Malam ini Haidar memutuskan pulang mengingat mamanya berkali-kali mengancam akan mencoret dari Kartu Keluarga, memang Haidar lebih sering menginap di rumah temannya yang memiliki bengkel atau nongkrong sampai larut bersama kawan-kawan. Dia tidak mungkin pulang tengah malam dan bernasib tidur di ubin teras karena kunci rumah berada di tangan mama-mama galak yang akan mengoceh panjang mengalahkan tukang sales keliling.
Haidar mengendap-endap serta melangkah sepelan mungkin berharap mamanya yang memiliki pendengaran setajam jangkrik tidak akan menoleh daripada ditanya macam-macam seperti meliput gosip aktor papan atas.
Namun, Haidar tahu nasib baik seringkali tidak berpihak. Di ruang tamu Kalila sedang mengobrol antusias bersama menantu kesayangan, gadis bernama Aliza yang sekarang sedang mengandung satu bulan. Wajahnya terlihat berseri-seri dan menatap lembut sang menantu, tipe mama-mama yang memiliki seribu wajah bisa terlihat seperti peri baik hati di hadapan orang lain, tetapi akan memasang ekspresi galak dan lebih seram dari malaikat maut.
"Haidar, sini Mama mau bicara sebentar." Mamanya menoleh, permintaan yang kalau ditolak harus siap dikutuk menjadi batu kerikil.
Andai saja perempuan yang sudah menatap galak bukan orang yang melahirkannya, pasti Haidar akan pura-pura tidak mendengar lalu masuk ke kamar untuk tidur.
Aliza ikut-ikutan menoleh, lalu tersenyum. "Baru aja diomongin tadi, panjang umur banget."
Haidar mengerutkan kening, ternyata dua perempuan beda generasi baru saja bergibah. Kemudian pandangannya beralih pada laki-laki bucin yang harus diakui kakak sedang menggenggam tangan istrinya posesif seakan bisa lari kapan saja. Haidar hanya bergidik melihat kelakuan seorang pemimpin perusahaan yang wibawanya turun kalau sudah berhadapan dengan istri imutnya.
Gibran tipe orang yang tidak begitu mencampuri urusan pribadi adik-adiknya, mungkin isi kepalanya penuh oleh nama sang istri.
"Kenapa, Ma?" Haidar menghampiri serta melesakkan tubuh ke sofa usai melepas jaket hitam.
Kalila menyodorkan foto-foto gadis yang di make up totalitas, sedangkan Aliza melipat jari-jari untuk menopang dagu sesudah melolot galak pada suami agar menyingkir sebentar. Haidar jadi ragu kalau laki-laki berusia 31 tahun di sebelah Aliza adalah Gibran yang dikenalnya dulu.
"Apaan, ini calon pembantu baru terus Mama minta pendapat aku?" tanya Haidar setelah meraih tiga foto perempuan cantik.
Aliza cekikikan, sedangkan Kalila sudah menatap galak siap-siap melempar gelas ke kepala anaknya agar waras.
"Biar apa pembantu cantik? Biar bisa digodain sama kamu? Mama tahu banget kelakuan kamu mbak-mbak kasir supermarket depan saja dibikin baper!"
Haidar mendengus.
"Mama udah enggak ada cara lain, kamu harus menikah biar tahu tanggung jawab terus mau bekerja. Punya anak pulang ke rumah kalau ingat saja, suruh bantu papa di perusahaan enggak mau!" Kalila masih mengomel dengan suara mengalahkan kecepatan angin.
Haidar mengabaikan ocehan sang mama, sibuk menatap jijik ke kakaknya yang dianggap merusak citra keluarga Ferdinand. Gibran sedang mengusap-usap perut datar sang istri tidak peduli pada suara galak Kalila yang bisa memecahkan kaca-kaca di rumah saking kerasnya..
"Mas?" Aliza menatap galak. "Minggir, ish, gerah tau!"
"Udah ada AC masa gerah sih, Sayang."
Lagi Haidar berdecak, dia mungkin perlu mengingatkan siapa sang kakak di masa lalu yang bisa menaklukkan wanita mana saja. Lelaki penuh pesona dengan aura dingin yang tidak mudah tersentuh.
"Iri kamu lihat ke sini terus?" Gibran menaikkan alisnya merasa diperhatikan.
Haidar benar-benar muak, buat apa iri sedangkan dia memiliki sederet koleksi perempuan yang antre panjang mengalahkan struk belanja bulanan mamanya.
"Ogah!"
Kalila menatap gemas. "Haidar, kamu enggak dengar Mama bilang? Pilih salah satu terus besok Mama atur waktu bertemu."
Kemudian Haidar menimbang-nimbang, menilai tiga foto gadis yang termasuk kategori cantik. "Buat kencan doang, kan, Ma?"
Mata bulat Kalila sudah melolot sempurna seakan siap menggelinding ke bawah. "Kamu jangan bikin malu Mama, sampai kapan hobi baperin anak orang doang. Nikah Haidar, nikah biar setia sama satu perempuan."
Tiba-tiba Haidar teringat perempuan yang baru saja diajak naik ke pelaminan dan menolaknya mentah-mentah, membuat harga diri sebagai laki-laki penuh pesona terluka.
"Iya, aku setuju banget biar enggak lirik-lirik perempuan." Aliza berkomentar lalu menoleh ke suaminya. "Gimana kalo menurut kamu, Mas?"
"Hmm," gumamnya malas-malasan membuat bibir Aliza mengerucut.
"Enggak asyik banget, sih."
Gibran mengembuskan napas panjang, lalu mengusap rambut sang istri serta menghirup aroma apel favorit. "Ya kalo aku terserah Haidar."
"Mama enggak mau tahu, Haidar. Kamu harus bisa milih salah satu."
Haidar berdehem, berkali-kali menatap ketiga manusia di depannya bergantian. "Aku udah punya pilihan sendiri, Ma."
Kalila menggeleng cepat, terkesan tak rela. "Siapa? Perempuan yang kalo pakai baju kurang bahan dan kecentilan gitu? Enggak suka banget Mama sama perempuan yang pernah ketemu di mal!"
"Bukan, Ma, ya ampun dengar dulu kenapa." Haidar mengacak-acak rambut frustrasi.
"Apa, Mama enggak setuju sama pilihan kamu!"
"Aku maunya sama Kania, Ma!"
Sesaat semua diam, saling berpandangan dengan raut bingung. Kania yang sekian tahun berstatus sahabat tanpa ada peningkatan status. Kalau tiba-tiba Haidar mengatakan mau bersama Kania pasti ada yang tidak beres.
"Kania tetangga kita dulu?" tanya Kalila meyakinkan. "Kamu beneran suka sama Kania atau cuma buat tameng aja, Dar?"
"Beneran, Ma. Kenapa nggak percayaan banget, sih."
Gibran tidak merespons apa-apa, sebagai orang yang sudah mengendus ada aroma cinta yang mekar dalam persahabatan adiknya.
***