episode 22, pasrah

784 Kata
" deg deg deg deg" suara detak jantung yang tak beraturan menghadiri mereka berdua, nisa dibalik kamar mandi sedang anand masih termangu di kamar nisa mencerna setiap kejadian pagi ini. "wah ada apa dengan ku, masa melihat begitu an saja sudah langsung bereaksi," " hah anand anand seleramu rendah sekali," " hmm tapi boleh juga kalau hanya sekedar mencicipi, no no no anand kau tidak boleh menjadi pria b******k, " tapi harus nya impas kan, bukan kah dia sudah melihat punya ku jadi ngga masalah dong kalau aku melihat punya nya juga, aaah lagian ngga semua masih tertutupi". "ya ampun tuan anand ternyata ganteng banget ya, duh nih jantung ngga bisa diem lagi, dari tadi jedag jedug aja, diam ngapa"(Nisa) ", loh kok kemeja ini lagi sih aduh sial salah bawa lagi, gimana nih malah mau ketemu nyonya lagi." (nisa) "dug dug dug, " terdengar suara gedoran pintu nisa, anand langsung terkesiap dari lamunan nya dan bergegas keluar untuk menemui mami nya, sedang kan nisa masih celingak celinguk keluar kamar mandi, niat hati ingin ke kamar untuk ganti baju namun sebelum masuk belakang kerah nya sudah di geret anand keruang tamu. " duduk," titah nyonya Siera kepada kedua nya, sambil mengurut kening nya, dia tidak habis fikir anak nya telah melakukan tindakan asusila kepada bawahan sendiri, ia juga merasa bersalah juga karna membiarkan mereka tinggal berduaan, walaupun sangat mustahil karna penyakit anand yang tidak bisa tersentuh kulit lawan jenis, justru tindakan yang tidak diinginkan malah terjadi, ia lupa bahwa dengan nisa tidak terpengaruh sama sekali justru sebaliknya ia merasa seperti pria normal pada umum nya. nyonya Siera dari semalam memang sudah merasa gelisah, seminggu terakhir fikiran nya terusik mendengar desas desus anak nya yang sangat ia sayangi dan rindukan itu , di sisi lain nyonya Siera merasa lega karna harapan untuk sembuh anak nya akan segera pulih, namun dia merasa kecewa dengan anak nya sendiri karena tindakan nya itu, nyonya Siera hanya bisa menggeleng geleng kan Kepala nya. "hhaahh " , nyonya Siera menghela nafas rendah lalu menatap keduanya," "sudah sampai mana", tanyanya. anand dan nisa mengernyitkan dahi masing masing, mencerna apa yang di bicara kan mami dan nyonya nya itu, mereka pun saling memandang, akhirnya anand yang menjawab, "ekmm baru sampai melihat satu sama lain kok mi ngga lebih kami juga belum sempat berbuat lebih intim mih", nisa pun terperangah dengan apa yang di ucapkan tuan nya itu tidak percaya, "gila nih bos kayak nya niat banget mau buat m***m pake bilang belum sempat lagi buset dah mau di tendang kali tuh ya sosis nya, " batin nisa sambil mendengus kesal. "apa,,, belum sempat dan bahkan sudah melihat satu sama lain, maksudnya apa hah dan kau bilang belum sempat berarti memang kau ini ada niatan ya untuk berbuat m***m anand jawab mami". "bu bu bukan begitu mih maksud anand tidak terjadi apa apa, , iya benar, mi, tapi kalau nisa memang sudah melihat junior anand kok mih tanya aja kalau ngga percaya", dengan tampang cuek dan biasa saja anand mengatakan itu kepada mamnya. nyonya Siera pun langsung menatap nisa tidak percaya, sedangkan nisa yang di tatap pun dengan pasrah mengangguk tanpa niat untuk mengklarifikasi nya . "hhahh ya ampun Tuhan," nyonya Siera pun tambah pening , ia terus mengurut kening nya yang sangat pusing. "ya sudah fix mama sudah fikir kan matang matang, anand kau harus segera nikahin nisa secepatnya". "appaaa,, tidak",jawab nisa, dan "baiklah "jawab anand, mereka pun saling pandang, nisa yang terlihat kesal sedangkan anand terlihat senang nisa hendak menolak lagi dengan berbicara dengan nyonya nya itu tapi di halangi oleh anand. "iikh apaan sih tuan pake bekep mulut saya pokoknya saya menolak saya ngga mau jadi istri tuan titik." "hah", lagi lagi nyonya Sierra menghela nafas kali ini agak kasar melihat tingkah mereka berdua, jika mereka di sanding kan seperti ini selalu saja bertengkar, ini bukan hal yang aneh menurut nya, karena nyonya Siera sering sekali mendapatkan laporan dari jody, berhubung jody cuti sementara jadilah nyonya Siera mengecek secara langsung. "kalian ini benar-benar bikin kepala ku pusing". akhirnya nyonya Siera pun beranjak dari tempat duduk nya dan berlalu begitu saja sampai tak mengucap sepatah kata pun, ia menoleh sebentar ke arah anand dan nisa, ia melihat anand begitu senang dengan mengusili nisa dengan membekap mulut nisa, sedang kan nisa masih meronta ronta meminta pertolongan dari nyonya nya itu , hingga ia berbalik dan berlalu pergi. sesampainya di dalam mobil nyonya Siera tersenyum senang melihat anak nya yang tampak bahagia, damai sudah hati ini . "ya Allah terimakasih atas apa yang engkau berikan meski melalui nisa hamba iklas asal anak hamba kembali seperti sedia kala, hamba rindu ingin sekali memeluk nya", tanpa sadar nyonya Siera pun menitik kan air mata bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN