Bercanda

1278 Kata
Kembali Milea tergelak. Beban yang sempat menggelayuti benaknya kini terbang entah kemana. Milea sudah tidak ingin memikirkan sesuatu yang tidak penting. Baginya, Ega dan segala sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu memang pantas untuk tidak lagi dipikirkannya. "Nggak usah aneh-aneh. Kita ke sini kencan saja sudah menggelikan apalagi lamaran. Meskipun sudah tua aku juga nggak yang kebelet pengen nikah ya." "Memang umur kamu berapa sih Mil, dari tadi bilang tua-tua mulu," tanya Akbar yang entah sejak kapan sudah pakai aku-kamu dan bukan saya-Ibu. "Mm.... 29, tahun ini. Kalau di kampung saya, sudah laku semua wanita seumuran saya. Makanya saya bilang tua. Kalau Bapak sendiri berapa?" tanya balik Milea yang masih pakai sebutan saya untuk dirinya. Entah, masih segan aja pakai aku-kamu. Berbeda dengan Akbar yang memang sejak awal ingin akrab dengan Milea. "Aku sudah 33 tahun, tua banget berarti ya. Tapi masih cocok lah kalau sama kamu masih 29 'kan? Aku sudah panggil kamu nama dan aku-kamu loh dari tadi. Kenapa masih saya-saya juga? Kayak berasa masih di kantor," protes Akbar pura-pura merajuk. "Saya dari tadi bingung mau panggil apa. Kalau saya panggil nama terdengar nggak sopan, kalau saya panggil Mas, kayak jadi sok deket, masa mau panggil Kakak, kayak saya adiknya Pak Akbar kedengarannya. Menurut Bapak panggil apa ya sebaiknya?" Milea memang benar lagi bingung saat ini. Tak ada salahnya meminta pendapat Akbar, biar nanti sama-sama enak. Dia terlalu segan untuk memulai dengan panggilan baru. Takut nggak Akbar nya nggak nyaman. "Kalau kebiasaan di keluarga aku tidak ada istilah tidak sopan kalau panggil nama. Meskipun ke orang yang lebih tua, seperti kepada kakak, mbak, atau teman yang lebih tua. Asal tidak kepada orang tua, kita biasa panggil nama. Tapi aku tahu kamu yang dari suku Jawa, serba ada aturan untuk ukuran sopan santun. Pasti nggak enak kalau panggil nama saja. Bagaimana kalau kamu panggil Abang saja, biar terdengar sopan, tapi juga beda. Kita sama-sama bukan keturunan suku batak atau dari pulau sumatera yang biasa pakai panggilan itu. Tapi nggak ada salahnya juga kita pakai itu. Gimana? Oke nggak?" Akbar menaikturunkan alisnya menggoda Milea, menunggu jawaban Milea dengan d**a berdebar. Bagaimana seandainya Milea beneran memanggil nya dengan kata Abang. Aah... pasti terdengar manis dan mesra. "Oke lah. Asal Abang nyaman saja saya panggil begitu," jawab Milea canggung. Lidahnya belum terbiasa. Walau terdengar masih kaku tapi Akbar bahagia dan senang bukan main mendengarnya. Milea bersedia memanggilnya Abang, kemajuan yang sangat pesat menurutnya. "Satu lagi, jangan lagi pakai saya, kedengaran seperti ngobrol dengan orang asing. Yah, walaupun kita tidak dekat sebelumnya tapi kita sudah kenal lam loh." "Ngomong-ngomong kamu berapa bersaudara kalau boleh tahu. Kalau aku keluarga besar, aku enam bersaudara. Aku yang nomer tiga, adikku perempuan semua, dan sudah menikah. Sementara kakak ada yang cewek ada juga yang cowok. Masing-masing sudah menikah juga. Dan cucu dari Umi sudah lima belas. Banyak banget 'kan, kalau kumpul pas lebaran, rame. Seneng banget kalau lagi kumpul-kumpul." Akbar menceritakan perihal keluarganya dengan antusias. Terbayang di benak Milea Akbar memiliki keluarga besar yang harmonis. Meskipun Akbar sendiri yang masih membujang, tapi nampaknya dia nggak terganggu dengan posisinya. "Oh ya?" mata Milea melebar dengan mata berbinar lucu. Dia takjub dengan cerita Akbar,"seneng ya punya keluarga besar. Kalau aku, tiga bersaudara, aku yang terakhir, Kakak cowok dan cewek, keponakan dua. Memang paling seneng kalau lagi ngumpul. Apalagi keponakanku yang lucu-lucu, suka kangen kalau lama nggak mudik," cerita Milea sudah tidak canggung lagi. Mereka akhirnya berceloteh panjang lebar, bersahut-sahutan, sambil menikmati makan malam dan sesekali di selingi tawa yang membahana. "Berarti hanya Abang saja yang belum laku. Sama kayak aku nggak laku-laku. Padahal nggak jual mahal juga loh," Ujar Milea sambil kembali tertawa, menertawakan dirinya yang terlalu lama terbelenggu oleh masa lalu. "Iya, nggak laku-laku, bahkan Abang sudah obral murah malah. Tapi nggak laku juga. Kalau kamu sih memang nggak banderol harga tapi kalau ada yang berani deket langsung terlempar ke Suramadu terkena jurus tendangan tanpa bayangan kamu. Kalau sudah menatap orang tajem banget, dingin. Abang saja suka ngeri loh. Kalau kamu minat nggak mau beli Abang? Mumpung lagi di obral, biar Abang cepat laku nih." Lagi-lagi Milea hanya tertawa menanggapi komentar Akbar yang sering di selingi dengan candaan ringan. Teman-teman Lea yang lain juga sudah akrab banget dengan Akbar. Hanya saja Milea lah yang menjaga jarak selama ini. Bukan hanya dengan Akbar, tetapi dengan siapa saja makhluk Tuhan yang berjenis kelamin laki-laki. Jadi jika sekarang mereka bisa berbincang akrab dan lama tentunya menjadi pengalaman yang membahagiakan bagi Akbar yang selama ini mengidolakan Milea. "Ih, nggak mau. Biasanya laki-laki loh yang beli perempuan. Beli pakai mahar maksudnya," "Kamu pengen mahar berapa?" Milea tertawa lebih kencang kali ini, padahal sama sekali nggak ada yang lucu. Beginilah cara Milea menghilangkan kecanggungan kala lawan bicaranya sudah membicarakan hal-hal yang pribadi. "Mau minta mahar seharga mobil Lambo boleh nggak?" celetuk Milea yang kontan membuat Akbar melotot. "Hm, matre juga ya kamu. Boleh juga. Nanti Abang pikirkan. Kalau buat kamu sih, apa sih yang enggak," "Ih, bercanda tahu! Memang sih aku matre juga, makanya harus mikir ribuan kali kalau ada yang mau sama aku. Harus siap-siap aku porotin." tambah Milea jahil. Udah lah di bikin rileks aja, dari pada serius malah bikin pusing. "Serius juga nggak masalah, Abang juga sudah siap lahir bathin kalau mau kamu porotin. Se mau-maunya kamu saja, Abang ikhlas loh. Paling mentok, kita bakal jadi gembel bareng-bareng kalau semua sudah habis. Ya nggak? Itu baru namanya susah senang bersama yang sebenarnya." jawab Akbar tak kalah jahil sambil diiringi tawa renyahnya. Malam ini mereka kenyang dengan makanan enak cafe ini, juga kenyang dengan tawa dan canda mereka. "Ogah, kalau kamu sudah nggak punya apa-apa aku mending lari cari mangsa baru. Nggak mau ah hidup sengsara." "Ya udah, nggak apa-apa kamu lari, Abang juga akan lari lebih kencang dari kamu. Kalau kamu dapat mangsa baru, kita nikmatin bareng-bareng. Seru kali ya bisa kayak gitu," "Ih, udah ah. Lama-lama omongannya ngelantur ke mana-mana. Kalau ada yang denger di kiranya stress kita. Oh ya, jam berapa ya sekarang, kok makin rame pengunjung cafenya ya." "Masih setengah sembilan. Memangnya kamu nggak tahu kalau di sini tuh puncak ramenya jam se puluhan gitu. Padahal deket loh dari rumah kamu. Masa belum pernah ke sini?" "Sedekat apapun, kalau lagi males gimana coba. Aku kalau habis kerja, bawaannya lapar dan ngantuk. Nggak pernah kepikiran mau nongkrong atau ngemall gitu. Satu lagi yang kamu nggak tahu 'kan tentang aku. Aku itu rajanya tidur. Mau berapa jam pun tidur betah. Bahasa kasarnya pemalas alias mager an," "Malas saja prestasi kamu bagus gitu. Gimana kalau rajin coba? Bisa semakin nggak tergapai tahu nggak." "Maksudnya gimana?" tanya Milea serius. "Kapan-kapan saja Abang jelasin. Sekarang kamu mau pulang jam berapa? Biar nanti Abang yang ingetin kalau sudah waktunya pulang." "Jam berapa aja, asal nggak lebih dari jam sepuluh. Nggak enak sama tetangga. Komplek perumahan tempatku tinggal 'kan kelas menengah yang padat penduduk. Orangnya lumayan suka ghibah. Males kalau besok atau kapan pas ketemu di tanya-tanya kalau pulang kemalaman," Tanpa di sadari Lea dan Akbar, ada sosok yang dari tadi memperhatikan mereka. Ada pandangan tidak suka dari kedua matanya, sekaligus perasaan sedih yang mendalam. Seandainya keadaannya sekarang memungkinkan, pasti dia akan nyamperin Milea. Tetapi keadaan memaksanya untuk diam dan hanya melihatnya dari jauh. Hatinya mencelos, Dadanya mendadak sesak luar biasa. Lea yang dulu hanya akan tertawa lebar kepadanya, sekarang tawa itu dipersembahkannya untuk orang lain. Dan dia juga tahu siapa laki-laki yang bersama Milea saat ini. Sayangnya, dia lagi bersama perempuan yang menjadi penyebab kontaknya di blokir oleh Milea. Walaupun sebenarnya tidak ada hubungan apapun diantara mereka berdua, Ega ragu untuk menyapa Milea sekarang ini. Selain karena hati dan emosinya sedang tidak stabil, Ega yakin Naila belum tentu tidak membuat ulah nantinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN