Lamaran dengan Cara Apa?

1446 Kata
"Nggak usah bingung begitu Pak Akbar, saya tidak sedang menertawakan apa yang ada pada diri Bapak kok. Cuma, saya mikirnya lucu banget ya kita ini, satu kantor bertahun-tahun, interaksi seadanya, dekat juga tidak, Eeh, tahu-tahu kencan. Lucu banget menurut saya, seperti sedang sama-sama putus asa karena nggak laku-laku." Tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai pada kursi-kursi yang di atur lengkap dengan mejanya, berpasang-pasang dengan jumlah kursi yang berbeda-beda tiap pasangnya. Akbar membimbing Milea untuk menempati salah satu kursinya yang kebetulan hanya terdapat dua kursi saja. Akbar pikir tempat ini cukup strategis untuk bisa cuci mata melihat gemerlap kota Surabaya dari meja ini, tetapi jika ingin melihat panggung pertunjukannya juga masih terlihat jelas. "Silahkan Ibu pesan makanan atau minuman sesuai selera Ibu. Terus terang saya belum tahu apa yang Ibu suka dan apa yang Ibu tidak suka. Lebih baik Ibu sendiri yang memilih, takut salah nanti kalau saya yang pilih. Sekalian biar saya tahu apa yang Ibu sukai." Sambil memamerkan senyum manisnya Akbar mengangsurkan buku menu ke hadapan Milea. Milea sempat terpana sesaat dengan wajah keturunan Arab di depannya ini. Kalau diperhatikan lebih seksama dan dari jarak sedekat ini Akbar memang ganteng, dengan bulu-bulu yang dicukur rapi di rahang kokohnya, alis tebal dan bulu matanya yang lentik membingkai mata yang tajam tapi indah khas Timur Tengah. Milea segera mengambil buku menu ketika dia sadar bahwa baru saja dia mampu mengagumi sosok laki-laki selain Ega. Memang tidak sesempurna Ega, tetapi cukup tampan lah. Akbar yang sempat menangkap tatapan kagum Milea menjadi semakin percaya diri bahwa kesempatan untuk mendekati wanita ini semakin terbuka. "Ngomong-ngomong saya nggak setuju loh, dengan kalimat Ibu yang bilang kita nggak laku-laku. Kalau untuk saya bisa jadi kata itu tepat, tapi kalau untuk Ibu sepertinya kata yang tepat bukan nggak laku, tapi memang nggak mau laku. Soalnya sepanjang saya mengamati, Ibu sangat membatasi diri terhadap laki-laki. Interaksi apapun sangat Ibu batasi, dan saya mengalaminya sendiri ketika saya selalu berusaha mendekat, Ibu selalu punya persediaan kosa kata yang bisa mengusir saya secara halus saat itu juga. Saya menyimpulkan Ibu mempunyai kenangan masa lalu yang memiliki kesan mendalam, sehingga berpengaruh terhadap Ibu sampai sekarang. Entah itu menyenangkan atau sebaliknya, saya tidak tahu. Tapi yang jelas sangat mempengaruhi hidup Ibu. Tapi, kembali lagi itu cuma kesimpulan saya, kalau ada yang tidak sesuai ya mohon maaf lah," Milea tertawa lagi mendengar asumsi Akbar terhadap dirinya. Ternyata membuka diri seperti ini tidaklah seburuk pikirannya. Tidak ada yang di khianatinya, itu yang harus selalu dia tanamkan di otaknya mulai sekarang. Sebab, sebelumnya Milea selalu berpikir bahwa mendekati atau membuka hati kepada lawan jenis berati mengkhianati cinta masa lalunya. Lucu sekali bukan? Di sisi lain dia berusaha untuk move on, sementara di sisi lain dia punya pemikiran demikian naifnya. Polos dan bodoh itu memang perbedaannya hanya setipis jembatan siratal mustaqim bukan? "Di maafkan! Tapi ngomong-ngomong saya mengucapkan terimakasih karena Bapak ternyata punya cukup banyak waktu untuk mengamati saya. Ternyata saya nggak buruk-buruk amat ya, sehingga masih ada yang minat untuk mengamati saya. Terlepas tujuannya baik atau buruk, tapi saya yakin Bapak memiliki tujuan yang positif. Dan tentang masa lalu saya, kebetulan saya sedang tidak tertarik untuk membahasnya. Kalau Bapak mau menceritakan masa lalu Bapak, atau apapun tentang Bapak saya bersedia menjadi pendengar yang baik loh. Mumpung saya lagi baik hati ini, kalau sudah keluar sifat iblisnya, jangankan mendengar, mencium bau-bau curhat aja bawaannya pengen makan orang," Kali ini Akbar lah yang tertawa. Ternyata Milea tidak sekaku ketika di sekolah yang bawaannya tegas dan disiplin. "Pengennya saya juga cerita sih Bu, tapi sayangnya tidak ada yang menarik untuk di ceritakan. Nggak ada yang berkesan dari masa lalu saya, bahkan untuk diri saya sendiri, saya merasa nggak ada yang menarik. Pacaran yang serius belum pernah. Kalau sekedar cinta monyet pernah, tapi yah, gitu nggak berkesan. Bahkan saya sudah lupa loh sama pasangan cinta monyet saya," "Oh ya? Susah di percaya loh. Secara logika Bapak itu paket komplit menurut saya. Dewasa, mapan, tampan, beriman. Apalagi coba yang kurang?" "Ee... kalau boleh tahu itu asumsi orang banyak atau asumsi Ibuk saja?" "Ya pasti asumsi orang banyak lah, secara apa yang saya sebutkan tadi semua bisa dilihat mata telanjang. Tidak harus dekat secara pribadi dulu baru bisa menyimpulkan demikian. Betul 'kan apa yang saya bilang," "Bisa betul, bisa juga tidak. Tapi saya juga perlu asumsi Ibuk sendiri terhadap saya bagaimana?" "Ya sama juga seperti yang saya sebutkan tadi. Kalaupun sampai sekarang saya belum laku tetapi mata saya dan otak saya masih bisa berfungsi maksimal loh." "Itu yang paling penting, saya tidak terlalu memikirkan asumsi orang banyak, yang paling penting asumsi orang yang saya anggap penting, itu yang utama. Saya berharap juga dengan mengenal saya secara personal asumsi Ibu bisa lebih meningkat menjadi opini suatu hari nanti." Milea tergelak kembali dengan obrolan yang santai mendadak menajdi serius. Entah apa saja yang tadi di obrolkan dengan rekan kerjanya ini. Milea yang terbiasa irit bicara mendadak malam ini mengobral kosa kata. "Sudah-sudah, obrolan kita jadi tambah serius ini. Berasa masih di kantor. Sambil makan yuk Pak, keburu dingin ini makanannya," "Oh iya Bu, sampai nggak sadar makanan sudah dateng. Suka makanan western ya Bu, saya lihat Ibu pesennya makanan western semua. Ada lasagnya, spaghetti dan bread onion. Saya kira selera Ibu selera Nusantara kayak saya." Akbar memang pesan ayam bakar sambal matah dan cah kangkung. Berbanding terbalik dengan pesanan Milea yang bertema western. "Saya itu pemakan segala loh Pak. Memang kalau di luar saya lebih suka makanan western karena saya nggak bisa bikinnya. Kalau makanan Nusantara saya 'kan sudah sering makan di rumah. Mumpung di luar kita makan yang sedikit berbeda, biar nggak monoton kayak hidup saya," "Hahaha, Ibu ini ternyata asik juga ya orangnya, pintar bikin suasana rileks dan ceria. Memangnya hidup Ibuk monoton selama ini?" "Begitulah Pak, hidup saya termasuk monoton bahkan sangat monoton. Mulai bangun pagi, masak, sarapan, bersiap, kerja, pulang masak dan mengerjakan pekerjaan rumah, koreksi atau menyiapkan pekerjaan untuk besoknya, tidur trus bangun lagi dan terus mengulang rutinitas yang sama setiap hari. Huh! Nggak terasa saya sudah melakukan rutinitas yang sama setiap hari seperti itu sudah hampir delapan tahun." Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, nampak wajah Milea berubah agak dingin, mendekati raut wajah yang dia tampilkan setiap harinya. Ada perasaan sedih, karena menanti sesuatu yang sia-sia, tetapi di sisi lain dia bersyukur. Dengan demikian dia bisa terhindar dari bergosip, dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat di tambah terbebas dari pergaulan bebas. "Kayaknya mulai sekarang Ibu harus lebih banyak hangout supaya hidup Ibu tidak terlalu monoton lagi. Kalau butuh teman hangout saya siap 24 jam sehari dan tujuh hari selama seminggu." Raut wajah Milea yang sempat berubah dingin mendadak jadi ceria kembali. 'Cukup sudah dia terbelenggu oleh masa lalu yang sudah melenyapkan keceriaan dan semangat dalam hidupnya'. Janji Milea dalam hati. "Oh ya? Siap-siap saya tagih janjinya Bapak, karena saya rasa, saya mulai ketagihan hangout loh." "Siap! Ngomong-ngomong, Ibu ketagihan hangout, atau ketagihan sama yang nemenin hangout?" "Ish! Narsis!" Milea dan Akbar tertawa kembali. Entah sudah berapa kali mereka berdua terlihat tertawa bersama. Pemandangan yang membuat siapa saja adem melihatnya. Tidak ada sentuhan fisik, tapi mampu mengalirkan arus kebahagiaan dalam sanubari masing-masing. "Oh ya, dari ya di saya terus panggil Ibu, dan Ibu panggil saya dengan Bapak. Kayaknya kita bukan lagi sesama teman, tapi lebih ke atasan dan bawahan. Bener Nggak?" "Iya sih. Memang kenapa?" tanya Milea sambil terus mengunyah makanan yang sudah di pesannya. "Kalau menurut saya sih jadi kurang Akrab. Kita sudah kenal sudah bertahun-tahun meskipun tidak secara pribadi atau intim. Tetapi kita juga bukan orang asing 'kan? Jadi, menurut hemat saya, lebih baik saya panggil Ibu dengan Nama, dan Ibu panggil saya juga dengan nama, kecuali apabila sedang berada di sekolah. Setuju?" "Boleh sih, tapi saya merasa tidak sopan jika panggil nama saja. Secara saya lebih muda dari Bapak. Gimana dong?" "Oke, kamu bisa panggil Abi, itu bahasa Arab, yang artinya Bapak juga dalam bahasa Indonesia." Milea mendelik sambil menampakkan senyum tipisnya, sementara alisnya terangkat satu. "Kenapa? Aneh atau nggak setuju? Kok gitu banget mukanya?" "Bukannya itu panggilan yang biasa di gunakan oleh seorang istri untuk suaminya ya?" "Memangnya kenapa? Kamu nggak mau menjadi istriku?" Bulsh! Wajah Milea mendadak menjadi merah karena salah tingkah. Sungguh! Setelah dulu dengan Ega, baru kali ini dia berkomunikasi secara terbuka dengan laki-laki selain keluarganya. Jadi kalau ada seorang laki-laki dewasa yang berbicara lembut kepadanya dan seperti mengandung maksud tertentu, tentu saja dia jadi salah tingkah sendiri. "Memang sekarang aku sudah jadi istri kamu?" "Bisa saja kalau kamu bersedia, aku sih ayo saja." "Ih, nggak modal banget mau jadikan istri anak orang. Nggak pake lamaran, seserahan atau resepsi," timpal Milea asal hanya untuk menutupi dirinya yang sempat salah tingkah. "Maunya lamaran dengan cara gimana? Seserahan apa? dan resepsinya dimana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN