Ari menggeleng. Boro-boro, ada juga kena sembur dari si Monster Ijo. "Belum, Pak."
"Eh, Ari, ambil itu kursinya Pak Imam. Bawa dekat sini!"
Ari segera menyeret kursi yang berada di kubikel tengah yang ternyata milik Pak Imam. Di atas mejanya yang lumayan rapi, ada sebuah pot kecil berisi kaktus, lalu gelas karton berisi peralatan tulis menulis. Di ujung meja ada foto pria itu dengan seorang anak lelaki yang mungkin masih balita. Bisa jadi foto lama, karena di foto itu, beliau terlihat lebih muda. Selamat, Mila, anak Pak Imam ternyata cowok, batin Ari.
"Sini-sini, sambil saya nyambi masukin data." Pak Rendy tersenyum. "Atau Ari mau bantu?"
Ari mengangguk. "Boleh. Tapi, sepuluh persennya buat saya, ya, Pak. Terus, bantu nyari data Rawa Dano."
"Nyari data atau nyalin data?" Ari nyengir. Tebakan Pak Rendy tepat sasaran.
"Bapak, bagian pengawasan chamber, ya?
Pak Rendy tampak mengangguk-angguk, meski tanpa menatap Ari, dia mengakhiri tarian di atas papan komputer setelah menekan; enter.
"Pengolahan air baku. Kalau Pak Imam Pengadaan Air Baku. Pak Ahmad yang ganteng, Quality Control. Karena kalian anak lingkungan, pasti lebih fokus ke bagiannya, Pak Imam. Perjalanan air dari tandon alam, yaitu Rawa Dano dari gunung sana, sampai ke WTP sini atau mau ambil keselamatan kerja?"
"Ari kepikiran ambil tema gulma kaitannya dengan pendangkalan Rawa Dano akibat pembalakan liar, alih guna lahan di daerah resapan. Berandai-andai kalau Rawa Dano tidak dijaga dengan penanganan dan pengelolaan yang tepat, bisa-bisa duapuluh tahun ke depan, kering kerontang. Mati industri hilir, seperti industri baja, kimia di sini. Semua pabrik yang dapat suplai air dari Rawa Dano."
"Menarik tema kamu. Kapan kepikirannya?" Pak Rendy mangut-mangut. "Ya udah, kamu susun dulu outlinenya sambil nanti baca-baca literatur di sini, kondisi perusahaan sama Rawa Dano. Kalau soal tema, persetujuan dua pembimbing. Dosen kamu, sama Pak Rahmadi selaku manajer di sini. Kami cuma bantu-bantu awasi kalian, takut nakal. Haaa, ya, 'kan, Pak Ahmad?"
"Yoiii ...," sahut Pak Ahmad dari depan.
"Sebenarnya, Ari sudah baca profilnya minggu lalu. Yah, karena ini saya mundur dua minggu dari jadwal. Tapi tercetusnya tema, barusan saja, Pak. Pas kena sembur Pak Adi."
Pak Rendy tertawa sambil menepuk perutnya yang terlihat mulai membuncit. Sabda alam, tentang kemakmuran dan kemapanan seorang pria. Perut yang mulai membuncit, batin Ari ikut tersengih.
"Bapak pernah pesankan, jangan diambil hati kalau Pak Rahmadi marah. Urusan beliau banyak, dari Intake Sungai Cidanau, reservoir atau Rumah Pompa yang saat ini sedang bermasalah dan ditangani Pak Imam, lalu WTP di sini. Kamu tahukan, air di sini buat apa? Menunjang produksi baja nasional, ekstranya, baru dikomersilkan ke grup perusahaan, masyarakat kota dan beberapa korporasi lain.
"Pak Rahmadi, namanya juga kepala divisi. Divisi paling riweh, ya, produksi. Bukan berarti divisi perawatan, divisi komersil dan pemasaran enggak penting. Semua bersinergi. Dan ....
"Meski menarik, tema kamu berat. Bapak enggak yakin kamu bisa mengarunginya. Akan tetapi, tergantung gimana Pak Rahmadi."
Ari mengangguk-angguk. Mungkin ke depannya, dia harus lebih bermanis, tidak ikut mengasah golok. Dia sadar yang disinggung Pak Rendy tentang mengarungi Rawa Dano. Ini pasti masih berhubungan dengan kostumnya.
"Nong, umurnya kamu berapa?" Pak Ahmad tiba-tiba menyela, berselancar dengan kursinya.
"Woi ingat bini, ingat buntut di rumah, Pak Ahmad."
"Diem ...!" sergah Pak Ahmad dengan pandangan pura-pura sengit pada Pak Rendy.
Ah, kenapa pertanyaan galat begini? Ari jadi merana. "Dua puluh tahun, Pak."
"Wah, kita masih bisa, nih, di sebut, kakak adek, kakak kelas, haaaa ...." Pak Ahmad mengerakkan kursi yang bawahnya memiliki roda itu menuju kubikel Pak Imam.
Ari memberengut. "Mosok? Berapa memangnya, Pak?"
"Dua puluh sembilan," sahut Pak Rendy sambil terkekeh. "Kalau sama kubikel depan, sama tengah ini, jangan percaya. Udah tua bangka mereka itu, Ri."
"Subhanallah, Pak Rendy keren. Duapuluh sembilan sudah jadi kabag. Tersohor pula perusahaannya. Kalau Ari enggak salah, Pak Rendy paling muda, ya, diantara tiga kabag?"
"Yup. Memang muka kasep, ganteng, segar macam saya langsung teridentifikasi, kok," kekehnya tambah rancak. "Nah, sini, Nong, coba eja nama saya," ujar Pak Rendy menyerahkan lencananya.
"Rendy Darmawan, S.T." Ari melaungkan nama itu keras-keras. Membuat dua pria itu terbahak-bahak, sampai menepuk meja.
"Ukuran muda, salah satunya, saya lulus dengan gelar, S.T. Nah, yang kubikel tengah ini, apalagi yang kumis Pak Raden itu, angkatan baheula. Gelarnya saja masih Insinyur. Lama, sampai lumutan pula tuh kuliahnya. Haaaa ...."
Masih dengan tawa membahana, Pak Rendy tanpa dipinta menerangkan perbedaan gelar Sarjana Teknik dan Insinyur. Gelar Insinyur yang sudah dihapus sejak tahun 1994 dengan masa perkuliahan yang lebih lama dengan beban 166 SKS, sedangkan Sarjana Teknik hanya membutuhkan masa studi lebih pendek, juga beban 144 SKS.
Tiba-tiba satu gumpalan kertas berbentuk bola melayang. Yang dimaksudkan untuk mengenai Pak Rendy, tetapi menyasar pada kepala Ari. "Aduh, Pak Ahmad enggak terima dikatai tua." Ari tergelak. Pria-pria matang yang kocak.
"Oi, jangan nyampah, ada anak lingkungan ini. Kena pasal, ntar!" Pak Rendy lagi-lagi tertawa-tawa.
"Kalau Pak Manajer, angkatan baheula juga, Pak?"
"Pak Rahmadi itu seangkatan sama Pak Imam. Beda kampusnya saja. Kalau saya, ya, sama kampusnya sama Pak Rahmadi, dari Kota Kembang. Cuma, saya stok baru...."
Ari akhirnya tahu almamater Monster Ijo, lulusan Bandung. Pantesan lagaknya sundul langit, memandang rendah padanya.
"Wah, berarti pinter, yah. Bandung, tea! Yang kuliah ke sana, biasanya teladan di kelas. Sekolah malahan."
"Biasa aja. Kalau Pak Rahmadi memang pinter. Sttt ... sini!" tangan Pak Rendy menarik sandaran kursi Ari, menyeretnya mendekat. "Saya kasih tahu sejarah kerja di sini."
"Ceritanya bagaimana, Pak?
"Dulu saya pas interview ke sini, ditampung di rumah Pak Rahmadi. Karena kasihan saya jauh dari Cimahi, tidur di Masjid Raya. Nah, dari situ, orang-orang mengira, saya nepotisme. Almamater sama, eh, ketahuan datang naik mobil sama Pak Rahmadi. Apes."
"Apes? Itu, kan, sesuai jurusan Pak Rendy." Kalau nggak menawarkan diri, wah, justru senior yang sombong, bisik Ari dalam hati.
"Yah, tetep. Saya ngerasa ada balas jasa gitu. Padahal itu usaha saya maksimal, udah ngos-ngosan itu. Siang malam doa, tahajjud, hajat, bahkan puasa Senin, Kamis. Tesnya saja satu minggu. Dah ...." Pak Rendy kembali mendorong kursi yang di duduki Ari menjauh.
"Inti dan pesannya, apa, Pak?"
"Siap, tempur, Nong! Kamu enggak salah milih jurusan, walaupun kostum seperti Ninja Hatori. Kamu sedang cari ilmu. Titik."
"Eh, Pak Imam."
Pak Imam entah sejak kapan sudah muncul sambil menumpukan tangan di atas kubikel Pak Rendy. "Oh, ya, ini buku laporan penelitian pelestarian Rawa Dano. Ini, kerjasama perusahaan dengan SEAMEO-BIOTROP.[2] Buku lama, tetapi masih relevan buat literatur."
"Alhamdulillah ... terima kasih, Pak Imam."
"Saya, enggak? Padahal yang bagi konseling dari Subuh." Pak Rendy pura-pura manyun. "Ck, kamu tahu, Ri. Kamila sudah dua minggu di sini, belum dipinjami buku itu. Kalian, ehem!" jari Pak Rendy menunjuk pada Pak Imam.
"Terima kasih semuanya. Pak Ahmad, Pak Rendy dan Pak Imam. Enggak usah buat gossip kenapa, Pak Rendy ini."
"Oke, manis, sana ke ruang arsip, nanti temanmu nyari-nyari."
Pak Rendy mendorong sandaran kursi yang di duduki Ari hingga terjerit saking terkejutnya. Kursi beroda itu meluncur ke depan, sebelum di tahan oleh pemilknya, yaitu Pak Imam.
"Ari ...."
"Ya, Pak."
"Jangan kecil hati. Kamu boleh kok pakai baju tempur seperti itu." Pak Imam memberi nasihat. "Dengan catatan, mungkin kamu tidak akan dapat ikut serta saat kita ke lapangan. Meninjau beberapa titik yang 'menarik'."
"Menarik itu misalnya, seperti apa, ya, Pak?"
"Rawa Dano, Sungai Cidanau lihat buaya," ujar Pak Imam menaikkan alisnya.
"Temanku ada yang bajunya persis Ari. Jubah gitu. Naik gunung dia, esktrim sih, tapi jago memang." Pak Rendy menimpali. Memberi suntikan semangat.
"Ck, ieu Rawa Dano. Benten kalawan gunung anu nanjak, Ren. Konturnya perairan ranca langkung bahaya." [3]
Ari berusaha mencerna apa yang disampaikan kedua orang Kabag itu. Jadi dirinya hanya akan menjadi bocah magang tukang photo copy.
"Nong, tolong data debit ini ngopi ke office atas."
"Nong, data Rumah Pompa II, bawa ke sini! Buruannya. Pak Monster sudah ngamuk itu."
Ari menepis semua bayangan menjadi pesuruh di Departemen Produksi. Tidak!
"Ngerti, Nong?
"Saya ngerti kok, bapak-bapak. Ehmmm. Ini kalau sudah tidak ada apa-apa, Ari boleh undur diri."
Ari beranjak dari duduknya, menebar salam, lalu segera undur diri dari ruangan Kabag sambil mendekap buku laporan yang setebal 200 halaman A4 itu. Bapak-bapak itu bersiul-siul sambil mengoceh tentang sesuatu yang Ari tidak begitu paham. Mungkin tentang kerusakan di Rumah Pompa II. Hanya kata itu yang mampu ditangkapnya, lagi-lagi mereka mengunakan Bahasa Jawa Serang yang terasa familiar, tetapi tak mampu dicerna.
"Dapat lawan, si Adi."
"Mungkin ingat Adiknya. Jadi bawaannya mendidih. Ari kalau diperhatikan mirip sama Shinta. Beda pada kulitnya agak gelap dan lebih tinggi sedikit, tapi manisnya mah sama," ujar Imam Junaidi. "Tambah baju tempur. Rahmadi ngatain bajunya Ari, baju tempur coba."
"Jun, kalau soal manis, radar sire cepat wae. Haaa," seloroh Pak Ahmad.
"Pak Imam pernah lihat? Tahu manis segala." Pak Rendy ikut ricuh.
Imam Junaidi tertawa sambil mengangguk.
"Calon dokter, padahal, Shinta itu." Satu helaan lolos. Dia dapat melihat mendung di wajah pimpinannya. Pasti sikap berani dan keras kepala b***k magang itu. Belum sehari sudah berani konfrontasi. Persis Shinta.
"Kecewa, lebih tepatnya. Jadi seorang Abang sekaligus Ayah, enggak mudah. Eh, sudah baik-baik dijaga, sekolah sampai tinggi, tapi nikah saja, bawah tangan, ya?" Pak Ahmad menimpali.
"Bukan bawah tangan, bukan siri juga. Resmi, kok. Adiknya yang katanya lari ke kawasan konflik itu, dibawa suaminya. Rahmadi sendiri yang nikahkan, kok." Pak Imam menyanggah apa yang dikatakan Pak Ahmad.
"Iya, aliran-aliran apa itu. Yang sampai sekarang, nihil, enggak bisa diendus keberadaannya. Sebagai seorang abang, pastilah khawatir."
"Tapi mereka berdua memang sejarah baru, ya. Ari sama Mila. Anak cewek di produksi ini. Meski cuma magang, haaa ...." Tiba-tiba obrolan Pak Ahmad kembali ke anak magang. Setelah sebentar tadi mengosipkan pimpinan mereka.
"Lumayan lah mata dapat vitamin. Obat tetes mata mahal."
"Bener. Meraka berduakan bening."
"Hoi, eling, masih ada Tutik di bawah. Hormonnya sama dengan dua b***k magang. Kenapa enggak heboh, sih?"
Lalu tawa mereka menyatu dengan suara ketukan jari pada keyboard komputer.
-------------------
1.Water Treatment Plant.
2.South East Asian Regional Center for Tropical Biology.
3. Ck, ini Rawa Dano. Beda dengan gunung yang menanjak. Kontur perairan rawa lebih berbahaya.