Cika kecil-kecil sudah pintar bohong, bocah empat tahun itu mengatakan akan jalan-jalan ke taman supaya mendapat izin mama dan papanya. Namun, kenyataan setelah jari mungilnya menggandeng tangan Putra, gadis kecil itu merengek minta es krim.
"Cika udah makan, Om. Jadi nggak apa-apa kalau beli es klim," rayunya dengan sok manis.
Putra menatap Kania seolah meminta pendapat, sedangkan Kania mengembuskan napas panjang. Dia tidak mau kalau Cika batuk-batuk lagi akan merasa bersalah, tentu dia sayang pada Cika sekalipun sering menatapnya dengan jengkel.
Ada batasan berapa banyak dan kapan waktunya Cika boleh makan es krim. Sementara Kania belum tanya pada Ochi si mama-mama super ketat kalau sudah menyangkut kesehatan anak.
"Tadi Tante cuma bilang ke taman, jadi nggak ada es krim hari ini." Kania menggoyangkan telunjuk di depan wajah anak itu, yang sekarang memasang ekspresi cemberut.
Cika mendongak, ia sudah lelah makanya Putra berinisiatif menggendongnya, membiarkan anak itu melingkarkan tangan mungilnya ke leher Putra. "Boleh, ya, Om. Biasanya kalo Om Haidal nggak apa-apa kasih Cika es klim diam-diam."
Mendengar nama Haidar mendadak rahangnya terasa kaku, ada amarah yang sekuat mungkin ditahannya di depan anak kecil. "Iya, Om akan menuruti Cika."
Kania mendelik, seolah tidak setuju. Dia berhenti melangkah, menghentakkan kaki kesal. "No, jangan manjakan dia. Kamu nggak perlu termakan wajah sok memelasnya."
"Satu kali nggak apa-apa. Lagian aku nggak tega dia merengek terus."
"Hole, love you Om Putla."
Putra terkekeh saat Cika mengecup pelan pipinya, amarahnya yang sejak tadi hadir karena mendengar nama Haidar mendadak sirna. Sementara Kania sudah menatap kesal, Cika selalu punya jurus ampuh meluluhkan hati orang lain. Sayang sekali Kania tidak mempan oleh tipu daya Cika.
Setelah sampai di kedai es krim terdekat dari kompleks perumahan. Putra menundukkan Cika ke kursi, memesankan es krim cokelat, dan mengajak Cika mengobrol lagi.
"Om benal suka sama Tante Kania?"
Putra tertawa mengusap rambut Cika dengan gemas. "Iya, Om suka sama Tante Kania."
Mendengar itu membuat Kania tersenyum sampai pipinya memerah, setelah tadi melotot mengambil ancang-ancang melempar sendal kalau Cika bertanya aneh-aneh lagi.
Cika bersedekap, wajahnya merengut dengan pipi menggembung seperti ikan buntel. Putra ikut-ikutan memasang ekspresi sok sedih.
"Kenapa Cika malah cemberut?"
"Nggak apa-apa, Cika malas ngomong."
Kania sudah menatap dengan muak, bocah empat tahu sedang bermain drama apalagi?
"Apa Cika marah sama Om Putra?" Lelaki itu memasang raut pura-pura sedih, persis seperti Mama dan abangnya kalau di hadapan Cika.
Ekspresi macam apa? Kania paling malas pura-pura sekalipun di depan anak kecil. Kadang dia heran, orang-orang di sekitarnya suka sekali memasang ekspresi yang dibuat-buat di hadapan anak jelmaan Wewe.
"Sini Cika bisikin, Om." Gadis itu meminta Putra mendekat.
Saat Putra mendekat dan Cika langsung berdiri di bangku berbisik-bisik di telinga Putra yang masih bisa Kania dengar. "Tante Kania galak, mending Om sama Cika aja. Om ganteng kayak opa Kolea yang sering Mama tonton."
Anak dedemit. Stok kesabaran Kania rasanya menipis gara-gara kelakuan keponakan satu-satunya yang dewasa sebelum waktunya. Dia harus memberi ceramah pada ipar yang hobi menonton Korea berjam-jam di samping anak. Benar-benar meracuni otak bocah empat tahun.
Putra tidak bisa menahan tawa mendengar ucapan Cika. "Oke, kalo gitu Om sama Cika aja yang nggak galak."
Mata bulat itu langsung berbinar-binar. Menatap Putra dengan ekspresi bahagia. "Benar, Om?" Dia mengangkat jari kelingking dan Putra mengikutinya,saling menautkan jari. "Karena Tante Kania galak, Om lebih suka Cika?"
"Iya, karena galak jadinya Om mau sama Cika aja," ulang Putra sambil tertawa bersama bocah keturunan kuntilanak. Kania benar-benar tidak habis pikir.
Memang banyak orang mengira dirinya judes, dia memiliki tampang judes sekalipun aslinya ramah. Orang yang baru melihat akan menganggapnya begitu, tidak tahu saja kalau sudah kenal bisa menggila bersama. Dia tidak mengerti harus menyalahkan siapa, apa sang mama yang sudah melahirkan anak perempuan dengan tampang judes?
Sejujurnya dia iri sewaktu bertemu Aliza, perempuan hamil itu selagi diam saja wajahnya terlihat senyum. Tentu banyak anak-anak akan suka, berbeda sekali dengannya kadang anak kecil baru didekati saja menangis keras merasa akan diomeli.
Saat es krim sudah datang, Cika sibuk menikmati dengan mata berbinar-binar dan wajah berseri-seri. Dia sedang mengigit remah-remah cake di sendok, mengabaikan obrolan Kania dan Putra yang mulai membahas rencana ke depan.
"Kalo aku sih terserah kamu, maunya seperti apa." Putra setuju apa pun konsep yang diusulkan calon istri.
Kania memutar bola matanya ke atas, terlihat berpikir. "Gimana kalau gaunnya ada ekor panjang, aku berasa kayak ratu nantinya. Cantik enggak, ya?"
"Kamu sih cantik pakai mau pakai apa pun," puji Putra sehingga dalam hati Kania menjerit bahagia.
Senyum di bibir Kania terbit, Putra selalu bisa membuat jantungnya melompat-lompat. Dia akan terus lembut dan membuatnya meleleh asal tidak diliputi cemburu. Tugas Kania hanya satu mempertahankan senyum Putra tanpa melibatkan nama Haidar yang kapan saja memancing emosinya.
"Es krimnya nanti lumer, loh." Putra mengerakkan dagu ke arah es krim cokelat di mangkuk.
"Ah, iya." Kania meringis, menarik mangkuk es krim dan mulai menyuap pelan ke mulut.
Cika sudah pecicilan lagi, berdiri di kursi dan mulutnya penuh es krim. "Om Putla, Cika boleh nambah?"
"No, Cika aku laporin sama Mama biar nggak boleh makan es krim satu Minggu." Kania menjawab dengan delikan lebar sehingga wajah anak itu merengut.
"Cika jadi kangen sama Om Haidal, kalo ada Om Haidal pasti boleh walaupun Tante marah-marah." Cika menekuk wajah, membuat amarah Putra muncul setiap dibandingkan dengan Haidar entah kenapa. Tapi, melihat ekspresi lucu Cika dia tidak tega marah-marah.
Kania menggeleng, mengurut pelipis dengan pusing. Dia sudah mati-matian menahan lidahnya agar tidak kelepasan membahas Haidar, justru anak dedemit memulainya.
"Besok, besok Cika boleh minta lagi." Putra memberi janji-janji manis sampai senyum anak empat tahun melebar sempurna.
Cika menatap ke arah Putra. "Om nggak bohong?"
Saat Putra mengangguk, dia bersorak girang.
Sementara Kania sudah berdecak sebal. "Jangan memberi janji yang belum bisa ditepati."
Putra menatap Kania merasa tersindir, menganggap Kania mulai membahas kesalahannya di masa lalu. Sementara Kania cepat-cepat memperbaiki ekspresi dengan memasang senyuman paling manis. "Maksudnya sama Cika, begitu."
"Oh." Putra mengangguk-angguk. Lalu menoleh ke arah Cika yang kembali sibuk menghabiskan sisa es krim sampai menjilati sendoknya begitu nikmat. " Kalo Cika suruh memilih lebih suka Om Putra atau Om Haidar."
Cika mendongak seraya menghentikan gerakan tangan menyendok sisa es krim di mangkuk, dia memutar bola matanya ke atas seolah berpikir keras menanggapi serius pertanyaan barusan. "Cika jadi bingung, dua-duanya ganteng."
Kania menatap takjub, lalu mencebik sebal. "Anak kecil tahu mana orang ganteng? Dasar anak Ochi!"
Putra meloloskan kekehan geli. "Terus pilih siapa?"
"Dua-duanya boleh, Om?" tanya Cika dengan polos, berharap mendapatkan banyak es krim.
Putra tertawa, mengusap-usap gemas pucuk kepala Cika. Sementara Kania sebal sejak tadi perhatian Putra justru ditumpahkan pada anak kecil jelmaan siluman. Apa karena dia belum mandi sehingga Putra ogah dekat-dekat?
Kania melirik bajunya sendiri celana pendek dipadu jaket, dia menyesal tidak balik ke kamar mengambil kaca kecil dan memasukkan ke saku untuk memastikan penampilannya tidak memalukan.
"Hai, pacar Om Haidar?" Suara itu terdengar dari belakang, membuat semua kompak menoleh. Cika langsung berdiri demi menyambut Haidar dengan senyuman lebar. Saat itu, Kania meringis melirik ke arah Putra yang ekspresinya berubah kesal.
Haidar memeluk bocah kecil itu, mengusap-usap pipinya gemas.
"Om kenapa ada di sini?" tanya Cika dengan ekspresi senang yang tidak bisa ditutupi, matanya berbinar-binar.
Haidar duduk dengan santai, mengabaikan tatapan tajam dari Putra yang siap mencekiknya kapan saja dan tidak peduli pada kode gerakan dagu Kania agar menyingkir.
"Om selalu tahu di mana Cika. Kan Om pacarnya Cika."
Cika mengangguk-angguk. Kenapa bocah itu ganjen sekali? Kania tidak habis pikir.
"Tadi gue ke rumah katanya kata Bang Nizam kalian lagi jalan-jalan, gue tahu Cika pasti minta es krim makanya ke sini." Haidar menjelaskan tanpa diminta tentu saja, tapi sudah menjawab tatapan menuntut penjelasan dari dua orang di hadapannya.
***