Pagi Hari Klinik Asha kembali ricuh. Kali ini Asha marah ketika melihat Peter kembali ke kliniknya. Dia masih belum terima. Bahkan dengan tega melempar foto dirinya bersama dengan Peter ke luar hingga pecah. Asha buang semua foto Peter yang menghiasi kliniknya, lalu melempar barang-barang Peter keluar, “Pergi! Pergi!” Pertama kali ada seorang wanita berani mencampakkan Peter, lebih parahnya hal tersebut harus ditonton warga sekitar. Peter mengerti kemarahan Asha sehingga dia lebih memilih diam dan membiarkan dokter itu meredakan amarahnya sendiri. Ketika dia mengemas barangnya, dia mengambil foto mereka berdua dari bingkai yang sudah hancur. Entah mengapa melihatnya membuat hati Peter sakit. Dipandangnya senyum ceria Asha di foto. Peluknya terasa seperti Asha sedang berada di sampingnya. “Sudahlah, ini hanya foto,” katanya sambil menyimpan foto itu dan pergi.
Kabar itu sampai cepat ke telinga Anita. Dia bingung begitu cepat perasaan Asha berubah. Mungkin dia sengaja karena dia sadar sedang dimata-matai. Namun Anita tak tahu alasan pertengkaran keduanya.
Waktu pertunjukan seni kembali dibuka, teater mini Sastry dipenuhi dengan penonton. Dia membawakan salah satu cerita kelam untuk drama singkatnya. Peter hadir malam itu, namun untuk pertama kali tanpa Asha. Setelah teater selesai Peter menghampiri Ryou dan meminta waktunya sebentar jika sudah tidak ada kegiatan. Ryou punya banyak kegiatan dan salah satunya menyelidiki bisnis prostitusi di dalam studio Jason. Hingga saat ini Ryou berspekulasi bahwa yang Jason inginkan adalah topeng milik Karin. Dan spekulasi kedua Jason ingin menukar Sastry dengan Picilla. Mengingat Sastry adalah seorang gadis cerdas, mungkin bisa jadi daya tarik tersendiri bagi prostitusi artis di studionya. Tapi Ryou tak berkata banyak, dia hanya acuh berusaha untuk menghindar dari Peter.
Saat ini Peter benar-benar butuh bantuan, dan Ryou orang yang paling tepat karena gaya hidupnya yang tak terikan dengan waktu. “Kau mau apa?” Ryou tak tahan lagi. Keduanya kini berada di lorong kereta bawah tanah Rozhorg. Angin kereta yang lewat sangat cepat hingga rambut Ryou menutupi wajahnya. “Kereta di sini cepat sekali,” dia tata rambutnya ke belakang agar bisa mendengar permasalahan Peter. Menurut Ryou kekuatan Elementalist terletak pada analisis pertarungan. Secara kekuatan dia tidak begitu kuat namun cara membaca gerak lawan patut diacungi jempol. “Aku hampir membunuhnya, namun dia punya trik sehingga dia kabur,” pungkas Ryou saat ditanya soal Elementalist. Ketika Peter bertanya apakah Ryou bisa menang melawannya dengan santai Ryou menjawab iya, “Dia kan cuma imitasi, apa susahnya?” Peter benar-benar terkejut. Dia memohon Ryou untuk berlatih tanding dengannya besok.
Latih tanding kembali digelar. Ryou masuk ke mode serius dengan mengganti rohnya dengan Dark Ryou. Belum ada dua menit Ryou bisa mengenai Peter dengan tinju api. Dark Ryou cepat menilai ada yang salah dengan Peter. Tak mau berlama-lama, Dark Ryou langsung mengeluarkan jurus andalannya, Phantom Step. Menghilang dalam bayang lalu muncul di belakang musuh untuk menyerang leher. Peter tumbang dengan sekejap tanpa perlawanan. Keduanya menepi karena Dark Ryou ingin bicara.
Dark Ryou menyentuh perut Peter, “Apa yang kau tutupi?”
Peter menutup mata menahan perih. Dia harus mengakui jika ingin menang melawan Elementalist. “Aku... aku...” bentakan Asha melintas di kepalanya. Dia makin terbebani dengan kekalahan itu. “Aku kalah melawan Elementalist.”
Dark Ryou berpikir sejenak, menurutnya Peter pasti bisa melibas Elementalist dengan meriam cahaya. “Apa yang menyebabkanmu tidak memakai meriam cahaya?”
Peter mengubah topik pembicaraan, “Topeng apa yang lebih kau sukai?” dia ingin tahu bagaimana Ryou menangani dua topeng.
“Sejatinya, aku lebih menyukai topeng api.” Karena topeng itu adalah warisan ayahnya. Namun jika berbicara soal alat pembunuh, Dark Ryou memilih topeng hitam. “Hal menarik adalah awalnya topeng itu tidak begitu kuat. Namun seiring berjalannya waktu aku merasakan energi di topeng itu bertambah.”
Peter merasakan hal sama. Tetapi jika dia menggunakan kekuatan topeng angin, dia seperti bukan dirinya. “Butuh waktu berapa lama untuk bisa menyesuaikan dengan topeng hitam?”
“Tidak adil jika kau membandingkan topeng hitam dengan topeng api. Sedikit bocoran, aku berlatih menggunakan topeng tanah dan topeng angin dalam waktu tiga minggu.” Dark Ryou ingat saat dirinya bersiap mengalahkan Peter.
“Oh benar, kau bisa mengenakan empat elemen sekaligus.”
“Lalu kenapa tidak kau gunakan meriam cahayanya?”
Peter tak bisa menggunakannya karena dia sedang bertarung di tempat umum. Ledakan yang tercipta akan membahayakan warga, terlebih saat itu Asha ada di dekatnya. Selain itu Peter tidak tega menggunakan meriam cahaya untuk melawan selain iblis. “Ada banyak hal yang terjadi, tapi intinya aku harus menjadi lebih kuat.”
“Kau akan kalah!” Dark Ryou benci mendengar alasan Peter.
“Apa maksudmu?”
“Senjata diciptakan untuk membunuh. Jika kau tidak menjalankan fungsinya maka kau akan kalah.”
Peter tahu Ryou sedang membahas perdebatan lama ketika masih bersama dalam kru pahlawan Batul. Dia sudah merasakan aura kekejian Ryou kembali, “Aku tidak mau membahas masalah itu lagi.”
“Meriam itu haus akan darah. Tetapi kau tak pernah memuaskannya.”
“Meriamku bukan untuk membunuh, melainkan untuk melindungi.”
Dark Ryou sinis, “Kita buktikan kali ini.” Dia menghilang dalam bayang lalu masuk ke dalam hutan untuk membunuh hewan-hewan.
Peter langsung bangkit, dia tak kan membiarkan Ryou membunuh seenaknya. Bertarung dalam kerugian, Peter dengan cepat ditumbangkan Ryou. Peter tak bisa menembakkan meriamnya ke arah Ryou takut terkena satwa liar di sana dan memilih untuk mencoba lagi dengan tangan kosong. Dark Ryou tunjukkan apa arti dari senjata, dia ambil pedang api lalu menambahkannya dengan kegelapan. Langsung ditebaskan kobaran api hitam dari neraka namun Peter berhasil menghindar. Dia bangga meski dengan tangan kosong bisa mengelak dari serangan mengerikan Ryou.
Dark Ryou tertawa kecil, “Lihat sekelilingmu!” Api hitam membakar hutan dengan cepat. “Inilah kegunaan senjata!” dia bermaksud untuk menghancurkan hutan bukan menyerang Peter. “Apa yang senjatamu bisa lakukan?” Dark Ryou menantangnya.
Peter terdiam, perlahan tapi pasti setitik kegelapan yang ada di hatinya mulai tumbuh menjadi kebencian.
“Bagus, marahlah padaku.”
“Ryou kau gila!” meriam cahaya sudah di bidik tepat ke arah Ryou.
Dark Ryou tersenyum, latih tanding sebenarnya baru akan dimulai. Gelegar suara pertempuran bisa didengar hingga kampung terdekat. Api sudah membesar hingga pasukan pemadam kebakaran keluar dari markas. Bola energi ditembakkan, cahayanya begitu terang hingga meluluh lantakkan pepohonan. Peter mengisi energi cahaya dengan kemarahan, sayap berlian di belakang punggungnya muncul dengan kilau yang tidak seterang biasanya. Dark Ryou semakin bersemangat, tangannya piawai memainkan pedang. Tebasan dari kiri ke kanan merobek tangan Peter. Tetap teguh tak jatuh Peter menembak lagi dan lagi sampai hutan itu hancur lebur. Tetapi pemenangnya sudah jelas, Ryou menghilang lalu muncul di belakang dengan jurus Phantom step. Bukan cakar melainkan pedang api hitamnya yang menyambar leher Peter kali ini. Kristal keras yang ada di leher Peter hancur, tebasannya sangat kuat hingga Peter terhempas pingsan. Dark Ryou menendangnya agar bangun, “Kau akan mati jika tidak bangun.” Peter tetap tak sadarkan diri. Dark Ryou menunggu datangnya keberuntungan Peter namun dia rasa keberuntungan ada batasnya. Luoja tidak secara ajaib datang menyelamatkan Peter kali ini. “Jangan harap bisa mengalahkanku,” Dark Ryou pergi meninggalkan Peter di tengah kebakaran hutan tanpa rasa bersalah.
Sudah lebih dari seminggu Ryou mencari cara untuk menyelamatkan Picilla. Tiap hari berlalu menambah kegelisahan hati Sastry. Ryou bisa dengan mudah keluar masuk studio Jason, bahkan punya banyak cara untuk membunuhnya. Namun Ryou belum menemukan jalan untuk mengeluarkan Picilla dengan selamat. Dia hanyalah seorang penyanyi dan penari, akan sulit bagi Ryou untuk menyelamatkannya seorang diri. Setelah Teater mini Sastry selesai diselenggarakan, Ryou meminta seluruh tim teater untuk mendengar gagasannya. Ketika membicarakan strategi, Dark Ryou mengambil alih. Bertepatan dengan festival akbar hari budaya nasional di Hulao, pemerintah mengundang Picilla untuk mengisi acara di hari ke tiga yang diselenggarakan selama seminggu dari tanggal 22 April 2177. Akan ada banyak penjaga di sana yang berarti misi penyelamatan Picilla akan semakin sulit. Sisi positifnya Anita bisa memonitor seluruh panggung untuk memudahkan mereka karena acara ini milik pemerintah pusat. Risikonya akan ada banyak korban jiwa jika sampai salah langkah, prediksi Dark Ryou akan ada 1.200.000 pengunjung. Tenacity melihat keraguan di wajah Sastry, dia mengingatkan Ryou total kematian akibat perang sipil di Hefei berkisar tiga juta penduduk. Sastry tak mau hanya karena kakaknya keselamatan orang lain menjadi taruhan.
“Kita punya waktu sebulan.” Dark Ryou mau semua tim teater mempelajari peran mereka dengan sempurna.
Penuh antipati Tenacity menuduh Ryou, “Heh! Kenapa kau memprioritaskan Picilla daripada mencari cara masuk ke dalam dimensi Prana?”
“Tidak. Aku memprioritaskan misiku. Ini hanyalah jalan untuk sampai ke sana.”
Tenacity melotot, “Apa maksud perkataanmu? Apa yang kau inginkan dari Picilla?” dia membusungkan d**a.
“Akan kugunakan dia untuk menyebar teror.” Salah satu teknik penyergapan seseorang yang sulit ditemukan adalah dengan cara menghancurkan satu persatu hal penting target. Evriza tidak bisa menyembunyikan semuanya. Jejak pasti ada, dan Dark Ryou memulai dari hal paling jelas. Evriza tidak akan takut jika Jason langsung dibunuh. Namun jika Jason sampai ketakutan karena Picilla berhasil diselamatkan tanpa meninggalkan jejak, pasti Jason mengetatkan penjagaan untuk mengantisipasi kedatangan Ryou. Seperti yang dilakukan Dark Ryou di studio Jason. Dia sengaja memperlihatkan bayangannya untuk membuat teror sehingga Jason menantang Ryou dengan menjebaknya di parkiran. Jika Jason berhasil ditakuti lalu dibunuh, itu akan membuat Evriza semakin waspada.
“Kau benar-benar iblis!” Tenacity merinding.
“Selain itu...” Dark Ryou meminta Sastry untuk membujuk Karin bergabung dalam operasi ini. “Kau mau membantunya berubah kan?.”
Sastry berpikir panjang, dia masih terbayang betapa ganasnya Karin di medan tempur. Dia tak kan mendapat gelar penyihir pasir sadis tanpa sebab. Apalagi dia akan disandingkan dengan Ryou yang sama gilanya ketika hasrat membunuhnya tak terbendung.
“Sastry, Kau percaya padaku meski aku telah banyak berbuat salah. Kenapa tidak kau beri kesempatan itu pada Karin?” tambah Dark Ryou yakin.
Tenacity cepat tanggap sebelum Sastry menjawab, “Kau mau memanfaatkannya juga kan?”
Dark Ryou santai menjawab, “Secara tidak langsung kalian semua bermanfaat bagiku.”
“Aku menolak ikut!” Tenacity geram.
“Dan membiarkan harapan Sastry lepas?” Dark Ryou melirik tajam.
Tenacity terjebak, dia tak bisa menolak di hadapan Sastry. “b******k!” luapan amarah disalurkan dengan sebuah tinju keras ke wajah Ryou.
Kedua tangan Dark Ryou sigap menepis, tetapi pukulan itu sungguh kuat hingga dia mundur. “Jika ada pertanyaan, kalian bisa menghubungiku kapan saja.”