Part 6: Penggoda

1905 Kata
Sudah lama Asha tidak mengeluarkan sisi lain dirinya sejak pertama kali bertemu Peter. Dia ingin merasakan kembali kebenciannya pada pria. Pada awalnya Asha berpikir kalau Peter adalah seorang yang arogan. Terlihat di televisi Peter mengeraskan suara saat berkata, dan congkak di depan masyarakat. Namun setelah mengenal lebih dekat semua itu hanya akting belaka, perlahan rasa bencinya pada pria pudar. Dia menyusuri jalan malam sendirian, melihat warna-warni malam penuh canda tawa. Kota Hefei begitu mewah untuk dirinya, tidak cocok dengan selera tradisional Asha. Dia merogoh kocek masuk ke dalam sebuah mall. Lalu dia keluar dengan penampilan 180 derajat. Asha berubah menjadi magnet pria, puluhan pasang mata melirik tiap lekuk tubuhnya yang montok. Pinggulnya melenggok ke kiri dan ke kanan, tangan istri para suami mendarat ke wajah. Dengan nakalnya Asha mengedipkan mata pada seorang pria yang sedang makan malam bersama pacarnya. Wanita yang bersama pria itu langsung menumpahkan minuman ke kepala pasangannya, luar biasa menawan sisi sensual dokter misterius itu. Asha tidak menyalahkan para pria itu, naluriah seseorang pria tertarik pada wanita subur seperti dirinya. Dia pun tidak benci dengan pria yang memalingkan pandangan dari wanita lain. Namun ketika mereka sudah melecehkan wanita, dia tak segan untuk mengajaknya bermain dengan mantra mematikan. Dengan pakaiannya yang menantang, Asha masuk ke dalam diskotek untuk melampiaskan hasratnya. Bukan untuk mencari sentuhan p****************g, melainkan menjaga kehormatan wanita. Dicarinya wanita penghibur yang kusam, dipilih satu yang kurus penuh tato. Asha memintanya untuk menunggu di luar. Dia ingin menggantikan wanita penghibur itu dan akan memberi semua penghasilan yang ia dapatkan malam ini padanya. Wanita itu merasa diremehkan, dia minder dengan tubuh Asha yang berisi. “Jangan khawatir, Sayang. Hanya semalam saja,” rayuan Asha berhasil meyakinkannya. Sambil mendengar suara bas yang berdengung, Asha mulai mencari mangsa. Dia biarkan badan bagusnya diserang oleh tangan nakal. Dirayunya mereka dengan bisikan cinta. Tanpa menyentuh balik, Asha berhasil mengait banyak sekali mangsa dalam sekejap. Bahkan para pria itu masih jelas sadar dan tidak mabuk. Asha menikmatinya, dia senang melihat para pria b******k itu masuk ke dalam jebakannya. Dia ingin mereka semua mati perlahan, sakit, dan yang paling buruk tak ada yang tahu mereka kenapa. “OMG! Kau begitu hot!” kata seorang pria yang memaksa Asha untuk b******u dengannya di ruang privat. Asha melayaninya dengan sempurna sampai pria itu kering kehabisan tenaga, “Bagaimana? Apa aku hot?” tanya Asha nakal sembari menyumbu pria itu. Tanpa diketahui, tiap cairan tubuh Asha sangat berbahaya. Perlahan satu persatu korbannya mulai merasa panas. Sensasi terbakar begitu nyata di bibir korban, dan menjadi sangat buruk ketika kemaluan mereka nyeri minta ampu. Namun aneh tak ada bekas setitik, tubuh mereka tampak sehat meski organnya melepuh dari dalam. Hal itu terus berlanjut hingga pagi. Asha keluar dari diskotek dengan keadaan hancur, tubuhnya lengket dan bau. Untuk benar-benar memuaskan fantasi Asha, dia memilih jalan sepi yang gelap untuk pulang berharap menemukan beberapa preman jalanan. Tepat dugaannya, preman datang menyerbu Asha yang jalan sempoyongan karena lelah. Dia biarkan mereka memakai tubuhnya sampai puas hanya untuk menghancurkan pria yang tak menghargai wanita. “Mati kalian, Sampah!” katanya pergi meninggalkan preman yang pingsan karena kepanasan.   Jam di tangan Asha sudah menunjukkan pukul empat. Dia harus segera pulang sebelum Peter dan David mencarinya. Namun di jalan dia dihadang oleh seorang pria sekali lagi. Asha senang dan menunggu dirinya diserang. Namun pria misterius yang memakai kacamata dan masker itu tak menyerangnya sama sekali. “Oohhh apa kau kasihan padaku?” kata Asha mengejek. Pria itu hanya diam saja. Dia berdiri tegap seperti tembok menghadang Asha. Mantel panjang pria itu berkibar ketika angin dingin lewat di kakinya. “Heeeh? Kau mau apa?” tantang Asha, dia mendekati pria itu hingga tak ada lagi jarak antara keduanya. Seketika pria itu menempelkan sapu tangan ke wajah Asha. Dia dekap kuat lalu pergi membawanya.   Anita adalah orang yang paling syok mendengar kabar kehilangan Asha. Dia takut dan malu menampakkan wajahnya di depan Peter, “Andai aku tahu lebih awal...” Anita menyalahkan dirinya tidak memberitahu Peter soal cyborg imitasi lebih awal karena orang yang menculik Asha adalah pria yang sama yang menyerang Ryou dan Tenacity di parkiran supermarket. Setelah menunjukkan rekaman CCTV pada Ryou, Anita memintanya untuk segera mencari petunjuk. Ryou berdalih karena dia juga sedang mencari petunjuk untuk menyelamatkan saudara perempuan Sastry tetapi Anita tidak mau tahu. “Ini perintah!” Ryou kalah berdebat dan mengganti fokusnya pada Asha untuk sementara waktu. Selain itu, Picilla tidak akan terluka oleh Jason karena dia adalah artis andalannya. Ryou menyusuri tempat-tempat yang Asha datangi kemarin malam. Dia bertanya pada kasir, mencari wanita yang digantikan Asha, lalu menemukan beberapa pria yang jatuh sakit dengan gejala sama. Ryou semakin yakin kalau Asha bukanlah seorang dokter biasa. Tidak ada dokter di dunia yang mampu memproduksi racun mematikan dengan tubuhnya.   Asha ditahan dalam sebuah kamar apartemen kelas menegah di kota perdagangan New Yelin. Kota kedua terkaya setelah Hefei. Di sana Asha bisa mandi dengan tenang, dia bilas badannya dengan air hangat selama mungkin untuk membersihkan noda ditubuh moleknya. Asha diperlakukan selayaknya ratu, dia mendapat sarapan dan juga pemandangan kota New Yelin yang penuh dengan gedung pencakar langit. Asha keluar dari kamar mandi telanjang, sengaja mengetes keteguhan pria yang menculiknya. Pria itu tak melirik sedetik pun ke arah Asha, dia fokus memandangi cepatnya langkah kaki manusia dari jendela. “Jadi kau tidak tertarik dengan tubuhku?” tanya Asha menutup k*********a dengan pakaian dalam. “Tidak,” jawab pria misterius yang tidak melepas kacamata dan maskernya. “Lalu ada perlu apa kau menculikku? Sampai repot-repot mencuci bajuku yang kotor.” “Aku tidak ingin menyakitimu.” “Ya lalu kenapa?” tanya Asha sambil menyisir rambut. Pria misterius itu menyinggung Peter. “Dia menarik bukan?” “Yah, dia pria baik yang bisa mengubah cara pandangku terhadap lelaki.” “Tidak. Aku berbicara soal kekuatannya.” Menurutnya cara pandang masyarakat terhadap Peter sangat lucu. Peter tak berkontribusi banyak dalam menegakkan keadilan. Di belakangnya ada seorang agen rahasia yang menyetir tiap pergerakannya. Di sampingnya ada asisten yang mencari semua informasi yang dibutuhkan untuk bertarung, “Dia hanyalah seorang algojo yang disorot kamera.” Asha tersenyum, perkataan pria itu benar. “Terus, apa masalahmu? Ingin menggantikannya?” “Tidak. Aku akan melatihnya agar menjadi lebih kuat dari teman-temannya. Dia sudah tertinggal jauh.” “Hah?” Asha kaget sampai berhenti menyisir. Perjalanan Peter menjadi seorang pahlawan begitu mulus. Tidak ada rintangan berat dibanding dengan pengguna topeng lainnya. Ryou berjuang mati-matian hingga keluar masuk penjara hanya untuk kalah melawan The Apocalypse – 2 , Conquest. Hidup Karin penuh siksa dan derita sedari kecil hingga dewasa. Tenacity menerjang ganas samudera dan berhasil sampai di laut sakral Atlantis. Sedangkan Peter hanya anak seorang pengusaha kelas menengah yang pindah dari Batul menuju Hefei untuk mempertahankan eksistensi perusahaan. Peter tidak pernah jatuh, dia selalu mendapat apa yang dia mau mulai dari orang tua yang baik, tempat tinggal yang layak, pendidikan yang tinggi, serta harta yang cukup. Dia spesial hanya karena kebaikan hatinya saja. Dan itu dirasa belum cukup untuk menjadi seorang pahlawan. “Bagaimana? Kau setuju?” dia menawari sebuah kesepakatan yang tidak mungkin ditolak Asha. Pria itu semakin mencuri perhatian Asha. Dia mulai menempelkan dua buah dadanya yang harum di lengan agar pria itu mau mengatakan tujuannya. Tetapi dia dingin menolak, dia tak tertarik sama sekali dengan Asha. “Maaf, aku punya keluarga.” “Kalau keluargamu ku bunuh saat ini, apakah kau masih berkata seperti itu?” “Ya. Mereka akan selalu ada di hatiku.” Asha tertegun, dia tak lagi mengusik pria misterius itu, “Hati ya? hmm...” dia pandangi sejenak orang yang masih lalu lalang di bawah sana. Banyak pria pergi bekerja keras dengan tulus menafkahi keluarganya yang menanti di rumah. Itu bukan hanya bualan, Asha mulai menyadarinya. “Baiklah, aku terima tawaranmu.”   Ryou sampai di reruntuhan istana presiden Batul sebelum malam tiba. Kali ini karena dia mengikuti sinyal telepon Asha. Sayangnya Ryou masuk ke dalam jebakan. Pria misterius itu berhasil menjauhkan Ryou dari Peter. Dan kini Peter sedang menuju ke atap apartemen untuk menyelamatkan Asha seorang diri tanpa bantuan Ryou dan Anita. Pria misterius sudah menunggu. Asha juga menunggu pertarungan yang sebentar lagi akan dimulai. Peter turun dari motor terbangnya di atas atap apartemen. Hatinya langsung bergejolak ketika melihat Asha diikat di samping si pria misterius. “Kau kan... Elementalist!” “Ya.” Suaranya seperti robot. Asha bisa melihat genggaman Peter mengeras tanda dirinya khawatir dan emosi. “Langsung saja ya.” Cepat Elementalist melesat dengan tenaga api. Tinju api mendarat di perut Peter yang belum siap. Bajunya terbakar lalu dia mental. Peter jatuh dari gedung. Elementalist berharap lebih, dan Peter membalasnya dengan terbang ke angkasa menggunakan sayap berlian. Peter tak kan menembakkan meriam cahaya karena ada Asha di sana. Dia menggunakan cara lain. Menggabungkan topeng cahaya dengan topeng hijau berkekuatan angin, Peter melesat menembus sound barrier bagai pesawat tempur. Elementalist membuat tembok es tebal di depannya. Tetapi tendangan Peter amat kuat, hingga es itu hancur dan Elementalist terseret beberapa meter ke belakang. “Kenapa kau menculik Asha!” suara Peter lantang. “Untuk mengukur kekuatanmu.” “Kau tak harus menculiknya untuk bertarung melawanku!” “David memilihmu karena kau memiliki hati yang baik, aku ingin tahu apakah alasan itu tepat.” Pertarungan sengit dimulai. Peter dengan tenaganya yang besar menghajar habis-habisan lawannya. Tetapi Elementalist sudah memprediksi gerakan Peter. Serangannya berpola dan tidak variatif. Analisisnya membuatnya mudah menghindari serangan Peter. Kecepatan dan kekuatan Peter memang luar biasa tetapi dia berkomentar di tengah pertarungan, “Teknikmu belum pas.” Peter bingung kenapa dia peduli dengan gaya bertarungnya. Dari dalam topeng hijau, spirit kuda langit Clarity datang memberi Peter sepatu petir. Membuatnya bergerak secepat kilat. Dipadukan dengan energi cahaya, Peter menendang Elementalist hingga mental ke langit. Sesaat Peter bisa bernafas lega namun Elementalist muncul lagi melalui portal. Dia tak terluka sama sekali, “Kau tidak menggunakan senjatamu dengan benar.” Peter mulai gentar, dia tak percaya jurusnya tidak mempan. Elementalist memasang kuda-kuda sambil memegang pedang yang sisi kirinya membara dan sisi kanannya beku. Peter sepintas melihat bayangan Ryou di hadapannya. “Dia meniru teknik Ryou!” Elementalist menebaskan pedang hingga api meluncur ke arah Peter. Dengan gampang Peter mengibas api dengan kedua sayapnya namun dia tak menyangka di balik api tersebut Elementalist sudah menunggunya. Sabetan pedang di tangan kanan Peter tak terelakkan. Elementalist melanjutkan serangannya dengan membekukan kedua kaki Peter. Kini Elementalist berganti gaya, kuda-kudanya kini mirip dengan Tenacity. Dia tebaskan secara horizontal pedangnya ke perut. Peter tergeletak tak berdaya, dia terengah-engah menahan perih. Elementalist berdiri tepat di depan Peter sambil mengangkat pedangnya ke langit. Lagi-lagi Peter melihat bayangan Ryou. Asha tak berkedip melihat Elementalist menusukkan pedangnya. Meski situasinya sudah dibuat sama seperti pertarungan Peter melawan Ryou di Rozhorg setahun yang lalu. Luoja tidak muncul untuk menyelamatkan Peter dari bahaya. Elementalist menghunuskan pedangnya dari lantai dan mengambil topeng udara milik Peter, “Belas kasihanku ada harganya.” Elementalist menekan ponselnya untuk membuat portal, dia masuk ke dalam dan menghilang tanpa jejak. Peter bangkit sambil memegang perutnya yang terkoyak. Dia berusaha berjalan untuk membebaskan Asha yang duduk menanti meski darah terus mengalir. Ketika hendak melepaskan ikatan, Asha membentak Peter kuat-kuat. Dia tak mau diselamatkan oleh seorang pahlawan lemah yang berlagak kuat. Asha murka melihat Peter kalah dengan mudahnya oleh seorang cyborg tak dikenal. “Jangan kau berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu sampai kau bisa mengalahkannya! Paham!” Peter mengakui kesalahannya, dia malu kalah di depan seseorang yang berharap padanya. “Maafkan aku.” Peter pergi meninggalkan Asha sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN