Dina dengan sabar menunggu sang putri membuka mulutnya untuk menceritakan apa yang membuatnya terlihat gundah. Aluna tidak memiliki cukup teman untuk bercerita, kalau tidak padanya pada siapa lagi, pikirnya. Arumi, sang asisten sekaligus satu-satunya sahabat Luna tidak mungkin bisa menjadi teman berbagi akhir-akhir ini. Arumi sangat sibuk karena terpaksa mengambil alih hampir seluruh pekerjaan Aluna di kantor akibat sang bos sibuk mengurus pernikahan kakaknya. "Ma, apa boleh Luna pacaran?" tiba-tiba Aluna menanyakan sesuatu yang di luar dugaan. "Memangnya siapa yang mau jadi pacar kamu?" goda Dina sebelum menjawab pertanyaan sederhana putrinya. Pertanyaan sederhana itu ternyata membutuhkan pemikiran yang tidak sederhana untuk menjawabnya. Kalau dibolehin, takut kebablasan, kalau ti

