Gosip Baru

1278 Kata
Sudah pukul delapan pagi, tetapi Kania masih betah bergelung selimut dan merebah ke kanan kiri seolah-olah kasurnya memiliki magnet sehingga sulit ditinggalkan. Kania memang berniat tidur seharian sebagai rasa terima kasih pada tubuhnya karena sudah diajak begadang berhari-hari demi skripsi. Tentu dia perlu memberi hadiah untuk dirinya yang sudah berjuang keras, salah satunya membiarkan tubuhnya istirahat sebanyak mungkin di kasur. Ditambah lagi semalam habis menghadapi keadaan yang membuat ritme jantungnya tidak normal. Perkataan Putra bukan sekedar basa-basi, dia serius membawa mama dan papanya ke rumah. Sejujurnya Kania sempat was-was kalau niat baik Putra tidak diterima, ternyata ketakutannya tidak terbukti karena mama dan sang papa menyambut keluarga Putra dengan hangat. Sekalipun Kafi hampir saja membuat kekacauan dengan menarik kerah Putra, memperingati kalau Putra melukai adiknya sekali lagi akan diremukkan sampai ke tulang. Sekarang Nizam menginap bersama anak dan istrinya, sedangkan Kafi pulang sekitar pukul sebelas malam dengan alasan Rara menunggu di rumah. Kafi baru menikah sekitar satu tahun, yang pernah hampir dibatalkan saat mengetahui adiknya masuk rumah sakit. "Kan, lo tahu nggak sih semalam gue habis dinner sama Haidar." Suara seseorang terdengar antusias, saat Kania menempelkan ponsel ke telinga dengan malas-malasan mendengar deringan berkali-kali. "Oh, ya?" respons Kania biasa saja karena tidak aneh kalau Haidar mulai memilih Sofia sebagai teman kencan, Sofia cantik, menarik, dan enak diajak mengobrol sesuai tipe Haidar dalam memilih partner kencan. Setahu Kania memang lelaki yang harus diakui sahabat selalu menilai teman kencannya dari segi fisik. Asal cantik dan enak dipandang pasti akan digandeng. "Lo ... lo nggak keberatan kalau gue coba pendekatan sama Haidar?" Suara Sofia terdengar ragu di ujung telepon. Kania meringis, kalau berniat lebih jauh tentu dia merasa keberatan mengingat hobi Haidar melepehkan perempuan sesuka hati sesudah bosen. Sofia adalah sahabatnya dan siapa pun tidak berhak melukainya termasuk Haidar. "Mending cari cowok lain aja banyak, Haidar ... Kita tahu gimana dia, 'kan?" "Memang kenapa?" Sofia terlihat tidak setuju. "Gue lebih setuju lo sama Tomi aja, Sof." Kania menyebut pria baik hati yang suka mentraktir makanan kalau mengajak Sofia lunch. Sekalipun dia berasa menjadi nyamuk. Terdengar kekehan dari ujung telepon, bukan isakan atau suara bernada sedih anehnya. "Iya, gue hanya mengetes lo, lagian mana mungkin gue suka kayak stok laki-laki baik udah habis aja. Gue cuma makan, mengobrol udah, tapi ya dia didatangin cewek." Kania mengernyit, tanpa sadar refleks berubah posisi dari rebahan menjadi duduk. "Siapa lagi korban baru si Haidar?" "Ya gitu, cewek cantik nangis-nangis ke dia. Terus minta gue tinggalkan Haidar masa." "Terus?" Entah kenapa Kania sangat penasaran. Kemudian Sofia menceritakan panjang lebar sangat detail seperti biasa, tentang perempuan berambut blonde yang mengaku sudah telanjur mencintai Haidar, juga tentang sikap seenaknya Haidar mematahkan hati anak orang begitu saja, dan bergegas pergi meninggalkan restoran bersama Sofia. "Kebiasaan tuh orang, apa harus kena karma dulu, ya." Kania geram mendengarnya, dia ingin menjedotkan kepala Haidar ke tembok kalau saja ada di depannya. Haidar memang memiliki list koleksi kelewat batas. Kania berkali-kali mengingatkan yang hanya dianggap angin lalu. "Namanya juga Haidar, eh lo hutang cerita gimana kelanjutannya sama Putra." Mendengar nama Putra membuat Kania meringis, dia menyisir rambut yang seperti singa dengan jari-jari. "Hm ... semalam Putra ke rumah." "Lalu?" Suara Sofia terdengar penasaran. "Dia melamar gue, demi apa sebentar lagi gue bakal jadi bini orang." Kania menutup wajah yang memerah malu, sekalipun jelas tidak ada yang melihatnya kecuali jin penunggu. Tidak ada jawaban, sepertinya Sofia masih terkejut. Detik selanjutnya barulah Sofia mengatakan selamat berkali-kali dengan suara yang terdengar bersemangat. "Tante Kania, buka!" Suara gedoran anak kecil terdengar dari balik pintu, membuat dunia tenang yang Kania harapkan lenyap. Sesudah salat subuh dia sudah mengatakan pada mamanya agar tidak menggangu sampai siang, kalau makan juga dia akan turun sendiri ke dapur. Mamanya sempat heran, menatap dengan ekspresi berlebihan lalu menghubungkan dengan lamaran Putra semalam. Namun, setelah Kania menjelaskan barulah sang mama mengiyakan, dengan terpaksa tentunya. "Tante Kania kebo!" teriak bocah empat tahun yang minta dilempar ke kutub utara. Kania membuang napas kasar, suara Sofia terdengar memanggil dari seberang. "Eh udah dulu, ya. Ada anak keturunan kuntilanak ke sini." Kania mengatakan dengan nada suara yang ingin menumpahkan kekesalan. Sofia terkekeh di seberang. "Anak lucu gitu dibilang keturunan kunti. Ya udah, salam buat si cantik Cika." Kania membuka mulut hendak mendebat, sebelum sambungan telepon diputus sepihak. Sejak anak bernama Cika tumbuh besar, dia masih saja heran orang-orang menganggapnya lucu dan menggemaskan. Dilihat dari sisi mana? Kemudian Kania menurunkan kaki ke lantai, menyibak selimut hangatnya, dan bergerak malas-malasan menuju ambang pintu usai meletakkan ponsel keluaran terbaru hadiah dari Nizam ke nakas. Satu yang menjadi pertanyaan, kenapa laki-laki sebaik kakaknya harus memiliki istri dan anak jelmaan kuntilanak? "Tante, lama banget ngapain, sih!" Setelah pintu terbuka, keponakan satu-satunya nyelonong masuk ke kamar lalu geleng-geleng. "Tante udah gede kamarnya belantakan banget," ujarnya dengan ekspresi sok cinta kebersihan. Nih bocah sok banget. Kania terlalu malas menanggapi. Dia hanya bergerak ke kasurnya lagi dan merebahkan diri sampai Cika menarik-narik kausnya. "Ayo main, Cika mau jalan-jalan." Cika merengek dan bisa dipastikan akan menyusahkan. "Sama Mama kamu aja, kan, ada, kenapa harus ganggu Tante, sih?" Kania tidak habis pikir, dia menatap galak ke arah keponakannya yang sok ngambek menggembungkan pipi. Bagi Kania, seperti apa pun tingkah Cika mau merot-merotin bibir, gembungkan pipi mirip ikan buntel, dan menatap dengan bola mata berbinar. Tidak ada lucu-lucunya, yang ada Kania ingin menjualnya ke abang-abang sayur ditukar dengan ayam. "Cika bosan, Tante. Kalo sama Mama udah biasa. Mama lagi makan sama Papa," keluh bocah empat tahun sambil menyingkirkan poni yang menusuk-nusuk mata. Kania harus banyak-banyak istighfar anggap saja sedang mengumpulkan pahala. Jadi maksudnya dia harus mengurungkan niatnya tidur seharian demi menerima jabatan baru sebagai pengasuh, sedangkan orang tua si bocah bisa pacaran lagi? "Tante belum mandi, belum cuci muka. Udah kamu sama nenek aja lah." Kania mencari solusi terbaik. Cika menggeleng, tangan kecilnya kembali menarik-narik ujung kaus yang dikenakan tantenya. "Enggak usah mandi, Tante tetap gini-gini aja." Maksudnya apa, ya? Kania sudah melotot galak. Bocah itu menyengir lebar. "Tante nggak akan cantik kayak Tante kemarin walaupun mandi." Bocah! Kenapa sih anak begini lahir ke dunia. Kania menjerit marah. Dia sudah lama ingin menjual keponakannya kalau boleh, menukar dengan anak tetangga yang super manis dan menyenangkan. Sejak dulu, dia sering bertanya pada emaknya sudah ngidam apa selama hamil sampai keluarnya model begitu. "Oke!" Akhirnya Kania pasrah karena tahu bocah kecil yang hobi mengganggu ketenangan tidak akan berhenti memaksa. "Tante cuci muka, sikat gigi, sama ganti baju sebentar." Cika mengangguk-angguk senang. "Jangan lama-lama, Cika tunggu lima menit aja." Kania sempat melongo, apa-apaan segala diberi batas waktu. Lalu dia mengibaskan tangan sebelum bergegas ke kamar mandi. Setelah keluar, mengenakan jaket krem dan mengikat rambut tinggi-tinggi. Suara mamanya terdengar. "Kania, tuh di depan ada Putra udah nunggu." "Asyik!" Cika bersorak girang, sedangkan Kania menyesal tidak mandi dulu atau berdandan sedikit agar tidak kucel. Kania ingin memutar badan, meraih handuk untuk melesat ke kamar mandi. Lalu berganti pakaian olahraga yang kece, kalau perlu memoles wajah tipis-tipis supaya segar. Tapi khayalannya tidak akan terjadi karena anak keturunan tuyul sudah menarik-narik tangannya ke depan. "Pagi, Om Ganteng," sapa bocah kecil dengan sok akrab. Kania ingin menjitak kepala bocah empat tahun yang mesem-mesem kegatelan. Cika selalu tahu orang tampan dan Kania harus menyalahkan siapa kecuali emaknya yang hobi nonton drama Korea di depan anak-anak? Putra tergelak, telapak tangannya mampir mengacak-acak rambut Cika gemas. "Pagi juga Cika cantik. Siap jalan-jalan sama Om Putra?" Cika mengangguk senang, melompat ke gendongan Putra saat orangnya melebarkan tangan dan berjongkok di depan si bocah. Kania menatap iri, seakan tidak rela calon suaminya dipeluk-peluk bocah. Dia ingin juga didekap pagi-pagi. Sabar sebentar lagi lo jadi bininya. Batin Kania ngomong sendiri. Kania terus istighfar melihat kelakuan keponakan yang masih kecil sudah ada bibit penggoda. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN