Haidar baru saja menerima kabar dari Kania kalau perempuan itu bertemu Putra, tadinya dia menelepon ke rumah, namun malahan suara Aliza yang terdengar mengatakan Kania tidak di rumah. Saat menelepon sang istri, justru mendengar isak tangis yang membuat Haidar meninggalkan pekerjaan kantor, tidak peduli sekalipun papanya akan marah-marah atau paling parah memecat tanpa pesangon. Selama perjalanan, Haidar terus mengumpat dengan amarah melambung tinggi. Apalagi macet dan Jakarta adalah satu kesatuan sulit dipisahkan. Sejak tadi, mobil Haidar merayap dan belum bisa meluncur bebas sekalipun sudah menekan klakson berkali-kali. Jakarta menjelang makan siang adalah perpaduan yang sempurna untuk menguji kesabaran. Bagaimanapun caranya Haidar harus cepat sampai, Kania sedang menunggunya di sala

