“Kamu beneran mau melamar anaknya Pak Nur?” tanya Pak Kades pada anak ragilnya, Bachri. “Bukannya mau tapi sudah Bachri lamar langsung ke Pak Nur nya,” jawab Bachri dengan mantab. “Beneran?” Pak Kades tidak percaya pada anaknya. “Si ragil kita kok berani bener ya Yah, Ibu enggak nyangka lho,” ujar istri Pak Kades sambil meletakkan dua cangkir kopi di meja tempat suami dan putra ragilnya sedang bicara. “Anak siapa dong,” celoteh Bachri sambil menaik-naikkan alis tebalnya yang hampir gandeng kanan dan kiri. “Ayah sih tidak masalah siapapun gadis yang kamu pilih asal kamu bahagia Ayah sama Ibu juga bahagia,” ujar Pak Kades sambil mengerling pada istrinya. “Betul sekali,” sahut istri Pak Kades. “Alhamdulillah kalau dapat mantu deket jadinya Bachri akan tinggal bersama kita. Dua kakaknya

