Haidar sudah kembali ke kantor setelah Kania tertidur. Selama ini banyak perempuan datang ke hidupnya menawarkan kehangatan yang selalu ditolak secara halus. Haidar masih ingat nasihat sang mama kalau dia boleh saja nakal asalkan tidak merusak anak orang. Dia terbiasa jalan bersama perempuan yang dipilih secara acak tanpa melibatkan perasaan. Namun, hanya bersama Kania, dia merasa kepalanya pusing mendengar ajakan 'tidur bersama'. Perempuan itu justru memejamkan mata karena kelelahan menangis, bahkan sebelum Haidar sempat menyentuhnya. Bibir ranum Kania yang bertahun-tahun hanya ada di bayangan, sekarang membuat kewarasannya hilang. "Sial," gumamnya. Haidar mengusap wajahnya kasar seraya mengalihkan perhatian pada berkas di meja yang membuat kepalanya berdenyut. "Ya ampun ... apa n

