-*-*-*-
Syakina POV.
Hari ini Mama Anne mengundang ku dan Mas Juan makan malam dikediaman nya.Untuk itu aku merias diri dengan gaun hitam yang sederhana dan sedikit riasan diwajah ku demi menghormati Mas Juan dan Mama Anne yang merupakan mertuaku.
Sebetulnya aku tidak begitu dekat dengan Mama Anne,tapi aku mengenal sosok lbu yang sangat baik hati dan lemah lembut itu.Berbanding terbalik dengan Mas Juan yang lebih mendominasi Mama Anne dan aku,termasuk orang-orang disekitarnya.
"Ayo pergi jika kamu sudah siap!.Aku tidak suka membuat Mama menunggu ku".
Aku berbalik dan menatap Mas Juan yang terpukau melihat penampilan ku.Tapi tidak berlangsung lama,Mas Juan kembali dengan muka zombie nya.Ya,walaupun zombie yang satu ini cukup menawan hati.siapa saja yang memandang Mas Juan,pastinya akan terjerumus ke lembah cinta nya yang curam dan gelap.Ku pastikan pula gadis yang tidak beruntung itu tidak akan dapat kembali naik ke puncak lembah.Ibarat diriku yang bodoh ini.
"Syakina.Waktu kita tidak banyak.Ayo cepat lagi!.Kenapa berdiri saja?".Jentikkan jari Mas Juan menyadarkan ku dari halusinasi ku yang konyol.
Oh tidak,apa yang kupikirkan hingga tertegun memandang Mas Juan,dan melupakan yang seharusnya ku lakukan.Ini bukan saatnya mengilustrasikan nasibku.
"Baik Mas".Ku ikuti langkah Mas Juan yang dominan hingga aku tertinggal jauh dibelakang.
Betapa menyedihkan diri ini.Nurani ku berharap Mas Juan menggandeng tanganku dan membuka kan pintu mobilnya untuk ku.Tapi aku yang payah ini terlalu banyak berharap yang jadinya berakhir kecewa.
"Aku minta jaga sikap mu didepan Mama.Aku tidak mau Mama curiga dan berpikir yang tidak-tidak.Kamu mengerti maksud ku,Syakina?".
Aku hanya menghela nafas panjang mendengar peringatan Mas Juan."Tidak harus Mas ingatkan.Aku sangat mengerti.Mas tidak perlu khawatir soal itu.Pikirkan saja yang harus Mas lakukan padaku.Puaskan hati Mas Juan untuk menyakiti ku".
"Syakina.Aku begini kamu tau betul sebabnya,kan?.Harus berapa kali ku katakan alasan nya,heuhhh?".
"Maaf Mas!.Aku terbawa emosi".
"Keluar kamu Syakina!.Berdebat dengan mu cuma membuang tenaga ku saja!".
Pintu mobil yang terbuka,bisa dipastikan jika aku harus enyah dari sisi Mas Juan.Kata lain yang artinya aku harus menumpangi kendaraan lain.Bisa kulihat betapa marahnya Mas Juan dari tatapan nya yang setajam anak panah jika terlepas dari busurnya akan menembus jantung ku.
"Baik.Tapi jangan salahkan aku jika Mama Anne menduga yang bukan-bukan".Ku miringkan senyuman autentik ku yang ditanggapi Mas Juan dengan decihan.
"Cihhh.Sialan!.Dasar singa betina yang menyebalkan".
Aku tersenyum bangga dapat menaklukkan pria yang sebuas Buaya Muara ini.Betapa pun lemahnya aku,tapi memiliki seribu alibi yang membuat Mas Juan tidak dapat berkutik lagi.Kesabaran dan ketegaran yang ku miliki mungkin ada batas nya,tapi kecerdasan ku tiada batas ruang dan waktu.
-*-*-*-
Flashback.
Banyak pegawai yang masih bersantai dan berbincang di Lobby gedung Tree Palace,membuat alis Syakina saling bertaut.Bukannya seharusnya jam kerja sudah dimulai jam 8?,setahu nya.Tetapi waktu sudah menunjukkan lebih dari itu,saat melirik jam tangannya.Bahkan la sendiri datang terlambat.Tetapi pegawai belum ada di bilik nya masing-masing dan malah asyik tertawa dan bercanda.
"Sudahlah!.Apa peduli ku?".Syakina menggedikan bahu,la tak mau pusing memikirkan hal itu.Lebih baik la fokus pada pria yang berjalan kearahnya.
"Perkenalkan,Aku Syakina Pak".Bersalaman dengan pria yang tampak sebaya dengan kakaknya,tetapi terlihat dingin dan datar raut wajahnya.Tanpa garis senyum sedikit pun membuat Syakina bergidik dan menarik cepat tangan nya.
"Aku Egi.Asisten Pak Juan.Kenapa kamu datang terlambat?.Boss sudah menunggu mu sejak tadi".
Syakina mengerutkan alisnya.Ternyata asisten Boss yang namanya Egi itu tak hanya dingin dan datar,cara bicara Egi juga kaku."Maaf Pak.Aku tidak akan mengulangi lagi.Tadi Aku tidak dapat menemukan kendaraan umum,dan Aku bisa sampai disini karna menumpang pada teman".
Melihat Egi menarik keatas satu alisnya,Syakina hanya menggigit bibir.Apalagi yang bisa la katakan selain kebenaran walaupun argumen nya tak masuk akal.Di Era ini masih menggunakan kendaraan umum?,yang benar saja.Egi saja seakan memandang nya aneh.Tetapi apa mau dikata jika itu memang dialami nya.
"Baiklah.Karna Nona pegawai baru,Aku maafkan.Tapi entahlah dengan Boss".
Syakina menggigit bibirnya lagi mendengar kalimat Egi yang terakhir.'Apa mungkin Boss akan memecatku di hari pertama ku bekerja?'.Ahhh,tidak mungkin!,belum bekerja sudah dipecat.Ya,jangan sampai itu terjadi.Syakina geleng-geleng kepala menepis hal itu.Jika sampai la dipecat dari pekerjaan yang susah payah didapat ini,tamatlah riwayatnya.Akan repot jika harus mencari pekerjaan lain yang sulit didapat.
"Lalu,apa yang harus ku katakan supaya Boss memaafkan ku,Pak?".
"Berikan argumen yang meyakinkan!,dan temui beliau sekarang!".
Syakina langsung tersenyum dan membungkuk karna Egi sudah menyemangati nya."Baik Pak.Terima kasih sudah memberi ku kesempatan.Aku akan berusaha sebaik mungkin".
Penuh semangat Syakina melangkah dengan panjang untuk menemui sang Boss.Walaupun gugup dan tidak tau harus berkata apa,tetapi la harus bisa meyakinkan hati Boss dan mendapat maafnya.lni adalah kesempatan terakhirnya untuk mempertahankan pekerjaan yang baru didapatkan.Meski hanya menjadi pegawai magang,tetapi ini pengalaman pertama bekerja yang tak boleh disia-siakan.Apalagi hanya disinilah la diterima bekerja,juga akan bekerja setulus hati dan sebaik mungkin.
Tree Palace Holding.Siapa yang tidak mengenal perusahaan yang diperhitungkan dalam dunia bisnis dan masuk nominasi 10 perusahaan terbesar se Asia.Tak hanya terbesar tetapi juga terkenal dan mendulang sukses.Maka Syakina tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Bagaimana ini? Aku sangat gugup.Ughhh.".
Syakina menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ruangan CEO.Tetapi tiba-tiba kaki nya terasa kaku dan bergetar sehingga sulit digerakkan.Semangatnya kembali pudar.Haruskah la mengetuk pintu?,atau tidak?.Atau kembali pulang saja?.Perasaan tak karuan ini mengganggu pikirannya hingga sukar menentukan sikap.
Apakah Boss nya galak,m***m dan tidak berhati mulia?.Ataukah sebaliknya?.Mungkinkah la dimaafkan atau ditendang keluar?.Semua rasa berbaur menjadi satu.Mengaduk hati dan pikiran Syakina.Selama ini Syakina tak pernah berhadapan dengan seorang Boss,apalagi CEO.Hanya sering berhadapan dengan orang penting.
-*-*-*-
"Kakak,aku pulang".Fabian melempar kopernya dilantai,lalu merebahkan tubuhnya di sofa sepulang dari traveling.
Perjalanan panjangnya yang memakan banyak waktu lama membuat Fabian terasa lelah.Sebenarnya la masih ingin menghabiskan waktunya berlibur di pulau Dewata selama 2 bulan sejak hari yang membakar hasrat nya itu.Namun entah mengapa,tiba-tiba ingin pulang secepatnya.
"Kamu sudah kembali,Bian?!.Bagaimana liburan mu?.Kamu bersenang-senang di sana?".
Fabian hanya tersenyum getir menatap kakaknya yang sibuk membenahi diri didepan cermin.Bukan kesenangan yang la dapat,walaupun niatnya ke sana untuk bersenang-senang dan mencari ketenangan.Raganya jauh disana tetapi jiwa dan terpakuu pada sosok gadis yang ada disini.
"Menyenangkan.Tapi aku kesepian tanpa kakak.Seharusnya kakak ikut Aku ke sana".
"Aku tidak bisa.Pria yang punya profesi seperti ku harus mengutamakan kepentingan orang lain.Bukan kesenangan sendiri.Apalagi saat ini,Aku sangat dibutuhkan".
Fabian mendengus dingin.Sudah pasti,Fabian tak meragukan kemampuan Dave sebagai seorang Dokter yang membanggakan dan sangat diandalkan.Tidak seperti nya yang hanya menggigit jari saja saat menelan ucapan orang-orang yang mencemooh nya sebagai pria payah yang tidak memiliki potensi.Hanya mengandalkan nama besar ayahnya dan kakaknya.Bahkan gadis yang la cinta dengan sedemikian rupa pun memandang nya sebelah mata.
"Semua orang pasti sangat membutuhkan kakak.Termasuk Aku".
"Oya Bian.Kamu masih ingat Yuna?"
Fabian memicingkan mata saat menatap Dave yang tiba-tiba membahas gadis yang la cinta dan rindukan."Kenapa kakak tiba-tiba membahas Dia?"
"Saat ini Yuna sedang lCU,dan kondisinya koma.Yuna memotong arteri nya dan nyaris saja tiada".
"Apa???".Mata Fabian terbelalak menatap Dave dan terperanjat saking terkejutnya.
Semalam la tidak bermimpi buruk tetapi mendengar kabar yang tidak mengenakkan.Apalagi gadis yang dibahas Dave adalah wanita terkasih nya.Inikah akibat dari perbuatannya?Apa Yuna koma karna nya?.
"Aku tau pasti kamu akan terkejut.Berapa lama kamu tidak bertemu Yuna,Bian?".
"Kakak.Aku lelah.Kita bicara lagi nanti".Fabian tak sanggup lagi mendengar soal Yuna dan memilih menghilang dari pandangan Dave.
"Yuna.Maafkan aku".
Fabian mengusap wajah nya dengan kedua tangannya,dan terduduk lemas dikamar.Hal ini tak pernah diduga akan didengar nya dari Dave.Apa yang terjadi pada Yuna sampai senekad itu?.la kah penyebab Yuna ingin mengakhiri hidup?,ataukah ada hal lainnya?.Disaat la sedang mencoba bersenang-senang di tempat lain guna menenangkan hati dan pikiran.Ternyata Yuna menderita.Inikah yang membuat nya gelisah ketika malam menjelang dan ingin segera pulang?.
-*-*-*-
"Aku sangat gugup.Ughhh...".
Syakina menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan CEO yang terasa bagaikan akan masuk ke kandang macan.Sebelumnya la tak pernah merasa seperti ini.Belum melihat rupa si empunya Boss saja Syakina sudah segugup ini.Apalagi saat berhadapan langsung dengan Boss.
"Permisi Pak.Aku akan masuk".Syakina menyunggingkan senyum saat kakinya dapat melangkah walaupun bergetar dan debaran jantungnya mengencang memasuki kediaman Boss besar Tree Palace yang belum pernah dilihatnya sama sekali.
"Kupikir kamu urung datang kemari.Apa bekerja di perusahaan ini,kamu anggap lelucon?".
Syakina menajamkan penglihatan saat tak dapat melihat wajah pria yang diterpa bias cahaya dari jendela.Hanya siluet tubuh pria yang berdiri menghadap nya itu yang terlihat.Namun suara bariton pria tampak familiar ditelinga nya dan Syakina merasa pernah mendengarnya.
"Maaf Pak.Aku ini yang pertama dan terakhir Aku datang terlambat".Syakina menekuk kepala,tak berani menatap wajah yang masih samar dilihatnya,tetapi Syakina menajamkan pendengarannya.
"Apa jaminan mu jika mengulanginya?".
"Jaminan?".Syakina terperangah.Seumur hidup baru kali mendengar seorang Boss meminta jaminan saat menginterogasi pegawai yang baru masuk ketika terlambat datang untuk bekerja.Apa ini memang sudah menjadi prosedur diperusahaan ini?.
"Benar!.Aku tidak suka membuat kesepakatan tanpa jaminan yang menguntungkan ku".
Suara yang menuntut Syakina untuk memberikan jawaban yang benar,tepat dan pasti membuat Syakina bingung harus berbicara apa."Aaku,aku...Aku akan melakukan apapun yang Bapak perintahkan!".
"Baiklah.Kita sepakat.Sekarang,pergilah ke tempat briefing!".
"Baik Pak.Terima kasih sudah memberi ku kesempatan ".Degup jantung Syakina yang semula bertalu-talu kembali normal hingga membungkukkan badan berkali-kali pada pria berwujud siluet itu dan diterima jaminannya oleh pria tak jelas wujudnya itu,walaupun tak sadar dengan ucapannya dan tak memikirkan konsekuensinya nanti.
Terpenting bagi Syakina bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa menunjang hidup nya.Lainnya tak penting lagi jika ingin bertahan hidup.Sebenarnya jika mau la bisa mengandalkan kekuasaan keluarga kakak ipar nya,Tara,dan kakaknya Aditya.Namun Syakina tak ingin mengusik kebahagiaan keduanya.