-8- Unimportantly Important

1283 Kata
“Apa?” Reaksi tak senang Elsa itu menyambut usulan Alfon tentang pertemuan mereka setiap hari untuk persiapan pernikahan. “Kenapa? Kamu bilang, kamu nyari suami yang sempurna. Sebagai calon suami yang sempurna, bukannya aku harusnya terlibat sama semua persiapan pernikahannya, ya?” Alfon memberikan alasan yang diberikan Aira semalam. Meski Alfon tak yakin, bertemu dengan Alfon setiap hari bisa membuat Elsa jatuh cinta. Apa Aira sepolos itu? Jika memang cinta semudah itu, bukankah sepuluh tahun lalu harusnya Elsa sudah jatuh cinta padanya? Mereka toh setiap hari, selain hari libur, bertemu. Bahkan, mereka duduk bersebelahan. Yang ada malah Elsa semakin membenci Alfon setiap harinya. “Oke.” Itu jawaban Elsa setelah pemikiran cukup lama. Lihat? Hanya untuk bertemu Alfon setiap hari saja ia perlu berpikir selama itu. Cinta apanya? Huh. Seharusnya Alfon tak mendengarkan Aira. Toh ia tak membutuhkan cinta dalam pernikahannya. “Kedatanganku ke sini selain kasih salinan berkas kontrak kita itu, ada yang mau aku tanyain ke kamu,” ucap Elsa lagi. Alfon menatap Elsa dengan kening berkerut. “Apa?” “Keluargamu … tentang pernikahan ini … apa yang mereka harapkan dari aku?” tanya Elsa hati-hati. Keluarga Alfon? Alfon seketika teringat papanya yang masih tak bisa dihubungi. Hanya olehnya. Apa papanya memblokir nomor Alfon? Ugh … “Alfon?” panggil Elsa. Alfon berdehem. “Papaku masih belum bisa aku hubungi. Mungkin kalau calon menantunya yang hubungin dia, dia mau angkat.” Alfon mengedik sok cuek, padahal ini aib memalukan luar biasa. Papa macam apa yang memblokir nomor anaknya sendiri? Tak bisakah papanya tidak menambah daftar aib Alfon di depan Elsa? Elsa mengangguk kecil, lalu tampak berpikir. Alfon menatap wanita itu sembari menyandarkan tubuh di sofa ruang kantornya yang nyaman. Merasa terlalu nyaman, Alfon menyandarkan kepalanya dan mendongak ke atas. Alfon menguap dan memejamkan mata. Nyaman sekali sofa ini. Di mana Juan membelinya? Atau Elsa juga yang bertanggung jawab untuk semua furniture-nya? Alfon merasa sangat nyaman sampai ia samar mendengar suara Juan. Suara Juan terdengar begitu jauh. Lalu, semakin dekat. Semakin keras. “Pak Alfon!” Alfon tersentak kecil dan seketika membuka mata. Ia tertidur. s**l. Alfon menegakkan tubuh dan mendapati sofa di depannya sudah kosong. “Bu Elsa sudah pulang. Lima belas menit yang lalu,” Juan memberitahu. Alfon terbelalak kaget. Lima belas menit? Alfon baru saja memejamkan mata dan sudah lima belas menit berlalu? Alfon mengerang dan menjambak rambutnya. Ia menoleh pada Juan di samping sofa. “Kenapa kamu nggak bangunin aku dari tadi?” “Lima belas menit lalu, Bu Elsa keluar dan pamit ke saya. Dia bilang, Pak Alfon masih sibuk dan saya nggak boleh masuk sampai lima belas menit ke depan. Makanya, saya …” “Argh …” Alfon mengerang seraya menangkup wajahnya. Bagaimana bisa Alfon tertidur di sini? Dengan posisi seperti tadi? Di depan Elsa pula! “Pak, kayaknya Bu Elsa ninggalin pesan, deh.” Ucapan Juan membuat Alfon mendongak pada sekretaris kurang ajarnya itu. “Apa?” tuntutnya. Juan menunjuk ke arah meja di depan Alfon. Di sana, Alfon melihat selembar kertas berisi tulisan tangan Elsa. ‘Get some sleep. Aku nggak mau mempelaiku ketiduran pas ngucapin janji pernikahan.’ Deg! Oh, jantung Alfon. “Makanya, kenapa juga Pak Alfon semalam begadang?” Juan ikut mengomel di sebelahnya. Alfon menatap Juan kesal. “Emangnya gara-gara siapa aku semalam begadang?” “Emangnya saya nyuruh Bapak begadang?” Juan menjawab tanpa dosa. Ish. Alfon mendadak merasa bodoh jika harus mengakui sendiri. Semalam, Juan menelepon mengabari jika Elsa menanyakan nomor teleponnya. Semalaman juga, Alfon menatap layar ponselnya, menunggu telepon yang tak kunjung datang sampai pagi tiba. Apa masalah Elsa sebenarnya? Dasar ratu PHP! *** Apa yang dilakukan pria itu semalaman hingga tidak tidur? Bodoh, kenapa pula Elsa bertanya? Jelas-jelas pria itu pasti menghabiskan malam yang gila dengan jalang-jalangnya. Elsa harus memperingatkan Alfon untuk berhati-hati tentang itu. Di kontrak memang sudah tertulis, agar jangan sampai seorang pun tahu jika Alfon sedang bersama wanita lain. Namun, siapa tahu Alfon lupa. Elsa mencari ponselnya yang masih di tas dan mengambilnya. Elsa menulis pesan pendek. ‘Pasal 5 ayat 2.’ Tak lupa Elsa menambahkan namanya di akhir pesan. Siapa tahu Alfon belum punya nomornya, mengingat Elsa juga baru punya nomor pria itu kemarin. Ketika Alfon tak langsung membalas, dugaan Elsa hanya dua. Pertama, ia masih tidur. Kedua, ia membaca ulang kontrak bagian pasal itu. Elsa mengecek jam di ponselnya. Tiga puluh menit sudah berlalu sejak Elsa meninggalkan kantor pria itu. Apa sekretarisnya tidak membangunkannya? Elsa sedang menimbang untuk menelepon Alfon, memastikan pria itu sudah bangun, ketika balasan Alfon datang. ‘Huh.’ Huh? Apa maksudnya? Jangan campuri urusanku? Masa bodoh? Atau apa? Elsa ingin menanyakan itu, tapi ia mendadak merasa bodoh menanyakan hal seremeh itu. Elsa menghempaskan punggung ke sandaran kursi kerjanya dan memutar kursi hingga ia bisa menatap langit dari dinding kaca ruangannya. Elsa menarik napas dalam, mengeluarkannya perlahan, beberapa kali, sambil menatap langit. Perlahan, ia kembali mendapatkan ketenangannya. Ini adalah salah satu hal yang diajarkan Erwin. Karena Elsa sering mendapat serangan panik ketika tertekan, bahkan sejak ia masih SD dulu. Meski sekarang sudah jauh lebih baik. Namun, karena serangan paniknya saat tertekan itu, Elsa jadi semakin waspada untuk dekat dengan orang-orang di sekitarnya. Ia tak butuh tambahan masalah. Dan ia sudah berhasil menyembunyikannya dengan baik selama ini.  “Mama apa kabar, Kak?” tanya Elsa lemah, tatapannya masih tertuju ke arah langit. “Mama lebih milih Kakak daripada aku. Sebenarnya, aku kesal sama Kakak. Tapi, aku akan tepati janjiku ke Kakak.” Elsa tersenyum sedih. Janji yang kini memaksanya terikat pada perjodohan ini. Janji yang membuat serangan paniknya semakin parah di awal ia masuk perusahaan. Namun, sekarang Elsa sudah mendapatkan ketenangannya, kendalinya, kepercayaan dirinya. Ia sudah bisa mengendalikan itu. Meski itu Alfon sekalipun, Elsa tak akan membiarkannya menghancurkan kendali Elsa. *** “Kamu manggil aku ke sini cuma mau ngajak bikin janji pernikahan?” Elsa tampak siap mencekik Alfon saat itu juga, tapi Alfon berhasil mencegah dirinya mundur detik itu juga. “Itu penting,” kata Alfon sembari pelan-pelan melesakkan punggungnya sejauh mungkin ke sofa nyaman ruangannya. Yah, berhati-hati kan tidak ada salahnya. Tidak lucu jika besok Alfon muncul di headline berita sebagai calon suami yang tewas tercekik di tangan calon istri karena mengajak membuat janji pernikahan. Itu sama sekali tidak lucu. Namun, untungnya Elsa tidak benar-benar mencekik Alfon. Meski mungkin di dalam kepalanya, wanita itu telah menguliti Alfon hidup-hidup. It’s okay. Alfon akan maklum. Toh itu hanya dalam kepala Elsa. “Jadi, kamu mau aku bikin janji apa? Janji aku jadi istri yang sempurna?” sinis Elsa. Alfon menatap Elsa. “Jangan buat janji yang nggak bisa kamu tepati.” “Aku bisa nepatin itu.” “Kamu bahkan nggak bisa ngasih cinta.” “Kenapa? Kamu berharap cintaku?” ledek wanita itu. “Nggak,” jawab Alfon jujur. Untuk apa ia mengharapkan hal yang tak mungkin? “Aku juga nggak yakin, cewek kayak kamu bisa mencintai.” Elsa mengernyit kecil, tapi kemudian tersenyum dingin, seolah mengakui itu. “Kamu sendiri, janji apa yang kamu buat?” Alfon tak langsung menjawab. Ia menatap mata Elsa selama beberapa saat sebelum berkata, “Aku akan selalu ada di sampingmu, dalam situasi apa pun. Dan apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di pihakmu.” Elsa mengerjap, tampak terkejut. Namun, detik berikutnya ia kembali memasang ekspresi dingin. Elsa sepertinya sangat ahli dalam hal itu. Memasang ekspresi dingin menyebalkan itu. “Not bad. Aku juga bisa ngasih janji itu ke kamu.” Alfon meragu. “Kamu yakin?” Elsa mengangguk. “Sure. Why not? Aku juga nggak berharap kita bercerai.” Alfon nyaris tersenyum mendengar itu, hingga Elsa melanjutkan, “Sahamku bisa anjlok parah kalau itu terjadi.” Ish. Dasar Ratu PHP berhati es! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN