Kencan

1349 Kata
Lagi suntuk ada yang ngajak jalan, oke sajalah. Lea pikir nggak ada salahnya membuka hati untuk laki-laki lain. Lea sudah memutuskan untuk tidak lagi fokus kepada sang mantan. Hampir delapan tahun dia jomblo dan di bawah alam sadarnya terus menunggu kepastian hubungannya dengan sang mantan. Tetapi tidak semua kenyataan sesuai dengan harapan. Di saat dia sudah bersiap melanjutkan hubungan yang pernah 'terputus', dia harus kecewa dengan kenyataan Ega dekat dengan perempuan lain. Sakit banget bukan? Milea adalah salah satu perempuan yang memiliki rasa cemburu yang tinggi, jadi dia akan berpikir ribuan kali jika harus menjalin hubungan dengan orang yang suka bermain-main dengan perempuan. Walaupun dengan alasan bercanda, sekedar teman atau sahabat, sekedar say hello atau apalah itu Milea tidak akan memberikan toleransinya. "Dua-duanya sih Bu," Akbar pun tergelak setelah mengatakan itu. Dia merasa lucu karena mengajak kencan orang yang bukan siapa-siapa nya, apalagi dekat pun tidak. "Kebetulan kendaraan saya masih di bengkel, kalau Bapak tidak keberatan jemput saya, ya silahkan datang ke rumah," "Siip. Saya yang ngajak IBu, jadi untuk antar jemput sudah pasti saya jamin aman, selamat sampai tujuan. Jam tujuh malam. Siap?" Akbar tidak menyangka usahanya kali ini mendapat respon positif. Bertahun-tahun hanya diam mengagumi Milea tanpa ada kesempatan sedikitpun mendekatinya. Gadis ini terlalu pandai untuk menghindari, atau dia yang terlalu bodoh mencari peluang itu? Entahlah, masa bodoh dengan itu. Yang jelas nanti malam dia akan jalan dengan gebetannya. Cihui!! "Baik Pak Akbar, saya tunggu." Dengan sikap formal Milea menyambut ajakan teman sesama guru di sekolah tersebut. Milea bukannya tidak tahu jika salah satu rekan gurunya itu sudah lama naksir dirinya. Tetapi selama ini dia belum siap untuk menjalin hubungan dengan siapapun karena masih belum move on dari masa lalunya. "Baik kalau begitu, saya permisi dulu Bu. Terimakasih atas kesediaannya, dan sampai jumpa nanti. Assalamu'alaikum," pamit Akbar dengan muka cerah dan hati berbunga-bunga. Senyum manis terus tersungging dari bibirnya yang merah alami bebas dari nikotin. "Silahkan Pak," sahut Milea dengan senyum terkulum. Hatinya pun terasa ringan, semoga hari-hari selanjutnya bisa lebih baik dengan membuka hati ke banyak orang, baik untuk berteman atau lebih. Jika beruntung Milea berharap bertemu jodohnya. Sudah cukup dia terkurung dalam masa lalunya. Dunianya hanya terisi oleh Ega seorang. Milea capek, apalagi sekarang dia di PHP. Cukup, sudah cukup dia memberi kesempatan untuk hatinya menyembuhkan luka untuk kemudian bisa move on dari masa lalu. Orang bilang, agar bisa cepat move on harus menghadirkan orang baru dalam hidupnya. Mengapa tidak dari dulu saja dia mencoba sih? Petang ini terlihat cerah, udaranya pun tidak terlalu gerah. Milea mendadak salah tingkah, dia bingung mau pakai baju apa. Dibukanya lemari lebar-lebar, dia memilih baju yang kira-kira bisa membuatnya tampil beda tetapi tetap sopan. Selama ini memang dia selalu tampil modis. Bahkan saat kuliah, Milea sering jadi trend setter fashion untuk teman-temannya. Dia paling jago memadu padankan warna dan model baju. Dia juga pinter menyembunyikan kekurangan di fisiknya dengan model baju yang dipilihnya. Milea terlalu kurus untuk ukuran wanita dengan tinggi 165 cm dan dengan berat berkisar 46 kg. Tetapi dia pandai menutupinya dengan model baju yang dipilihnya. Semua terasa pas jika Milea yang memakainya. Di tengah kesibukannya memilih outfit untuk jalan malam ini, di luar Akbar baru saja turun dari mobil hitam kesayangannya. "Assalamualaikum," ucap Akbar sambil membunyikan gembok di pagar depan rumah Milea. Karena tidak ada bell, hanya itulah cara yang paling praktis untuk memanggil pemilik rumah. "Wa'alaikum salam, sebentar ya, Pak," sambut Milea yang sudah siap dengan tas kecil yang ia selempangkan di bahunya. Cepat sekali Milea bersiap. Akbar cukup terkesima dengan penampilan Milea yang menurutnya sangat cantik malam ini. Berbeda sekali dengan penampilannya di sekolah yang selalu tampil formal. "Maaf, sudah menunggu dari tadi ya Pak?" tanya Milea sambil sibuk membukakan pintu pagar untuk tamunya. "Enggak Bu, baru saja kok." Mata Akbar tak lepas dari Milea. Mulai dari wajah, tubuh dan gerak gerik Milea tidak luput dari tatapan tajam mata Akbar. Sempurna! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan penampilan Milea petang ini. Baik fisik dan isi otaknya telah lama menarik perhatian Akbar. Secara diam-diam Akbar tidak pernah melepas perhatiannya kepada guru Matematika sekaligus Wakil Kepala Sekolah di tempatnya bekerja ini. Apalagi kalau melihat Milea sedang mengajar atau memimpin rapat, di jamin dia akan terpana dan terpesona, dia akan betah berdiam di ruang rapat selama ada Milea di dalamnya. Matanya enggan untuk berkedip seakan tak mau terlewatkan memandang pujaan hatinya barang sedetikpun. "Kita langsung berangkat Bu?" "Boleh, tunggu saya kunci pintu dan pacarnya ya Pak, silahkan Bapak tunggu di luar," ijin Milea dengan tangan yang cekatan kembali mengunci pintu dan pagar rumahnya. Akbar segera berlari kecil ke arah mobilnya dan membukakan pintu untuk Milea. "Silahkan Bu," ucap Akbar dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya. "Terimakasih, Pak Akbar nggak repot-repot sebenarnya, padahal saya bisa sendiri lo kalau hanya untuk membuka pintu mobil," ucap Milea yang tampak tak enak hati dengan perlakuan Akbar yang menurutnya berlebihan. "Nggak repot kok Bu, cuma bukain pintu aja. Kalaupun saya harus melakukannya setiap hari saya bersedia loh Bu, dan tidak merasa keberatan juga." Akbar tergelak setelah melontarkan gombalannya. "Pak Akbar ini ada-ada saja. Dikiranya saya cacat atau jompo sehingga perlu dibukakan pintu mobil setiap hari," sahut Milea dengan tertawa. Tawa yang sempat menghipnotis Akbar beberapa saat. Cantik sekali. "Ya nggak gitu Bu, bukan karena Ibu cacat atau jompo, tapi karena Ibu layak diperlakukan seperti ratu. Ibu 'kan ratu di hati saya," Akbar tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Sambil menjalankan mobil perlahan keluar dari gerbang perumahan, gombalan recehnya terus dia lontarkan. Sudah cukup dia menahan diri selama ini, jadi saatnya dia untuk to the point saja mengutarakan maksudnya mendekati wanita ini. Toh, mereka sudah sama-sama dewasa. Anggap ini bukan kencan, tapi proses khitbah yang harus langsung tahu maksud dan tujuan berkenalan. "Pak Akbar pinter gombal ternyata ya," Milea masih terkekeh, tetapi bukan untuk merespon sesuatu yang lucu. Itu hanya caranya saja untuk menutupi kegugupannya akibat gombalan Akbar. Sekian lama tidak menjalin hubungan dekat dengan lawan jenis, membuat Milea jauh dari kata tenang seperti biasa. Dia yang terbiasa tampil percaya diri dan super tenang, kini harus salah tingkah di hadapan tekan kerjanya. Bukan sebagai partner kerja, melainkan sebagai teman kencan. "Yang penting gombalnya 'kan hanya sama Ibu, bukan ke yang lain," Milea hanya tertawa lepas menanggapinya. Milea tidak akan mudah melayang jika tidak ada pernyataan serius. Gombalan receh seperti itu, sekarang sudah sering di lontarkan tanpa ada maksud apapun selain bercanda. Bahkan gombalan-gombalan itu tak sedikit yang akhirnya viral di media sosial. Selanjutnya Akbar fokus kepada kemudi dan lalu lintas jalan yang cukup padat malam ini. Sekitar 20 menit, mereka sudah sampai ke tempat yang dituju. Akbar tidak ingin membawa Milea ke tempat yang jauh. Yang paling penting bisa ngobrol enak berdua tanpa ada gangguan, itu yang menjadi inti tujuan Akbar. Seperti tadi, Akbar buru-buru turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu untuk Milea. Karena sudah tidak bisa di bantah, akhirnya Milea menikmati saja perlakuan manis Akbar. "Ini, bukannya cafe lama ya Pak? Perasaan sudah dari beberapa tahun tempat ini sudah ada, saya sering lewat loh meskipun belum pernah mampir," Milea yang tampak familiar dengan tempat mereka hangout kali ini, tentu saja protes karena tidak sesuai dengan penjelasan Akbar yang mengatakan ada cafe baru yang ingin dia datangi. . "Hehehe, saya minta maaf sebelumnya karena tidak menjelaskan dari tadi. Cafe yang saya maksud tadi peminatnya membludak khusus untuk weekend. Jadi harus reservasi dulu, itu pun minimal satu bulan sebelumnya. Jadi, saya minta maaf kalau belum bisa membawa Ibu kesana. Lain kali saya akan membawa Ibu ke sana setelah permintaan reservasi saya di acc pihak cafe. Ibu kecewa kalau malam ini kita kencan di sini?" Entah kenapa Milea justru tertawa mendengar kalimat Akbar yang seakan menggambarkan mereka sedang kencan betulan. Kencan? Ah, Milea bahkan sudah lupa bagaimana rasanya kencan dengan pasangan. Sementara perasaan dia sekarang bersama Akbar? Hampir tidak merasakan perasaan apa-apa selain perasaan canggung sekaligus geli. "Kenapa Ibu tertawa? Ada yang lucu?" Bukannya menjawab, Milea justru tertawa lagi setelah tawa yang tadi sudah mereda. Dan Akbar? Dia jadi salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa dia melakukan kesalahan atau tindakan yang mengundang tawa atau apa ya? Akbar mendadak bingung sendiri karena tidak. menemukan jawabannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN