-9- To Make You Mine

1117 Kata
Alfon tak percaya, ia baru bisa bertemu papanya di pesta pertunangannya. Itu pun hanya pertemuan singkat di grand ballroom X-Point. Setelah tak bisa dihubungi selama dua minggu terakhir, lelaki tua itu muncul di pesta pertunangannya. Meski kesal, Alfon harus menahan diri. Namun, usai pesta pun, Alfon tak bisa menemukan papanya. Dari laporan Juan, papanya sudah menghilang begitu pesta berakhir. Apa ia pikir ia Cinderella? Alfon hanya bisa menahan kesal hingga tamu terakhir meninggalkan grand ballroom. Bahkan meski hanya tinggal para staf, Juan dan Elsa di ruangan itu, Alfon masih harus menahan kesalnya. Ia tidak ingin mempermalukan diri di depan Elsa. Tidak lagi. Demi apa pun, jangan sampai! Namun, usahanya luluh lantak ketika Elsa berkata, “Tadi papamu nemuin aku. Dia bilang, besok mau ngajak kita makan malam bareng. Sama papaku juga.” Alfon tak tahu harus menanggapi bagaimana. “Benar katamu. Kayaknya emang harus aku yang telepon papamu biar diangkat teleponnya,” lanjut Elsa. Apa Alfon harus berterima kasih? “Kalau nggak ada yang mau kamu omongin, aku mau langsung pulang,” pamit Elsa. “Aku antar,” balas Alfon. “Nggak perlu.” “Aku harus jadi suami yang perfect, kan? Jadi, aku antar.” Alfon mengulurkan tangan meminta kunci mobil wanita itu. Elsa tak langsung memberikannya, sampai Alfon mendecak tak sabar. Elsa dengan agak kasar memberikan kunci mobilnya pada Alfon. “Nggak perlu sekesal itu. Kamu yang udah setuju sama kesepakatan kita, ingat?” ucap Elsa dengan nada sinis. Oh, apa lagi ini? Alfon tidak sedang kesal pada Elsa. Haruskah Alfon menjelaskan setiap hal, segala detailnya, termasuk perasaannya pada Elsa? Jangan! Wanita itu akan menertawakan Alfon. Seperti dulu. “Aku nggak kesal sama kamu,” tegas Alfon. “Yes, you do.” Elsa tak akan membuat ini mudah untuk Alfon. Tentu saja! Ini Elsa! Maka, Alfon memutuskan untuk tak membalas daripada mereka harus berdebat di depan staf yang membereskan grand ballroom usai acara. Beberapa staf membungkuk hormat ketika Alfon berjalan melewati mereka. Namun, Alfon mengabaikan mereka. Ia sedang double menahan kesal saat ini. *** Apa Elsa perlu membacakan ulang isi kontrak mereka? Pria itu yang langsung menandatangani tanpa revisi dan sekarang ia kesal karena harus berperan menjadi suami sempurna? Oh, mereka bahkan belum resmi menjadi suami-istri dan Alfon sudah bersikap seperti ini. “Lain kali,” Elsa memulai percakapan setelah lima belas menit keheningan dingin yang menyebalkan, “kalau kamu kesal sama aku, jangan tunjukin di depan orang lain. Lakuin itu di rumah, aku nggak peduli. Tapi, jangan di depan orang-orang.” Detik berikutnya, Alfon membalas dengan nada frustrasi, “Aku nggak kesal sama kamu, oke?!” Tidak kesal dan ia membentak Elsa? “Ya, kayak gini. Lakuin pas cuma ada kita berdua. Aku nggak akan marah meski kamu ngebentak aku kayak gini.” Alfon mengumpat. “Lakuin itu juga kalau pas kita cuma berdua,” tambah Elsa. Alfon menggeram kesal, lalu menepikan mobil. Pria itu melepas seat belt dan memutar tubuh ke arah Elsa. “Apa masalahmu sebenarnya? Aku udah bilang, aku nggak lagi kesal sama kamu,” jelas Alfon. “Apa masalahku?” Elsa ikut melepas seat belt dan memutar tubuh menghadap pria itu. “Kamu dari tadi nunjukin dengan jelas kalau kamu kesal sama aku. Itu pun tepat setelah pesta pertunangan kita berakhir. What? Do you regret it now?”  Alfon mendengus kasar. “Dan kamu tahu apa masalahku? Kamu dan mulut tajammu itu. Kamu …” “Jadi, benar kan, karena aku?” Alfon mengerang kesal lalu membuang muka. Elsa refleks mengumpat. “Aku lagi ngomong! Jangan buang muka kalau aku lagi ngomong sama kamu! Lihat aku!” kesal Elsa. Masa bodoh! Ia benar-benar sudah lelah karena pestanya dan sekarang Alfon berulah. Toh pria itu sudah menandatangani kontraknya. Ia tak bisa mundur sekarang. Alfon akhirnya kembali menatap Elsa. “Give it to me now.”  “What?!” Elsa semakin frustrasi karena tak tahu apa yang dibicarakan Alfon. “Mine.” Setelah mengatakan itu, Alfon menangkup wajah Elsa dan mencium bibir Elsa. *** “Will you marry me?” Pertanyaan s****n itu lagi-lagi muncul di kepala Alfon ketika Alfon mencium bibir Elsa. Pertanyaan yang sama seperti ketika mereka berciuman sebelumnya di restoran. Ayolah! Mereka akan menikah. Elsa akan menikah dengan Alfon. Tak perlu lagi bertanya seperti itu. Jadi, kenapa pertanyaan itu terus muncul setiap kali Alfon mencium Elsa seperti ini. Oh, s**l. Kenapa pula Alfon tak bisa berhenti. Bibir Elsa terasa begitu lembut dan … tunggu. Apa? Elsa membalas ciumannya? Alfon segera menarik diri. Di depannya, Elsa membuka mata, tampak terkejut. “A-apa? Aku … bikin salah apa sekarang?” Elsa mengatur napasnya. Astaga! Lihat betapa cantiknya wanita ini bahkan ketika ia kehabisan napas seperti itu. Membuat Alfon ingin kembali menciumnya. Tidak. Cukup, otak m***m! “Aku agak kaget karena kamu balas ciumanku.” “Well, I told you I won’t let you down, remember?” Ya. Ya, Alfon ingat. Dan ya, itu tadi menakjubkan. Bisakah mereka melanjutkannya lagi? Tidak! Alfon mulai kehilangan fokus. Hanya karena sebuah ciuman! “Sekarang, kamu nggak kesal lagi?” tanya Elsa. Alfon menyadari sesuatu. Ya. Kesalnya menghilang. Lenyap begitu saja. Hanya dengan satu ciuman. Tidak. Setengah. Itu tadi bahkan belum berakhir. Elsa menghela napas. Wanita itu kembali menghadap ke depan dan memasang seat belt. “Sekarang, bisa kita lanjutin perjalanannya? Atau, kalau kamu masih kesal karena harus ngantar aku pulang, kamu bisa antarin aku sampai sini aja,” ucap wanita itu. Sejujurnya, masalah Alfon hanya satu. Elsa dan mulut tajamnya itu! Membuat Alfon ingin menciumnya lagi. Dan lagi. Oke, Alfon mulai gila. *** Ketika Elsa selesai mandi dan hendak keluar dari kamar mandi, ia menghentikan langkah di depan wastafel. Tatapannya tertuju ke arah cermin kamar mandi yang berembun. Dengan satu tangan, ia menghapus embun, membuat bayangannya di cermin semakin jelas. Tatapan Elsa kemudian jatuh ke bibirnya. Ia refleks menggigit bibir teringat ciumannya dengan Alfon tadi. Elsa tak tahu, ciuman bisa membuat kepalanya kosong seperti tadi. Elsa menggeleng kasar. Tadi itu hanya ciuman. Ciuman biasa. Apa yang Elsa pikirkan? Namun, ia kemudian teringat bagaimana Alfon tiba-tiba menghentikan ciuman mereka dan protes karena Elsa membalas ciumannya. Apa mau pria itu sebenarnya? Atau, tadi ciuman Elsa kurang … bagus? Elsa mendecak kesal. Ia belakangan sudah banyak belajar tentang itu. Ia mencari tahu dari internet dan film romantis. Meski sedikit menjijikkan, tapi Elsa tak punya pilihan lain. Namun, ekspresi Alfon tadi mengusik Elsa. Benarkah ciuman Elsa seburuk itu? Tidak. Pasti bukan itu. Apa sebaiknya Elsa bertanya pada Alfon? Tidak mungkin. Elsa belum gila. Elsa mendengus menertawakan dirinya sendiri. Namun, ketika melihat bayangan dirinya sendiri di cermin, Elsa segara memasang ekspresi datar. “Let’s not get distracted, Elsa,” Elsa mengingatkan dirinya sendiri. Lagipula, apa masalahnya? Itu hanya ciuman. Sepertinya Elsa harus lebih banyak belajar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN