Puding Sialan

1688 Kata
Haidar masih nongkrong di kafe bersama ketiga temannya, membahas idola kampus semasa kuliah yang pernah menjadi partner kencan Haidar. Namanya Ilala, baru menikah dengan pengusaha kaya yang memiliki tiga anak. Mereka terbahak tahu setinggi standar yang ditetapkan Ilala semasa kuliah, bahkan Awal sudah ditolak sebelum mengajaknya dinner. Seolah-olah Awal hanya kuman yang pantas disingkirkan. "Dapatnya aki-aki juga," komentar Awal sambil tertawa puas. "Duitnya banyak biarpun udah bau tanah, Bro," sahut lainnya, lalu menatap Haidar yang sedang menaruh kotak rokok ke meja. "Menurut lo gimana? Di antara kita lo doang yang pernah dekat dan pacaran sama Ilala?" Haidar mengangkat kedua bahunya cuek. "Biasa aja, nggak terlalu menarik jadi pantas jodohnya aki-aki," jawabnya jujur. Selama dekat Ilala memang sering menguras dompet Haidar dengan meminta macam-macam terutama perawatan tubuhnya. Semua tertawa mendengar komentar Haidar. Ilala terkenal pemilih dalam urusan laki-laki, standarnya terlampau tinggi tidak tergapai orang biasa. "Ya, ya, pas pacaran aja kita-kita ditolak, giliran nikah sama aki-aki mau. Beneran pernah jadi sugarbaby kali ya?" Selanjutnya Haidar tidak fokus mendengar topik yang dibahas karena ponsel yang tergeletak di meja sebelah cangkir kopi menyala-nyala, panggilan dari Mama Kalila membuat Haidar memilih menepi usai menaruh putung rokoknya ke asbak. Dia wajib mengangkat telepon dari mama-mama galak daripada ada ancaman mengerikan, lalu bergeser agar suara berisik ketiga temannya tersamarkan. "Ada apa, Ma?" Haidar berdehem sebentar. "Dar, bisa antar Mama ke rumah Aliza sekarang nggak?" pinta lebih tepatnya perintah sang mama di seberang. Haidar tahu kalau menjawab 'tidak' akan siap-siap mendengar omelan. "Ngapain, Ma?" tanya Haidar basa-basi sekadar mengulur waktu memikirkan cara menolak paling aman. "Mama mau antar makanan yang bagus bagi ibu hamil ke rumah Aliza." Suara mamanya terdengar bahagia, Haidar membayangkan kalau mamanya sedang senyum-senyum. Haidar berdehem, belum menjawab karena mengantar yang mamanya maksud akan berbuntut panjang, contohnya disuruh mampir ke supermarket menjadi tukang bawa belanjaan dan mamanya dengan santai berjalan di depan menyuruh macam-macam tanpa memikirkan tangan anaknya, yang seakan nyaris patah saking pegalnya, atau meminta mampir ke salon sekadar mencuci rambut. Haidar sudah membayangkan hal buruk akan terjadi. "Haidar! Kamu masih di sana?" Mamanya tidak suka kalau telepon diabaikan apalagi ditinggal melamun. "Iya, ya ampun gue eh aku belum tuli jangan teriak-teriak, Ma." Haidar sedikit menjauhkan ponsel karena sang mama menaikkan intonasi. Dia tidak mau kalau telinganya bermasalah yang akan mengurangi pesonanya sebagai playboy nomor satu. "Sama Ilham aja deh, Ma, biasanya juga begitu." Dia memberi solusi, lebih tepatnya melempar tugas pada anak bungsu dari keluarga Ferdinand yang biasa sabar mengantar jemput mamanya. Ilham itu anak kesayangan keluarga yang paling sering dibanggakan karena penurut dan tidak pernah aneh-aneh. Namun, sekalipun wajah ganteng dan attitude-nya baik tetap saja mamanya was-was. Ilham belum pernah pacaran atau mengenalkan teman perempuan sehingga mamanya khawatir berlebihan. "Ilham sekarang lagi pergi sama Pandu." Terdengar nada tidak suka yang kentara sekali saat sang mama mengatakan. Haidar hanya ber'oh pelan. Tidak perlu khawatir ada masalah serius, dia juga sering pergi sama Awal. "Mama heran sama adik kamu tiap libur perginya sama Pandu terus udah mirip orang pacaran, apa adikmu nggak pernah ada kenalan perempuan?" Tiba-tiba nada suara mamanya terdengar benar-benar lelah. Mana gue tahu, bodo amatlah. Haidar tidak ikut campur urusan adiknya. Ilham sudah dewasa dan bisa menentukan jalannya sendiri. "Belum ada yang sreg kali, Ma." Mamanya berdecak kesal. "Ini salah kamu juga kali, kenapa semua perempuan dibikin baper sampai mbak-mbak supermarket juga. Adik kamu jadinya yang kena karma." Loh, kenapa gue yang salah? Haidar hanya mengusap d**a karena melawan justru menambah durasi omelan. "Kamu tolong dong, kenalkan perempuan ke adikmu jangan rakus-rakus diambil semua." Haidar berdehem paham permintaan sang mama adalah perintah. Nanti pasti akan ditagih kalau lupa. "Iya, besok kalau ada yang cocok, ya," jawab Haidar seraya memijat kening memikirkan kandidat yang sepadan dengan adiknya. Selama ini, dia sendiri bingung bagaimana kriteria perempuan yang bisa menaklukkan hati Ilham. "Heran Mama punya anak susah diatur semua, kamu juga selalu bikin Mama marah-marah dan awas aja kalo keriput gara-gara kamu." Loh, siapa suruh keseringan mengomel, Haidar tidak habis pikir. Haidar mengusap-usap telinga berharap tidak ada masalah serius mendengar omelan durasi panjang, dia memilih mengalihkan pandangan ke luar kafe, sekadar melihat orang berlalu-lalang daripada serius mendengarkan ceramah yang tidak berujung. Seketika matanya melotot dan refleks bangkit dari kursi yang diduduki dengan sekali gerakan, membiarkan suara mamanya yang memberi wejangan di seberang terdengar samar karena Haidar kembali menjauhkan ponsel. "Sialan, minta dikasih pelajaran dia!" "Apa? Anak tidak tahu sopan santun!" Mamanya menjerit marah di ujung telepon. Haidar lupa sambungan telepon menyala. "Duh, bukan ke Mama. Udah Mama recokin si Ilham aja." Tidak ingin mengulur-ulur waktu hanya mendengar omelan sang mama yang membuat kuping pengang. Haidar memutuskan sambungan telepon begitu saja, sekalipun tahu ada bencana menanti setibanya di rumah. Baiklah, Haidar tidak perlu pulang dalam waktu dekat. Dia akan menginap di bengkel milik Awal, temannya yang kemungkinan lahir lebih awal dari hpl mengingat namanya bukan akhir. Haidar berkali-kali mengumpat kasar dan mengabsen isi kebun binatang. Setelah layar ponselnya gelap karena sambungan telepon berkahir, dia memasukkan ke saku. "Gue duluan, ya," pamit Haidar hanya melambaikan tangan ke udara begitu menoleh ke teman-temannya. "Mau ke mana, woy?" Awal sudah berteriak mirip orang udik. "Kopinya belum dibayar." "Utang dulu!" teriaknya tak kalah udik tanpa peduli pengunjung kafe lain yang menatap ke arahnya. Haidar sudah melewati pintu keluar, urusan kopi sepele bisa nanti-nanti yang penting masa depan Kania. Tujuan Haidar adalah menemukan pria yang lewat merangkul perempuan, dia berjanji akan menghajarnya habis-habisan. Saat menyusuri jalanan, matanya berkeliaran ke mana-mana mencari jejak yang barusan lewat. Tak lama u*****n kasar keluar lagi dari mulutnya begitu menemukan sosok yang dicari baru saja memasuki Starbucks. Tidak perlu membuang-buang waktu, Haidar menghampiri seraya menarik kerah kemeja denim pria yang ingin dibunuhnya sekarang juga kalau tidak ingat dinginnya jeruji besi. "Sialan lo, berani-beraninya masih menunjukkan wajah di depan Kania!" Lelaki itu sempat kaget, balik menatap tajam. "Lo mau mendekati Kania lagi, hah?" Putra mendecih usai mengerakkan dagu ke arah luar sebagai kode pada teman kencannya. "Memang kenapa kalo gue mau sama Kania?" Gigi-gigi Haidar sudah beradu, kalau boleh ingin melempar Putra ke laut. "Mau lo sebenarnya sama Kania apa, hah?" "b******n!" Tanpa aba-aba Haidar menghadiahkan pukulan penuh emosi sampai bibir lelaki b******n di hadapannya berdarah. Putra malah terkekeh seraya mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari. "Lo lagi nyindir diri sendiri, kita sama-sama b******n, Bro." "Diam! Jangan samakan gue dengan lo!" Lelaki itu tertawa terbahak-bahak sambil mengusap bahu Haidar. " Tapi gue kasihan juga sama lo, jadi selama gue pergi lo ngapain aja belum ada kemajuan sama Kania, ke mana Haidar yang terkenal bisa menaklukkan semua wanita?" "Sekali lagi lo berani-beraninya menyakiti Kania, siap-siap habis lo!" Ada amarah yang sudah setinggi langit. Dia berniat memberi pukulan kedua kalinya, tetapi Putra mendecih seraya mendorong tubuh Haidar kasar sehingga terjadi perkelahian. "b******n!" Suara teriakan Haidar bersusulan dengan suara pukulan. Dia terus meninju wajah dan perut Putra, begitu juga sebaliknya. Tidak ada yang mau mengalah sekalipun orang-orang panik memanggil petugas keamanan. Keduanya sama-sama bernafsu mengirim salah satu di antara mereka ke rumah sakit atau kuburan kalau perlu. "Berhenti, Dar. Berhenti gue bilang!" Suara yang diucapkan dengan nada tinggi membuat keduanya menoleh, sedikit terkejut dan sama-sama berusaha menjelaskan. Tadi Kania menyusul ke kafe setelah tidak menemukan Haidar di bengkel, menurut salah satu montirnya lelaki itu pergi ke kafe tidak jauh. Kania menghadapkan telapak tangan ke depan. "Gue kecewa sama lo, padahal gue udah bilang jangan macam-macam, Dar." Perempuan itu menatap Haidar dengan mata berkilat emosi. "Lo di sini?" Seketika Haidar merasa ekspresi kagetnya jelek sekali. Dia memang suka bersikap bodoh di dekat Kania. Di saat seluruh perempuan di Jakarta memujanya, Kania justru menolaknya mentah-mentah. Kepalan tangan keduanya turun, tidak ada yang berani baku hantam lagi. "Iya, tadinya gue mau menemui lo kasih puding buatan gue karena katanya lagi di kafe." Kania mengangkat tupperware yang dibawa, hasil eksperimen yang biasanya diberikan ke Haidar untuk uji coba kalau tidak ada tanda-tanda keracunan barulah memberikan ke orang lain. Mulut Haidar terbuka hendak memberi jawaban, tetapi Kania sudah beralih menatap ke arah Putra seraya mengulurkan tangan menyentuh bekas pukulan brutal dari sahabatnya. "Sori, ya." Kania meringis meyakini rasa perih yang dirasakan pria di hadapannya. Putra menggeleng dan tersenyum penuh kemenangan ke arah Haidar. "Maaf kalo Haidar selalu begini, kita bisa menepi sebentar." "Kania ...." Haidar menatap takjub. Kania lupa kalau orang yang babak belur ada dua. Dia pergi begitu saja memapah Putra yang tulangnya mungkin remuk ditikamnya berkali-kali. Kania tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menoleh sebentar dan memberi peringatan. "Jangan pernah ikut campur terlalu jauh, lo harus jelaskan nanti di rumah!" "Puding buat gue kenapa dibawa!" teriak Haidar masih memikirkan puding yang tadi ditunjukkan Kania. Kania menoleh lagi dengan ekspresi masam, sedangkan Putra yang tangannya berada di pundak Kania merasa di atas angin. Dia berkali-kali mengangkat sudut bibirnya dengan senyuman mengejek ke arah Haidar. Sekarang Haidar menyesal kenapa tidak mematahkan tangan Putra sampai tidak bisa bergerak. Dia panas sekali ingin menyingkirkan tangan yang berani merangkul Kania, kemudian Haidar melepas jaket hitamnya. Menyerang Putra di hadapan Kania sama saja mengantarkan diri ke keranda mayat, siap digotong menuju kuburan karena Kania lebih ganas dari singa kelaparan kalau marah. "Sial! Apa bagusnya si Putra tampang doang soft boy, kelakuan busuk!" geram Haidar yang ingin meremukkan apa pun di sekitarnya. Haidar meringis saat menyentuh bekas pukulan Putra di pipinya. "Kan, kenapa lo cantik-cantik bodoh banget. Mau saja percaya sama Putra." Setelah punggung Kania lenyap dari pandangan, Haidar berjalan dengan menahan sakit menuju kafe tempat teman-temannya nongkrong. Dan Haidar berjanji dalam hati akan melakukan apa pun agar menjauhkan Kania dari spesies semacam Putra, termasuk menjadikan sahabatnya istri. "Tunggu gue, Kan. Kita akan menikah nanti," desisnya. "Bro, kenapa balik-balik bonyok?" Awal mengerutkan kening begitu Haidar muncul ke bengkel. "Berisik!" "Sensitif banget." Awal tertawa dan celingukan ke kanan kiri. "Lah Kania mana? Tadi dia nyusul ke kafe terus gue bilang lo baru saja pergi buru-buru." Haidar mendengkus kesal. Bisa-bisanya Kania percaya lagi pada Putra yang pernah membuatnya patah hati berkepanjangan. "Pergi!" "Sama laki-laki?" tebak Awal yang sudah cukup lama mengendus ada yang tidak beres dari hubungan persahabatan Haidar dan Kania. "Pantas muka lo asam, terus lo ajak berantem terus Kania belain orangnya?" Haidar berdecak sebal, lalu Awal mengangkat kedua tangan ke udara. "Oke, gue nggak ikut campur." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN