Kotak Beludru

2265 Kata
Kania memutuskan membawa Putra ke kedai kecil dekat apotek. Sebenarnya dia sudah membujuk ke klinik kalau saja Putra tidak keras kepala menolaknya. Saat ini mereka duduk di sofa abu-abu empuk paling pojok yang kebetulan kosong, membuat Kania ingin rebahan kalau boleh. Dia lelah memikirkan kelakuan Haidar, pria yang hobi melampiaskan emosi pakai otot dan harus diakui sebagai sahabatnya. Kania menghela napas lelah begitu menatap mantan pacarnya yang sekian lama tidak bertemu, tetapi masih awet muda dan tampan. "Kan?" Putra sadar kalau sejak tadi Kania memandangnya dengan pikiran entah ke mana. Kania menggeleng cepat merasa bukan waktunya terpesona mantan. "Eh, Sori." "Kamu lagi banyak pikiran, ya, Kan?" "Bukan gitu, cuma ya ngrasa bersalah aja dari dulu kamu selalu gini gara-gara kelakuan Haidar." Kania tersenyum kaku, lalu mengedikkan bahu. "Aku nggak apa-apa cuma gini doang lelaki biasa, jangan merasa bersalah." Kania terdiam sebentar, memikirkan ucapan sang mama semalam yang memberi ceramah panjang lebar sampai Kania terkantuk-kantuk. "Melamun lagi?" "Gimana?" Ucapan Putra menariknya ke alam nyata, lalu Kania menaikkan alis. Entah kenapa berhadapan lagi dengan mantannya yang dulu susah payah dilupakan cukup sulit. Dia jadi terlihat bodoh malah melamun terus. "Mikirin apalagi?" Kania menaruh obat yang dibeli dari apotek ke meja, lalu menghela napas panjang. "Maaf, ya, dari kemarin aku nggak mau mendengar apa-apa, Mama udah menasihati bolak-balik sampai aku berpikir semalaman." Putra mengangguk. "Sini aku obati dulu tuh memar-memar, bibirnya berdarah juga." "Nanti aja, Kan." Sebelah tangan Putra terulur meraih tangan Kania yang terkulai di meja, dia menggenggam lembut dengan tatapan tak lepas dari wajah Kania. "Aku yang minta maaf sudah pergi meninggalkan kamu." Lelaki itu mengembuskan napas berat, sedikit kecewa saat Kania buru-buru menarik mundur tangannya. "Saat itu ada masalah keluarga yang nggak bisa aku ceritakan, aku menghindar sampai keadaan tenang. Kalo aku berniat melupakan mimpi-mimpi kita mana mungkin kembali." "Kenapa nomor aku juga diblokir?" Kania menuntut penjelasan. Dia masih ingat malam-malam yang dilalui dengan menangis, bertanya-tanya alasan Putra pergi, dan pola makannya tidak teratur sampai jatuh sakit. Haidar dan abangnya geram dan berjanji akan meremukkan tulang Putra kalau berani muncul lagi. "Aku nggak mau kamu terbebani. Tolong mengerti, sekarang apa kita bisa meneruskan mimpi-mimpi kita?" Kania mengembuskan napas berat, dia menoleh saat waitres meletakkan dua gelas milkshake dan es batu yang dipesannya tadi. Kania tersenyum dan mengucapkan terima kasih. "Kita jangan bahas itu dulu, aku cuma mau obatin kamu aja sebagai bentuk tanggung jawab atas sikap Haidar. Bagaimanapun dia sahabat aku dan kalian berantem gara-gara bahas aku, ya?" Kemudian satu tangan Kania memegang dagu Putra, satunya mengompres dengan es yang baru diantar ke meja. Debaran berisik masih Kania rasakan harus berjarak dekat sampai bisa meneliti lekukan wajah yang dirindukannya setahun. "Apa kamu sudah nggak pernah kepikiran sama aku lagi, Kania? Kamu lupa sama kenangan kita dulu?" "Hubungan kita sudah berakhir, tapi kita bisa berteman." Kania meletakkan es sebentar seraya meraih tisu untuk membersihkan sudut bibir Putra yang berdarah sampai orangnya meringis. "Sori, ditahan dulu. Lagian kenapa malah meladeni Haidar kan jadinya berantem." "Kalau diam saja bisa-bisa mati di tangan sahabat kamu." Putra menekankan kata 'sahabat' seraya memperhatikan wajah di depannya. Mereka sangat dekat sampai Putra melihat jelas t**i lalat kecil di pipi perempuan itu. Diraihnya tangan yang sedang mengobati luka sampai pemiliknya salah tingkah. "Menikah sama aku, Kan. Bukannya sebentar lagi kamu akan wisuda?" Kania tertegun sesaat, memastikan kalau apa yang didengar bukan halusinasi. Setelah Putra hendak mengecup tangannya barulah dia cepat-cepat menarik mundur, kemudian meletakkan tisu bekas darah ke meja. "Kita bahas nanti," ujarnya salah tingkah sampai gemetar mengambil salep di depannya. "Kenapa? Kamu lupa kalau kita akan berencana menikah setelah kamu wisuda?" Tentu Kania ingat mimpi-mimpi yang dia ucapkan pada Putra menikah usai wisuda dan hidup menua bersama. Tapi, itu sudah berlalu sebelum Putra pernah melayangkan tangan menamparnya usai jalan-jalan bersama Haidar, sebelum pria itu memutuskan pergi tanpa kabar apa-apa. "Aku sudah bekerja di perusahaan property dengan gaji lumayan. Setahun pergi aku mencari pekerjaan lebih baik." Kania mengembuskan napas berat. "Aku nggak bisa jawab sekarang." "Terus kapan?" Putra terkesan tidak sabar. Dia menuntut jawaban Kania sekarang juga. Kania mengedikkan bahu sebelum meraih lagi dagu Putra menahan debaran jantung yang tidak bisa dikendalikan. Dia mengoleskan salep untuk mengobati memar-memar di pipi akibat pukulan brutal sahabatnya. "Setelah kamu wisuda, iya?" kejar Putra berusaha mendapatkan kepastian. "Aku akan nunggu, Kan. Kita akan bahagia bersama-sama." Kania menatap sebentar dan menghentikan gerakan tangan yang mengoleskan salep ke seluruh bagian wajar yang memar. "Kita lihat besok aja, ya." "Apa ini karena Haidar? Kenapa?" "Jangan bawa-bawa Haidar, ini nggak ada hubungannya." Kania mencebik kesal. Dia lanjut mengoleskan salep sampai rata, kemudian memasukkan ke tas kembali supaya Putra beli sendiri kalau masih butuh. Putra mengangguk-angguk. Dia melirik tupperware di atas meja yang langsung diambil Kania serta dipeluk erat seolah siapa saja dilarang menyentuh. Bukan apa-apa, dia belum memastikan kalau puding buatannya yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata dalam urusan dapur akan layak dikonsumsi. "Aku pergi dulu." Kania baru ingat kalau Haidar tadi sama-sama terluka. Dia menyesap milkshake di gelasnya sebentar daripada mubazir sudah dibayar. "Nggak makan sekalian, oke aku minta maaf sudah salah bicara soal Haidar." Putra ingat kesalahan di masa lalu seringkali tidak bisa mengontrol diri menampar Kania kalau perdebatan berlanjut. "Setidaknya kita makan dulu sambil ngobrol berdua." Rasanya tidak baik bagi kondisi hati Kania terlalu lama dekat Putra. Perempuan dengan rambut gelombang itu memilih pergi daripada sakit hati lagi. "Lain kali aja, tapi makasih minumannya." Setidaknya dia merasa harus mengucap terima kasih untuk segelas milkshake yang tidak seberapa sebagai basa-basi. Putra menghela napas pelan, lalu mengangguk, membiarkan perempuan yang baru diajak menikah bangkit dari kursi. Putra tahu kalau Kania tidak akan mudah percaya. Kania sudah meraih tasnya, berniat pamit sebelum Putra mengingat sesuatu yang ada di saku kemeja denimnya. Cincin yang disiapkan untuk perempuan lain sebenarnya sebagai hadiah istimewa, tetapi mungkin lebih cocok mengisi jari lentik Kania. Untuk perempuan tadi yang menjadi sumber amarah Haidar, dia bisa beli lagi. "Kamu bisa pegang ini, Kan. Aku serius sama kamu dan pakai kalau sudah siap." Putra memanggil Kania, mencegahnya buru-buru pergi dan menyodorkan kotak beludru kecil. Kania sempat terkejut, dia terdiam beberapa saat dan menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan salah tingkah. "Please ...." Apa lelaki di depannya sedang berusaha menembus kesalahan? Kania merasa bingung harus menjawab apa, sisi warasnya menolak mengingat sakit hati sewaktu Putra memilih pergi, tetapi hatinya mengatakan sebaliknya. "Oke, aku terima dulu. Bye, semoga lukamu cepat sembuh." Sudut bibir Putra terangkat saat melihat Kania menerima cincinnya, memasukkan ke tas, dan melangkah pergi sekalipun berkali-kali menoleh ke belakang. Oke, gue bisa pikiran matang-matang di rumah daripada menyesal seumur hidup. "Kamu nggak akan lepas lagi," gumam Putra seraya tersenyum licik melihat Kania menuju pintu keluar. *** Semenyebalkan apa pun Haidar dia tetap sahabatnya. Kania merasa harus adil mengobati dua-duanya sekalipun salah mereka sendiri berantem sok jagoan. "Ngapain masih peduli?" Bukan menyapa baik-baik Kania, Haidar malah menatap kesal. Perempuan itu mengedikkan bahu cuek sebelum mendorong Haidar ke sofa, memaksa untuk duduk agar segera diobati memar-memarnya. Haidar tidak bisa menolak daripada ada perang dunia dua. Dia tahu akan kalah kalau berantem dengan Kania yang keras kepala "Tuh cuma lo yang bisa maksa Haidar, dari tadi gue bilang obatin malah diomelin," komentar Awal yang lewat di depannya membawa peralatan bengkel. Kania menatap galak, sedangkan Haidar mengerakkan dagu agar Awal cepat menyingkir. Ganggu orang berduaan saja. "Lagian kenapa pakai sok jagoan, gue udah berapa kali mengingatkan jangan main pukul aja. Lo ngerti bahasa manusia enggak, sih?" Kania mengomel selagi mengoleskan salep ke memar-memar di wajah Haidar, berbeda sekali saat mengobati Putra yang penuh kelembutan. Haidar mendengkus malas, dia teringat perempuan yang diajak Putra ke Starbucks. "Lo harus tahu ya alasan gue kenapa geram sama tuh orang, gue lihat Putra tadi--" "Diam! Jangan ngomong terus nanti ganggu konsentrasi gue mengobati." "Kan, lo harus tahu kalau--" Kania melotot galak. "Lo suruh diam aja susahnya minta ampun! Mau nih salep malah nyasar ke mata gara-gara lo ngoceh terus kayak beo?" Mendengar omelan Kania, Haidar hanya melongo tanpa ingin mendebat lagi tahu akan sia-sia. "Pokoknya gue nggak mau dengar alasan lagi, ini terakhir lo hajar Putra begitu. Paham?" Kania menatap galak sebelum memasukkan salep yang tersisa sedikit ke tas. "Hem." Haidar hanya bergumam malas, dia sudah mengumpat kasar dalam hati berjanji akan mengirimkan Putra ke neraka kalau sampai melukai Kania lagi. "Jawab, Dar!" Kania menatap kesal. "Katanya suruh diam, gimana, sih?" Perasaan gue salah terus sama nih cewek, tapi kenapa gue nggak tega marah ya? "Sekarang udah kelar diobati!" Kania mendengkus kencang, ia menatap Haidar galak seperti singa betina yang siap menerkam mangsa. Haidar menggaruk tengkuknya bingung, kalau perempuan lain pasti dia akan balik emosi dan meninggalkan begitu saja. Sejak dulu, Haidar heran ajian apa yang dimiliki Kania sampai membuatnya tidak bisa berkutik. "Ya udah, eh katanya lo ke sini bawa puding, apa sudah dimakan Putra?" Haidar mengalihkan topik daripada harus melihat ekspresi seram Kania dalam mode galak. Perempuan itu berdecak. "Iya, sampai lupa." Dia baru ingat tujuannya datang, diraihnya tupperware serta membukanya "Lo udah mengobati Putra?" Haidar hanya ingin tahu. Dia merapal doa berharap ada keajaiban Kania membiarkan Putra kesakitan. Kania mengangguk-angguk, meraih sendok untuk diberikan ke Haidar. "Iyalah. Harusnya lo minta maaf." "Loh kenapa harus gue?" Melihat Kania kembali melotot, dia mengembuskan napas panjang. "Oke, jadi lo ngobatin dia ke klinik." Dan buang-buang duit? "Nggak," jawab Kania singkat dan meminta Haidar cepat-cepat mencicipi. Kania merapatkan jari-jari untuk menopang dagu menunggu komentar Haidar yang mulai menyendok puding vanila. "Tadi cuma gue kompres doang, terus dikasih salep yang lo pakai juga." Saat ini juga Haidar ingin cuci muka agar salep di wajahnya hilang. Bekas Putra, ya ampun ... apa Kania kehabisan uang atau sedang berhemat sampai harus memakai sisa Putra? Haidar tertawa sebal, dia akan mencicipi puding buatan Kania dulu baru cuci muka. Ada rasa bangga karena Kania tidak mengizinkan Putra menikmati hasil perempuan itu belajar di dapur. "Gimana rasanya, enak nggak, Dar?" Kania menatap dengan mata berkaca-kaca berlebihan melihat Haidar memasukkan puding ke mulut. Haidar tersenyum, jenis senyuman yang dipaksakan. Sekarang dia bukan hanya mau cuci muka, tetapi sekalian memuntahkan puding yang barusan masuk ke mulut. "Dar? Komentar dong." Kania terlihat antusias. Sementara Haidar berusaha menahan pudingnya agar tidak tertelan serta melewati tenggorokan. "Gue ke toilet dulu, ya." "Telan dulu kenapa, apa lo nggak suka? Iya, nggak enak, ya?" Melihat ekspresi Kania berubah sedih, mendadak dia jatuh iba dan tidak tega mengatakan jujur kalau puding buatan Kania jauh dari kata enak. Kenapa perempuan itu harus memperlihatkan ekspresi yang sulit ditolak. Dengan terpaksa Haidar menelan puding yang asin, kemudian cepat-cepat menyambar air putih. "Lo kasih garam." Pertanyaan yang merupakan sindiran karena mamanya tidak pernah membuat puding rasa garam, benar-benar asin dipikir membuat nasi goreng? "Kata Mama harus dikasih sedikit aja buat bumbu, apa kerasa asin, ya?" Kania mengerucutkan bibir dengan lucu. Lalu mengembuskan napas panjang. "Berarti kebanyakan, untung Putra nggak mencicipi, kan kasihan dia." Bukan kebanyakan lagi. Haidar mengucap istighfar dalam hati. "Jadi lo nggak kasihan sama gue?" "Oh, lo nggak ikhlas jadi orang yang mencicipi pertama kali?" Apa perlu dijawab? "Gue kecewa banget sama lo, nggak menghargai usaha gue udah buat susah-susah di dapur." Yah ampun salah lagi gue, kenapa selalu salah gue? Kania cemberut seraya menutup tupperware-nya, dia menatap kesal ke arah Haidar sampai pria itu menggaruk-garuk tengkuk bingung. "Sana katanya mau ke toilet, lagian gue mau pulang." Sesaat, perempuan itu berdiri dan menyambar tas yang belum tertutup sempurna secara kasar sampai sisir kecilnya jatuh, bukan hanya itu, ada sesuatu yang membuat Haidar terkesiap. Benda yang diyakini Haidar merupakan kotak cincin membentur lantai tepat di hadapannya. "Itu ...." Haidar masih berdoa agar dugaannya salah. Kania membungkuk, memungut benda-benda yang jatuh seraya menjejalkan kembali ke tas. "Ini dari Putra, gue lupa cerita kalau dia melamar gue." Baiklah, sekarang Haidar bukan hanya mau cuci muka, memuntahkan isi perut agar puding kelewat asin keluar, tapi juga ingin meremukkan kaca di kamar mandi. "Ya udah gue balik dan lo nggak mau antar gue gitu?" "Nggak! Ngapain minta antar sama gue?" Haidar menjawab dengan nada tak suka. Kania mengerutkan kening. "Lo kenapa, sih? Habis dipukul jadi rada-rada, ya?" Perempuan itu menatap ngeri. "Bodo!" Haidar mengibas tangan ke udara, berbalik badan akan ke kamar mandi, meninggalkan Kania yang masih terheran-heran. Kania menghentakkan kaki kesal ke lantai dan kebetulan Awal lewat mirip setan yang siap menjadi kompor. "Cie dikacangin, ya?" "Kenapa sih temen lo, kesambet penunggu sini ala?" Kania mendengkus sebal. "Harusnya gue yang ngambek dia nggak hargai usaha gue bikin puding, lah malah dia. Nggak jelas banget tuh orang." "Biasa dia obatnya habis, udah lo nggak perlu cemas. Kalo gue sih bodo amat dia mau mengambek." Kania menatap Awal, termakan oleh ucapannya. "Iya, sih, ya udah lo saja yang antar gue daripada bayar ongkos taksi bolak-balik." "Haha ... gue sibuk banget." Kania cemberut. "Sok sibuk apa lo, montir lo udah banyak." Bengkel ini milik abangnya Awal yang diurus sang adik sejak masih kuliah, makanya Awal bau oli. Awal tidak bisa menolak karena perempuan bar-bar yang dikenalnya sebagai sahabat Haidar dari kecil sudah menarik ujung kausnya. "Kebiasaan banget. Naik motor lo siap-siap rambut kayak bebek nggak apa-apa?" "Naik apa ajalah asal gratis, odong-odong juga boleh," jawab Kania asal selagi menarik Awal keluar bengkel, menyapa montir yang cukup dikenalnya ketika berpapasan. Kania melingkarkan tangannya ke perut Awal sewaktu naik ke motor gede dan membaur dengan kendaraan lain di jalanan. "Lo nggak takut gue baper apa begini?" Awal melirik ke tangan yang melingkar di perutnya. Kania terkekeh. "Karena gue peluk, nggak lah kita dah kenal lama mana mungkin baper. Lo sama saja kayak si telur dadar." "Apa lo yakin Haidar nggak pernah baper?" tanya Awal dengan berteriak mengalahkan suara motor lain. "Ya enggak lah, ada-ada aja sih." Kania tergelak sambil memukul-mukul lengan Awal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN