-*-*-*-
Juan POV.
"Heyyy,dasar anak nakal".Mama menepis tangan ku ketika mencomot makanan yang tersaji di meja makan dan seketika aku menatap Mama.
"Kamu tidak boleh makan ini,ini dan ini.Mama buatkan makanan ini,khusus untuk menantu Mama,Sya Ki na.Paham?".
Aku berdecak tak percaya.Sungguh diluar dugaan ku,Mama melarang ku memakan masakan yang dibuat Mama khusus hanya untuk Syakina.Tidak seperti Mama yang biasanya selalu menyuguhkan semua makanan pada ku setiap bertemu dimeja makan.
"Lalu,aku harus makan apa,Ma?.Jika yang Mama peduli kan cuma Syakina.Aku bukan anak adopsi kan?".Ejaan kata ku yang salah mendapat respon yang tidak terduga.Spontanitas Mama menyentil kening ku dengan dua jarinya yang berkuku panjang dan tajam.
"Mengada-ada saja.Tentu Mama yang melahirkan mu.Tapi kamu makan salad buah saja ya?!.Ini baik untuk cikal bakal penerus mu nanti,ok?!".
"Uhukkk,uhukkk...".Ku yakini ucapan Mama yang sensitif dan melantur membuat Syakina terkejut sampai terbatuk-batuk.
Sebaliknya,aku hanya memutar retina ku.Aku jengah mendengar perumpamaan Mama yang ingin sekali menimang cucu.Itu bukan hal mudah,melainkan sulit bagi ku.Masalahnya sedikt pun Syakina tidak terjamah oleh ku.Jadi,bagaimana mungkin bisa aku memberi Mama keturunan.
"Lahhh,kenapa kamu tersedak Syakina?.Apa masakan Mama kepedasan?.Tapi seingat Mama,sedikit pun Mama tidak menambahkan bubuk cabai lagi,ke dalam masakkan Mama ini".
Kentara kulihat akting Mama dari cara Mama menjulurkan lidahnya.Satu kebiasaan Mama yang aku tau ketika Mama pura-pura tidak mengerti akan keterkejutan Syakina.
"Mama jangan pura-pura lugu.Ucapan Mama itu aneh.Jangan heran jika Syakina terkejut".Mungkin ucapan ku ini tidak enak didengar sampai mendapat cubitan Mama di lengan ku.
"Heyyy!,apanya yang aneh?.Sudah sewajarnya kalian memberi Mama cucu,kan?".
Ya jelas,menurut Mama mungkin tidak aneh,tapi menurutku sangatlah aneh.Hal seintim ini Mama bahas dimeja makan.Mama tidak mengkondisikan tempat dan waktu.Apalagi aku dan Syakina pasangan pengantin yang baru tanpa bumbu cinta.Tentu soal ini sangat riskan untuk dibahas.
"Terserah Mama saja.Bicaralah sesuka hati Mama.Tokoh utama dirumah ini adalah Mama.Sedangkan aku dan Syakina hanya figuran".
Setiap kali aku membuat kesalahan lagi,alhasil Mama menjewer telinga ku.Sementara Syakina hanya tertawa pecicilan melihat ku teraniaya.
"Ckkk,kamu ini sudah berani melawan Mama.Lagipula tidak perlu malu membahas soal ini dengan Mama.Urusan ranjang Mama pakarnya".
"Baik Ma.Maaf!".Sudah semestinya aku meminta maaf dan mengalah demi kebaikan.Tidak akan selesai perdebatan ini jika aku terus melawan dan tidak ku hentikan.
"Oiya Juan.Mama sarankan,kamu harus rajin mencetak gol.Supaya keturunan keluarga Prayudha cepat hadir,dan cucu Mama nanti bisa menebar aura positif di rumah ini".
"Astaga Mama.Adakah teori lain yang bisa Mama jelaskan?.Aku jadi tidak selera makan.Sebaiknya aku mencari udara malam saja".
Ku tarik kembali kata-kata ku untuk mengalah dan tidak melawan Mama.Sepertinya aku sudah muak dan tidak tahan mendengar permintaan Mama yang konyol dan mustahil ku kabulkan.Jadi,pergi lebih baik daripada mendengarkan ocehan Mama yang kacau dan melantur.
"Ya ampun Juan.Kamu itu tidak mengerti kemauan Mama,ya?!.Cepat buatkan Mama cucu!".Jeritan Mama menghentikan langkahku diambang pintu,namun kembali ku melangkah sambil melepaskan jas yang terasa membakar tubuh ku.
Terserah bagaimana pandangan Mama menilai reaksi ku yang berlebihan ini.Tapi satu hal yang pasti,aku tidak nyaman dengan intimidasi Mama yang tak hentinya menyudutkan ku namun sepertinya menjadi hiburan tersendiri bagi Syakina yang hanya terbahak saja menyimak lelucon konyol yang aku dan Mama buat.
Bukan tanpa alasan jika aku sampai lari dari meja makan ke balkon untuk menghirup udara segar,kan?.Atmosfer di ruang makan memanaskan suasana hati ku yang tadinya sedingin angin malam ini.
-*-*-*-
Flashback.
"Silahkan duduk di kursi yang tersedia.Sebentar lagi Pak Juan akan mengumumkan sesuatu".
Disaat briefing sudah dibuka Egi,Syakina malah sibuk mencari tempat duduk.Tetapi Syakina bingung harus duduk di mana?.Sedangkan kursi-kursi di Aula kantor sudah hampir penuh.Untungnya ada pegawai wanita yang baik hati,menarik kursi disampingnya agar Syakina bisa duduk.Syakina pun terenyuh.Padahal Syakina sempat berpikir tidak akan ada yang peduli pada pegawai baru seperti nya.Apalagi hanya pegawai magang biasa.Belum lagi Syakina pernah mendengar jika pegawai senior kerap merundung pegawai junior.
"Terima kasih.Haiii,aku Syakina".Syakina menarik kembali tangannya saat gadis disampingnya mengacuhkan nya dan tak membalas uluran tangannya.
Ternyata tak hanya atasan saja yang bersikap tak acuh dan dingin.Namun seniornya pun sama saja.Hal itu cukup membuat Syakina jengah sampai berputar bola matanya.Dugaannya tadi ternyata salah besar.
"Gue Lanni".Gaya Lanni yang super cuek dan santai menyita perhatian Syakina.
"Haiii Lanni.Senang berkenalan dengan mu".Syakina menghadiahi Lanni senyuman yang ditanggapi Lanni dengan desisan.
"Hisss.Lo kalo ngomong sama gue,gak usah pake bahasa baku dan kaku.Lo dan gue se level.Ngerti?!".
Jawaban Lanni yang dingin sedingin ekspresi wajah gadis yang tomboi tapi berpakaian feminim menggelitik hati Syakina.Tetapi la menahan tawa karna tak ingin berseteru dengan sesama pegawai.
"Maaf!.Aku hanya bersikap sopan".
"Lo dan gue ada dilevel yang sama,ok?!".
"O' ok deh".Syakina menirukan tangan Lanni yang menempelkan telunjuk dan jempol nya yang membentuk huruf O."Semoga kita bisa berteman ya Lanni?!".Syakina mengulum senyum ketika Lanni menanggapinya dingin dan hanya mengangkat kedua alisnya.
Belum apa-apa Syakina sudah terbawa perasaan begini.Bagaimana mungkin bisa tahan bekerja jika semua orang di Tree Palace sedingin es.Tetapi la tak mungkin menyerah disaat babak pertama baru saja dimulai.Ia baru akan menyerah dimenit terakhir jika sudah tak sanggup bersabar lagi.
"Haiii Sis?.You pasti pegawai baru ya?".
Syakina menoleh ke belakang saat dikejutkan orang yang menepuk pundaknya.Ternyata seorang pria yang cantik dan gemulai.Tetapi yang satu ini kelihatan beda dari yang lain.Ramah dan murah senyum walaupun agak abstrak.
"Kenalin Sis,l Mika".
"Haiii Mika".Syakina menjabat tangan sambil menatap pria setengah matang itu sampai tak berkedip.Walaupun seperti pria biasa cara berpakaian nya tetapi berbanding terbalik dengan sikapnya.
"Ichhh kok begitu amat sih tatapan You sama l.You iri ya?!,liat paras l yang syantik?".
"Emhhh".Syakina mengulum senyum lagi meski ingin sekali tertawa tetapi la takut dosa dan menyinggung perasaan pria ber name tag Miko itu.
"Aku ucapkan selamat datang untuk kalian semua.Sebentar lagi Pak Juan akan mengumumkan sesuatu yang pentingTapi sebelum itu,Aku akan memberikan motivasi untuk kalian".
"Ya ampun,kerennya Pak Egi.Bikin hati l lumer dehhh.Luv yu Pak Egi,muachhh".
"Hahahaaa..."Syakina tertawa melihat antusiasme Mika melayangkan kiss bye pada Egi.
"Udah cukup basa-basi Lo,Banci.Briefing udah mau mulai tuh.Syakina,Lo kasi kode kalo briefing sudah kelar,ok?!".
"Ok!".Syakina hanya mengiyakan saja meski tak mengerti maksud Lanni.
"Iya Sis,siapa tau You butuh ini".
Lagi-lagi Syakina dibuat bingung ketika Mika memberinya gambar tempel mata palsu."Buat apa ini Mika?".
"O My Gosh.Masa begitu aja kagak ngerti sih Sis.Lanni juga pake.Tuh liat aja!".
Melihat Lanni terpejam dengan tempelan mata palsu dikelopak matanya saat menyimak Egi memotivasi para pegawai,Syakina melongo tak percaya.Dilihat nya Mika dibelakang sudah menutup lubang telinga nya dengan earphone sambil bersenandung kecil.
Syakina hanya geleng kepala melihat sikap Mika dan Lanni yang menambah deretan panjang ke absurd an yang ada di Tree Palace.Dari atasan sampai bawahan tak ada yang beres.Egi bermuka datar,Lanni tomboi dan Miko yang ingin dipanggil Mika sangat gemulai.Tetapi Lanni dan Mika cukup menyenangkan dan membuat Syakina bersemangat.
"Selamat pagi semua?".
"Selamat pagi Pak CEO".
Syakina memejamkan mata saat teriakan para pegawai memekakkan telinga nya sampai tak sempat melihat wajah CEO Tree Palace yang sangat membuat nya penasaran.
"Aku ucapkan selamat datang untuk pegawai baru yang hadir ditengah-tengah kalian.Aku perkenalkan pegawai magang di perusahaan ini.Silahkan maju,nona Syakina Rayna".
"Pria itu".Jantung Syakina berdebar sangat kencang seakan ingin melompat dari sarangnya ketika melihat pria yang berdiri di podium seiring la membuka mata nya.
Apalagi ketika pria itu memanggil nama nya dan memintanya naik ke podium,rasanya Syakina ingin segera bersembunyi di bawah kursi.Namun la hanya bisa diam membisu dengan kepala tertunduk menghindari tatapan mata pria yang pernah berdebat dengan nya hari kemarin.
"Nona Syakina.Kamu mendengar ku?.Ayo naiklah!".
Syakina memalingkan muka saat suara pria yang sangat la kenali menuntut nya untuk naik.Tetapi saat sorot cahaya kuning menerpa wajah nya,refleks kaki nya yang berat untuk melangkah,digerakkan Syakina secara terpaksa ke podium.Kepalanya ditekuk saat Netra tajam pria itu menatapnya seperti macan yang lapar.
Sungguh diluar dugaan Syakina jika ternyata CEO Tree Palace adalah pria yang sudah membuat nya kesal dan dibuatnya jengkel juga ketika hari pernikahan Aditya dan Tara.Kini Syakina merasa terancam sudah masuk ke kandang macan.
-*-*-*-
"Yuna.Bagaimana kamu bisa melakukan hal sekonyol itu?.Apa yang membuat mu berbuat begitu hingga berakhir seperti ini?".
Gurat kesedihan terlukis di wajah Fabian dan tatapan nya begitu sayu saat melihat keadaan Yuna yang memprihatinkan.Fabian masih tak percaya jika gadis yang terbaring di ranjang pasien adalah wanita nya yang sangat la cinta,namun tetap saja cinta nya itu ditolak Yuna.
"Kamu tau,Yuna?.Aku pergi demi memberi mu waktu untuk berpikir,lalu menerima cinta ku setelah malam panjang yang kita lalui.Tapi,alih-alih mendapatkan kata cinta mu,Aku malah harus melihat mu begini".Fabian meraba kaca tebal yang menjadi dinding pemisah antara la dan Yuna.
Fabian hanya bisa melihat Yuna dari jarak jauh dan tak bisa didekat Yuna.Dave tak mengijinkan nya masuk ke dalam ruang ICU Yuna.Alhasil Fabian hanya bisa menatap raga Yuna didinding kaca itu,tanpa bisa membelai dan mengecup kening Yuna,yang sangat ingin la lakukan.
"Maaf.Kamu siapa?.Sedang apa disini?".
Tatapan Fabian teralihkan dan menoleh pada wanita yang berdiri disampingnya dan sebaya orang tuanya.Wajah wanita yang begitu familiar dimata Fabian,dan sangat mirip dengan Yuna.
Tangan Fabian terulur,menarik tangan yang merupakan Mama nya Yuna,Anne,dan kemudian mengecup nya dengan takjim."Apa kabar Tante?.Sudah lama tidak bertemu.Aku Fabian,teman bermain Yuna sewaktu kecil.Aku tetangga Tante dulu".
"Baik.Jadi kamu putra bungsu Hanna dan Anthony?,dan juga adiknya Dave?".
"Benar Tante".
"Kamu kemari pasti mau menjenguk Yuna.Dave pasti yang memberi tau".
"Ya Tante.Aku turut prihatin Tante.Aku tidak menyangka Yuna akan seperti ini".
"Mungkin ini sudah takdir Yuna,Nak.Tapi yang Tante sesalkan,Tante tidak tau siapa lelaki yang merupakan ayah calon bayi Yuna?".
Fabian membulatkan matanya mendengar perkataan Anne yang membuat jantung nya terasa digebuk dan berdetak lebih cepat dari sebelumnya."Apa Tante?,maksud Tante,Yuna hamil?".
"Iya benar.Yuna mencoba bunuh diri karna hal itu.Dia tidak sanggup menanggung akibat dari dosa yang diperbuatnya".
Seluruh tulang belulang Fabian terasa patah dan remuk sehingga berpegangan pada kursi mendengar kenyataan jika Yuna telah mengandung benih yang la tanamkan dirahim Yuna.
"Tante,maaf!.Aku sangat menyesal mendengar ini,tapi aku harus pergi.Mari Tante".Gontai dan terhuyung Fabian melangkah pergi sejauh mungkin dari Anne dan dari rumah sakit.
Berlipat rasa penyesalan dan perasaan bersalah bermukim di hatinya saat mengakui Dialah penyebab Yuna hamil dan koma.Tetapi apa yang harus la lakukan sekarang?.Haruskah la bertanggung jawab atau lari tanggung jawab?.Bagaimana reaksi keluarga Yuna?,jika tau Dialah lelaki yang menjadi ayah janin yang dikandung Yuna.