Tamu Misterius

1521 Kata
Milea melangkah dengan gontai pagi ini. Ruang kerjanya terasa jauh banget dari gerbang, sepertinya tidak sampai-sampai. Harapan yang dia bumbung kan setinggi langit nyatanya di hempaskan kembali ke dasar bumi oleh sang mantan. Milea semakin yakin, kemarin Ega bersikap formal terhadap dirinya bukan karena profesionalitas, tetapi karena gadis cantik yang kemarin semobil dengan Ega. "Selamat pagi Ibu Milea, tampaknya belum sempat sarapan ya Bu. Kelihatan nggak bertenaga," kelakar Ibu Sofia yang selalu tampil cetar dan mempesona dalam setiap kesempatan "Sudah sarapan kok Bu. Kebetulan kendaraan saya masih di bengkel, jadi tenaga saya habis buat jalan kaki," jelas Milea sambil tertawa kecil untuk menyamarkan kesedihan di wajahnya. Milea benar-benar terganggu dengan pemandangan yang dia lihat sebelum pulang dari sekolah kemarin. Wanita muda yang bersama Ega itu begitu cantik dan anggun, walaupun sekilas tapi jarak antara mobil Ega yang melintas didepannya cukup dekat, sehingga Milea dapat melihatnya dengan jelas Apalagi posisinya yang akan menyeberang, kendaraan itu sempat berhenti sebentar untuk memastikan lalu lintas aman untuk menyeberang. "Apa!!? Ibu jalan kaki dari rumah ke sekolah?" Mata Bu Sofia melotot karena terkejut. Milea kembali tertawa melihat reaksi Bu Sofia yang tampak lucu. Lumayan untuk hiburan pagi-pagi, apalagi hatinya saat ini sedang sedih. Bisa untuk mengalihkan perhatiannya sejenak. "Ibu ini ada-ada saja, kalau dari rumah jalan ke sini bisa pingsan di jalan saya. Saya jalannya dari gerbang ke ruangan ini, Bu," terang Milea sambil menahan tawanya. "Kirain Bu. Sering-sering senam sama saya, lagi ada diskon untuk member baru loh Bu. Masa dari gerbang ke ruang guru sampek bikin Ibu pucat gitu," tambah Ibu Sofia gemas sambil mempromosikan sanggar senam milik Adiknya. Milea terkekeh menanggapinya, dan segera berlalu menuju ruangannya. Pantes, kemarin dia bersikap kaku dan formal banget. Seperti tidak pernah kenal sebelumnya. Pasti Ega berniat kembali meninggalkan dirinya begitu saja, setelah mendapat maafnya. Harapan itu bener-bener palsu. Sedangkan wanita muda itu memang cantik, serasi dengan Ega yang ganteng dan gagah. Milea kembali merasakan sesak. Sakit itu kembali datang menghampirinya. Setelah sempat bahagia sesaat, kini dia dihempaskan kembali pada kenyataan yang menyakitkan. 'Ya Allah, kalau memang dia bukan jodoh hamba tolong jauhkan, dan tolong hilangkan rasa ini untuknya. Hamba tidak sanggup jika harus menanggungnya sendirian. Hamba lemah ya Allah, hamba tidak sanggup. Ampuni hamba jika selama ini banyak mengeluh, karena tidak ada tempat terbaik untuk mengadu selain kepada-Mu ya Allah' Milea masih saja meneteskan airmata ketika dia mengadukan apa yang dirasakannya kepada Tuhannya. Bertahun-tahun dia merasakan itu, baru kali ini menyerah, dan mengaku lemah. Ternyata melihat langsung kenyataan bahwa Ega sudah tidak sendiri lagi lebih sakit berkali-kali lipat dibanding dengan kabar yang hanya mampir di telinganya. Hari ini, Milea mulai mengajar dengan semangat yang baru. Dia bertekad untuk melupakan mantannya itu mulai sekarang. Meskipun satu sekolah, tetapi dia harus bisa melakukannya. Dia tidak akan tertipu untuk kedua kalinya. "Bu, pagi-pagi sudah melamun. Lagi mikirin pacar ya?" goda Bu Septi guru sejarah yang dikenal super sabar dan lemah lembut. Mereka berjalan beriringan menuju kelas yang akan diajar oleh mereka yang kebetulan searah. "Iya nih Bu, atau lagi mikirin kepala sekolah kita yang gantengnya nggak ketulungan itu? Cocok lo kalau misalnya berjodoh. Cantik dan ganteng, pas!" timpal Ibu Mariana dengan senyum genit. "Enggak ngelamunin siapa-siapa kok Bu, masak mau ngelamunin milik orang, rugi dong." Milea gemes sama teman-teman sesama guru yang menjodoh-jodohkan sama pacar orang. Status duda bukan berarti tidak punya pacar atau teman dekat 'kan. "Memangnya siapa yang jadi milik orang? Kepala sekolah kita itu duren Bu Leaa...alias duda keren! Bu Lea ini kebanyakan makan rumus makanya nggak up date." Bu Sofia tiba-tiba sudah ada di dekatnya. Kayak mbak kunti aja munculnya selalu tiba-tiba. "Dapat info dari mana ibu-ibu ini kalau beliaunya jomblo. Duda bukan berarti nggak ada pacar. Kemarin aja pulang dari sini sama wanita cantik lo Bu. Saya lihat sendiri di depan pas mau pulang," pancing Milea nggak mau kalah, sekalian ingin tahu siapa wanita cantik yang ikut di mobil Ega kemarin. Siapa tahu diantara teman-temannya ada yang tahu. Kalau tanya langsung kan malu, ketahuan perhatian sama kepala sekolahnya. "Lho? 'Kan masih pacar, bukan berarti milik orang. Sebelum janur melengkung dia bebas mau dimiliki siapapun. Secara kepala sekolah kita kan keren abis Bu. Pantaslah untuk diperebutkan. Siapa juga perempuan yang nggak mau sama dia. Pasti banyak yang ngejar-ngejar dia di luaran sana. Iya nggak Ibu-Ibu?" Bu Sofia dengan semangat 45 ghibahin atasannya. Dan tanpa disadari olehnya orang yang tengah mereka bicarakan sedang melintas menuju ruangannya. "Selamat pagi semuanya," sapa Ega dengan senyum khasnya. Senyum yang bikin orang males kerja, maunya nempel terus sama yang punya senyum. "Selamat pagi Pak," jawab mereka serempak. Melihat keceriaan guru-guru dan staffnya yang tengah berbincang hangat, ingin rasanya dia nimbrung dan ketawa bareng mereka. Tapi, dia pikir-pikir lagi, rasanya nggak pantas saja. Apalagi ada Milea juga di sana, rasanya tambah tidak tahan untuk bercanda dan tertawa bersama seperti dulu. Wajah sendunya mengiringi langkahnya menuju ruang kerjanya. Kapan semua akan terulang lagi. Bisakah itu semua kembali seperti dulu. Entahlah, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Tring! tring! tring! Lamunannya ambyar seketika mendengar gawainya berdering nyaring. Rupanya adik sepupunya yang lagi pelatihan di Surabaya yang tengah menghubunginya. "Assalamualaikum Dek, apa lagi?" tanya Ega setengah hati. Dia agak malas meladeni Adik sepupunya yang sangat manja ini. "Waalaikumsalam, kok gitu sih Mas? Nggak suka ya Naila telpon?" jawab Naila berang. Semangat yang baru saja berkobar mendadak mati. "Bukan gitu Dek, Mas 'kan lagi kerja. Gak enak kalau ketahuan telpon-telponan terus di luar urusan pekerjaan," kilah Ega lagi. Seandainya kemarin pas pulang kampung dia tidak mendapatkan amanat dari omnya untuk menjaga Naila selama pelatihan, Ega pasti pura-pura nggak tahu kalau adiknya itu lagi pelatihan di kota ini. "Mas 'kan kepala sekolahnya, nggak enak sama siapa memangnya?" tambah Naila nggak mau tahu, "pokoknya Mas nanti harus temenin aku ke mall. Kan nggak setiap bulan bisa kemari Mas. Sayang kalau nggak keliling-keliling kota ini." ujar Naila dengan nada mengancam. "Meskipun kepala sekolah Mas harus memberi contoh yang baik, Dek. Kepala sekolah bukan berarti pemilik sekolah yang bisa berbuat seenaknya. Kita lihat nanti, Mas ada waktu kosong atau enggak." Inilah yang tidak disukai Ega, Meskipun sudah besar bahkan dewasa, Naila selalu merajuk jika keinginannya tidak di turuti. Sepupunya yang satu ini adalah anak yang keras kepala dan semaunya sendiri akibat terlalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. "Ih, kok gitu sih. Mas 'kan pulang kantor jam 4, masa malam juga masih sibuk. Bohong! Bilang aja nggak mau antar, biar nanti aku telpon Ayah aja dan bilang mas nggak mau antar ke mall." Ancaman Naila memang terdengar serius, tapi Ega tidak peduli. "Kamu itu sedang pelatihan, seharusnya juga jaga attitude. Lebih baik mengerjakan tugas atau mendalami materi biar dapat point bagus. Jangan sembarangan keluar malam. Nggak apa -apa kamu telpon Om, biar nanti mas yang jelasin," tantang Ega juga nggak mau kalah, dia punya alasan kuat untuk tidak mengikuti maunya Naila. Biar sekalian nanti dijelasin ke Omnya itu bagaimana seharusnya orang yang dalam masa pelatihan itu bertindak tanduk. Naila langsung diam tak bisa berkata apapun lagi. Semua yang dikatakan kakak sepupunya itu memang benar semua. "Iya iyaa. Ya sudah, Mas kalau ada waktu nanti beneran ya anterin aku." Tanpa salam, Naila mengakhiri panggilannya. Ega tahu adik sepupunya. itu merajuk. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Masa iya setiap malam keluar sementara Naila dalam rangka mengikuti pelatihan disini. Sekali-kali harus di kasih pelajaran bahwa tidak semua yang kita mau harus terlaksana. Selepas menerima telpon, Ega menenggelamkan diri dengan pekerjaannya. Sesekali dia keluar untuk memantau jalannya proses belajar mengajar di beberapa kelas. Terkadang mampir ke kantin walau sekedar melihat-lihat apa saja yang dijual disana. Ega harus tahu secara langsung keadaan sekolah yang dipimpinnya. "Assalamualaikum, bagaimana kabarnya Bapak," sapa Ega saat berpapasan dengan salah satu petugas kebersihan yang sedang menjalankan tugasnya. "Waalaikum salam, kabar baik Pak," jawab petugas kebersihan yang bernama Imam itu. Sejenak ia menghentikan pekerjaannya untuk menghormati kepala sekolah baru itu. "Sudah lama bekerja di sini?" tanya Ega kembali. "Alhamdulillah sejak tahun 2010 pak, lumayan lama." "Lama juga ya, bagaimana? Betah bekerja di yayasan ini?" "Alhamdulillah betah Pak," jawab Pak Imam sambil tersenyum canggung. "Ya sudah lanjutkan kerjanya, yang semangat ya Pak. Saya permisi dulu." Ega melanjutkan jalannya menuju belakang sekolah kali ini. Sebuah taman yang cukup luas dan asri. Banyak tumbuhan hijau dan bunga-bungaan yang sedang mekar. Ega memilih duduk di kursi panjang yang terlindung dari sengatan sinar matahari. Sejenak dia menghirup udara segar disekelilingnya. Hembusan oksigen dari tumbuhan di taman dia hirup dengan rakus. Seketika otaknya kembali fresh dan badan seakan bugar kembali. Itulah kenapa banyak orang yang merefresh otaknya dengan pergi ke tempat-tempat yang masih alami dan banyak tumbuhan hijau. Sungguh nyata khasiatnya. Pasokan oksigen yang melimpah membuat jiwa dan raga kembali segar. "Selamat siang Pak, sedang santai disini rupanya. Maaf Pak Ega, ada tamu yang cari Bapak, dari tadi saya cariin Bapak. Sekarang dia menunggu di ruang tunggu depan ruangan Bapak." Tiba-tiba suara lembut bu Sofia menyapa pendengarannya. Ega mendongakkan kepalanya melihat ke arah datangnya suara. "Baik, suruh tunggu sebentar, saya akan segera ke sana," sahut Ega dingin. Baru saja mau rileks sebentar ada saja gangguannya. Sepeninggal Bu Sofia, Ega mengangkat bokongnya dengan enggan untuk menemui tamunya. Siapa sih tamunya, sudah agak sore, apa nggak bisa besok aja ketemuannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN