Kania baru saja sampai rumah bersama abang dan keponakannya, dari kejauhan sudah melihat sang mama menanti di teras dengan wajah cerah. Di sebelah ada Kafi, anak tengah di keluarga yang sedang bersedekap dengan raut kesal anehnya.
Saat turun dari mobil dan melihat neneknya, Cika langsung menjerit, berlari ke arah Yulia seolah bertahun-tahun tidak bertemu. Bocah itu disambut pelukan hangat.
"Lama banget nggak ke sini cucu kesayangan nenek."
"Kesayangan baru satu, tuh Bang Kafi suruh punya anak juga biar ada keponakan manis syukur-syukur." Kania berkomentar dan langsung menuai delikan Yulia.
Setelah masuk ruang depan, Cika duduk di pangkuan neneknya disambut Kafi yang sempat terlihat galak saat ada Cika berubah tersenyum lembut.
"Tadi Cika habis makan es klim, enak banget," ocehnya dengan antusias menceritakan keseruan melahap habis es krim di McD.
"Oh, ya. Kenapa Nenek nggak diajak." Yulia pura-pura cemberut. Kadang Kania heran kenapa orang tua akan menipu ekspresi wajahnya di depan anak kecil.
Saat Kania mengatakan akan istirahat ke kamar, mamanya langsung memintanya duduk, dan raut wajah Kafi berubah tidak bersahabat lagi.
Sekarang Cika sudah duduk di sofa sebelah neneknya, memegang ponsel Kafi untuk melihat lagu anak-anak yang lucu dengan batas waktu tidak lebih dari setengah jam sesuai aturan Ochi, bahkan sebenarnya Cika dilarang main ponsel kalau di rumah.
"Ada apa, sih, Ma?" Kania duduk seraya meletakkan tasnya ke meja. Dia menebak pertanyaan sang mama tidak jauh-jauh dari masalah jodoh seakan Kania tergolong perawan tua. Padahal wisuda saja belum.
"Abang nggak setuju kalau sama Putra! b******k berani-beraninya muncul deketin kamu lagi setelah dia membiarkan kamu sendirian sampai sakit. Dia nggak pernah datang, 'kan?" Kafi selalu ingat setiap orang yang pernah melukai adik perempuan satu-satunya.
Beruntung Cika fokus ke ponsel sehingga tidak bisa membaca ketegangan orang dewasa di sekitarnya. Bukan apa-apa, Cika bukan anak kecil normal yang akan diam saja. Dia mungkin tumbuh berbeda karena kelakuan ajaib mamanya sehingga masih kecil suka mendengarkan gosip.
Nizam hanya mengangkat alis, masih belum menemukan jawaban siapa yang sudah melamar adiknya. Tadi Gibran buru-buru mengajak istrinya pergi sebelum menjelaskan karena harus balik ke kantor ada urusan mendesak.
"Putra laki-laki baik, Kafi. Kamu jangan bikin adikmu goyah, sejauh ini Mama belum menemukan calon yang lebih baik dari anak itu." Yulia masih pada penilaian awal kalau Putra orang baik. Sejak dulu, mamanya memang baik pada Putra dan mengatakan kalau dia calon menantunya kelak.
Andai saja mamanya tahu kalau pria yang dipuji baik pernah melayangkan tangan ke pipi anaknya, Kania yakin penilaian sang mama akan berubah. Namun, Kania tidak ingin mengumbar aib seseorang.
Kafi mengepalkan tangan di bawah meja setiap mengingat laki-laki berengsek bernama Putra Mahesa. "Apa Mama lupa pengecut itu sudah meninggalkan Kania!"
"Putra punya alasan dan Mama sudah memaklumi." Yulia telah sepenuhnya termakan cerita Putra soal alasannya pergi.
"Memang kamu udah setuju, Dek?" tanya Nizam memastikan.
Kania menggeleng. Dia menegapkan posisi duduk, tertegun sesaat menatap mama dan abangnya bergantian, seakan mau menjelaskan sesuatu tapi masih ragu. Akhirnya dia hanya mengembuskan napas panjang.
Sudut bibir Kafi terangkat membentuk senyuman. Kafi adalah tipe kakak protektif dan jujur menyebalkan menurut Kania.
"Karena kamu masih memikirkan lamaran Haidar juga?" Nizam masih penasaran juga.
Sesaat, Kafi dan mamanya terkesiap, semua menatap penuh selidik ke arah Kania. Perempuan itu hampir saja menjelaskan sebelum mamanya langsung menyela dengan nada tak suka.
"Benar Haidar juga melamar kamu, Mama kira dia hanya bercanda!" Yulia terlihat mengurut pelipis. Perempuan setengah baya itu tahu persis kelakuan Haidar yang tidak layak dijadikan suami. Selama ini Yulia hanya membiarkan Kania bersahabat, kalau menikah masih perlu dipikirkan baik-baik.
Kafi membuang napas kasar. "Gue masih mikir-mikir kalo ngasih lo ke Haidar. Dia ...." Kafi mengusap wajah. "Kita udah tahu gimana kelakuan Haidar, gue nggak setuju dua-duanya."
Kania paham rasa cemas Kafi, dia memang abang yang menyebalkan sejauh ini, tetapi juga paling peduli setiap dia diliputi masalah. Setiap kakak pasti menginginkan pria yang bisa dipercaya untuk menjaga adiknya, namun Putra atau Haidar bukan calon yang tepat menurut penilaiannya.
Sementara Kania berkali-kali membuka mulut, sekalipun tidak jadi mengatakan apa-apa.
"Kania, kamu nggak suka sama Haidar, 'kan?" Yulia memastikan sekali lagi. Dia segera meraih air minum yang ada di meja. Haidar dengan hobi berganti perempuan setiap saat tentu bukan kandidat yang cocok.
"Ma, ini--"
"Mama lebih setuju Putra. Oke, sekarang cuma Putra yang Mama percaya."
Kania pasrah daripada buang-buang energi menjelaskan pasti akan sia-sia, sejak tadi dia ingin mengoceh panjang meluruskan salah paham akibat drama sang mama yang mengundang dua abangnya. Lagian kapan baik Putra atau Haidar melamar serius membawa rombongan ke rumah, kenapa keluarganya sudah heboh?
Saat ini Kania kehabisan akal, dia melirik ke Cika yang tertawa sendiri melihat adegan lucu di ponsel Kafi.
Rasanya Kania ingin kembali menjadi anak kecil yang tidak perlu dipusingkan oleh tuntutan menikah.
"Ma, aku bakal cari cowok sebanyak apa pun, yang kira-kira cocok untuk Kania asal bukan mereka berdua." Kafi menggeram kesal, terkesan tidak setuju.
Siapa sih yang mau menikah? Kenapa Abang dan mamanya justru saling berdebat.
Nizam sebagai orang paling sabar daripada kedua adiknya berusaha mencari jalan tengah. "Gini aja, kita bahas nanti setelah Papa pulang kerja. Lagian Putra dan Haidar belum ada yang jelas bicara langsung ke Papa."
Kania tersenyum dengan mata berkaca-kaca berlebihan, memang abang satu ini panutan banget. "Iya, Kania juga berpikir begitu. lagian Kania juga nggak mungkin ada apa-apa sama Haidar."
"Kalo Putra?" Mamanya menatap penuh harap
Tuh, mama masih saja penasaran.
Kania mengedikkan bahu. "Belum tahu juga, Ma. Kania belum bilang loh Nerima Putra, kenapa Mama udah heboh panggil Abang ke sini."
Cika mendongak, dia menyingkirkan poni yang menusuk-nusuk mata, kemudian meletakkan ponsel begitu saja di sofa. "Nenek, tadi Cika ketemu Tante cantik. Boleh nggak kalo Tante Kania ditukal aja?"
Pertanyaan bocah empat tahun itu membuat semua menoleh, tidak peduli ketegangan yang terjadi dan Kania sudah geram ingin melempar sejauh mungkin ke planet Neptunus kalau perlu.
***
Akhirnya hari yang ditunggu tiba, setelah deg-degan melebihi orang jatuh cinta. Kania bisa bernapas lega keluar dari ruang sidang, senyumnya mengembang disambut pelukan dari teman-teman.
Sofia sudah memasang selempang ke Kania, teman lainnya memberi buket bunga dan cokelat begitu banyak. Setelah mual melihat catatan revisi, sekarang dia puas akan hasilnya.
Mahasiswa dari kelas yang sama saling memberi ucapan selamat atas keberhasilannya, berfoto bersama dengan berbagai pose merayakan kelulusan.
"Lo beneran mau merit abis ini, ya?" Sofia menatap dengan ekspresi sok sedih. "Gue jadi takut membayangkan lo akan cepat-cepat gendong anak." Sofia mengembuskan napas selagi berjalan bersisian dan Kania memeluk buket bunga dari teman-temannya.
Kania mengerutkan kening heran. "Lo jangan ikut-ikutan Abang sama mama gue, ya."
Bagi Kania cukup berminggu-minggu diteror soal lamaran yang belum ada kepastian akan benar-benar menikah dalam waktu dekat, dia saja masih menyimpan cincin di tas, belum berniat memberi jawaban apa-apa. Bahkan Kania tidak bertemu Putra lagi satu Minggu lebih karena fokus menyelesaikan skripsi, rela begadang sampai cekungan hitam di bawah mata terlihat jelas.
"Beneran kali, semalam Putra ke rumah gue nanya-nanya lo kapan sidang. Sekarang tuh orang udah nunggu di luar." Sofia terkekeh. "Bawa kejutan," lanjutnya setengah berbisik.
"Hah?" Kania memekik, menoleh ke arah Sofia dengan ekspresi terkejut. "Dia ... ehm ada di sini."
Sofia tertawa. "Ketahuan banget lo masih cinta, gue dukung lo. Sana gih kasihan doi nanti karatan nunggu." Perempuan itu menyikut lengan Kania.
Tiba-tiba Kania merasa gugup, dia mengusap-usap kening yang berkeringat. Aduh berapa umur Kania kenapa merasa seperti anak SMA yang belum pernah pacaran.
Oke, Kania mengembuskan napas panjang. Dia menitipkan buket bunga dan cokelat di pelukannya ke Sofia seraya melangkah keluar.
"Jangan lupa makan-makan, ya!" teriak Sofia dengan cekikikan menyebalkan.
Dan benar kata Sofia, dia melihat Putra di depan fakultas, pria itu tersenyum memesona begitu menoleh.
Sejak dulu, senyum Putra menjadi nilai tambah yang bisa menari perhatian seluruh kaum hawa di bumi, termasuk dirinya. Lebih manis dari gulali.
"Selamat, ya. Aku senang kamu mau wisuda." Putra mengangsurkan buket mawar ukuran besar.
Duh kenapa gemetar, ingatkan umur gue berapa.
"Makasih, dari Sofia yang kasih tahu, ya?" Kania sedikit gugup.
Putra tertawa."Dia informan terpecaya aku. Boleh aku antar pulang?"
Kania mengangguk. Dia sendiri heran di hadapan Putra menjadi penurut sekali mirip kucing yang sangat manis, padahal menurut abangnya dan Haidar, dirinya jelmaan singa betina.
"Kania, gimana soal lamaran aku. Kamu belum kasih jawaban, aku masih nunggu dari kemarin." Putra menggenggam tangan perempuan di depannya. "Aku udah minta keluarga ke sini, buat bicara langsung sama papa dan mama kamu besok."
Kania terkesiap. Jadi, Putra benar-benar serius. Keluarga Putra pindah ke Pekanbaru sejak lama, Kania sendiri belum pernah bertemu. Setahu Kania memang Putra tinggal di rumah pamannya.
"Kamu mau, kan, kita bangun lagi mimpi-mimpi bersama?" Putra tersenyum, menatap Kania lekat-lekat, satu tangannya menyelipkan anak rambut Kania ke belakang telinga. "Kita lupakan masa lalu, kamu masih mau hidup sama aku sampai menua?" Putra sangat paham cara memperlakukan wanita sampai Kania tidak bisa berkata-kata.
Kania hanya mengangguk pelan.
"Makasih, Kania." Mata Putra berbinar-binar, dia menggenggam erat tangan perempuan di depannya.
Keduanya tidak sadar ada sepasang mata yang mengamati dari kejauhan. Laki-laki yang baru saja tiba, membawa buket bunga tidak kalah besar.
"Biarkan Kania bahagia," ujar Sofia selagi melihat keberadaan Haidar dan menghampiri.
Haidar menoleh. "Gue nggak percaya sama Putra! Dia bukan cowok baik-baik, pacarnya banyak!"
Lalu Sofia terkekeh menyebalkan. "Lo lagi ngomongin diri sendiri, ya. Gue bawa kaca kebetulan di tas kalau mau pinjam boleh."
"Justru karena gue b******k, gue paham banget yang satu spesies. Udahlah ini bunga gue buang aja." Haidar menatap buket mawar di tangannya dengan kasihan.
Sofia sudah meletakkan titipan Kania ke mobil sebelum mengintip adegan manis Putra melamar sahabatnya dari kejauhan, jadi sekarang dia tidak memegang apa-apa. Lalu menyikut lengan Haidar, menaikkan turunkan alis. "Besok gue juga sidang."
"Terus? Apa hubungannya sama gue?" Haidar memutar bola matanya dengan jengah.
"Ya bolehlah buat gue aja, daripada mubazir, 'kan?"
Haidar menimbang-nimbang, lalu mengulurkan tangan memberikan buket yang sebenarnya untuk Kania. Tapi, dia malas mengganggu orang yang sedang dibutakan cinta. "Ya udah, ini daripada gue buang. Nanti temani makan malam gue, ya."
Sofia menerima dengan norak. "Siap, gue perlu dandan maksimal nggak?"
"Terserah, tapi biasanya teman kencan gue di atas rata-rata semua." Tentu, Haidar tidak sembarang menerima teman kencan yang dinilai dari fisik, sekalipun dia tidak perlu mengingat namanya nanti. Semua orang suka keindahan, dan menurut Haidar memilih wanita cantik adalah menikmati keindahan juga agar enak dipandang.
Sofia mendengkus. "Dasar Playboy cap kadal!"
Dalam hati Sofia sudah berbunga-bunga memikirkan baju apa yang akan dipakai. Dia bahagia akhirnya dipilih Haidar sebagai teman kencan berdua saja, karena biasanya mereka bertiga dengan Kania.
***