Author pov
Tok tok tok
Tania mengetuk pintu kamar Michael.
Ceklek
"Ada apa?" Tanya Michael
"Emm.. aku sangat bosan sekali di dalam mansion mu terus."
"Apa kau ingin belanja dan jalan-jalan? "
"Iya... Iya aku ingin belanja dan jalan."
"Baiklah kau akan pergi denganku."
"Eh, tunggu Michael. Aku juga bisa dengan bodyguard mu. Kau di sini saja."
"Tidak semudah itu Tania. Aku sudah tau apa yang kau rencana kan," ucap Michael langsung masuk lagi ke kamar.
'bagaimana aku bisa pergi, kalau Michael di samping terus.' batin Tania.
"Memang aku merencanakan apa?" Tanya Tania.
"Tania, ini untuk mu. Kau bisa menggunakan nya." Michael memberikan kreditcard kepada Tania.
Tania tampak sedang memikirkan sesuatu. Biasa nya laki-laki paling tidak suka dengan wanita yang materialistik. Jadi itu bagian dari rencana Tania.
Sebenernya Tania, orang yang tidak suka menghambur-hambur kan uang. apalagi uang punya orang lain. Jugaan Tania tidak suka berbelanja.
Sudah sekitar satu jam Tania dan Michael berbelanja. Sampai bodyguard Michael kewalahan membawa belanjaan nya Tania.
'Terserah Michael dan bodyguard nya jika mengataiku wanita yang matre' batin Tania.
Tania sudah tampak percaya diri, karena Michael akan memarahi nya, Dan mengusir nya. Karena sudah menghabiskan uang nya.
Tania dari tadi hanya senyum-senyum sendiri.
"Tania.. Ayo kita belanja lagi. Kau bisa pilih sepuas nya," ucap Michael.
Sedang kan Tania. Sudah melongo. Dia sudah yakin sekali bahwa Michael akan mengusir nya. Ternyata apa? Usahanya sia-sia.
*******
Tania pov
Aku tidak habis pikir dengan Michael, bukan nya mengusir ku. Malah tambah memanjakan ku.
"Michael kenapa kau tidak mengusir ku dan memarahi ku?" Tanyaku.
"Kenapa harus memarahi mu, kau sedang tidak membuat masalah."
"Ya kan aku sudah menghabiskan banyak uang mu."
"Hanya uang segitu? Tidak ada apa-apa nya buat ku Tania," ucap nya sombong.
"Cih.. Sombong sekali dirimu," ucapku.
"Tania.." Seperti aku mendengar seseorang memanggil ku. Tapi siapa? Michael pasti tidak mungkin. Karena dari tadi hanya di samping saja.
"Tania.. Apa kabar mu?" Tanya seseorang dari arah belakang.
"Hai... Kau ternyata Aron." Aku menghambur ke pelukan lelaki itu.
"Aku baik-baik saja Aron." Lanjutku.
"Dimana ibu dan adik mu Tania?" Tanya nya.
"A..ib..ibu dan adik ku di rumah tadi. Iya dia di rumah," ucapku bohong.
"Bagaimana mana dengan mu dan bibi Nuri? " Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Oh ibuku baik-baik saja. Katanya dia sangat merindukan mu."
"Kalau begitu salam buat bibi Nuri ya Aron."
"Iya akan ku sampai kan nanti."
"Ekhemm.." Tiba-tiba Michael berderham.
"Ah iya aku lupa.. Ini kenal kan namanya Michael. Dan Michael kenal kan ini Aron."
"Aron." Aron mengulurkan tangan nya kepada Michael.
"Michael." Jawab Michael dan menjabat tangan Aron.
"Kau siapa nya Tania?" Tanya Aron.
"Majikan Tania." jawab Michael dingin.
"Oh.. Aku adalah calon suami nya Tania."
"jadi jangan terlalu dekat dengan calon istriku," ucap Aron yang justru membuat Michael menaikan sebelah alisnya.
Tiba-tiba Michael melangkah pergi meninggalkan ku dan Aron.
"Aron harus nya kau tidak bicara seperti itu."
"Kau sudah ku anggap keluarga," ucap ku pada Aron dan meninggalkan nya.
Aku menyusul Michael yang tadi pergi duluan. Tiba tiba rencana kabur ku kacau seketika. Dan sekarang aku dan Michael sudah ada di dalam mobil untuk menuju mansion Michael.
Di dalam mobil hanya hening saja, tidak ada yang mengucapkan satu kata pun. Akhirnya kita sampai di mansion Michael.
"Michael tolong maaf kan Aron tadi. Karena membuat mu tersinggung," ucap ku.
Sebenarnya apa maksudku dengan menyakinkan Michael, memang Michael kekasihku?.Ah bodoh sekali dirimu Tania.
*****
Michael Pov
"James cepat kau cari tau teman Tania yang bernama Aron," ucapku dalam telepon.
"Maksud anda Aron Gayusler?" Tanya seseorang dari balik telepon.
"Mana aku tahu.. Aku tahu nya itu teman Tania."
"Ya tuan itu nama nya Aron Gayusler, teman dari nona Tania."
"Ya.. Ya baik lah, itu namanya terserah kau. Aku ingin kau beri pelajaran pada nya. Tapi jangan sampai Tania tahu kalau aku yang melakukan nya."
"Memangnya apa yang ia lakukan kepada mu tuan?"
"Tidak ada, aku hanya ingin memberinya pelajaran karna tidak sopan denganku." Jawabku
"Baik tuan akan kami laksanakan."
Melawan ku sepertinya tindakan bodoh yang tidak harus dilakukan.
Tok tok tok
Tiba-tiba suara mengaget kan ku.
"Michael tolong buka pintu nya. Ini aku bawakan kau makanan." Baru saja aku memikirkan nya, sudah muncul saja.
".... " Aku masih berdiam diri sambil duduk di tepi ranjang.
"Ayo lah Michael kau belum makan dari tadi siang."
Apa sebenarnya yang difikirkan gadis itu, mengapa ia tak kabur saja dengan temannya itu. Benar-benar diluar dugaan.
Berisik sekali dia.. Tunggu-tunggu kenapa suara dia seperti itu. Apa kah dia meng khawatir kan ku. Cek.. Apa yang kau pikirkan Michael jangan berharap kau.
Ceklek
"Mau apa dirimu?" Tanyaku.
Memang sengaja aku memasang muka seriusku. Oh iya sekedar memberi tahu. Aku mengurung diri bukan karena aku marah karena kelakuan pria k*****t itu.
Ya memang aku sedang marah, tapi tidak akan seperti ini. Kalau sedang tidak ada mau nya. Ya aku mengurung di kamar sejak tadi, biar Tania tahu seberapa khawatir nya dia pada ku.
Dan sekarang dia sudah di depan wajah ku.
"Ini aku membawa makan untuk mu. Kau belum makan dari tadi."
"Kau perhatian padaku?" Tanyaku.
"Oh apa kau lupa kalau aku pelayanmu?" Ayolah kenapa kau bisa melupakan itu bodoh.
"Aku tidak ingin makan," ucapku.
"Aku akan berbalik jika kau benar-benar tidak mau. Jangan buang kesempatanmu, karena aku tidak akan kembali membawakan mu makanan."
"Memang siapa yang menyuruhmu membawa makanan untuku?" Tanyaku membuatnya mendengus.
"Baiklah aku akan meletakan makanan nya di kamar mu."
"Apa kau tidak dengar? aku tidak mau makan."
"Aku yakin kau akan memakan nya nanti," ucapnya.
"Cih kau bodohnya sama saja dengan teman mu," ucap ku kesal.
"Astaga ternyata dirimu tipe orang yang mempersoalkan hal sepele," ucap nya yang langsung masuk ke kamar ku tanpa permisi.
Wait!.. Memang hal sepele, tetapi aku tidak suka dengan orang itu.
"Hal sepele kata mu, terus hal yang besar akan seperti apa? Kalau hal sepele cuma seperti itu."
"Ya..ya baik lah maaf kan Aron yang sudah membuat mu kesal."
"TIdak aku tidak mau di wakil-wakil kan, aku ingin Aron langsung yang minta maaf," ucap ku mantap.
"Terserah kau saja lah Michael, aku sudah capek berdebat dengan mu terus," ucap nya pasrah
"Cepat makan makanan nya, Sebelum kau pingsan di depan ku." Ejek nya.
"Apa kau sedang mengkhawatirkan ku?" Tanyaku.
"Apa aku tidak salah dengar, mana mungkin aku mengkhawatirkan mu." Elak nya.
"Iya itu kulihat dari waj-" ucapku terpotong oleh nya.
"Mengkhawatirkan diri sendiri lebih baik" ucap nya berlalu meninggalkan ku.
"Memang seharusnya," ucapku.
-------------------