Elsa perlahan membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar yang berbeda dari kamarnya. Ini bukan mimpi. Ia benar-benar sudah menikah dengan Alfon dan tidur di atas tempat tidur yang sama dengan suaminya itu. Elsa menoleh ke samping dan mendapati Alfon berbaring miring menghadapnya.
Tangan kanan pria itu terselip di bawah kepalanya sebagai bantal, sementara tangan kirinya ….
Tunggu! Tangan siapa yang menggenggam tangan Elsa ini? Elsa menunduk dan melotot kaget melihat tangan Alfon menggenggam tangannya. Detik itu juga, Elsa menarik tangannya kasar. Bersamaan dengan itu, mata Alfon terbuka. Pria itu menatap Elsa cemas.
“Elsa, kamu nggak pa-pa?”
Elsa menyipitkan mata tajam. “Nggak pa-pa?” sinis Elsa. Ia menunjuk tangan Alfon yang barusan ia usir dari tangannya. “Apa ini berarti aku menang buat satu permintaan?”
Alfon tampak akan protes, tapi ia tak mengatakan apa pun, hanya menatap Elsa lekat.
“Permintaanku, mulai nanti malam, kita tidur di kamar terpisah,” putus Elsa.
Setelah mengatakan itu, Elsa bangun dan turun dari tempat tidur. Dengan langkah kesal ia masuk ke kamar mandi. Tidak seharusnya Elsa percaya pada playboy seperti Alfon.
***
Menyukai Elsa jelas bukan hal yang mudah. Wanita itu terlalu sering menolak Alfon. Bahkan ketika Alfon hanya diam tak melakukan apa pun. Apa masalah wanita itu sebenarnya?
Hari Senin itu, baik Alfon dan Elsa sama-sama mengajukan cuti. Bukan rencana Alfon, sebenarnya. Namun, Juan mengganggu sarapan Alfon beberapa menit lalu tentang izin cuti Alfon. Alfon bahkan tak mengajukan izin apa pun. Tentu saja, papa Alfon pelakunya.
Namun, ternyata hari itu Elsa juga cuti. Apa papa Elsa juga yang melakukannya?
“Papamu juga nyuruh kamu cuti?” tanya Alfon usai sarapan.
“Nggak,” jawab Elsa seraya memberesi piring bekas makannya.
Alfon mengerutkan kening.
“Aku ngajuin cuti. Buat kamu juga,” wanita itu melanjutkan.
“Apa?” kaget Alfon.
“Kamu udah dengar dari sekretarismu kan, tentang cutimu? Itu aku yang urus. Agak aneh kalau kita langsung masuk kerja. Sori, kalau aku lancang dan nggak diskusiin ini sama kamu, tapi ini juga udah termasuk dalam perjanjian kita, di mana kita udah sepakat buat jadi pasangan yang sempurna di depan orang lain.”
Alfon ternganga saking terkejutnya. Begitu sadar ia pasti tampak seperti i***t saat ini, Alfon segera menutup mulutnya. Ia berdehem dan menyisir rambut hanya untuk mengusir canggung.
“Trus, hari ini apa rencanamu?”
Elsa mengedik. “Kerja, mungkin. Aku udah bawa beberapa kerjaanku pulang.”
Sekarang Alfon yakin, yang dinikahi Elsa bukanlah Alfon, melainkan pekerjaannya. Meski terdengar gila, tapi Alfon yakin Elsa tidak sedang melucu. Karena ini sama sekali tidak lucu.
“Kita mau cuti sampai berapa hari?” tanya Alfon datar.
“Dua hari aja. Aku nggak mau lama-lama ninggalin kantor, tapi aku juga nggak mau kelihatan kayak aku nikah buat bisnis,” ungkap Elsa.
“Tapi, kenyataannya kayak gitu,” balas Alfon. “Semua orang pasti langsung tahu.”
Elsa menggeleng. “Kita udah kenal sepuluh tahun yang lalu, kita ketemu lagi, jatuh cinta dan mutusin buat nikah. Itu interview terakhirku sama salah satu majalah bisnis. Jadi, kamu sesuaiin ceritamu sama itu.”
Alfon mendengus pelan. Itu cerita Alfon yang sebenarnya. Enak saja Elsa mengaku-aku.
“Tapi, aku boleh tanya sesuatu ke kamu?” tanya Elsa.
“Apa?” sambar Alfon tak ramah.
Elsa tampak ragu. Wanita itu memainkan jari di mulut gelas jus jeruknya yang sudah kosong.
“Kamu mau tanya apa?” tanya Alfon dengan nada lebih kalem.
Elsa menatap Alfon. “Mamamu … di mana?”
Alfon terbungkam.
“Maaf, aku nggak maksud buat lancang. Aku nggak pernah dengar berita tentang mamamu. Aku pikir, yah … maaf, harusnya aku tanya ke kamu lebih awal, atau tanya papaku. Tapi, aku …”
“Mamaku di tempat favoritnya,” Alfon memotong. “Nanti, suatu saat nanti, aku pasti ajak kamu ketemu Mama. Nanti,” janji Alfon.
Elsa membulatkan mulut dan mengangguk-angguk. “Kamu nggak tersinggung, kan?” tanyanya waspada.
Alfon mendengus pelan. “Kemarin itu Yoseph, teman kuliahku. Dulunya kami teman. Tapi, ada sedikit masalah. Aku cuma nggak nyangka dia akan senekat itu datang ke pesta pernikahan buat ngacauin acaranya. Banyak orang penting yang datang ke sana. Well, dia cuma ngehancurin kesempatan masa depannya.” Alfon mengedik kecil.
“Jadi, kemarin aku udah ngelakuin hal yang benar, kan?” Elsa memastikan.
Alfon tersenyum, mengangguk. “Makasih, udah nepatin janjimu buat ada di pihakku.”
Elsa mengedik cuek. “Sejujurnya, kemarin aku juga nggak begitu suka sama si pirang palsu itu. He has no class. Nor manner.” Elsa memutar mata.
Alfon tak dapat menahan senyum. Punya seseorang di pihaknya ternyata tidak buruk juga. Selain Aira dan yang lain, juga Juan, Elsa adalah orang yang bersedia berada di pihak Alfon. Bahkan untuk hal remeh sekalipun.
Ah, oke. Alfon harus mengakui, ia mulai berdebar-debar memikirkan kenyataan itu. Semudah itu, Elsa membuat Alfon bahagia.
***
Elsa tak tahu jika dirinya akan tinggal di penthouse ini. Jika tahu, ia pasti sudah menyiapkan ruang kerja. Dengan begitu, ia tidak perlu bekerja dengan tidak nyaman di atas tempat tidur seperti ini.
Elsa memindahkan laptop dari pangkuan dan bersandar ke kepala tempat tidur sembari mengecek jam. Sudah jam tujuh malam. Tadi Elsa sudah berpesan pada Alfon, ia akan makan setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Tiga puluh menit lagi, kata Elsa pada dirinya sendiri. Elsa menegakkan tubuh dan melanjutkan mengecek. Ia sedikit membungkuk sembari men-scroll laporan di laptopnya. Hingga ia merasa punggungnya pegal.
Elsa menarik napas dalam dan kembali bersandar di kepala tempat tidur, lalu menarik laptopnya mendekat. Elsa memijat lehernya dan menggumamkan angka-angka yang tersaji di laporannya.
Ketika matanya mulai terasa panas, Elsa mendongak dan memejamkan mata. Selama beberapa menit, Elsa duduk bersandar di sana sambil memejamkan mata. Sampai ia mendengar suara kakaknya.
Erwin …
Elsa berusaha mengikuti suara itu, tangannya meraih ke arah suara kakaknya. Ia merasa lega ketika akhirnya bisa menggenggam tangan Erwin. Namun, ia mendengar suara lain memanggil namanya.
“Elsa, bangun dulu. Kamu belum makan dari tadi siang.”
Elsa mengernyit. Itu bukan Erwin.
“Elsa!”
Elsa membuka mata, dilihatnya Alfon membungkuk di depannya. Elsa sampai terkesiap kaget.
“Maaf kalau aku ngagetin. Tapi, kamu belum makan dari siang tadi. Aku terpaksa bangunin kamu,” ucap pria itu.
Elsa berdehem. Kapan ia tertidur? Elsa menoleh ke layar laptopnya.
“Sebentar lagi. Lima belas menit lagi,” ucap Elsa. “Kamu kalau udah pesan makanan, makan dulu aja. Nanti aku pesan sendiri.”
Elsa lalu menarik tangan kirinya untuk mengambil laptop dan menyadari sesuatu. Elsa menoleh ke arah tangannya di atas pangkuan yang barusan melepaskan tangan Alfon. Elsa menjerit kaget dan menepis tangan Alfon.
“Ka-kamu ngapain?” panik Elsa.
Alfon tampak bingung dan kaget juga. Pria itu menegakkan tubuh dan menggaruk kepalanya.
“Aku … tadi waktu aku bangunin, kamu ngigau dan …” Alfon mengedik.
Elsa lalu teringat tentang semalam. Tidak mungkin.
“Semalam juga … jangan bilang aku yang … genggam tanganmu?” Elsa bahkan tak berani mendengar jawabannya.
Namun, Alfon memberikan jawaban tak terduga. “Kalau itu bikin kamu seenggak nyaman itu, anggap aja apa yang kamu bilang tadi pagi benar. Kamu yang menang taruhan.”
Elsa tertegun.
“Sekarang, mending kamu istirahat dulu dan makan. Aku udah pesan makanan buat kamu juga,” Alfon melanjutkan, sebelum keluar dari kamar Elsa.
Elsa mematung di tempat. Seketika, ia merasa begitu malu untuk melihat Alfon. Setelah apa yang ia lakukan semalam, ia menuduh Alfon dengan entengnya. Elsa mengerang dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Elsa, ada apa denganmu?
***