bc

Diam-diam Naksir

book_age16+
1.3K
IKUTI
10.3K
BACA
friends to lovers
playboy
comedy
sweet
campus
like
intro-logo
Uraian

SPIN OFF : PERNIKAHAN BEDA USIA

Haidar Ferdinand, playboy ibukota yang akan cemas berlebihan serta rela meninggalkan teman kencannya setiap mendengar Kania didekati sang mantan. Hatinya selalu panas melihat sahabatnya bersama pria lain dan memberikan tawaran konyol mengajak Kania menikah dengan alasan melindungi dari laki-laki sialan.

Sebagai orang yang hafal kelakuan sang sahabat, akankah Kania menerima lamaran Haidar yang jelas tidak pernah serius pada satu perempuan atau justru membuat mantan playboy merasakan patah hati?

chap-preview
Pratinjau gratis
Mama-mama Kepo
Kania menyipitkan mata melihat dua cokelat Cadbury besar, cokelat kesukaannya sejak dulu sampai sekarang yang ditali pita pink manis. Dia baru saja keluar kamar sambil menyisir rambut gelombang sepunggungnya dengan jari dan berhenti di ruang tengah. “Mama beli cokelat?" "Oh, dari Putra tadi," ucap sang mama dengan ekspresi kelewat santai. Kania melongo, apa mamanya amnesia sampai lupa pria yang membuat anaknya patah hati sampai masuk rumah sakit terkena tifus? "Kenapa nggak ditolak aja, sih?" "Mubazir, kalo kamu nggak mau bisa buat Mama." Yulia mengangkat bahu dengan santai. Sesama penyuka cokelat sampai abangnya pernah menebak memberikan satu kilogram cokelat akan diterima dengan mata berkaca-kaca daripada membelikan liontin. Kania merupakan anak bungsu, memiliki dua kakak laki-laki yang sudah menikah dan menempati rumah sendiri. "Kapan emang orangnya ke sini?" Kania berdecak sebal, melesakkan tubuh ke sofa tepat di sebelah papanya. Yulia memutar bola matanya. "Belum lama, paling masih di jalan pulang. Tadi Mama udah nawarin mau panggil kamu, dianya nolak biar nggak ganggu istirahat kamu. Baik banget ya anak itu, Pa." Papanya hanya mengedikkan bahu saat Yulia meminta pendapat. Sementara Kania sudah membuka mulut, berniat mendebat sang mama yang sepertinya sudah dicuci otak atau matanya katarak sampai melihat lelaki sialan seperti Putra baik. Tapi, ponselnya menyala yang menandakan ada pesan masuk. Jadi, Kania memilih membukanya lebih dulu. O813xxxx : Cokelat itu bukan sogokan, tapi kalau masih mau bertemu, aku ada di depan. Pesan itu membuat Kania tertegun, ada chat masuk dari nomor yang sudah dihapus satu tahun sialnya masih diingat. Bukankah pria itu yang memblokir nomornya? Dia buru-buru melesat ke ruang depan untuk mengintipnya lewat jendela, mendapati sosok pria jangkung sedang bersandar di kap mobil yang terlihat keren mengenakan kemeja dilapisi sweter navy. Sejak dulu, Putra memang memiliki pesona yang bisa membuat banyak perempuan bertekuk lutut. Entah Kania harus merasa beruntung atau sial pernah dipilih Putra Mahesa sebagai pacar. “Anak itu masih nunggu ternyata, Mama pikir habis pamit akan langsung pulang." Kania berjengkit kaget dan mengusap-usap dadanya, tiba-tiba sang mama sudah di sebelah seperti siluman dan ikut mengintip ke luar. "Udah temuin aja jangan sok jual mahal kalo masih suka." Kania berdecak, tidak setuju dengan asumsi sang mama. Sekalipun akhirnya tetap melangkah menuju halaman menemui orang yang setahun lalu mengacaukan hidupnya. Membuat dia bertanya-tanya kesalahan apa yang dilakukan sampai dibuang seperti sampah tanpa penjelasan apa-apa. “Kamu ngapain masih di sini?” tanya Kania berusaha memasang ekspresi judes dan galak melebihi anjing milik tetangga begitu melewati ubin teras. Putra langsung menoleh, memberi senyuman lebar. “Apa kabar?” Setelah satu tahun baru tanya kabar? “Lebih baik tanpa kamu.” Padahal sih sebaliknya. Putra mengangguk-angguk, kemudian mengamati detail perempuan berambut bergelombang melewati bahu, mengenakan kaus cokelat yang kontras dengan kulit putihnya. "Kamu masih marah? Sebenarnya aku ke sini--" “Cukup!" Kania menghadapkan telapak tangan ke dapan. "Mau kamu apa?” Kania konsisten menampilkan ekspresi judes cocok sekali dengan wajahnya yang memiliki tampang judes. “Aku mau minta maaf, kamu boleh bilang aku pengecut udah memilih pergi.” Putra berusaha menggapai tangan Kania dan langsung ditepis kasar. Laki-laki itu menghela napas. “Tolong, jangan ganggu hidup aku lagi. Kamu mau jelasin apa setelah satu tahun, udah basi!” Sebelum Putra memberi tanggapan, Kania sudah berbalik badan menahan tangis yang siap luruh kapan saja. “Apa udah enggak ada sisa cinta buat aku?” Langkah Kania terhenti, dia menelan ludah pahit. Apa pantas seseorang yang memberi luka terdalam masih menanyakan cinta. Iya, harusnya Kania tidak peduli. “Kasih aku kesempatan sekali lagi untuk berjuang,” pinta Putra dengan memohon, sedangkan Kania masih enggan menoleh. "Kamu perlu tahu kenapa aku pergi, Kania." Putra mengusap wajah kasar begitu melihat Kania tidak berbalik badan atau memberinya maaf, justru memilih masuk ke rumah seraya merapatkan pintu tanpa mengatakan apa-apa. Setibanya di ruang tengah Kania mengabaikan pertanyaan mama kepo yang ingin tahu urusan anak muda, memilih melesat ke kamar dan menuju ranjang demi menumpahkan tangis, tangannya memukul-mukul bantal dengan emosi. "Jahat kamu pergi begitu aja, sekarang datang-datang makin ganteng!” Bukan pertama kali Putra berusaha menemuinya, sudah beberapa kali Putra terus mencari celah melunakkan hatinya. Gadis itu memegangi d**a dengan tangis masih meluncur deras, lalu mendengar ponsel yang tertindih-tindih bantal karena dilempar sedang berdering tak sabar. Dengan malas tangannya bergerak menggapai smartphone, menempelkan ke daun telinga. “H-halo,” ucapnya dengan suara serak. “Kan, lo nangis?” tanya suara di ujung telepon terdengar panik. “Lo kenapa? Tunggu, gue akan ke sana sekarang.” “Jangan. Lo pasti ada janji mau jemput perempuan," terka Kania begitu yakin. Lalu terdengar embusan napas berat dari seberang. Kania tahu pasti sahabatnya akan cemas berlebihan bisa saja meninggalkan teman kencannya kalau dia minta. “Dia enggak penting bisa gue batal—“ “Kita bertemu besok malam aja, ya?” potong Kania sambil membersit ingus dengan tisu dan melempar bekasnya ke sembarang arah sampai berhamburan di lantai. “Ini soal Putra sialan lagi? Apa perlu gue kirim ke rumah sakit?” Haidar, playboy ibukota yang terpaksa diakui sahabat selalu bicara seenaknya. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook