"Nggak makan malam di sini saja sekalian, Kan?" Rara mengantar adiknya sampai teras karena Haidar sudah ada di depan. Padahal Rara sudah memesan banyak makanan karena tidak sempat memasak, dari sore sibuk bertukar cerita dengan adik iparnya. "Besok lain kali aja, Mbak." Kania melirik ke langit yang makin gelap sewaktu akan berpamitan. Sementara abangnya sudah mengobrol berdua dengan Haidar katanya urusan laki-laki. Haidar menyambut dengan senyuman lebar melihat Kania menghampiri. Tidak peduli pada wajahnya yang terlihat lelah, dasi sudah longgar, kancing kemeja terbuka, dan rambut berantakan. Kania hanya menatap iba melihat suaminya masih jauh-jauh menjemput sepulang lembur. Kania baru paham kalau pekerjaan Haidar berat karena dia tidak menikmatinya. Dari kemeja leceknya yang dipakai

