Haidar menurunkan teman kencannya di jalan, wanita dibalut mini dress hitam yang membuat Haidar berpikir akan meminjamkan jaket khawatir anak orang masuk angin, tetapi bayangan Kania yang menangis tersedu-sedu di pojok kamar mengambil alih pikirannya. Jadi, membiarkan perempuan yang belum dihafal namanya jalan kaki mengenakan sepatu hak tinggi.
Dia tahu sudah keterlaluan, namun melihat kondisi jalanan yang ramai pasti perempuan itu tidak akan diculik, dia bisa berinisiatif naik taksi kalau masih waras.
Haidar memilih melajukan mobilnya begitu saja menuju Kebayoran Baru, mengabaikan omelan perempuan cantik yang tadi membanting pintu mobilnya keras-keras.
Sewaktu di perjalanan, dia menyempatkan diri merogoh ponsel di saku jaket demi memastikan satu-satunya perempuan yang terlarang dilukai tidak bodoh menangisi mantan sialan atau nekat gantung diri.
"Apalagi sih, Dar?" Suara parau di seberang terdengar. Biasanya Haidar akan sewot dipanggil 'Dar' yang sering diplesetkan menjadi telur dadar oleh Kania. Namun, mendengar isak tangis di ujung telepon omelannya disimpan untuk besok.
"Lo tunggu sebentar, gue lagi on the way ke sana buat menghibur."
Kania berdecak. "Buat apa ke sini? Lo bisa apa sok mau menghibur gue, apa mau dandan jadi orang-orangan sawah?"
Haidar berzikir dalam hati, sikap menyebalkan Kania tidak memudar sekalipun sedang dilanda patah hati. Boro-boro mengucap terima kasih atau terharu karena laki-laki penuh pesona sepertinya rela meninggalkan teman kencan demi menghibur sahabat yang super menyebalkan stadium akut.
"Lo bisa cerita apa aja sama gue," kata Haidar gemas.
"Ngapain? Emang lo bisa kasih solusi?"
Haidar tidak menjawab apa-apa, memilih memutuskan sambungan sepihak meyakini Kania tidak berbuat nekat terbukti masih nyolot saat menerima telepon. Kemudian Haidar menambah laju kecepatan di jalanan yang kebetulan lenggang.
Tak berselang lama Haidar sampai, menemui mana-mana cantik yang wajahnya diwarisi telak oleh Kania. Padahal dua abangnya ada perpaduan antara mamanya Kania dan suami.
"Malam, Tante. Apa Kania belum tidur?" Haidar menyapa sok manis, menampilkan ekspresi akrab seperti biasa.
"Kayaknya udah tidur dari tadi enggak keluar kamar." Wanita berpakaian terusan rumahan motif bunga melirik ke dalam.
"Kayaknya Kania belum tidur, bisa tolong dipanggil aja, Tante. Tadi kami baru aja teleponan." Haidar cengengesan.
Wanita paruh baya itu berdecak. "Kalo udah tahu Kania belum tidur kenapa nanya? Ya udah Tante panggil dulu, tapi ingat loh jangan hasut Kania buat menolak Putra."
Haidar mengernyit. "Memang Tante setuju sama Putra yang udah---"
"Dia calon mantu Tante, kamu jangan jelek-jelekin." Yulia, mamanya Kania sudah melolot.
Haidar merasa tidak rela kalau spesies seperti Putra Mahesa yang seringkali melukai fisik dan batin Kania bisa lolos seleksi menjadi mantu idaman mama-mama cantik. Lalu dia nyeletuk, "Kalo aku saja yang jadi menantu kesayangan Tante gimana?"
Yulia memindai penampilan Haidar dari ujung rambut ke ujung kaki, rambut acak-acakan, jaket hitam, leher memakai kalung, dan celana robek-robek.
"Memang Kania mau dikasih makan batu. Ya ampun ... kamu ada-ada saja. Lagian Tante tahu pacar kamu banyak, bisa-bisa anak Tante dimadu kalau sama kamu. Ya udah duduk, Tante panggil Kania terus kamu mau minum apa?"
Duh, gagal pendekatan sama calon mertua.
Padahal Haidar sudah memikirkan matang-matang selama di perjalanan, dia akan mengambil keputusan besar mengajak Kania menikah demi melindungi dari godaan Putra. Haidar tidak ingin Kania luluh lagi dan melupakan kesalahan Putra yang sering main tangan.
Namun, Haidar tetap memasang senyum manis. Dia ingat ucapan Mama Kalila kalau niat baik akan dilancarkan jalannya, jadi bisa dicoba lagi modus ke calon mertua besok.
"Boleh, Tante. Kebetulan banget haus, teh hangat aja enggak apa-apa, jangan lupa tambah madu atau gingseng buat kesehatan."
Yulia sudah hafal tamu yang hobi request tanpa rasa malu. Perempuan itu segera berlalu ke kamar anak gadisnya sebelum membuat minuman.
Sesaat Yulia melongo, merasa tidak ada angin p****g beliung tetapi kamar anaknya seolah baru terkena bencana besar. Ada tisu berhamburan di lantai, bantal-bantal teronggok begitu saja, dan sobekan buku harian anaknya.
Namun, Yulia berusaha mengabaikan dan memberitahu kalau Haidar sudah ada di ruang tamu.
"Lo beneran sampai sini?" Kania muncul dari balik pintu depan penampilan yang astagfirullah, rambut acak-acakan tidak ada niat menyisir sebentar, mata sembab, hidungnya masih memerah, lalu kaus kusut pasti berguling-guling di kasur.
Kania mengambil posisi duduk persis di sebelah Haidar tidak peduli tampilan berantakan. Toh, dia hanya bertemu Haidar tidak perlu cantik-cantik sudah biasa.
"Menurut lo ini siluman, mana ada kali ganteng? Gue enggak pernah bohong sekalipun lo ngeselinnya bikin orang darah tinggi." Haidar mendengus.
Kania mencebik.
"Tadi Putri ngapain ke sini?" tanya Haidar sekalipun malas mengungkit mantan Kania yang pecundang sampai tidak pantas dipanggil Putra.
"Telur dadar! Berhenti mengganti nama orang!" pekiknya tidak terima.
"Terus barusan lo apa? Apaan sih telur dadar enggak sekalian campur sosis sama nasi."
Kania menatap tajam. "Nggak lucu tau!"
Haidar mengamati wajah di depannya yang kalah cantik dengan penampakan si manis jembatan Ancol, dia memegang dagu Kania untuk menghadap ke arahnya. "Lo masih nangis buat mantan berengsek itu?"
Haidar menangkup pipi Kania dan mengusap bekas tangis dengan ibu jari, mereka biasa dekat sehingga Kania tidak perlu kejang-kejang melihat detail wajah yang menurut kaum hawa di muka bumi sangat tampan dan menggoda, alasan banyak gadis rela bergilir menjadi teman kencannya. Kalau Kania boro-boro terpesona.
Yulia berdehem saat menaruh cangkir ke meja. "Enggak perlu dekat-dekat bukan muhrim."
Keduanya menoleh dan refleks menjauh. "Apa perlu dilamar sekarang, Tante?" Haidar bertanya santai menuai tatapan tajam dua perempuan beda generasi.
Lalu Yulia mengembalikan nampan ke dapur meninggalkan dua orang yang sudah lama bersahabat dan tahu batasan.
"Tadi belum dijawab ngapain orang itu ke sini, mau ngajak balikan?"
Kania mengedikkan bahu. "Enggak tahu, gue keburu masuk."
"Bagus!" Haidar menepuk-nepuk bahu Kania bersentuhan dengan kaus putih yang kusut.
Kania memandang Haidar dengan sedih. "Tapi ya dia bilang mau menjelaskan sesuatu, bawa cokelat kesukaan gue lagi. Bikin orang bingung nggak, sih?" Perempuan itu menangkup wajah dengan kedua tangan.
"Cuma cokelat murah doang luluh!" komentar Haidar tak suka, membuat Kania mencebik kesal.
Entah kenapa aura rumah berbeda seolah setan-setan berkumpul untuk bersorak memberi dukungan menghasut Kania agar memutuskan tali silaturahmi dengan mantan.
Haidar mengangkat cangkir tidak peduli uap yang masih mengepul, disesapnya teh bercampur madu buatan calon mertua. Namun, tiba-tiba Haidar tersentak merasakan lidahnya lecet dan buru-buru meletakkan cangkir ke meja.
"Itu masih panas, gimana sih main minum aja."
"Mana gue tahu!"
"Lo bisa lihat masih mengepul." Kania tidak menaruh secuil pun rasa kasihan.
Haidar mengipas-ngipas lidah dengan tangan, setelah cukup membaik dia memanggil Kania.
Kania hanya menaikkan alis, ekspresi wajahnya masih terlihat bingung sekaligus sedih.
"Jangan termakan mulut manis Putra, ucapan gue tadi serius."
Kania mengernyit. "Ucapan yang mana?"
"Melamar lo, ayo kita menikah. Lo bisa pelan-pelan merelakan Putra, dan pria berengsek itu mau tak mau berhenti meluluhkan hati lo lagi."
Kania mengembuskan napas berat. "Lo lagi ngelawak, ya, kayaknya gue lebih terhibur kalo lo joget."
"Astaga ... gue serius," jawab Haidar gemas, dia menangkup lagi wajah tanpa make up di hadapannya. "Nikah sama gue daripada lo disakiti mantan sialan."
Kemudian Kania tertawa lucu, alih-alih merasa terharu dengan mata berkaca-kaca atau wajah merona malu. Kania berbeda dari perempuan lain yang rela antre sekadar menjadi teman kencan, lalu dilepehkan sesudah bosan tanpa diberi status apa-apa.
"Gue enggak se-desperate itu sampai harus lari ke playboy kelas teri kayak lo." Kania menepuk-nepuk pipi Haidar. "Jadi begini cara lo merayu perempuan, ya?"
"Kania?"
"Apa?"
"Lo nolak gue?" Ekspresi Haidar sudah cemberut melihat reaksi perempuan pertama yang diajak naik ke pelaminan. "Heran gue memang apa yang dijanjikan Putra sampai lo secinta itu!"