"Kan, karena kamu pengangguran boleh nggak aku titip Cika?" pinta perempuan di ujung telepon dengan suara dibuat memelas. Kania mengerutkan kening, dia baru saja mandi serta menyemprotkan parfum aroma citrus ke tubuhnya. Dia berharap moodnya akan secerah pagi ini, bukan mendengar permintaan yang bisa merusak mood. Bukan tidak mau membantu iparnya menerima jabatan baru sebagai pengasuh, masalahnya bocah yang akan dititipkan seringkali menguji kesabaran. Pahala Kania bertambah keseringan istighfar tetapi kerutan di wajah juga muncul gara-gara terus mengomel. "Mamaku kena mag akut dan masuk rumah sakit, terus Mas Nizam pas lagi banyak pekerjaan, nih." "Kenapa nggak diajak aja, Mbak?" Kania sudah membayangkan hari-harinya buruk seharian bersama Cika. Selain matanya akan sering melolot, w

