Part 11: Sihir belum sirna

1913 Kata
Lampu telah kembali menyala untuk kedua kali, tanda Jumbo harus segera pergi. Picilla masih kekeh, takut dirinya dibunuh oleh iblis bersabit besar jika dia melanggar perjanjian yang di tulis dalam kontrak kegelapan. Jumbo memeluk Picilla erat dengan tangan kirinya, “Percayalah pada kami.” Dia berlari sambil memeluk Picilla di dekapnya. Jumbo berhasil sampai di truk Sastry. Afdol langsung tancap gas, Tango dan Harold tetap berjualan agar tidak terjadi kecurigaan. Sedangkan Panji ditinggal karena dia sudah kabur ke hutan setelah beberapa kali mematikan listrik. Di belakang panggung, Sastry masih bisa selamat karena Tenacity dan Karin menolongnya. Karin tampak kewalahan melawan Elementalist yang mampu membelah batu dengan pisau angin. Pasir dan tanah berhamburan tak bisa mencapai Elementalist karena tornado dari kekuatan angin. Selain itu Sastry tak mengizinkan Karin untuk memakai sihirnya karena itu akan menyia-nyiakan semua usaha untuk berubah menjadi manusia normal. Di lain sisi, Tenacity dengan pedang es dan tenaga Ionicube imbang dengan Elementalist. Api bukanlah masalah bagi Tenacity, dan kecepatan angin masih dapat diimbangi olehnya. Namun secara keseluruhan Elementalist lebih unggul. Elementalist membaca kondisi dan terus menyerang Karin yang bertahan dengan batu dan tanah. Sihir yang membuat tubuh Karin menjadi pasir masih belum dikeluarkan, dia terus berjuang untuk melupakan sihir agar bisa kembali merasa. Tenacity tak tinggal diam, dia terus memancing perhatian Elementalist dengan membekukannya berkali-kali. Namun Elementalist bisa dengan mudah mencairkan es karena memiliki kekuatan topeng air imitasi. Tenaga jet dari kedua tangan Elementalist mendorongnya cepat, dia meluncur melebihi kecepatan suara dan menendang Karin menembus tembok dan batu. Sastry memohon agar Elementalist berhenti, Tenacity menghadangnya, “Pergi Sastry!” dia tetap di sana tak mau kehilangan pengawasan Karin. Karin bangkit lagi, dia merasa mulutnya asin karena darah. Sensasi perih menambah gundah jiwanya untuk mengeluarkan sihir. Tangannya bergetar, bibirnya ingin berucap untuk memanggil spirit ular Venominaga. “Cinta tidak untuk menyakiti, Karin!” Sastry memeluk Karin yang hampir kehilangan kendali. “Yo sialan! Lemah sekali menyerang wanita padahal ada aku di hadapanmu!” Tenacity melesat cepat dengan tebasan kristal es. Elementalist hanya menginginkan topeng tanah Karin. Dia tak kan mengalihkan fokusnya selain padan Karin. Tenacity terus mendorong diri dan melindungi kedua wanita di sampingnya. Meski dia benci dengan penjahat, namun menurutnya Karin sudah tidak ingin lagi menjadi penyihir sehingga dia percaya. Pertarungan akhirnya menemukan titik akhir ketika Anita menembak Elementalist dari jarak jauh menggunakan sniper rifle. Peluru menembus dari kepala belakang dan keluar di mata bagian kanan Elementalist. Dia tumbang namun masih bertahan hidup. Kedua tangan Elementalist dipatahkan oleh Tenacity dan ponsel Chimera Technya dirampas agar tidak berbuat onar. Dia sudah tak bisa lagi kabur. Tenacity langsung menanyakan tujuan Elementalist tetapi dia tak mendapatkan jawaban apa pun. Polisi membawa Elementalist lalu kerusuhan yang terjadi di gedung belakang panggung langsung diselidiki.   Sore sebelum teater Sastry dimulai, Picilla membantu adiknya menyiapkan boneka. Dua gelas es lemon segar setengah kosong ada di atas meja karena hari mulai panas. Picilla bercerita betapa lega dirinya bisa pergi dari jerat Jason. “Seperti aku bisa bernafas kembali,” ungkap gadis dengan kantung mata hitam. Sastry tersenyum sambil menyisir boneka. Hatinya tenteram mengetahui kakaknya telah kembali. Tetapi Picilla masih belum bisa bersikap normal, trauma di teater Jason masih membekas. “Aku bisa bantu kok,” cepat Sastry menepis gundah kakaknya. Tak lama kemudian Karin datang untuk berpartisipasi menjalankan teater. Ketika masuk melihat es lemon kuning yang bulir airnya mengalir, Karin langsung menjatuhkannya, “Jangan minum itu!” dia begitu ketakutan. Sastry lekas menenangkannya dan berkata tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karin punya memori buruk dengan es itu, dia amat membencinya. Sebagai gantinya, Sastry pergi ke toko untuk membeli soda karena Karin tak suka. Karin seperti anak yang kehilangan induk ketika Sastry pergi. Dia tak mengerti caranya bersosialisasi. Picilla melihat begitu datarnya wajah Karin, dia merasa hal yang sama ada di dalam dirinya, hanya saja dia lebih pandai menutupinya. “Apa kau juga diselamatkan oleh Sastry?” tanya Picilla. Pertanyaan itu melintas saja di telinga Karin. Picilla tersenyum meski tak lebar, “Mau mendengar ceritaku?” Karin melirik dibalik rambut merah panjangnya. Boneka yang sudah bersih mulai dimainkan oleh Picilla, dia ceritakan kisah hidupnya secara halus tentang dirinya yang kehilangan jati diri karena digantikan oleh robot. Pada awalnya Picilla merasa senang pekerjaan panggungnya digantikan oleh robot yang berarti Picilla tidak harus bersandiwara di depan jutaan penggemar. Dia lelah menutupi kesedihan sebab harga dirinya sudah tak ada lagi. Minimal tiga kali sehari Picilla meladeni nafsu pria berdasi karena kontraknya. Picilla merasa kegembiraan perlahan hilang di hatinya. Semangat seniman dan penghibur Picilla disalahgunakan sehingga dia mulai membenci dirinya sendiri. Tersenyum dan menghibur orang tidak lagi terasa menyenangkan, apalagi dipaksa. Meski semua pengguna tubuh Picilla puas, dia tak merasa kesenangan itu benar. Malah dia membencinya sehingga hilang sudah semangatnya untuk menghibur. “Setidaknya yang bisa kita lakukan adalah berpura-pura bahagia, kita tidak tahu seperti apa perasaan dibalik senyum Sastry,” pungkas Picilla. Karin merenung melihat Picilla membersihkan pecahan gelas yang tadi dia lempar. Dia tak mengerti kenapa orang bisa emosional terhadap sesuatu tanpa merasakan sakit. Namun dia mencoba untuk membohongi dirinya sendiri dengan berpikir kalau sikapnya menyakiti orang lain. Karin merunduk membantu Picilla mengelap lantai tanpa peduli ada beling kecil. Picilla langsung menghentikan Karin melihat jarinya berdarah kena serpihan gelas. “Aku menyukai rasa sakit,” terucap oleh Karin namun dengan sebuah senyuman.   Rapat koordinasi dadakan diadakan Anita di teater Sastry setelah selesai pentas. Dia marah pada seluruh anggota pengguna kekuatan topeng yang dinamainya Liga Pahlawan, mereka seharusnya menjaga ketertiban dan perdamaian. “Kenapa kalian gaduh sekali!” Dark Ryou langsung membuat Anita terdiam karena dia mendapat petunjuk besar terkait robot imitasi. Dia sengaja tidak membunuh Jason untuk diikuti dan menemukan tempat pembuatan organ sintetik ilegal berkedok pabrik otomotif bernama Mur Metal di pusat kota Chang’an, arah barat daya Hulao. “Tampaknya persaingan robotik makin sengit,” karena harganya jauh lebih murah daripada harga resmi Chimera Tech. Anita tidak mau tahu, keselamatan dan kenyamanan masyarakat adalah prioritas utama dan Ryou sudah mengacaukan event bersejarah Kuzech dengan rencana kotor. Dark Ryou tidak terima, “Sejak kapan kau mampu memerintahku? Kita hanya kebetulan sedang berada di jalur yang sama.” “Tapi Tuan Silva! Liga Pahlawan adalah legasinya. Selain itu kau tidak berhak melawan pemerintah!” “Pemerintah sudah tumbang ketika keluargaku dibantai oleh orang-orangmu.” Dark Ryou mengungkit luka lama ketika ayahnya yang menjabat sebagai presiden dibantai karena manuver politisi Hefei di akhir periode perang sipil pertama. “Oh jadi karena itu?” Anita sinis. “Tidak, aku hanya memperingatimu agar tidak menekan orang yang salah.” Emosi Anita dibuatnya. Sastry membenarkan aksi Ryou karena dia berhasil menyelamatkan Kakaknya. Tenacity juga setuju meski dia benci mengatakannya tetapi rencana Ryou efektif meski memakan korban. Dia berhasil menyelamatkan Picilla tanpa terluka, membebaskannya dari kontrak kegelapan, sekaligus menemukan petunjuk tentang robot imitasi dalam sekali gerakan. Anita sudah cukup mendengar berbagai alasan, “Aku tidak akan memberi kesempatan kedua.” Mereka harus siap berurusan dengan aparat jika kejadian yang sama terulang.   Perjalanan Anita sebagai ketua divisi administrasi Kementerian Ketertiban Umum semakin sulit. Surat peringatan sudah ada di mejanya karena terlalu banyak mengurus divisi yang bukan tanggung jawabnya. Hal itu kembali dibahas ketika sidak Perdana Menteri Yajkob Walzikaey bersama dengan ketua Vanguard Label Society Abraham Jaffar Khomeini digelar. Evaluasi terkait kejadian di Hulao menjadi topik utama. Ketua divisi pencegah teror menjadi bulan-bulanan. Surat peringatan melayang sampai ke polisi terbawah di regional Hulao kota. Inisiatif Anita memang bagus namun dia harus berkoordinasi terlebih dahulu pada divisi terkait. Jika Anita tidak mengindahkan teguran tersebut maka dia akan dimutasi menjadi staf pertama divisi pencegah teror dan mengulang lagi semua perjalanan kariernya dari awal. Sedikit apresiasi diberikan pada ketua divisi pengamanan karena tidak ada warga sipil yang terluka. Setelah membahas masalah internal, hasil interogasi dan penelitian Elementalist sudah bisa disimpulkan. Elementalist adalah robot asli Chimera Tech generasi pertama, desainnya sama dengan tubuh Evriza. Tetapi program yang ditanam di robot itu bukan milik Chimera Tech. Lagi-lagi Anita menjadi bulan-bulanan karena desain konfidensial cyborg Chimera Tech sampai bocor. Semua robot dan cyborg milik Jason tidak memiliki izin, Anita kembali dicibir. Onderdil yang dipasang di cyborg tersebut tidak standar dan dapat membahayakan banyak orang. Anita benar-benar tertekan, tak disangka pekerjaan yang dikira mudah menjadi sulit dalam sekejap. Setelah hari pahit berakhir, Anita langsung meminta Ryou untuk mencari siapa orang yang memrogram Elementalist dan juga beberapa robot imitasi yang menyerupai manusia sungguhan. Peter akan dikerahkan untuk memastikan semua perbuatan Ryou dalam kendali. Tenacity juga ikut andil dalam operasi ini setelah disewa oleh Julian dari Chimera Tech. Instruksi sudah diberikan, Anita pergi ke kedai kopi untuk menenangkan diri sejenak sambil memandang jernihnya angkasa. Di bawah langit yang sama Ryou sedang duduk mencurahkan isi hatinya pada Sastry di atas box truk di pinggir sungai Pier Jian. Dia kembali bertanya kenapa Sastry tidak mau memberikan pendapat terkait kepribadian gandannya. Ryou berpikir panjang, “Diriku yang lain begitu hebat dalam bertarung, kalau bukan karena dia mungkin aku selamanya menjadi pesuruhmu di teater.” “Iya. Tetapi dia tetaplah dirimu.” “Apa menurutmu aku ini tidak pantas menjadi Ryou yang sekarang?” Sastry duduk makin dekat, “Kau tahu, aku juga dulu berpikir begitu. Aku sempat berpikir untuk menyerah mencari Picilla namun pada akhirnya aku berhasil.” Hembusan nafas Ryou besar, “Kau tidak mengerti.” “Aku mengerti, Ryou. Aku mengenalmu cukup lama,” katanya sambil menepuk pundak Ryou. “Kau mungkin akan menganggapku gila, tapi diriku yang lain mengatakan kalau dua kepribadian ini terlahir karenamu, apa benar?” “Hey lihat kunang-kunang!” Sastry menunjuk ke arah sungai. “Jangan mengalihkan pembicaraan, sekarang masih april!” Sastry diam saja, dia menyimpan sejuta kata yang ingin diucapkan. “Hey jawab! Apa benar aku ini roh yang tak sengaja masuk ke dalam tubuh ini? Apa aku ini sebuah kecelakaan? Kenapa bisa seperti itu? Tolong jawab, Sastry!” tatapan Ryou lurus ke mata Sastry yang tak mau memandangnya. “Kunang-kunang itu terlihat aneh, dia membesar.” Ryou langsung membentak, “Tolong jawab aku!” Sastry berteriak, dia menutup matanya. Seekor serigala bermata kuning menyala menerkam Ryou hingga terjatuh dari atas truk. Ryou memejamkan matanya sekejap kesadarannya berganti. Kini yang membuka matanya adalah Dark Ryou. Dia melompat ke belakang mencari jarak aman. Serigala itu menerkam, Dark Ryou cepat menghindar namun tiba-tiba serigala itu hilang dalam bayangan. “Huh?” mata Dark Ryou melirik cepat. Tiba-tiba bambu tajam menusuk paha kanan dari dalam tanah. Dark Ryou belum siap, serigala kembali menerkam tangannya. Dark Ryou mematahkan bambu itu lalu memakai topeng hitamnya dan menghilang. Bambu kembali menusuk Ryou tepat di paha kiri, dia kaget karena ada orang yang bisa mengetahui posisinya ketika berada dalam bayangan. Langkahnya makin cepat, dia melompat dari pohon menuju jembatan kemudian ke seberang sungai untuk mengecoh makhluk misterius yang menyerangnya. Tetapi lagi-lagi kaki kiri Ryou ditusuk bambu, dia keluar dari dalam bayangan. Cahaya bagai matahari bersinar terang di langit. Peter menjawab panggilan Sastry tepat waktu. Seekor burung elang misterius hangus terbakar meriam Peter, “Ryou! Burung itu tadi menandaimu. Sekarang menghilang dan serang serigalanya!” Dark Ryou langsung menghilang, dia merasakan energi roh begitu kuat ada di sekelilingnya. Dua ratus meter di dalam pepohonan dia menemukan orang yang mengendalikan binatang itu. Dark Ryou sekejap mengayun cakarnya tetapi seorang lagi datang menepis cakar Dark Ryou dan menusuk kaki kiri. Dark Ryou mencakar sekuat tenaga dengan tangan kiri, arahnya tidak akurat namun kekuatannya bisa membelah bambu menjadi puluhan potong dalam sekejap seperti teknik tebasan sabit iblis yang dilawannya. Kedua orang itu pergi menghilang tanpa jejak. Dark Ryou tak mampu menyusulnya, kakinya sudah lemas hingga tak sanggup lagi berlari. Sudah banyak darah terbuang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN