Setelah melewati hari melelahkan sedari pagi, Kania melangkah lunglai menuju kamar dan berhenti tepat depan pintu. Ditatapnya kamar mewah yang sudah dirias dengan kelopak mawar memenuhi permukaan seprai, ada lilin aromaterapi di meja kecil, sangat cocok andai saja mereka benar-benar pengantin sungguhan. Kania sangat tahu kalau Haidar hanya ingin menyelamatkannya, bukan berarti akan hidup layaknya pasangan suami istri normal. Kania mengembuskan napas berat, kakinya masih bertahan di tempat dan enggan melangkah masuk. Seharusnya dia akan digendong memasuki kamar, tersenyum malu-malu, dan mengacak-acak seprai sampai pagi seperti godaan Putra terakhir kali saat berada di sisinya. Dia mengatakan sampai bertemu lagi di pelaminan dan ... ranjang. Kania masih ingat pipinya memanas begitu pu

