Langkah Rahmadi lebar-lebar, meninggalkan Ari dalam amukan tanya. Pada detik itu, departemen produksi yang baru Ari jejaki tidak lebih dari tigapuluh menit lalu tak ubahnya tempat p********n. Salah sedikit, sosok Monster Ijo itu akan mengasah golok padanya, atau akan membahamnya hidup-hidup.
Ari memandangi jubah labuhnya. Kenapa dengan Pak Rahmadi itu? Pria itu dari segi fisik dikaruniai kulit cerah, wajahnya teduh, cenderung imut. Satu jengkal lebih pendek dari Pak Imam yang tinggi tegap, tetapi lebih tinggi dari dua kabag lainnya. Pak Rendy dan Pak Ahmad. Dia pastinya terpelajar. Makan sekolahan, istilahnya. Namun, entah mengapa nalarnya cuma sehasta, memperlakukan Ari seperti kuman.
Ari segera mengenyahkan semua prasangka. Meski memasang wajah serupa papan besi, Bapak Manajer Produksi tersebut berkata tidak sampai hati mengusirnya. Dia patut bersyukur.
Setelah berhadapan pintu dengan tulisan 'Kepala Bagian', Ari menghela napas panjang. Ketika berniat mengetuk pintu, dia teringat akan penampilannya yang kacau balau. Sehabis diceramahi selama lima belas menit di ruang manajer yang berakhir drama, dirinya tak yakin sisa air mata itu benar-benar bersih dari pipinya. Bisa-bisa para Kabag curiga terjadi tindak pelecehan oleh manajer kepada anak magang.
Bukankah dari raga dingin itu bisa saja bersemayam jiwa seorang psikopat? Psikopat terkadang menjebak mangsanya dengan wajah yang cenderung imut. Ari menggelengkan kepala, memilih melangkah ke toilet yang persis terletak di depan ruangan kepala bagian.
"Awww ... permisi ... permisi, Pak!" Duh, demi Allah tidak lihat, asli.
Ari setengah berlari ke dalam toilet yang ternyata harus melewati urinoir. Seorang lelaki dengan posisi membelakanginya tengah melakukan aktivitas buang air kecil. Dia menepuk jidatnya berulang kali.
Bukankah ini secara tidak langsung penolakan kepada oknum perempuan di area Departemen Produksi. Desain toilet perusahaan sangat seksis. Setiap akan masuk ke WC, harus melewati urinoir bersekat dengan jumlah tiga buah itu. Bagaimana kalau mereka, para lelaki itu sedang melakukan kencing berjamaah?
Muka Ari benar-benar merah. Tidak habis pikir, kenapa dia terpelanting di tempat ini? Kenapa proposal magangnya di rumah sakit Palang Merah harus tertolak? Mengapa, oh?
Entah mengapa
Aku tak berdaya
Waktu kau bisikkan
Jangan aku kau tinggalkan
Ari menepuk kepalanya sekali lagi. Kerudungnya sampai miring tak berbentuk. Beberapa kali kakinya terangkat dan menekan flush walaupun dia bahkan tidak bermaksud membuang hajat. Setelah napasnya teratur, Ari bercermin, lalu meraup air yang keluar dari kran wastafel. Menempelkan jidatnya pada cermin, mengenyahkan bayangan tak senonoh itu agar hilang dari otaknya. Sepertinya, dia yakin tidak melihat sesuatu yang ganjil.
Hanya saja, argh ....
Ya Allah sesungguhnya hamba berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan. Aamiin.
Ari mengeja doa dalam hati. Harusnya itu yang dia ucapkan ketika akan masuk tadi. Khilaf itu memang menyiksa batin, menyengsarakan hidup dan luar biasa memalukan.
Kamilaaa! Benar-benar ngenes hari ini. Malu hingga sumsum tulang belakang. Kemeja biru cair, celana bahan biru tua. Sah, berarti bukan anak magang seperti dirinya. Karena menurut Kamila, seragam anak magang dari universitas sebelah, berwarna coklat muda. Berarti antara, Pak Rendy, Pak Ahmad atau Pak Imam? Ari kembali mengelengkan kepala.
Laki-laki itu tinggi, meski posisinya, sedikit menunduk. Ah, Ari membekap mulutnya. Lebih baik kalau sosok itu bukan orang yang dia kenal.
Tok! Tok!
Ari hampir terjengkang mendengar gedoran pintu di belakangnya. Bukankan tidak sopan, seseorang mengedor pintu toilet yang tertutup. Bukankah itu bentuk intimidasi.
Buka ... enggak ... buka ... enggak? Batinnya mulai bergejolak.
"Hallo?"
Ari menajamkan telingannya. Menempel pada daun pintu. Itu seperti, suara Pak Ganteng di ambang batas normal. Jadi itu tadi Pak Imam? Duh, buka enggak, ya. Isin pool sama orang ganteng.
"Iya, Pak, sebentar."
Ari merapikan kerudung, mengeluarkan jaket almamater. Dia mensugesti, jaket almamater cukup untuk mendongkrak rasa percaya dirinya. Lalu dengan sedikit menebalkan muka, Ari melangkah membuka pintu. Tidak ada orang apalagi Taxido Bertopeng gebetan Usagi si Sailor Moon. Namun, tadi dia dengan jelas mendengar suara ketukan pintu.
Segera saja Ari teringat pesan Kamila. Ini maksud dari masuk toilet harus permisi dengan keras.
Awas saja nanti malam Kamila, aku smackdown kamu, ceracau Ari masih saja bicara sendiri sampai-sampai bibirnya manyun beberapa senti.
"Ari ...."
"Astagfirullah, Bapak. Kaget saya. Gugur jantung, Ari."
Pak Imam dengan, yah, senyum menawan selalu, sedang bersedekap di depan pintu ruangan Kabag. "Saya nunggu kamu, Ri."
"Iya saya, Pak. Ini tadi habis cuci muka, soalnya Ari ngantuk, Pak." Semoga puasa tidak batal karena bohong sunnah.
"Masih pagi padahal, kok bisa ngantuk. Grogi, ya?" tebak Pak Imam. "Santai saja kalau sama saya, geh." Pria itu maju berhampiran tangga, memangkas jarak mereka. "Gini, tadi sama Pak Rahmadi disuruh ke saya, 'kan. Masuk saja, jumpa sama Pak Rendy. Bapak ada urusan, harus ke Rumah Pompa II. Ada sedikit problem."
"Oh, iya, Pak. Siyap." Ari bahkan tidak berani mengangkat mukanya yang memerah. Saat tangannya memegang gagang pintu, pria itu juga sudah menapaki satu tangga turun, tanpa sedikitpun mengungkit apa yang terjadi sesaat tadi. Tiba-tiba pikiran itu melintas. Ari nekat bertanya, "Pak, yang tadi jangan bagi tahu siapapun, ya. Ari, malu. Maaf, belum tahu kondisi di sini. Kalau toiletnya gitu."
Ari jadi kepikiran melihat dari dekat penturasan itu. Apakah manual atau automatis. Bila automatis dipastikan kebersihannya, tidak pesing, karena sistem air yang memancar, tetapi tidak ramah bagi lelaki muslim untuk bersuci dari hadas karena air cepat mati. Ari pernah mendengar itu dari celetukan kakaknya. Dan urinoir di Departemen Produksi sepertinya, tidak pesing.
"Hah, apaan, Ri?" respon pria itu yang terlihat bingung, kemudian menyunggingkan senyum, membuat Ari panik. "Oh, yang tadi."
"Tadi itu memang Pak Imam, ya?"
"Oh, iya. Tenang saja. Lagi pula kamu enggak lihat apa-apa, 'kan?" candaan jail justru terlempar.
Ari mengangkat dua jarinya. "Beneran, saya enggak liat, Pak." Serupa orok, baik, mata, telinga, hati belum tercemar. "Insya Allah, Pak."
"Ya udah. Jadi enggak usah malu-malu gitu. Nunduk muka terus-terusan. Bisa nabrak tembok, ntar. Dari tadi nunduk aja. Nanti, saya jadi lupa wajah kamu kalau ketemu di jalan." Pak Imam tidak dapat menahan geli. Gadis yang berani berkonfrontasi dengan manajernya ini benar-benar mengemaskan.
"Yah, Bapak. Ini namanya upaya menjaga pandangan. Godho basor gitu."
"Ari ... Ari. Kamu itu, polos, ya. Pantesan, Pak Manajer gemes."
Gemes? Gemes dari Hongkong.
"Pak Manajer marah besar. Saya enggak ngerti kenapa bawa masalah kostum. Kalau gitu besok saya mau pake jubah gelap, pakai burqa sekalian."
Pak Imam memandangi bocah magang yang sebentar tadi telah membuat Sang Manajer kembang otaknya. Biasanya yang dipikirkan adalah masalah kerja, bagaimana air terjaga kontiunitasnya. Kali ini harus mengurusi perempuan muda labil yang bukan Erlita, atau Shinta. Mengurusi istrinya saja Rahmadi seperti: lebih baik diam dari pada 'Perang Teluk' pindah ke rumahnya.
"Ari sejak kapan pakai seperti ini?"
Ari menunduk. "Seperti ini, maksudnya, jubah?" Pak Imam mengangguk.
"Heem. Pada pandangan saya, itu membutuhkan kesiapan mental dan juga ilmu yang mumpuni. Kamu itu kuliah teknik, lho. Hebat juga dosen kamu kasih toleransi."
"Di kampus sudah biasa. Praktikum di kandang, sawah, lab. Biasa atuh."
Pria berwajah menawan itu menyunggingkan senyum sekilas, "Jadi, kapan Ari mulai pakai jubahnya?"
"Ehmm, kapan, ya? Waktu itu kalau nggak salah, semester satu, biasa dosen agama suka nunjuk, random anak-anak buat baca Al-Quran, kata si Bapak, 'Ari sudah bagus bacaanya, kapan pakai kerudungnya, tutup aurat. Kalau mau, nanti Pak Syam belikan'. Nama dosen agama kita, Pak Syam."
"Dosen kamu bilang gitu?"
"Iya, Pak. Eh, tetapi geli juga. Mosok anak-anak jurusan bilang Ari bakal dijadiin bini muda si Pak Dosen. Enggak banget. Ari pakai hijab syari gini, karena benturan pemikiran, sih. Salat udah, ngaji udah, tetapi masih ada yang kurang, dari situ. Ikut rohis juga."
"Wah, ada riwayat ditaksir bapak-bapak, ya?"
Ari memandang Pak Imam dengan sedikit mendelik, bibirnya pula ikut berkerut. Pria itu tertawa mendengar ceritanya. "Pak Imam, malahan ketawa."
"Nanti, saya bicara sama Pak Manajer, ya. Urusan bos kita banyak. Jadi, jumpa Pak Rendy dulu, nanti kita diskusi.
"Pesan Bapak, kamu harus mandiri. Ini, semacam kawah candradimuka buat kamu. Berhadapan dengan sekumpulan kecil masyarakat sebush korporasi yang bisa jadi kohesi. Bagaimana kamu bisa diterima. Tunjukkan siapa dirimu. Kualitas kamu. Ini bukan masalah kostum," tunjuknya pada penampilan Ari. "Oke, Nong?"
"Iya, Pak. Sudah, oke."
"Ada yang mau ditanya lagi? Saya mau ke lapangan dulu."
Ari menggeleng.
Nasihat yang dituturkan Pak Imam begitu mengena. Dia seperti disirami embun pagi yang dipanen dari pucuk-pucuk cemara hutan Gunung Salak. Entahlah. Bibir Pak Imam yang dari pagi tak lekang dengan senyum, lalu seketika menjadi seorang motivator ulung. Gaya ini lebih cocok dan tidak mendebarkan hatinya yang rawan.
Iya, tempat magang ini adalah kawah candradimuka baginya. Bersinergi dengan masyarakat dalam sebuah korporasi, bukankah dirinya ini agen of change.
Ah, telinga Ari seketika berdengung, dengan istilah itu. Agen of change.
Teori sekali ....
------
Selamat membaca, semoga berkenan. Sambil menikmati hujan rinai dapat kabar wisata Slekta di daerah Batu, Malang diterjang banjir bandang. Semoga tiada korban jiwa. Aamiin.