"Asyik es krim, makasih Papa sayang." Cika bersorak girang sebelum menikmati Dark Choco With Oreo yang dipesankan papanya, bocah itu langsung berdiri di bangku sampai Kania berkali-kali mengusap d**a dengan mengucap istighfar, sedangkan Nizam tampak santai menasihati penuh kesabaran.
"Makannya pelan-pelan aja, Sayang."
Cika mengangguk-angguk dan fokus pada es krim manis yang lumer di mulut.
Kania hanya mengenyit, sedikit takjub melihat keponakannya berbinar-binar saat tangan mungilnya memasukkan satu sendok es ke mulut. "Berapa lama si anak ini nggak makan es krim, Bang."
"Adalah dua Minggu lebih soalnya Cika habis batuk." Nizam mengingat kepanikan Ochi dan berkali-kali menyalahkan dirinya yang sering memberi es krim menuruti Cika tanpa aturan.
Kania mengangguk-angguk, pantas saja seakan bertahun-tahun lidahnya tidak menyentuh es krim.
Cika dan batuk seolah sahabat karib sejak usia setahun. Apalagi sering disertai sesak napas sampai Ochi panik berujung mengomel pada suaminya.
Seolah bisa membaca isi kepala adiknya, Nizam nyeletuk. "Kamu saja kalau dikasih cokelat persis Cika."
"Enggak senorak itu juga kali, Bang." Bibir Kania merengut tidak terima. Dia memang suka cokelat dan segala turunannya tapi masih bisa memasang ekspresi biasa saja.
Cika yang merasa namanya disebut mendongak, menatap dua orang dewasa di hadapannya. "Kenapa, Papa. Tante Kania ili cuma dibelikan burgel aja, kasihan banget."
"Ye, ogah. Bisa beli sendiri kali," cibir Kania yang jarang mau mengalah. Kalau ada mamanya pasti Kania diomeli, sekalipun Cika super menyebalkan mamanya meminta Kania mengalah. Tipe-tipe Mama lebih sayang cucu daripada anak sendiri.
"Tante emang punya uang, biasanya juga minta sama nenek kayak anak kecil." Cika berkomentar santai selagi mulutnya belepotan es krim.
Kania sudah mendelik pada bocah duplikat mamanya yang kalau bicara suka tidak ada saringan.
Nizam tertawa, tangannya terulur mengusap-usap kepala sang anak, kemudian mengambilkan tisu untuk membersihkan bekas es krim agar tidak belepotan.
"Loh, benar Kania. Aku nggak mungkin salah, Mas." Suara itu membuat Kania dan Nizam kompak menoleh, menemukan perempuan imut yang usianya masih muda sedang menggandeng tangan suaminya.
"Aliza, di sini juga?" Kania tidak perlu memanggil Mbak karena umur istri dari Gibran jauh lebih muda.
Perempuan itu tersenyum lebar sebelum mengusap perut yang masih datar. "Iya nih lagi pengen es krim, Kak. Boleh ikut gabung."
Gibran membuka mulut siap memprotes karena tidak ingin perhatian sang istri beralih ke orang lain, setelah dia rela pulang dari kantor demi istri tercinta yang tiba-tiba merajuk ingin ditemani makan es krim di McD padahal bisa beli sendiri.
Nizam tersenyum, menyapa keduanya dan bergeser duduk di sebelah Cika. Sementara Aliza sudah terkagum-kagum mengamati gadis kecil yang sibuk melahap es krim dengan mulut penuh.
"Halo, Sayang. Siapa namanya, ya, Tante lupa?" Aliza sudah duduk sementara Gibran mengambil makanan.
"Cika." Kania menjawab karena tahu Cika masih sibuk makan. Cika beberapa kali bertemu Aliza saat dibawa ke acara keluarga Haidar.
Aliza tersenyum lebar, tangannya terulur mengusap-usap pipi gembul Cika. "Lucu banget, cantik lagi. Aku jadi mau satu yang begini."
Cika mendongak, menyingkirkan poni yang menusuk-nusuk mata dengan tangan kecilnya . "Halo, Tante. Mau es klim?"
Aliza mengangguk-angguk senang saat tangan mungil menyodorkan sesendok es krim ke arahnya.
"Manis, kan, Tante?" Seperti biasa Cika sok baik pada orang baru yang ditemuinya supaya terhipnotis.
Halah, sok imut lo Cik!
Kania sudah muak melihat Cika yang kalau di depan orang lain menunjukkan seolah dia anak lucu dan manis.
Nizam meringis menggumamkan maaf berkali-kali takut anaknya akan bertingkah ajaib, sedangkan Aliza malah tertawa senang.
"Manis banget kayak yang menyuapi," jawab Aliza dengan mata berkaca-kaca berlebihan.
Cika menyengir setelah mendapat pujian itu. "Tante juga cantik, baik lagi nggak seperti Tante Kania yang galak."
Kania sudah mengambil ancang-ancang akan menjejalkan burger ke mulut keponakannya agar diam. Aliza tertawa, dan Nizam hanya geleng-geleng.
"Tante Kania juga cantik banget, kok." Aliza menoleh ke Kania, dia jujur karena sahabat dari Haidar memang cantik sekalipun memiliki wajah terkesan judes untuk orang yang belum mengenalnya.
Cika menarik bola mata ke atas, berpikir keras dan berhenti sebentar menyuap es krim ke mulut. "Cantikan Tante, jauh banget. Kalo Tante Kania mirip nenek sihil matanya melah-melah juga."
Kania mencebik seraya menaruh sisa burger dengan kesal. "Oke, Tante nggak akan belikan kamu permen, nggak akan bawakan boneka kalau ulang tahun, dan nggak mau menemani kamu main lagi."
Cika menyengir. "Nggak apa-apa, ada Tante Aliza mau, 'kan?"
Aliza mengangguk dengan mata berkaca-kaca berlebihan. "Mau, mau."
Nizam menggeleng dan menyuruh Cika meneruskan makan es krim sebelum anaknya akan meminta aneh-aneh.
Gibran yang tadi mengambilkan pesanan sudah balik ke meja, es krim persis milik Cika dan juga cheeseburger yang tadi disebutkan sang istri.
"Mas, sini deh lucu banget." Aliza menarik tangan sang suami agar cepat duduk di sebelah. Matanya sudah berbinar-binar melihat bocah kecil di hadapannya yang memuji dirinya cantik. "Ya ampun, anak kecil perempuan gemesin, ya, lucu banget."
"Kalo ketemu sekali dua kali lucu, lama-lama pengen mites, Al," celetuk Kania yang langsung mendapat delikan lebar dari Cika. Tuh, kan, Kania sudah bilang bocah kecil yang harus diakui keponakan memang duplikat Ochi. Berani sekali melotot pada orang dewasa.
"Kayaknya enggak, deh. Aku udah suka Cika." Aliza senyum-senyum membayangkan bayi perempuan.
Cika bersorak senang mendapat pembelaan. "Cika juga suka sama Tante yang cantik."
Kemudian Aliza melipat jari-jari untuk menopang dagu, menatap bocah kecil dengan terkagum-kagum sampai Gibran mengerutkan kening heran. "Aku jadi mau anak perempuan."
"Loh semalam kamu bilang mau anak laki-laki biar bisa melindungi mamanya." Gibran merasa belum pikun.
Sebelum tidur dan saat mengusap perut datar sang istri, mereka membahas masa depan. Aliza jelas menginginkan anak laki-laki yang bisa melindungi adik dan mamanya kelak.
Aliza berdecak, melirik ke arah suaminya dengan galak. "Emang nggak boleh ganti, sekarang aku mau perempuan loh, Mas."
"Ya udah sih, perempuan atau laki-laki yang penting sehat, Al." Kania ikut terheran-heran baru saja satu bulan usia kandungannya sudah mendebatkan jenis kelamin. Suka-suka anaknya lah mau menjadi perempuan apa laki-laki.
Sementara Nizam sebagai laki-laki yang merasa senasib hanya menatap iba, mengingatkan dirinya saat Ochi hamil dengan kelakuan ajaib yang seringkali membuat kepala pusing. Salah satu alasan Nizam belum berminat memberi Cika adik sampai usianya cukup besar.
"Tapi mau yang kayak Cika, lucu banget apa sih resepnya punya anak begini, Mas." Aliza menoleh ke arah Nizam dengan tatapan penasaran dan Gibran berdehem merasa panas istrinya menatap pria lain apalagi memanggil Mas. Gibran buru-buru melonggarkan dasi juga agar tidak kesulitan bernapas.
Nizam mengernyit, sedangkan Kania melongo. Aliza seolah sedang bertanya resep membuat kue pukis.
"Nanti juga anak kalian lucu, pasti cantik atau ganteng mirip mama dan papanya." Hanya itu yang bisa Nizam jawab tentu saja. Memang Aliza berharap jawaban apa?
Resep seperti apa memang yang harus dijawab?
Aliza mengerucutkan bibir merasa belum puas mendengar respons Nizam. "Maksudnya apa mamanya rutin minum air kepala biar kulitnya putih, terus apa dibacakan surat Maryam supaya cantik, dan---"
"Udah kamu makan aja dulu, Sayang." Gibran sedang mati-matian menahan omelan di ujung lidah, melihat kelakuan sang istri yang benar-benar menguji kesabaran.
Kania hanya melongo dan Cika lanjut mencuil-cuil burger milik sang papa memilih bagian atasnya saja.
Aliza memutar bola matanya dengan jengah. "Ish, Mas ganggu obrolan aku aja. Emang salah aku nanya sama Mas Nizam."
Ganggu? Rasanya Gibran ingin membalik mejanya saja untuk melampiaskan dongkol.
Dia menarik napas panjang berusaha mengontrol diri di hadapan orang lain.
"Nanti meleleh, tujuan ke sini makan es krim, 'kan?" Gibran menggulung lengan kemeja sebatas siku, dia bahkan tidak sempat berganti baju hanya melepas jas dan meletakkan begitu saja di mobil agar cepat-cepat menemui sang istri. Kalau hanya melihat Aliza berbagi senyuman ke pria lain yang diakuinya tampan sekalipun status suami orang, wajarlah amarahnya naik ke ubun-ubun.
Aliza tertegun. "Sampai lupa," ujarnya sebelum menyendok es krim, membiarkan sensasi rasa dingin dan lembut menyentuh lidah.
Lalu, saat Kania sibuk menghabiskan sisa burger, Nizam dengan sabar sedang mengurus anaknya yang minta es krim lagi, dan Gibran tentu saja diam sok cool selagi mengunyah makanan. Aliza teringat obrolan di rumah mertua tempo hari.
"Kak Kania gimana hubungan sama ipar aku, apa sudah sampai ke tahap lamaran?" tanya Aliza dengan cekikikan. Sejak pembicaraan di rumah mertuanya belum merasa diberi kabar apa-apa soal hubungan Haidar dan sahabatnya. Padahal jelas adik iparnya menolak tiga perempuan cantik yang sudah lolos seleksi ketat menjadi calon menantu pilihan Kalila, semua demi Kania.
Dan Kania hampir saja melepehkan kembali burger di mulut.
Nizam menoleh dengan kening berkerut. "Jadi kamu dilamar Putra apa Haidar, Dek?"
Giliran Aliza yang syok sampai membuka mulut, lalu mengatup cepat menandakan benar-benar kaget. Dia menoleh ke arah suaminya hanya direspon dengan mengedikkan bahu seolah tidak peduli. Memang apa yang diharapkan dari suami dengan kepekaan setipis kertas?
"Kak Kania, jadi dilamar dua orang?" tanya Aliza tidak bisa menahan rasa penasaran. Ada rasa kasihan pada iparnya ada saingan yang sama-sama melamar.
Kania meringis, dia heran kenapa orang-orang menanyakan hal yang belum pasti.
"Terus Kak Kania mau pilih siapa? Pasti sama Kak Haidar, iyalah udah lama kenal dan tahu sifat-sifatnya." Aliza tersenyum mempromosikan iparnya, sedangkan Gibran menatap heran.
Justru karena gue tahu sifatnya nggak mungkin gue nikah sama playboy yang koleksinya ada di mana-mana.
"Udah kamu makan aja, itu urusan mereka," ujar Gibran meminta istrinya tidak perlu ikut campur.
"Mas, aku nggak mau ipar aku salah pilih pasangan. Pacar Kak Haidar rata-rata mirip sama si Mayapada," sindir Aliza menyebut salah satu mantan selingkuhan Gibran bernama Maya. Sampai sekarang, Aliza masih dongkol setiap mengingatnya.
Gibran diam, sedangkan Kania mengernyit tidak tahu siapa Mayapada yang dimaksud Aliza. Satu Kania adalah nama bank.
Memang bank genit gimana sih? Apa perempuan seperti bank duitnya banyak?