Kania sudah melepaskan gaunnya, mengganti dengan piyama tidur lengan panjang berbahan satin. Kini, dia masih berada di depan wastafel membasuh wajahnya berkali-kali. Pikirannya sudah melayang ke mana-mana teringat masa-masa terakhir bersama Putra. Sejak dulu, dia merasa sibuk mencintai sepihak. "Kan, apa lo pingsan. Perlu gue dobrak pintunya?" panggil Haidar dari balik pintu. Saat menoleh, Kania mendengkus karena gedoran pintu terdengar makin kencang seolah-olah Haidar lupa bukan rumah sendiri. Dia sedang berada di hotel mewah dan harus menggantinya kalau sampai ada kerusakan. Setelah Kania meraih handuk, menepuk-nepuk pelan wajahnya agar kering. Dia mengayunkan langkah menuju pintu, membuka handle dan menatap galak pada pria yang hanya dibalut handuk. "Berisik banget, Apasih, Dar?

