Kania menatap muak tumpukan kertas yang dijepit rapi, ada banyak catatan revisian dari dosen yang harus dia perbaiki. Kania mendesah, rasanya sudah mual melihat tulisan di kertas. Saat Sofia mengajaknya ke kantin untuk memberi perutnya asupan makanan, dia dengan senang hati mengiyakan daripada pusing memikirkan skripsi.
"Lo mending udah ada revisian, lah gue belum apa-apa." Sofia menaruh tas ke meja, memesan dua mangkuk bakso dan es teh sebelum duduk.
Kania meringis, tadi sepanjang jalan menuju kantin dia lebih banyak mengeluh. Bukan apa-apa, masalahnya ada beban lain yang mengusik pikiran dan bisa menggangu fokus skripsinya. Kenapa Putra harus balik sekarang dan tidak ada angin atau hujan tiba-tiba menawarkan pernikahan?
Setelah dia duduk seraya meletakkan tumpukan kertas ke meja, jari-jarinya saling bertaut untuk menopang dagu. "Kenapa lo kelihatan nggak stres, oh ya ... gue lupa lo cerdas bedalah sama gue yang otaknya biasa aja."
Sofia terkekeh. "Kagak juga, dibawa santai aja biar nggak jadi beban."
Kania membuang napas lelah, sesaat obrolan mereka terjeda karena ponsel yang Kania letakan di atas tumpukan kertasnya menyala. Dengan malas-malasan tangannya menggapai benda pipih yang dibelikan abangnya, takut kalau-kalau ada chat penting yang dilewatkan.
Haidar : Nanti gue jemput ke kampus lo ya.
Kania berdecak begitu membaca nama pengirimnya. Kalau tahu dari Haidar malas banget buka.
Kania : Nggak perlu, lo kerja aja deh daripada diomelin Tante Kalila keluyuran terus.
Haidar sekalipun sudah wisuda cukup lama dan merupakan anak kedua dari pemilik perusahaan. Masa depan lelaki itu belum jelas, hidupnya masih serampangan dan jarang sekali pulang, cara mencari uangnya paling membantu di bengkel si Awal atau balapan mobil. Tipe laki-laki belum layak dijadikan suami kalau menurut Mama Yulia.
Haidar : Yaelah, lo pikir gue nongkrong terus di bengkel ngapain. Apa lo sukanya cowok pakai kemeja rapi, berdasi, dan kerja kantoran. Gampang kalo begitu asal lo minta gua akan gabung mengurus perusahaan Papa.
Kania : Kenapa harus repot-repot gue minta, lo sadar sendiri lah kasihan kali Tante Kalila.
"Kan, lo chat sama siapa sampai nggak dengar gue nanya?" Sofia mencebik sebal, ekspresinya benar-benar bete merasa diabaikan. "Lo nggak sadar juga baksonya udah di meja?"
Kania mendongak, menyingkirkan ponsel dari depan wajah sebentar. Dia melirik ke mangkuk berisi bakso dengan kuah mengepul yang membuat cacing di perut berteriak girang. "Sori, lo nanya apa?"
Sejak tadi Sofia memang bertanya entah apa karena Kania tidak fokus mendengarkan. Sekarang dia meraih sendok dan garpu seraya mengelap dengan tisu yang ada di meja.
"Soal Putra, dia dari kemarin ke rumah gue nanyain terus. Lo masih nggak mau mendengar penjelasan dia?"
Kania meringis, dia lupa belum menceritakan kemajuan hubungan bersama Putra, maksudnya dia sudah menghilangkan amarahnya serta berusaha menerima pembelaan Putra. Lebih parahnya ada berita mengejutkan yang bisa membuat Sofia syok, Putra tiba-tiba mengajak menikah.
"Sof?" Kania mengigit bibir bawahnya ragu akan bercerita.
"Iya, gimana?" Setelah menuang sambal dan kecap, perempuan itu meniup-niup bakso dan menyantapnya pelan.
Kania masih mengigit bibir bawahnya bingung. "Menurut lo kalau misal gue ...."
Sofia mengerutkan kening heran, menatap perempuan di depannya penuh selidik selagi mengunyah bakso. "Lo kenapa, jangan setengah-setengah kalo ngomong kelarin kenapa? Bikin orang penasaran aja."
Kania menegapkan posisi duduk, menghela napas panjang. "Gini, kemarin Putra melamar gue masa, jadinya galau begini."
"Lamar?" Sofia terkejut, dia tersedak kemudian batuk-batuk dan cepat menyambar gelas. Sementara Kania hanya meringis menatap kasihan tanpa berniat memberikan bantuan apa-apa.
Setelah Sofia berhasil menetralkan rasa kaget dan makanan yang belum dikunyah sempurna berhasil ditelan. Dia menatap perempuan di depannya lamat-lamat. "Putra mantan lo bukan?"
"Iyalah, Putra mana lagi emang?" Kania menatap gemas. "Kayak gue pernah dekat sama orang lain aja."
"Iya, sih." Sofa meringis, lalu mengangguk-angguk. "Tapi udah lo terima?"
Kania menggeleng. "Gue belum kasih jawaban apa-apa, sih. Gue bingung mau gimana."
"Tapi lo memang berencana menikah muda, kan?" Sofia menjentikkan jari. "Dulu lo selalu bilang mau menikah sama Putra usai wisuda, lo itu nggak sadar ucapannya diaminkan malaikat. Lah sekarang bingung, gimana sih?"
Kania mengedikkan bahu. Masalahnya Putra awal-awal pacaran adalah idamannya tipe calon suami masa depan, lembut dan penuh perhatian sebelum setahun kemudian berubah kasar sampai main tangan hanya karena masalah sepele. Apalagi, pria itu pernah meninggalkan tanpa alasan, membuatnya tertatih-tatih bangkit menerima kepergiannya.
Sesaat layar ponselnya kembali menyala, ada notifikasi pesan masuk dari abangnya saat dibuka. Nizam, anak sulung di keluarga yang sudah memiliki gadis kecil berusia empat tahun.
"Bentar balas chat dari Abang dulu."
Nizam : Cika minta ketemu sama kamu, Dek. Abang jemput ke kampus, ya.
Kania : Oke, Bang.
Sekalipun Kania tekanan darahnya suka naik akibat kelakuan anak perempuan abangnya yang kelewat aktif dan seringkali menjengkelkan. Namun, dia juga kangen mencium pipi bakpao Cika. Anak itu sudah dua Minggu tidak main ke rumah.
Setelah menyantap habis isi mangkuk dan menyesap minuman, dia menjejalkan smartphone ke meja, kemudian meraih tumpukan kertas skripsi sebelum bangkit. "Gue pulang dulu, ya, lo nggak apa-apa gue tinggal, kan? Soalnya Cika sama Abang gue bentar lagi sampai."
Sofia mengangguk-angguk. "Iya masih nunggu dijemput Tomi."
"Oke, gue pergi ya. Pokoknya gue doakan lo segera jadian sama Tomi."
Sofia tersenyum kaku anehnya. Kania tahu kalau Sofia sulit membuka hati entah apa alasannya.
Tomi merupakan pria kantoran yang sudah berbulan-bulan pendekatan dengan Sofia. Kania berdoa yang terbaik untuk sahabatnya yang bertahun-tahun terlihat malas menjalin hubungan.
"Udah sana nanti Cika rewel loh nunggu lama." Sofia malas kalau membahas Tomi, dia terpaksa menerima tawaran Tomi menjemput daripada diteror terus.
***
Kania sudah berada di mobil abangnya, sedangkan di kursi depan ada anak kecil yang sejak tadi tidak bisa diam sibuk bersenandung mengikuti lagu anak-anak dari tip mobil. Kepalanya menggeleng ke kanan dan kiri sampai kunciran duanya bergerak-gerak lucu.
"Cika minta mampir ke McD beli es krim. Kamu nggak keberatan, Dek?"
"Hmm." Kania hanya bergumam karena perhatiannya sibuk ke smartphone sedang berbalas pesan bersama Putra.
Putra : Kalo nanti malam gimana?
Tadi Putra mengatakan akan mengajak dinner dan Kania sedang negosiasi.
Kania : Duh jangan nanti malam, ada Cika juga di rumah kemungkinan menginap.
Sekalipun hanya alasan saja karena Cika tidak mungkin menginap tanpa mamanya.
Putra : Ya udah besok, nggak tawar-menawar lagi. Kamu tadi bilang mau mencoba memperbaiki hubungan baik.
Kania meringis, dia berniat mengetik balasan sebelum disela oleh pertanyaan abangnya yang membuat matanya melebar.
"Dek, kata Mama kamu udah dilamar orang, ya?"
Hah? Kania melongo, dia saja belum memberikan jawaban apa-apa, tapi beritanya sudah menjalar dengan cepat ditambah bumbu-bumbu penyedap oleh sang mama pasti.
Semalam dia memang cerita ke mamanya kalau Putra memberikan cincin, padahal Kania sudah mengatakan masih bingung akan menjawab apa.
"Abang nggak nyangka kamu cepat banget dewasa dan sebentar lagi menikah." Nizam berkomentar tanpa mendengar penjelasan detail masalah sebenarnya.
Cika berhenti bersenandung, dia menoleh ke belakang. "Tante Kania mau nikah, Pa? Siapa yang mau, Pa? Tante galak begitu."
Kania menggeram kesal, sedangkan abangnya tertawa puas. Kalau saja anak kecil yang mengenakan kuas bergambar kupu bukan keponakan satu-satunya, pasti sudah dilempar jauh lewat jendela. Kecil-kecil mulutnya sudah tidak bisa direm persis mamanya si bocah.
Kania pernah berpikir kalau Cika bibit-bibit perempuan bermulut nyinyir atau hobi bergosip.
"Abang, ih, jangan ketawa. Lagian siapa yang mau menikah, gue belum kasih jawaban juga." Kania merengut sebal. "Ibunya nih anak ke mana?" tanyanya mengalihkan perhatian.
"Jadi benar Pa, Tante Kania mau nikah?"
Kania memandang ke Cika kesal. "Anak kecil tahu apa soal nikah!"
"Taulah, yang pakai gaun cakep. Mama suka ngoblol sama Tante-tante soal nikah." Cika mengatakan dengan santai sampai Kania geleng-geleng. Tidak habis pikir dengan kelakuan emaknya si bocah.
Tawa Nizam terhenti mendengar jawaban anak empat tahun yang terkontaminasi oleh obrolan orang dewasa. "Ochi lagi di salon makanya Abang bawa Cika main biar nggak rewel." Abangnya menjelaskan sampai Kania menatap takjub. "Dek, apa kamu masih dendam soal Putra yang pergi sampai kamu malas makan berhari-hari?"
"Bang!" Kania merengut.
Nizam bisa melihat ekspresi tak suka Kania dari kaca mobil. "Abang cuma nanya, apa salah?"
"Ini bukan soal dendam, gue emang belum siap saja lagi pusing mikirin skripsi. Udahlah Abang jangan ikut-ikutan Mama."
Lagi pula Kania sudah meleleh lagi mendengar penjelasan Putra. Dia sendiri heran sewaktu orangnya pergi membenci setengah mati, begitu pulang cepat banget terpesona dan luluh.
"Pa, tuh di depan MCD ih nanti kelewat." Cika mengingatkan.
"Iya, ini juga Papa mau belok."
Kania mencibir. "Papa kamu udah lihat kali, bawel."
Cika tidak peduli. Bocah kecil itu bersorak girang saat papanya membelokkan mobil.
***