Aku menghabiskan waktu istirahat kedua di kantin sekolah. Menghabiskan dua porsi bakso dengan tambahan saus sambal yang banyak. Hari ini aku membawa bekal namun sudah dihabiskan pada istirahat pertama. Itulah mengapa pada saat istirahat kedua lebih memilih untuk berdiam diri di kantin. Menghadapi banyaknya soal try out yang membuatku kelaparan. Nathan masih menyunggingkan seulas senyum tipis memandangku. Aku masih tidak mengerti maksud dari senyumannya. “Kau terlihat lebih menggemaskan saat makan dengan lahap.” Aku mulai berpikir kalau Nathan adalah pemuda paling gombal yang pernah kutemui. Bagaimana pun aku bersikap ia selalu memuji bahkan menganggapnya lucu. Aku bukan seorang gadis yang terlalu memikirkan penampilan. Herannya hal itu yang menjadi daya tarik bagi Nathan. Hal itulah yang

