Sepeninggal Bu Sofia, Ega mengangkat bokongnya dengan enggan untuk menemui tamunya. Siapa sih tamunya, sudah agak sore, apa nggak bisa besok aja ketemuannya.
"Mas, tadi aku disuruh nunggu di ruang tunggu. Makanya kenalin aku sama mereka. Biar mereka semua tahu siapa aku. Jadi, kalau aku pas main kesini nggak disuruh nunggu di ruang tunggu. Nggak bisa tiduran 'kan jadinya. Padahal aku kan kerabat kamu, kenapa sih mereka pakai ngelarang aku masuk ruangan kamu? Mas, jadi 'kan hari ini anterin aku. Kata mereka kamu nggak ada lagi acara setelah jam kerja habis. Jadi ya... ya ya ya," cerocos Naila begitu kakak sepupunya itu menampakkan diri. Entah dari mana asalnya energi yang begitu besar di diri Naila. Sudah menjelang sore begini masih menyala seperti lampu seratus watt.
Ega yang jengah melihat siapa tamu yang menunggunya, apalagi mendengar suara manja Naila yang panjang nggak ada titik komanya, menghembuskan nafas kasar. Ega menepuk jidatnya pelan. Bagaimana bisa anak ini sudah ada didepannya? apa dia nggak ada jadwal lagi? Ini masih jam 2 siang, pasti masih banyak sesi yang harus dia ikuti sebelum pelatihan usai.
"Ayo masuk, nggak enak di dengar orang." Tanpa sengaja Ega menarik tangan Naila untuk dibawanya ke ruangan dia. Tak enak sama bawahannya. Suara Naila yang keras dan nada yang manja menjadikan orang yang mendengarnya akan mudah salah paham.
Tanpa dia sadari jika ada sepasang mata menyaksikan dengan pandangan yang susah diartikan. Sesaat sebelum berhasil mencapai pintu matanya menangkap sepasang mata sendu yang tengah menatapnya. Seketika pegangan tangannya terlepas dan mata mereka beradu. Ega seperti kehabisan oksigen seketika, susah untuk bernafas.
"Ayo Maas, katanya mau masuk. Malah bengong," protes Naila sambil menarik tangan Ega untuk memasuki ruangan.
Banyak kata yang mau ia lontarkan, banyak kalimat yang hendak ia katakan sebagai penjelasan. Mulutnya yang sudah terbuka hendak memanggil Milea, tertutup kembali karena Naila malah menariknya masuk.
Ega takut Milea salah paham lagi, secara Milea tidak tahu Naila adalah sepupunya. Ketika mereka pacaran, Naila masih duduk di bangku SMA dan rumahnya agak jauh jaraknya dari rumah Ega, sehingga belum sempat kenalan.
"Maas, ngapain malah bengong. Aku mau istirahat dulu ya, mau rebahan sebentar, capek banget hari ini." Tanpa menunggu persetujuan Ega, Naila merebahkan diri di atas Sofa panjang di ruangan Ega.
Naila memang mudah sekali capek. Bagaimana nggak capek, kerjanya di rumah hanya tidur dan makan. Nggak pernah melakukan pekerjaan rumah. Sementara pekerjaannya sebagai guru hanya sampai jam 12 siang, itupun pakai jasa antar jemput. Tapi jika itu tentang hangout, Jalan-jalan, cuci mata dan kawan-kawan nya mendadak energinya terisi full.
"Aah, nyamannya," desah Naila sambil meregangkan ototnya.
"Kamu bisa nggak Dek jangan ganggu Mas dulu. Mas ini lagi kerja bukan main-main. Trus kenapa jam segini sudah ada di sini? Sudah bosan pelatihan dan inginnya jalan terus gitu? Baik, Mas akan telpon ayah kamu supaya jemput kamu karena kamu sudah bosan jadi guru dan tidak mau ikut pelatihan lagi. Biar nggak ngerecokin Mas terus," semprot Ega dengan suara tinggi dan nafas yang terengah-engah, menahan emosinya.
Pada dasarnya dia kurang suka dengan perempuan yang terlalu manja dan menye-menye, ini ditambah lagi dengan sifat keras kepalanya. Kalau bukan karena Omnya, pasti dia udah usir ini perempuan dari tadi. Apalagi kejadian ini dipergoki sama Milea. Bagaimana kalau dia salah paham lagi? Kacau, kacau, kacau!
"Bukannya Mas sudah bilang di telpon, Mas sibuk! Katanya iya, iya. Tapi ini apa? Malah dateng di jam kerja. Kamu paham nggak sih! ?" lanjut Ega masih dengan berdiri berkacak pinggang.
Naila yang mendapatkan omelan panjang dari kakak sepupunya mendadak terkejut dan diam. Naila ketakutan melihat wajah menyeramkan Ega. Ia tidak menyangka kakak sepupunya akan semarah ini. Karena setahu dia kakaknya ini orang yang super sabar dan baik. Selama hidup, belum pernah Naila mendapati Ega semarah ini.
" Hiks... maaf Mas. Tadi 'kan Naila pengen jalan-jalan aja. Biar Mas nggak repot, makanya Naila samperin ke sini. Ntar berangkat dari sini bareng mas langsung," terang Naila dengan terisak.
Ega yang melihat Naila terisak, mengangkat satu alisnya, pintar sekali Naila bikin drama. Bukannya melunak, emosi Ega semakin tersulut.
"Kamu ini kenapa? Mas bilang apa sampai kamu nangis gitu. Bukannya menyadari kesalahan malah nangis. Nggak usah drama ya. Cepat berhenti nangisnya, dan hapus air matamu itu. Jangan sampai ada staff Mas yang lihat dan tambah salah paham!" gertak Ega kembali.
"Maaf Mas," ucap Naila lirih. Naila bertambah takut, anak manja seperti dirinya tidak biasa dengar suara keras. Biasanya kalau lagi di Malang dia bisa seenak-enaknya sama Kakak sepupunya ini. Pasti nggak akan marah dan akhirnya menuruti keinginannya juga.
"Kalau sudah begini baru minta maaf. Tadi itu pikirannya dimana, nggak dipake? 'Kan mas sudah bilang lihat saja ntar. Mas malu sama staff-staff di sini loh. Baru juga menjabat beberapa hari sudah diteror sama kamu. Kamu tahu kalau Mas ini duda. Bagaimana kalau orang tahu Mas sering dapat tamu perempuan. Bagaimana kalau mereka berpikiran negatif?" tanya Ega serius. Sebenarnya Ega tidak pernah peduli dengan apa yang dipikirkan orang. Dia hanya takut Milea nya salah paham. Dia sempat menangkap pandangan Milea yang terluka. Dia tidak mau jauh dari Milea lagi. Membayangkan saja Ega sudah ketakutan setengah mati.
Ega tidak akan luluh hanya karena airmata Naila. Dia tahu mana yang tulus dan mana yang modus.
Kata-kata Ega yang semakin kasar membuat Naila sadar, Masnya ini tidak main-main. Tetapi, dia masih belum tahu dimana letak kesalahannya. Diapun hanya diam tak berkutik.
"Sekarang kamu kembali ke tempat pelatihan dan jangan macam-macam lagi. Mas bekerja di sini ikut orang, sekolah ini bukan punya Mas. Jadi tolong jaga nama baik Mas. Kamu itu guru, yang segala tindak tandukmu ditiru sama anak didik mu. Berhenti bertindak sesuka hati dan seperti anak kecil. Dan ingat! Lain kali jangan diulangi lagi!" bentak Ega lagi dan lagi.
Walaupun sudah tidak menangis Naila terlihat sedih sekaligus takut. Percuma juga nangis kakak sepupunya pasti akan tambah marah. Biarlah untuk kali ini Naila mengalah saja.
"Iya. Sekali lagi maaf ya Mas. Lain kali nggak ngulang lagi. Jadi kapan diajak jalan-jalannya?" tanya Naila dengan wajah tanpa dosa.
Ya Tuhan, sebenarnya apa aja yang ada di dalam otak adik sepupunya ini, sudah dalam kondisi begini masih juga ngomongin jalan-jalan. Tadinya mau nyesel sudah marah-marah. Tapi nggak jadi, bisa ngelunjak dia kalau di baikin lagi. Dia nggak ngerti apa dia pusing gara-gara dia. Milea bisa salah paham karena kejadian ini.
"Mas nggak bisa, Mas sibuk. Nggak ada acara jalan-jalan sampai kamu selesai pelatihan," jawab Ega penuh penekanan meskipun dengan suara yang tidak lagi tinggi seperti tadi.
"Pamit dulu ya Mas. Assalamualaikum".
"Wa'alaikum salam." Ega menjawab sambil terus memijit pelipisnya yang mendadak nyeri. Kini fokusnya hanya bagaimana caranya dia bertemu dengan Milea siapa sebenarnya Naila.
Di tempat lain, di ruangan Milea sedang menekuri tugas untuk anak didiknya. Dia hanya perlu memeriksa sekali lagi. Kuis itu rencana akan dia berikan besok pagi biar anak didiknya semangat buat belajar pagi-pagi harus diberi terapi otak.
Ngomong-ngomong tentang otak, kini otaknya dipenuhi dengan Ega dan teman wanitanya. Memang dia bukan istrinya, tetapi melihat interaksi mereka, pasti mereka punya hubungan dekat.
Pesona Ega memang luar biasa, bukan hanya fisik, tetapi isi otaknya pun tidak main-main. Belum lagi pembawaannya yang keren habis. Pasti banyak cewek-cewek yang antri.
Milea sadar dia sudah menumpukan harapan terlalu tinggi pada laki-laki itu. Walaupun dia bilang masih butuh waktu untuk mencerna semua yang telah Ega jelaskan, bukan berarti Ega bebas menjalin hubungan dengan siapapun bukan?
Tok tok tok
"Masuk!" Lamunan Milea bubar oleh suara ketukan di pintu. Tak lama muncul wajah blasteran timur tengah yang seringkali muncul dihadapannya secara tiba-tiba.
"Boleh saya duduk Bu?" tanya Akbar, salah satu guru pembimbing OSN yang telah ditunjuknya.
"Maaf, sampai lupa. Silahkan duduk Pak Akbar. Ada apa nih, tumben-tumbenan kemari," tanya Milea heran, karena temannya ini belum pernah mendatanginya langsung ke ruangannya seorang diri. Biasanya selalu ramai-ramai, kalau enggak pasti muncul di saat Milea berasa di luar ruang kerjanya.
"Oh, maaf sebelumnya. Begini Bu, ini tentang bimbingan khusus untuk bidang Sains, saya minta ijin untuk menambah waktu bimbingan, karena selain bahannya yang lebih banyak, juga kemungkinan komposisi soalnya akan lebih variatif di banding bidang studi matematika. Apakah bisa Bu?"
"Menurut saya tidak masalah asal Bapak sendiri ada waktu lebih. Dan yang terpenting, apakah siswa bimbingannya ada waktu kosong juga. Kasihan nanti jika mereka terlalu banyak mengorbankan waktu belajar di mata pelajaran lainnya. Bisa ketinggalan jauh dan yang paling parah bisa jatuh nilainya. Nggak lucu juga nantinya jika dia menang OSN tapi nilai di sekolah malah hancur,"
"Kalau untuk itu, saya sudah pastikan semua jadwalnya aman, dan saya juga memastikan mereka tidal akan terlalu capek, sehingga masih memungkinkan untuk mengikuti mapel lain dengan baik." Akbar juga menginginkan yang terbaik untuk sekolah mereka. Walaupun harus sedikit berkorban untuk itu.
"Baiklah kalau begitu. Jika sudah yakin, silahkan ambil waktu semaksimal mungkin. Ada lagi Pak Akbar?"
"Bu Lea ada waktu nanti malam? Kebetulan saya ada niatan untuk mengajak Ibu keluar. Sekedar hang out sambil makan malam. Ada cafe baru yang ramai, penasaran mau coba tapi nggak ada temennya," ucap Akbar dengan tenang. Dia sudah terbiasa di tolak, jadi tidak ada kesan gugup dan salah tingkah, walaupun ini pertama kalinya Akbar mengajak jalan Milea secara terbuka.
"Ini ceritanya mau ngajak saya kencan? atau cari teman nongkrong menikmati suasana cafe baru?" Milea mendadak jahil dengan menggoda rekan satu profesinya ini. Sementara Akbar sudah berkeringat dingin, harap-harap cemas apakah ajakannya kali ini akan di terima atau di tolak secara halus seperti biasa.