Bab 5-Intake Air Baku

1784 Kata
Blam! “Woi, dia pikir aku ini lalat di TPS Bantar Gebang!” geram Ari sambil mencengkram gangang pintu di depannya. Memukulnya karena dirundung kesal. Ari terus saja menggedor pintu jati di hadapannya. Dia murka, karena sang pemilik ruangan itu tiba-tiba tuli sekaligus mengabaikannya begitu saja. Ya Allah nista sekali, batinnya kalap. “Yang keras, Nong!” Seketika Ari menoleh, masih dengan sisa kedongkolannya. Namun, justru disambut senyum merekah ala Pak Imam yang kini menghampirinya. Ari menghela napasnya yang hampir putus. Kenapa dua pria di departemen produksi ino bisa berbeda bagai langit dan bumi. Pak Imam, sudahlah ganteng, ramah, plus wanginya serasa taman bunga. Suaranya merdu bikin merem m seperti penyiar radio lagu kenangan yang suka di putar ibunya. Kenapa, ya, makhluk yang baru saja melesat ke dalam ruangan itu tidak memiliki sedikit saja kharisma Pak Imam. “Hampir rubuh saya gedor, Pak.” Pak Imam masih tersenyum lebar, dengan sekali ketukan ia mendorong pintu ruangan yang bertulis ‘Manager Produksi’ itu. Manager? Ini yang buat plakat nama buka kamus nggak sih, kok ejaannya salah, cibir Ari sebelum masuk ruangan itu. Manajer! “Pak Adi, ini Neng Geulis dibiarin gedor pintu dari tadi. Tangannya bisa kapalan, lho.” “Oh ya, masuk! Dari tadi kok nggak masuk-masuk. Sudah saya tunggu padahal.” Dari tadi kok nggak masuk? Suara Monster Ijo terdengar luar biasa ramah. Ari patut waspada. Pasti hanya alibi. Dari sorot mata tajam yang anti keramahan itu pasti akan ada sedikit pertempuran kecil. Dari tadi, dirinya terbiarkan di depan pintu, untung dia tidak ada laler yang hinggap. “Ayo masuk, Ari. Eh, Ari, ya?” Pak Imam yang terlebih dahulu masuk, menempatkan bundelan dokumen yang tadi dibawanya ke atas meja kerja. “Jangan galak-galak. Kasihan anak orang udah pucet gini,” bisiknya lagi. “Hmmm. Apa sih Jun!” dengungnya sambil lalu. Melanjutkan mencatat di atas nota tanpa berusaha mendongak. “Jun, ini termasuk laporan Intake Air (1) Baku Plant II, ‘kan?” Pak Imam sesekali mengangguk sambil tersenyum miring yang dia tujukan pada Ari. Rileks, bisiknya. Ketika acara mesem-mesem tidak jelasnya selesai, atau memang urusan dengan obrolan yang tidak dimengerti Ari rampung, pria itu akhirnya keluar. Meninggalkan Ari dalam sepi berdua dengan Monster Ijo. Yah, Pak Manajer yang sedari tadi saat bicara dengan anak buahnya, hanya menyambung dengan heh atau hem. Entah, mungkin pita suara Pak Manajer terbuat dari pintalan benang emas. Hingga suaranya begitu mahal. Ari berdiri persis di tengah ruangan sambil matanya meliar sekadar mengamati keadaan ruangan sang manajer itu. Ada satu set sofa berwarna coklat muda di sudut ruangan. Sebuah meja kerja dengan suara dengung komputer yang sedang proses booting yang kini mendominasi kesunyian bersama desisan penyejuk udara. Bapak Monster yang terhormat, pemilik ruangan masih asik menuliskan sesuatu tanpa perlu mengindahkan tamu yang sebentar tadi sudah diperintahkan masuk. Atau jangan-jangan perintah masuk itu hanya untuk Pak Imam? Namun, saat di bawah tadi, Ari mendengar dengan jelas: kamu anak baru nanti ke ruangan saya! Tadi dibuat hampa di depan pintu, sekarang di tengah ruangan yang dingin. “Mau sampai jam makan siang kamu berdiri kayak gitu?” Akhirnya …. “Bapak belum menyuruh saya duduk. Nanti dikira saya nggak tau tata karma. Masuk-masuk, terus saja duduk. Padahal belum dipersilahkan.” “Ck, pinter basa-basi kamu. Sok, duduk Duduk, Nak!” “Gak usah ditambah, anggap ruangan sendiri, ya, Pak.” Rahmadi terkejut, menghentikan kegiatan menulisnya. Pria itu sampai melebarkan pupil matanya. Dengan masih menggengam pena, pandangannya berpindah kepada gadis yang kini duduk di hadapannya. Mereka terpisah jarak satu meja. “Coba kamu berdiri!” Ari menghela napas. Menjatuhkan tas ranselnya secara tak sengaja. “Ada apa, Pak?” Pria itu pun berdiri, menumpukan kedua tangan merentang di atas meja. Ia memajukan badan, “Oh, oke. Perlengkapan tempur kamu, memang selalu kayak gitu?” juih Rahmadi dengan dagunya. Ari melongok ke bawah. Perlengkapan tempur? Dia mengembangkan roknya, “Iya, Pak. Ada masalah?” Ari sudah familiar dengan istilah karung beras, kelelawar, Ninja Hatori, dll. Mungkin semua ejekan itu dalam hitungan detik akan menginvasi telinganya. “Besok, ganti celana panjang sama kemeja, ya.” Wajah Ari memerah. Bertukar dari panas cerah menjelang dhuha, menjadi memerah segelap senja. “Maksud, Bapak? Saya enggak … bisa. Ini sudah masalah prinsip ini. Apa salahnya menjadi taat?” “Enggak ada yang bilang kamu enggak taat. Hai, bocah, dengar!” Rahmadi memejamkan mata, menepuk dahinya berulang kali. “Alim, nggak harus kali berbusana ribet gitu. Janji sopan dan aman.” Ari terperangah. Meskipun minus istilah karung, tetapi kata ribet itu tetap melukainya. Pakaiannya adalah pakaian syari. “Ini penistaan! Meski saya gak tahu AD/ART perusahaan ini,” bidas Ari sengak. “Kamu tahu uraian tugas di sini? Term and condition di Departemen Produksi? Syarat dan ketentuan yang berlaku di tempat ini? Teman kamu, siapa namanya itu, enggak kasih tahu kamu? Hai, bocah. Misalnya kamu ambil sample di lapangan,” ujar Rahmadi langsung meremehkan. “Bisa-bisa celaka. Kostum kamu ini tidak memenuhi syarat langsung! Harusnya kamu dapat mata kuliah, manejemen K3. K itu adalah keselamatan! Baju kamu, bisa buat kecelakaan kerja!” sengit Rahmadi tidak mau kalah. Apa hal bocah magang kemarin sore ini mengungkit AD/ART. Tahu apa dia dengan aturan perusahaan, geramnya berusaha menahan amarah karena sikap sembrono dan sok tahu bocah magang di hadapannya. “Dapat, Pak!” teriak Ari kesal. "Saya dapat mata kuliah K3 satu semester dengan bobot 3 SKS." Tanggung, kalau memang harus dipulangkan hanya karena pakaiannya. Pria penguasa departemen produksi ini benar-benar picik. Ari pantang mundur meski setapak pun. Bahkan Ari sudah menyiapkan dalil yang mungkin membuat pria itu akan mual-mual lalu muntah. Dia juga sudah menyiapkan pasti, balsem, dan minyak angin. “Saya tahu, meski tidak se-mahfum kamu tentang apa itu taat. Saya paham, gejolak remaja yang sedang mencari identitas diri, entitas diri dengan masuk dalam halaqah, liqo, pengajian-pengajian untuk jadi pribadi yang lebih baik. Untuk dakwah. Saya paham.” Suara Rahmadi mengendur. “Kamu magang di sini, sudah ada bayangan mau ambil tema apa?” Ari terdiam, menunduk seketika. Hampir luruh air matanya. Seperti saat dia pulang di hari lebaran dan membuat tercengang dua orang saudara lelakinya. Saat itu dia baru memasuki semester tiga. “Kamu itu, jangan terlalu eksklusif, Dek!” “Nanti kamu susah kerja. Kamu kuliah untuk nyenengi Ibuk, bukan jadi guru ngaji.” “Kalau gini kenapa tidak masuk pondok, atau kuliah di IAIN saja. Ambil pendidikan agama. Tarbiyah.” Ari mengangkat wajahnya. “Bapak pikir selama ini saya tidak pernah ke lapangan. Saya dapat ilmu tanah, hidrologi, kualitas air, konservasi hutan, satwa liar. Ambil sampel di Kali Ciliwung, ngukur debit air di Pintu Air Katulampa. Itu deras, Pak, airnya. Itu juga saya jabani. "Masuk plant limbah juga. Semester lalu kita action buat AMDAL. Penambangan kapur, di daerah Gunung Kapur Ciampea, Pak. Naik bukit, ngukur panjang dan tinggi bukit kapur sampai naik tebing, saya lakukan. Saya bukan mahasiswi sok cantik, karena saya sadar, memang nggak cantik. Saya bukan tipe, mahasiswi yang datang, duduk, yang hanya pandai menyalin data dari mahasiswa patner praktikum!” Ari menyelesaikan rentetan kalimatnya dalam satu tarikan napas. Dia masih ingin berkonfrontasi. “Siapa bilang kamu enggak cantik? Cantik, kok.” Rahmadi melontarkan sanjungan yang terdengar lebih mirip sebuah ejekan, membuat Ari makin mendelik. “Pokoknya, saya tetap pakai seragam tempur gini!” bidas Ari sambil mengelap sisa air mata dengan ujung kerudungnya. “Udah, ya, ngeyelnya. Udah, jangan nangis! Aduh—siapa tadi nama kamu? Sudahlah, enggak penting juga. Pokoknya mulai besok, ganti kostum kamu!” “Memangnya, Bapak mau belikan saya satu kodi celana panjang sama kemeja?” “Hah? Ngawur, kamu!” Rahmadi menggelengkan kepala, tetap keukeh dengan perintahnya, sambil meraih telepon meja, dia menghubungi nomor ekstensi ruangan Kabag. “Jun, sorry… ini b***k magang sareng sire (1) bagi tahu dia! Heh, ya gitu, subuh-subuh ngegawe manek angin pisan. (2)Hedeh, vitamin apa? Ada-ada saja.” Masih ada sisa tawa tak jelas ketika gagang telpon di letakkan asal-asalan. Tawa yang membuat wajah kaku berlipat di depannya sedikit terlihat manusiawi. Pandangan Ari turun pada gagang telepon, dia yakin bila ada pangilan masuk akan terblokir. Subuh-subuh, yang benar saja. Ari menggerutu sendiri. Meski tidak semua paham, dia tau sedikit-sediki apa yang di lontarkan si Monster Ijo itu. “Kamu, bocah magang, keluar! Tunggu apa lagi? Temui Pak Imam di ruangannya.” Suara yang sempat melembut kini kembali meninggi. Ari terjengil. “Permisi, Pak. Maksudnya?” “Itu pintu,” tunjuk Rahmadi tak sabaran. “Buka pintunya, lalu keluar. Kamu lurus, sebelah kiri ada tulisan: Kantor Kepala Bagian. Nah, masuk situ! Oh, ya, itu air matanya lap dulu!” Rahmadi mengeluarkan sapu tangan, mengangsurkan pada Ari yang dengan ragu bercampur gemetar menerimanya. Dia tadi berusaha mengambil tisu dari dalam tas. Ari mengesat air matanya yang kembali menganak sungai dengan napas masih tersengal. “Anak Lingkungan itu harusnya go green. Dikit-dikit kok tisu. Kalau patah hati enam kali, habis itu hutan se-Kalimantan!” Bahu Ari merosot lagi. Pria di depannya ini sengaja mengaduk emosinya. Semangatnya menguap entah ke mana. Dia meraih tas ransel yang tadi terjatuh di lantai. Setelah bocah magang itu keluar dari ruangan, Rahmadi menggeram menyalurkan emosinya, lalu terduduk dengan lesu. Pria itu memutar kursinya seperti komidi putar. Berusaha mengenyahkan bayangan tak nyata yang baru saja mampir dalam ceruk hatinya. Gadis yang mengingatkan dirinya pada seseorang. Keras kepala, teguh pada pendiriannya. Apa salahnya dengan taat? Persis sama dengan dia. Meski bisa saja, keteguhan itu mendorongnya pada hal yang membinasakan atau paling ringan, harapan yang pupus lalu musnah. Rahmadi memijat pelipisnya dengan gerakan memutar, kemudian merapikan tumpukan kertas. Dia menghela napasnya yang terasa berat, lalu melangkah keluar ruangan. Rahmadi menghitung langkahnya. Hari ini, hari Senin terburuknya. Atau, hari ini tidak peduli hari apa, adalah hari di mana dia serasa berhadapan dengan sosok yang sangat dia rindukan. Sosok yang sudah tidak dia ketahui di mana rimbanya. Apakah dia masih hidup atau sudah mati. “Astagfirullah! Kamu ngapain masih berdiri di depan pintu? Hah!” “Saya enggak disuruh balik, kan, Pak Adi?” lirih Ari memelas. “Kamu pikir saya sekejam itu, ya, bocah! Kalau kamu nggak mau tukar kostum, jangan pernah ke lapangan. Bantu-bantu Bu Tutik di laboratorium bawah. Data lapangan, kamu pakai data sekunder! Sudah lambat ini saya. Ngurusi kamu ngalah-ngalahi intake air baku. Riweh.” Ketus dan lugas adalah nama lain dari Eko Rahmadi. Apakah dia masih punya nama belakang lain? Oh, ya, seperti julukan yang diberikan Kamila cocok. Sangat cocok. Monster Ijo tak berperikemanusiaan! ---------------------- 1.Intake atau bangunan penangkap air adalah bangunan penyadap air atau alat yang berfungsi untuk mengambil air dari sumbernya. Pada dasarnya intake dilengkapi dengan kisi-kisi atau saringan dimana air baku masih dapat melewatinya. 2.Anak magang ini sama kamu saja. 3.Pagi-pagi membuat aku naik darah. Hai, terus dukung Jejak Hati, ya. Big hug!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN