Tadi Tirta terus mendesak Kania memberitahu alamat kantor Rara, tidak peduli perempuan berwajah judes itu sudah memberi tatapan galak dan curiga. Dia harus menemukan alasan Rara pergi serta menikah bersama pria lain. Padahal Tirta tidak pernah berniat lari dari tanggung jawab. Sesaat dia teringat masa lalu selagi masih bersama Rara. Perempuan yang selalu menyimpan kesedihan di depan orang-orang. Dia pernah berada di tahap menginginkan kehadiran ayah sampai harapannya sirna. Siapa sangka ketika dewasa mamanya memberikan kejutan paling spektakuler hamil dengan lelaki serta menikah diam-diam. Tirta mengusap wajah berkali-kali terbayang tindakan bodohnya dulu. Alih-alih menghibur dengan kalimat menenangkan justru terbawa suasana. Membuka hal yang tidak seharusnya sampai merebut masa depan

