Haidar baru saja sampai di rumah, memilih berhenti di depan pintu mirip patung selamat datang. Lelaki itu mendengar ocehan sang mama sedang menyuruh Ilham menjemput Aliza ke Menteng. Haidar menatap iba, pada adik satu-satunya yang tidak bisa menolak keinginan mama-mama galak.
"Ingat, kamu pastikan kalo bawa Aliza pelan-pelan, dia masih hamil muda. Terus sebelumnya beli minuman di supermarket, air mineral aja jangan yang banyak pemanis. Biar kalo di mobil macet dia nggak dehidrasi."
Ilham mengusap telinga dengan gerakan pelan yang tidak disadari sang mama, tapi Haidar melihat dengan kasihan.
ART-nya datang memberikan rantang berisi makanan, Kalila segera menoleh dan tersenyum lembut pada wanita setengah baya yang sudah bekerja di rumah sekitar sepuluh tahun.
"Ini jangan lupa pastikan Aliza makan sehat, supaya pas perjalanan dia nggak pusing perutnya kosong." Kalila menyodorkan rantang ke arah anak bungsunya.
Ilham mengembuskan napas panjang. "Oke." Hanya itu yang bisa dijawab karena Ilham si anak bungsu penurut paling malas memperpanjang durasi ocehan sang mama kalau melawan. "Udah, kapan aku perginya, Ma. Udah semua, 'kan?"
Mamanya melotot. "Kamu malas mendengar ocehan Mama jadi buru-buru pergi."
Oh, lah itu Mama ngerti, apa perlu ditanya? Ilham tak habis pikir.
"Udahlah sana pergi, ingat hati-hati kalo bawa Aliza." Mamanya mengingatkan lagi entah ke berapa dalam satu menit. Menantunya memang lebih disayang daripada anak sendiri oleh Kalila. Sejak lama Kalila mendambakan anak perempuan, sayangnya semua yang lahir laki-laki.
"Iya, ini dari tadi mau pergi. Udah nggak ditahan lagi kan, Ma?"
"Memang Mama nahan kamu, kapan? Udahlah."
Pura-pura lupa apa emang amnesia.
Sesaat Kalila mengalihkan pandangan ke pintu, seketika matanya melotot galak melihat Haidar melewatinya seraya melesakkan tubuh ke sofa dengan wajah kusut. "Anak durhaka ngapain pulang? Padahal Mama udah berencana mau tukarkan kamu sama anak tetangga."
Haidar meringis, dia sudah berbulan-bulan tidak pulang, tepatnya setelah mendengar Kania menerima lamaran Putra karena malas menjelaskan apa pun ke sang mama.
Ilham mengerutkan kening. "Baru ditolak cewek, ya, Bang. Muka kusut amat mirip baju Mama nggak disetrika sebulan." Adik satu-satunya tertawa tanpa rasa iba. "Makanya berhenti sok kegantengan, ganteng adikmu ini ke mana-mana."
Haidar melempar bantal sofa ke arah Ilham, sayangnya adiknya yang memang lebih ganteng sudah melesat dengan kecepatan angin menuju ambang pintu.
"Kamu ... anak menyebalkan ke mana aja?" Kalila segera duduk di dekat anaknya dengan raut galak. "Tapi mumpung kamu udah pulang lumayan bisa disuruh-suruh, nanti antar Mama belanja keperluan buat acara empat bulanan Aliza."
Haidar mengernyit, selama berbulan-bulan dia tidak bertemu adik iparnya yang harus diakui cantik. Cepat sekali waktu berjalan tahu-tahu usia kandungan sudah mendekati empat bulan, artinya pernikahan Kania juga semakin dekat. Berkali-kali Haidar mengingatkan agar Kania memikirkan ulang keputusannya menerima Putra, tapi nasihatnya dianggap angin lalu.
Kalila menjitak kepala anaknya dengan gemas. "Kamu kalo orang tua ngomong didengar bisa."
"Apasih, Ma!" Haidar mengusap-usap kening.
"Antar Mama, Dar. Ya ampun, masa Mama harus pakai urat kalau ngomong sama kamu!"
"Ke mana, capek nih baru pulang bukan disayang kek Ma buatkan makanan atau jus." Saat mamanya melotot lebar lebar barulah Haidar mengangguk. "Oke, Ma," jawabnya pasrah.
Haidar sudah mendengar dari cerita mamanya yang menelepon sehari tiga kali mirip resep minum obat dan mengatakan kalau Aliza akan pindah ke rumah sampai melahirkan, pasti sang mama sudah memaksa abangnya yang posesif pada istrinya agar menurut dengan ancaman-ancaman mengerikan.
Kalila menatap penampilan anaknya, dahinya mengernyit, lalu mengembuskan napas panjang. Haidar jadi ikut mengamati tampilan sendiri dari celana jins, kaus dilapisi jaket hitam lalu mengangkat alis heran seolah bertanya 'kenapa?'
"Kamu nggak ada niat mau mandi dulu terus ganti. Mama nggak mau dikira bawa preman pasar, ya. Muka kucel banget bikin orang yang lihat mual. Terus mana janji kamu katanya kita mau melamar Kania."
Mendengar nama Kania, Haidar melotot buru-buru mengecek ponsel. Hari ini jadwal Kania fitting baju pengantin dan Haidar tidak ingin melewatkan masa-masa terakhir sebelum perempuan itu sah menjadi istri orang. Jadi, Haidar berdiri untuk pamit ke mamanya akan pergi karena urusan penting.
"Anak durhaka!" Mamanya menjerit kesal melihat harapan satu-satunya pergi, Kalila harus menunggu Ilham pulang menjemput Aliza.
"Ini darurat, Ma!" teriak Haidar sebelum sampai di ambang pintu. Dia tidak ingin sampai melewatkan momen sekali seumur hidup Kania, ya sekalipun hatinya patah sadar mempelainya orang lain.
Lalu Haidar berbalik ingat kalau doa ibu sangat mujarab. Itu yang sering dikatakan mamanya sebagai senjata mengancam anak sendiri.
"Ma, doakan anak ganteng Mama biar ada kesempatan."
Kalila mengernyit. "Kesempatan apa?"
Kesempatan menyingkirkan Putra dari hidup Kania.
Tentu Haidar hanya mengatakan dalam hati, lalu buru-buru melewati pintu.
***
Sejak dua puluh menit, Kania sudah berada di butik milik teman abangnya. Sendirian tanpa calon suami. Dia ditemani pemilik butik sekaligus yang memberikan desain khusus demi acara pentingnya. Keluarganya cukup mengenal dekat karena sering main ke rumah dan pernah menyukai Nizam sewaktu kuliah.
"Calon kamu belum datang juga, Kan?" Alia mengerutkan kening, dia melirik ke arah jam tangan guess yang melingkar.
Kania menggeleng lemah menanggapi pertanyaan Alia, desainer cantik yang terlihat awet muda. Perempuan itu bahkan sudah menyuguhkan satu mug cokelat hangat di meja sebagai teman mengobrol menunggu kedatangan Putra. Kania tersenyum masam begitu mengecek ponsel, tidak ada kabar apa-apa dari Putra setelah dia mengingatkan akan fitting baju dari pagi.
"Dia tahu, kan, hari ini jadwal fitting baju pengantin?" Alia meyakinkan kalau Kania sudah mengatakan pada calonnya. Takut perempuan itu lupa gara-gara banyak hal diurus.
"Tentu tahu, orang gue ingatkan dia bolak-balik sampai capek," balas Kania seraya menyesap cokelat hangat yang sudah dibuatkan oleh pegawai Alia. Tidak enak kalau menolak rezeki apalagi semua cokelat dan turunannya merupakan favorit.
Alia mengangguk. "Oke, kita tunggu sebentar lagi. Mungkin macet di jalan."
Kania mengangguk cantik, menatap perempuan mendekati sempurna di sebelah. Alia berpendidikan, modis, baik, dan lemah lembut tipe-tipe istri idaman. Kania bertanya-tanya alasan Nizam justru memilih menikahi gadis banyak bicara jelmaan kuntilanak sehingga anaknya super menyebalkan. Cika yang hobi menyebutnya nenek lampir karena Kania ditakdirkan memiliki wajah judes.
Detik berikutnya ponsel yang tergeletak di meja menyala, membuat Kania cepat meraihnya dan harus menelan kecewa ketika membaca chat yang masuk.
Putra : Sayang, aku ada urusan penting masalah bisnis. Kamu nggak apa-apa sendiri, nanti aku nyusul kalo urusan kelar.
Kania : Iya nggak apa-apa.
Kania tersenyum getir, dia mencoba mengerti Putra yang berkali-kali mengatakan sedang berusaha keras demi masa depan mereka. Alia menatap cemas karena Kania terdiam cukup lama.
"Are you okay?"
Kania mengangguk, memaksa bibirnya tersenyum agar menyamarkan sedikit muka judes yang dimilikinya. "Iya, gaunnya udah siap, 'kan?"
"Sudah, kita tinggal nunggu calon kamu aja."
"Nggak usah, dia lagi sibuk." Ada nada kecewa yang bisa Alia tangkap.
Perempuan itu mengangguk, kemudian memanggil dua pegawainya untuk menyiapkan gaun pengantin Kania dan membantunya ke ruang ganti.
Memang sesuai ekspektasi kalau gaunnya indah. Dia mematut bayangannya di cermin menyetujui ucapan dua karyawan yang memujinya cantik. Bahkan Kania berdecak kagum melihat pantulan dirinya sendiri dibalut gaun model a-line dengan manik-manik tersebar dari d**a sampai ke pinggang.
"Beruntung banget yang mau menikahi Anda, cantik dan memesona," ujar salah satu pegawai yang membuat Kania tersenyum pahit.
Pikirannya sudah berkeliaran ke mana-mana disertai berbagai dugaan buruk soal Putra yang tidak menepati janji.
"Sudah aku duga kamu akan cantik sekali," puji Alia yang tiba-tiba masuk sampai lamunan Kania buyar. "Masih ada gaun lain kalo sehabis ini, apa kamu udah siap keluar? Oh, ya, ada yang menunggu tuh di sofa."
Mendengar seseorang sudah menunggu, wajahnya berseri-seri, dia tersenyum bahagia dan rasa sedihnya lenyap dalam sekejap. "Siap. Gue nggak sabar komentar gimana."
Alia terlihat ingin mengatakan sesuatu kalau orang yang dimaksud bukan calon suami Kania, tetapi melihat senyuman di wajah Kania membuatnya memilih bungkam.
"Kita hitung mundur, ya?"
Alia memberi kode pada dua pegawainya untuk berdiri di sisi kanan kiri tirai. Dan saat tirainya berderak pelan, Kania merasa ritme jantungnya berdetak cepat sampai dia memejamkan mata.
Dia menahan napas menebak apa Putra akan terpesona sampai enggan mengalihkan pandangan atau tidak menyukai gaunnya.
Melihat tirainya terbuka, orang yang menunggu di luar langsung bangkit dari sofa dengan sekali gerakan.
Dia bukan Putra Mahesa melainkan sahabat Kania dari orok, Haidar Ferdinand.
Untuk sesaat Haidar tidak bisa berkedip menatap takjub ke arah Kania. Dia terbiasa dikelilingi perempuan cantik dan menurutnya tidak ada yang bisa mengalahkan Kania. sahabatnya terlihat dua kali lebih cantik dibalut gaun yang pas di tubuhnya.
"Cantik banget, ya?" Alia meminta pendapat.
Haidar mengangguk-angguk, tanpa menoleh. "Iya, mirip bidadari dari khayangan."
Kania langsung membuka mata mendengar suara yang dikenalnya, netranya mengedar ke sekitar, Putra benar-benar tidak datang. Ekspresi Kania berubah muram karena kenyataannya orang yang datang justru Haidar.
"Calon suami lo tidak datang, jadi sekarang lo pikir apa dia masih layak menikahi lo?" Haidar masih mencoba menyadarkan sahabatnya yang keras kepala sebelum terlambat. Syukur-syukur Kania akan berbalik memilihnya.
Kania mendengkus. "Dia ada urusan penting, lo jangan coba-coba meracuni otak gue." Kania menoleh ke Alia yang masih berdiri di samping. "Langsung ganti gaun kedua aja kali, ya."
"Oke." Haidar pasrah, dia duduk di sofa dengan melipat lengan. "Gue tunggu lo ganti gaun kedua, ya setidaknya gue lebih beruntung bisa melihat lo pakai baju pengantin sebelum pria sialan itu!"
Kania melotot galak siap-siap menimpuk kepala Haidar dengan heels kalau orangnya akan terus menjelekkan calon suaminya.
"Diam lo, perlu gue lakban mulut lo, ya!" Kania mencebik sebal, Alia justru tersenyum geli melihat interaksi keduanya.
"Kalian cocok banget sebenarnya, ya."
Alia bisa melihat tatapan mendamba dari mata Haidar, sayang sekali calon suami Kania justru orang lain. Tapi, siapa pun yang berhasil memiliki Kania, Alia berharap yang terbaik.
Kania menoleh, mengucap amit-amit sambil mengetok kepalanya sendiri dengan pelan. "Duh ogah banget, doanya yang baik-baik dong, bisa mati berdiri kalo menikah sama playboy cap badak."
Haidar mengerang sedih. "Sakit hati banget gue, lo segitu ogahnya sampai amit-amit."
"Bodo amat." Kania memutar bola matanya malas.
"Oke, awas nanti malah cinta mati. Selama ini sih nggak ada yang bisa menolak pesona seorang Haidar," ujarnya dengan nada pongah. Kania geleng-geleng merasa heran dengan tingkat kepercayaan diri sahabatnya.
Dia tidak akan seperti perempuan di Jakarta lainnya yang mudah meleleh oleh mulut manis Haidar, padahal sebenarnya beracun.
***