-12- Same Direction, Different Way

1156 Kata
Detik ketika bibir Alfon menyentuh bibir Elsa, pertanyaan itu muncul dalam kepalanya. “Will you marry me?” Alfon berniat mengabaikan itu. Sampai Elsa membalas ciumannya. Pertanyaan itu bergaung semakin keras di kepala Alfon. Maka, begitu ciuman mereka berakhir, Alfon tak segera menarik diri. Ia mengambil napas sebelum menempelkaan kening ke kening Elsa. Matanya menatap tepat di mata wanita itu. “Will you marry me?” Alfon menyuarakan tanya yang selama ini hanya ada dalam kepalanya. Reaksi Elsa adalah, bingung. Wanita itu jelas tampak bingung. “But we’re married. Already.” Alfon mendengus pelan. Ya, mereka memang sudah menikah. Namun, kenapa pertanyaan itu terus-menerus muncul di kepala Alfon? “May I kiss you again?” pinta Alfon, ingin memastikan satu hal. Elsa masih tampak bingung, tapi ia mengangguk. Wanita itu perlahan memejamkan mata. Alfon mengagumi kecantikannya. Selalu. Kali ini, ketika Alfon mencium Elsa, pertanyaan gila itu tak ada lagi di kepala Alfon. Akhirnya, kata-kata itu berhenti mengganggu Alfon setelah Alfon menyampaikannya pada Elsa. Alfon mengakhiri ciuman mereka dan akhirnya menarik diri. Elsa perlahan membuka mata. “You’re so beautiful,” ucap Alfon sungguh-sungguh. Elsa tampak terkejut, tapi kemudian tersenyum. Senyum bingung. Alfon tersenyum geli. “Ehem!” Deheman itu membuat Alfon berbalik. Alfon terkejut melihat kedatangan Ken, Arisa, Yura, Dio, bahkan Aira dan Rey. Mengingat pertemuan terakhir mereka minggu lalu, juga … Alfon tak melihat mereka sejak tadi. Meski Alfon masih marah pada Aira, tapi ia bersyukur karena sahabat-sahabatnya itu datang. “Sekarang kita impas,” Ken berkata. “Kalian juga datang telat di pesta pernikahanku.” Alfon tersenyum geli. Ia menoleh pada Elsa dan melihat wanita itu tersenyum. Senyum tulus, bahagia. “Makasih, kalian semua datang ke acaraku,” ucap Elsa. Ia lalu melongok ke belakang, ke arah Aira berkata, “Thanks, Ai.” Alfon diam-diam menghela napas. Seandainya Elsa tahu apa yang telah dilakukan Aira pada mereka. Terutama, pada Elsa. Ketika tiba Aira berdiri di hadapan Alfon, wanita itu tiba-tiba berkata, “Aku ke sini karena diundang Elsa.” Alfon mengabaikannya. Elsa menatap mereka heran. Namun, ketika Aira tiba di depannya dan memeluk Elsa, Elsa balas memeluk Aira. Elsa memeluk Aira paling lama. Ia bahkan belum pernah memeluk Alfon. Apa masalah Elsa sebenarnya? Oke, bukan itu masalahnya. Terlepas dari kemarahannya pada Aira, Alfon tetap berutang terima kasih pada Aira karena telah menjaga Elsa dan menjadi satu-satunya teman Elsa di saat terberatnya. Masalah mereka cukup mereka saja yang tahu. Alfon tidak akan membiarkan Elsa tahu. Begitu mereka pergi, Elsa menatap Alfon penasaran. “Kamu berantem sama Aira?” tanya wanita itu. Alfon tak membalas. “Kenapa? Kamu kalah taruhan sama dia?” Alfon sudah akan membalas jika itu bukan urusan Elsa ketika terdengar suara Ken memanggil namanya dengan microphone pengisi acara. Alfon dan Elsa menoleh ke arah stage tempat pengisi acara berada. Ken, Dio dan Rey sudah menggantikan posisi vokalis, gitaris dan drummer band pengisi acaranya. Ken lalu kembali berbicara di mic, “Ini untuk kisah cinta sepuluh tahun kalian.” Apa? Kisah cinta sepuluh tahun? Kisah cinta apanya? Penolakan, maksudnya? Namun, ketika Alfon mendengarkan lagu itu, ia tak bisa untuk mengelak. In case you didn’t know Baby I’m crazy ‘bout you And I would be lying if I said That I could live this life without you Even though I don’t tell you all the time You had my heart a long, long time ago In case you didn’t know (Brett Young – In Case You Didn’t Know) Well, itu tepat sekali dengan apa yang Alfon rasakan. Sungguh. Hanya saja, Elsa mungkin tak akan pernah tahu itu. Karena kemudian, di sebelahnya, wanita itu berkomentar, “It’s a good song. Kamu yang minta mereka bawain lagu ini? Good choice.” Lihat? Elsa bahkan tak sadar jika barusan teman-teman pengkhianat Alfon itu mengungkapkan perasaan Alfon untuk Elsa tepat di depan wanita itu. *** Usai pesta pernikahan mereka dini hari itu, Elsa ikut Alfon pulang ke penthouse-nya di Tower A gedung X-Point itu. Tak pernah sedikit pun Elsa menyangka, ia akan tinggal di tempat yang ia bangun, bahkan dekorasi sendiri. Begitu mereka tiba di penthouse Alfon, Elsa menyempatkan melihat hasil dekorasinya. Tidak ada yang berubah. Hanya … rasanya berbeda. Elsa melihat Alfon masuk ke kamar utama. Elsa pun pergi ke arah kamar tidur lainnya. Namun, Alfon memanggilnya. “Kamu mau ke mana?” tanya pria itu. Elsa menunjuk kamar tidur. “Ini kamarku, kan?” Alfon mengerjap. “Kamu nggak tidur sekamar sama aku?” Elsa ikut mengerjap. Ia berpikir cepat. “Kamu nggak lupa, kan? No s*x,” sebut Elsa. “Well, apa tidur sekamar itu artinya we will have s*x?” “Of course no.” Elsa mendengar suaranya melengking. “Trus, apa masalahnya?” tanya Alfon. Elsa mendengus pelan, lalu mendekati Alfon. “Aku nggak tahu apa yang akan kamu lakuin ke aku yang tidur di sampingmu sepanjang malam.” Alfon tampak tersinggung. “Kamu nggak percaya sama aku?” “You’re a man. And playboy. Kamu berharap aku bereaksi gimana?” “Kalau aku bisa tidur di sampingmu semalaman tanpa ngelakuin apa pun ke kamu, apa yang akan kamu lakuin?” tantang Alfon tiba-tiba. Apa lagi ini? Ayolah. Tidakkah Alfon lelah setelah pesta pernikahan seharian tadi? “Kamu mau apa?” Elsa benar-benar sudah lelah. Sungguh. “Satu permintaan,” ucap pria itu. Elsa mengangguk mengalah. Lihat saja, jika sampai pria itu menyentuh Elsa, meski hanya seujung rambut sekalipun, Elsa tidak akan tinggal diam. *** Sesungguhnya, Alfon sudah sangat lelah. Menjelang pesta berakhir tadi, dalam kepala Alfon hanya ada keinginan untuk segera naik ke tempat tidur dan tidur. Namun, ia tak membayangkan jika tidur di sebelah Elsa akan merusak bayangan indahnya akan tidur tenang malam itu. Mungkin seharusnya tadi ia menyetujui Elsa ketika wanita itu ingin tidur di kamar tamu. Karena saat ini, menatap wajah tidur Elsa di sebelahnya membuat kantuk dan lelah Alfon menghilang entah ke mana. Wajah Elsa yang bersih tanpa make up seketika memunculkan sosok Elsa masa SMA. Sosok yang pernah membuat Alfon begitu kesal. Sosok yang selama sepuluh tahun diam-diam ia rindukan. Sepuluh tahun lalu, seandainya Alfon mengakui jika ia menyukai Elsa, apakah segalanya akan berubah? Akankah Elsa membencinya? Akankah mereka berhubungan baik selama sepuluh tahun itu? Alfon tersenyum kecil. Ia menatap lekat setiap detail wajah Elsa. Alisnya, bulu matanya yang panjang, matanya yang terpejam, kulit putihnya, hidung mancungnya, juga bibir merahnya. Rasanya seperti melihat putri salju. Dalam dongeng, putri salju tertidur sampai pangeran cinta sejatinya menciumnya. Jika mereka berada dalam dongeng itu, Alfon pastilah akan menjadi pangeran Elsa. Sayangnya, di dunia nyata, Alfon tak lebih hanya suami yang dibutuhkan Elsa, tapi tak diinginkannya. Jangankan jadi pangerannya, tidur bersebelahan saja Elsa tadinya tidak mau. Alfon benar-benar harus bangun dari mimpinya. Karena apa pun yang ia bayangkan dalam mimpinya, secuil pun tak akan pernah ada di pikiran Elsa. Jalan mereka terlalu berbeda, bahkan meski mereka berjalan ke arah yang sama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN