Milea dan Akbar, keduanya terlihat bahagia. Terlebih Akbar, dia belum percaya bisa sedekat ini dengan gadis incarannya. Matanya berbinar penuh cinta, bibirnya tersenyum sepanjang waktu, walaupun tanda bahaya mengincar jantungnya. Debarnya di luar kebiasaannya, seakan ada yang mau meledak di sana, tapi tidak menimbulkan luka, justru menimbulkan rasa bahagia.
"Pulang yuk, sudah hampir jam sepuluh." Tepat jam sepuluh kurang lima belas menit Akbar memutuskan untuk mengantar Milea pulang. Sesuai permintaan gadis itu. Walaupun berat tapi dia tidak boleh egois. Masih banyak waktu untuk mendekati Milea lagi.
Jika harus memilih Akbar akan memilih terus bersama Milea, tapi Milea bukan robot yang tidak butuh istirahat dan tidak punya hubungan sosial di masyarakat.
"Mau langsung pulang atau bungkus apa gitu buat cemilan di rumah?" tanya Akbar mulai berani menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan.
"Langsung pulang saja Bang, sudah kenyang. Nggak usah bawa makanan apa-apa. Aku kurang suka ngemil malam-malam soalnya. Malas sikat gigi lagi," jelas Milea sembari beranjak dari tempat duduknya.
Cafe tempat mereka nongkrong menyediakan area outdoor dan indoor. Akbar tadi memilih duduk di outdoor nya saja, lebih leluasa memandang ke segala arah dan lalu lintas jalan raya secara langsung . Gemerlap lampu di gedung sekitarnya memancarkan keindahan sekaligus kedamaian.
Semakin lama semakin ramai pengunjungnya. Bahkan live musiknya baru dimulai jam sembilan malam tadi.
Akbar keluar cafe dengan menggandeng lembut tangan Milea, takut terdesak atau tersenggol oleh pengunjung lain yang baru memasuki cafe. Milea hanya diam membiarkan Akbar bertindak sesukanya. Milea tahu Akbar tidak bermaksud kurang ajar, memang keadaan yang memaksanya begitu.
Tetapi meskipun jantung Akbar menggila, dia tidak juga melepaskan tautan tangan mereka. Padahal sudah sampe parkiran. Terlanjur nyaman.
"Mau di gandeng sampek kapan, Bang. Sudah sampek mobil loh," Milea terkekeh setelahnya. Akbar ini pintar memanfaatkan situasi, tetapi entah mengapa Milea tidak marah. Sejujurnya Milea sendiri juga nyaman dalam genggaman tangan besar Akbar. Sebagai wanita lajang, Milea tentu mendambakan seorang laki-laki yang bisa memberikan kenyamanan dan keamanan. Dan itu dia rasakan dari Akbar saat ini.
"Maunya di gandeng sampai pelaminan, gimana dong? Mau ya?" tanya Akbar lembut dengan wajah mendadak serius. Tapi sebaliknya Milea, walaupun dia tahu Akbar serius, tapi dia menanggapinya dengan bercanda.
"Pelaminan yang mana? Nggak ada yang nikahan perasaan," sahut Milea sambil celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
Akbar tetap terbahak meskipun keseriusannya ditanggapi dengan sikap konyol Milea. Akbar nggak habis pikir, Milea yang super serius jika di sekolah, mendadak menjadi pribadi yang periang dan receh. Sedikit-sedikit tertawa.
"Udah ah, ayo masuk. Sakit perut Abang karena tertawa terus." Akbar segera menutup pintu setelah memastikan Milea duduk dengan nyaman di bangku depan mobilnya.
"Sudah siap tuan putri? Kita lets go!" Akbar melontarkan kembali candaan yang berakibat tertawanya Milea kembali.
Milea dan Akbar pulang dengan hati yang sama-sama bahagia. Meskipun penyebab kebahagiaannya berbeda tetapi judulnya tetap sama, bahagia.
Milea bahagia karena berhasil meyakinkan dirinya untuk keluar dari zona nyaman masa lalu, sedangkan Akbar bahagia karena akhirnya berhasil dekat bahkan jalan berdua dengan gadis incarannya.
Ega sendiri belum beranjak dari tempat duduknya. Tampak wajah galau Ega yang sedari tadi melamun. Dia membiarkan Naila bertindak sesuka hatinya. Dari tadi dia berteriak-teriak menirukan penyanyi cafe yang saat ini manggung. Bahkan dia tak malu berjoget dan jingkrak-jingkrak mengikuti irama lagu.
Ega tak ambil pusing dengan tindakan sepupunya yang sudah tak mempan teguran dan nasehat itu. Biarkanlah saja, asal besok Ega bebas dari gangguannya. Ega memutuskan untuk meladeni permintaan Naila jalan-jalan kemanapun yang dia mau. Mulai belanja keliling mall dan berakhir di cafe ini. Nongkrong sekaligus mengisi perut.
Ega sudah memutuskan untuk menemui Milea besok dan menjelaskan semuanya. Tetapi siapa sangka dia menemukan Milea lebih dulu jalan dengan laki-laki lain.
Hati Ega bener-bener sakit, entah kenapa dia masih tidak terima jika Milea dimiliki oleh orang lain selain dirinya.
"Nai, sudah malam. Pulang yuk!" ajak Ega kepada sepupunya yang masih tampak asik menikmati live musik.
"Bentar lagi Mas, Ini masih asik lo. Lain kali belum tentu bisa menyaksikan live musik kayak gini. Apalagi yang main band yang sudah cukup terkenal, kapan lagi coba?" Ega mendesah kasar demi mendengar alasan Naila masih bertahan di sini. Ya sudahlah, dilarang juga percuma. Nggak akan mempan.
"Ya sudah, maksimal jam sebelas ya. Mas ngantuk, besok harus kerja!" teriak Ega karena suara musik yang semakin keras dan menghentak.
Dia tahu Milea telah pulang beberapa menit yang lalu. Tapi pikiran Ega tidak bisa lepas darinya. Bagaimanapun dia menyakitinya dulu, Milea adalah nafasnya, Milea adalah alasannya untuk tetap survive, Milea adalah pusat kehidupannya.
Ega mendadak lemas dan sesak nafas mengingat kejadian tadi. Milea terlihat bahagia dengan laki-laki yang tak lain adalah salah satu guru di tempatnya bekerja.
Ingin rebahan dan tidur tapi Naila belum mau pulang. Seandainya Naila tidak datang bersamanya ke cafe ini, pastilah Ega nyamperin Milea, tidak peduli ada laki-laki lain di sana. Ega hanya tidak mau ada kesalahpahaman yang berlarut-larut. Milea pasti sakit hati dengan tingkah Naila kemarin.
Tetapi sekarang apa? Kesalahpahaman itu mungkin bisa menjadi sebab terbukanya hati Milea untuk laki-laki selain dirinya. Dan Ega tidak mau itu terjadi.
"Selamat pagi, Pak." sapa salah satu staff kantor saat Ega baru memasuki halaman sekolah.
Ega hanya mengangguk kecil dengan senyum yang di paksakan. Entah kenapa dia malas sekali mengeluarkan suaranya pagi ini. Mood nya sedang buruk, auranya gelap tak ada cahayanya.
"Panggil tim guru pembimbing ke ruangan saya. Kita rapat pagi ini untuk melaporkan progress tim sejauh ini." Perintah Ega kepada asistennya di kantor yang bernama Joko Santoso.
"Baik, Pak," sahut asisten Ega sambil meraih gagang telpon menghubungi tim yang di maksud.
Tak berapa lama tim yang diketuai Milea sudah berkumpul di sofa ruang kerja Ega.
"Oke, kita mulai sekarang. Coba laporkan progress terbaru dari hasil kerja kalian. Saya akan menyimak dan nanti kita evaluasi bersama," Ega memulai rapat dengan wajah tidak sedap. Nampak beban berat seperti menggelayut di pundaknya. Tak ada senyum yang biasa dia tebarkan pada peserta rapat.
Rapat berlangsung kurang lebih empat puluh lima menit saja. Tetapi siapa yang menyangka di menit-menit terakhir rapat Milea malah ijin ke kamar kecil dan sekaligus pamit undur diri.
Padahal tujuan utama Ega mengumpulkan mereka adalah untuk bisa berbicara berdua dengan Milea setelah rapat usai.
Nomernya di blokir sejak kemarin. Ega nggak tahu lagi harus dengan cara apa dia menemui Milea. Salahnya juga belum bertanya alamat tempat tinggal Milea. Mau tanya yang lain masih bingung alasannya apa. Sebagai kepala sekolah harusnya dia memegang biodata bawahannya. Dan memang itu benar tapi alamat yang di sematkan di dalam data pribadi Milea adalah alamat orang tuanya di Malang.
"Baik, silahkan kembali bekerja dan saya tunggu laporan progress berikutnya minggu depan. Terima Kasih. Assalamualaikum," Ega menutup rapat dengan muka bertambah murung. Harapannya untuk berbicara dengan Milea tertutup sudah.
Milea juga terlihat murung di ruangannya. Hampir saja dia menyerah dan melambaikan tangan karena melihat perubahan muka Ega yang kusut.
Sepertinya semalam kurang tidur, dan beban di pikirannya itu sepertinya berat sekali. Apakah karena dia memblokir nomernya?
Milea berinisiatif undur diri sebelum rapat usai. Dia memang sengaja menghindari mantan kekasihnya itu.
Seandainya dia bertahan di ruang kepala sekolah lebih lama, Milea yakin Ega akan mengajaknya berbicara berdua dan sudah bisa dipastikan Milea tidak akan kuat dan tekatnya untuk membuka lembaran baru hanya akan menjadi angan-angannya saja.
tok tok tok
"Masuk!" seru Milea mendengar ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Assalamualaikum." sapa Akbar dengan senyum cerahnya.
"Wa'alaikum salam, Pak. Ada masalah?" tanya Milea menyelidik. Ternyata Akbar yang kembali menyambangi ruang kerja Milea.
"Banyak, tapi nggak bisa dibicarakan di sini. Makan siang di luar yuk," ajak Akbar sambil melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Sebentar ya, mau siap-siap dulu," bergegas Milea mengambil dompet dan handphone untuk dia bawa keluar bersama Akbar.
"Mau makan apa? Pasta lagi atau lagi pengen apa?" tanya Akbar lembut sambil terus berjalan beriringan menuju parkiran.
Akbar bahagia karena ajakan makan siangnya langsung disambut baik Milea.
"Masa pasta terus, bosen. Mau nasi madura yang deket ada nggak ya?" tanya Milea kemudian.
Akbar sedikit terkejut dengan permintaan Milea, setahunya cewek akan bilang terserah jika di tanya mau makan apa. Rupanya Milea bukan termasuk cewek yang jaim jika berhadapan dengan cowok.
"Ada di daerah utara, nanti coba jalan aja sambil di cari ya. Gimana?" tawar Akbar sambil membukakan pintu mobil untuk Milea.
Baru sekali jalan dengan Akbar, tapi Milea sudah percaya dengan Akbar. Terlihat sekali dia sudah nyaman berbicara dengan bebas mengutarakan pendapatnya atau keinginannya.
Mungkin karena pembawaan Akbar yang kalem, dan cenderung memanjakan Milea. Sikapnya yang dewasa dan ngemong membuat siapapun akan nyaman. Karena semandiri-mandirinya perempuan pasti dia suka dimanjakan dan diprioritaskan oleh laki-laki.
"Setahuku juga gitu, yang enak ada di sana. Tapi, waktu kita nggak cukup kalau harus ke daerah utara, apalagi kalau harus cari-cari dulu. Kirain Abang tahu ada di sekitar sini yang jual nasi madura. Abang sukanya makan apa, biar saya ngikut aja," timpal Milea lagi.
Akbar tertawa senang demi mendengar Milea sudah ber aku kamu sama dia, apalagi panggilan Abang nya bikin adem dengarnya. Terdengar manis di telinga Akbar.
"Maaf ya Abang belum pernah tahu ada yang jual nasi madura di sekitar sini. Rumah abang di daerah sana kamu tahu 'kan? Jadi Abang belinya pasti di sana kalau lagi pengen, rasanya lebih mantap kamu pasti juga tahu. Sekarang makan bakso saja gimana, nanti bisa pakai lontong kalau kurang nendang," Milea manggut-manggut mendengarkan penjelasan Akbar.
"Siip, aku juga mau bakso kalau begitu," ucap Milea dengan mata berbinar. Ternyata benar dugaan Akbar Milea pasti suka kalau dia milih makan bakso. Karena dia sering memergoki Milea makan bakso di kantin.
Milea saja yang nggak tahu Akbar suka memperhatikan dia. Milea masih dengan sikap dinginnya waktu itu, jangankan ngobrol, kalau ditanya jawabnya suka sepotong-sepotong.
Akbar mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebelum ini Akbar sudah googling buat cari warung bakso yang enak di sekitar sini.
Tanpa mereka sadari gerak gerik mereka tertangkap oleh sepasang mata yang nampak sendu.