Bab 15 : Bertemu Ben

1583 Kata
Hingga pagi ini, keadaan masih aman. Blok C terhindar dari masalah, namun itu tak berlangsung lama. Selang dua jam kemudian, gejala keributan mulai tampak. Sipir mengizinkan masuk lebih banyak dari mereka pada saat jam makan siang. Pemimpin mereka yang dikalahkan Tre, langsung menemui Tre yang duduk memunggunginya sambil makan, sedangkan para penghuni Blok C masih tetap duduk di tempat masing-masing, beberapa di antaranya mulai gemetaran. “Hei, kau! Urusan kita belum selesai. Jangan harap ada peluang bagi kalian untuk lolos!” ancam pemimpin mereka dengan suara keras. Karena tidak mendapat respon dari Tre, Bryan menyodok pelan siku Tre dengan sikunya. “T-Tre, me-mereka datang. Ba-bagaimana i-ini?” tanyanya, sudah tidak berselera meneruskan menyantap makanannya. “Kau punya gangguan telinga, Tre?” lanjut laki-laki itu lagi. Rupanya kenang-kenangan yang ia dapat selepas bertarung dengan pekerja proyek itu, belumlah cukup menjadi pelajaran untuknya. “Atau kau tidak bernyali?!” serunya lebih keras. Tak sabar dengan sikap Tre yang meremehkannya. “Jelas, kau yang bernyali sebab berani datang kemari, di ruang makan kami.” Tre bangkit, lantas membalikkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan. “Kau yang paling bernyali karena meremehkan kami.” Lawannya bingung sesaat, gagal mencerna kalimat Tre barusan. “Apa maksudmu?” “Jumlah napi Blok D sekitar seratusan orang, karena secara logika, para napi dengan hukuman berat pasti lebih sedikit daripada para napi dengan hukuman ringan hingga sedang. Jadi, intinya, kami menang jumlah. Bilapun salah, itu tidak masalah. Hanya, aku senang mengetahui bahwa pada akhirnya, kalianlah yang menginjakkan kaki di sini.” ungkap Tre, memancing teman-temannya yang lain untuk bangkit dan tidak membiarkan pihak lain menindas keleluasaan mereka selama berada di rumah pesakitan. Beruntung, rencananya berhasil. Semua napi Blok C menyingkirkan rasa takut, dan mulai bangkit. Mereka menghentikan makan, berdiri, kemudian menghadap kepada gerombolan Blok D. Seketika itu juga, hawa di dalam ruangan itu berubah. Nyali lawan mereka menciut, kebingungan dengan posisi mereka yang sebenarnya … terdesak! “Kami bisa saja menutup pintu itu dan mulai menghajar kalian, tapi percayalah … tak seorang pun dari kami yang sudi membersihkan darah kalian yang bau, jadi … saranku, putar punggung kalian, berjalanlah ke pintu itu, dan jangan sekalipun memikirkan ini lagi. Kalian tidak akan menang. Saat ini, mereka semua adalah Tre yang sakit hati. Kita sudah tahu hasil akhirnya.” Ucapan Tre sekaligus gambaran, berapa banyak lagi darah yang akan tercecer. Bahkan mungkin, lebih banyak daripada sebelumnya. Termakan kalimat intimidasi tersebut, para napi Blok D memutuskan mundur teratur, demikian pula pemimpin mereka. Sorot mata mereka diselimuti dendam dan kemarahan, namun jika nekat, keadaan pasti akan berbalik, dan mereka belum siap untuk ini. Keinginan untuk menghajar pun, dibatalkan. Mereka pun pergi. Pintu pun ditutup dan para napi Blok C berteriak penuh kegembiraan. Mereka menang bahkan tanpa harus berbuat apa-apa, tanpa harus mengalami luka-luka. Sam memberi isyarat agar diam, dan Tre pun mulai angkat bicara, “Sudah kubilang, kalian hanya perlu bersatu. Kurasa, kita bisa bertahan dengan itu. Sekarang, kita teruskan makan.” ajak Tre, diikuti oleh teman-temannya termasuk Sam dan Bryan. Ketika duduk, Bryan sedang berjuang mengucapkan kata tertentu dan Tre segera berkata, “Diamlah dan makan, Jangan dulu memikirkan apapun.” Ia menirukan kata-kata Vanessa. Mendadak, sesendok demi sesendok makanan itu terasa pahit. Vanessa, apa yang dilakukannya sekarang? Dapatkah dia tidur nyenyak? Masihkah dia menangisi nasib suaminya yang malang sepanjang malam? Rasanya ingin kabur dan menemuinya sekarang juga, akan tetapi, mustahil! Yang akan didapat justru penambahan masa hukuman. Ketika matahari meninggi, sesuai jadwal, jam kunjungan diadakan. Kejutan! Namanya dipanggil. Sudah pasti itu Ben, pikir Tre. Tebakannya tepat. Mereka pun bertemu dan bicara dipisahkan pembatasan kaca. “Bagaimana? Ada perkembangan?” Tre sudah tak sabar. Ben malah terpana melihat luka-luka lebam di sekitar wajah dan juga bekas darah. “Kau berubah profesi menjadi petinju di sini?” Tre terkekeh. “Ini yang kumaksud bahaya, tapi bukan masalah besar. Bahaya yang sesungguhnya masih ada di luar sana.” Tre menerima beberapa lembar formulir penarikan tabungan yang tinggal ia tanda tangani. Dipelajarinya lebih dahulu supaya terhindar dari kesalahan. “Luar biasa! Semua data benar. Kau memang canggih, Ben.” puji Tre tulus. “Ada kenalanku di bagian administrasi. Aku tinggal minta tolong padanya.” “Lalu, Vanessa? Kau tidak menemuinya?” Ben menunduk, lalu menggeleng. “Maafkan aku, aku tidak bisa.” “Apakah ada sesuatu? Dia mengusirmu atau ada pria lain?” selidik Tre serius, selesai menandatangani formulir yang dibawa Ben. “Ah, tidak. Tidak ada masalah apapun.” tepisnya. “Kalau begitu, apa masalahnya?” Kali ini, Tre benar-benar penasaran. “Katakan, Ben, ada apa?” “Aku hanya menghindari gosip atau fitnah yang beredar. Seorang istri yang sendirian di rumah, ditemui setiap hari oleh sahabat suaminya, kira-kira, apa yang akan terjadi?” Ben setengah melawak. “Aku hanya ingin menjaga itu darimu. Lagi pula, Vanessa akan meneleponku jika butuh sesuatu yang tidak bisa dia jangkau.” “Kau benar. Mengapa tak terpikirkan olehku? Maafkan aku, Ben. Aku minta bantuan terlampau jauh. Terima kasih banyak.” “Jadi, ini tinggal transfer. Aku sudah menelepon Vanessa untuk memeriksa tabungannya jika cair. Aku akan memberitahunya.” Ben memasukkan berkas tadi ke dalam tasnya. “Sekali lagi, terima kasih. Aku tidak bisa melakukannya tanpamu, Ben.” “Ini bukan masalah, Tre. Justru kau yang sedang terlibat masalah. Aku bingung bagaimana harus membantumu.” Tre menatap Ben tajam hingga sahabatnya itu sedikit terkejut. “Ingat, jangan sekali-kali menyelidiki kasus ini, kau mengerti? Biar kuatasi sendiri. Orang-orang itu merenggut hidupku. Aku akan membuat perhitungan, bila saatnya tepat. Aku yakin, sampai kapanpun, mereka tidak akan melepasku. Ini hanya awal permainan mereka saja. Membuatku dipenjara.” “Permainan apa? Mengapa kau tidak mengizinkan siapapun untuk membantumu? Tre, orang-orang seperti itu sangat berbahaya!” Ben malah tertekan saat mendengar penjelasan Tre. Pria biasa seperti mereka, mana mungkin sanggup mengatasi semua ini tanpa bantuan polisi. “Kita tidak bisa membicarakan mereka di sini. Aku tidak ingin melibatkanmu. Hiduplah normal dan wajar seperti biasanya. Hiduplah dengan bahagia. Jangan terlalu memikirkan kebebasanku. Asal Vanessa baik-baik saja dengan bayi kami, aku pun dapat menerima ini sebagai bagian dari ujian hidupku. Di dunia ini, apapun bisa terjadi dan aku harus siap.” Jawaban Tre terkesan abstrak, tetapi Ben dapat mengartikannya dengan baik. “Maksudmu, jika seseorang membantumu, maka mereka juga akan melakukan hal yang sama pada orang itu?” Tre mengangguk. “Kita bahas yang lain saja. Bagaimana dengan rekan-rekan di proyek? Mandor pasti senang sekali dengan pemecatanku, ‘kan?” “Dari mana kau tahu?” “Bukankah sudah kesepakatan awal, bahwa perusahaan berhak memecat karyawan yang tidak masuk selama berhari-hari?” Mendengar itu, Tre menghela napas panjang. Ia butuh beberapa saat sebelum mengungkapkan peristiwa yang terjadi. “Tre, kau dipecat bukan karena itu, melainkan polisi yang memberitahu kabar penangkapanmu.” “Apa?!” “Tampaknya, seseorang sangat menginginkan dirimu kehilangan segalanya. Kupikir aneh, tetapi setelah mendengar ceritamu, semuanya jelas sekarang. Mereka melibatkanmu dalam sebuah skandal. Skema kejahatan yang membuatmu menerima hukumannya.” Peringatan jam kunjungan telah menyala. Saatnya bagi Ben untuk pamit. “Aku akan sesekali menjengukmu walaupun tanpa Vanessa, seperti keinginanmu. Sampai jumpa.” Ia berdiri, lantas meninggalkan Tre dalam dunia barunya lagi. Dunia baru yang kelam dan kejam. Tre masuk ke dalam sel diantar sipir. Seperti biasa, pintu jeruji pun tertutup. Sam yang duduk di kasurnya, meliriknya sambil membaca buku. “Bagaimana kunjunganmu? Melegakan hatimu?” Tre tak menggeleng, tidak juga mengangguk. Sam membiarkannya menjawabnya sendiri. “Aku dan Vanessa, aku … aku harus melindunginya. Tapi, bila dengan cara seperti ini, aku tidak yakin apakah masih sanggup … .” “Bertahan?” Sam tersenyum penuh arti. “Dia begitu cantik, anggun dan suci. Semua pria pasti jatuh cinta ketika melihatnya. Sedangkan aku? Yang kuberikan padanya hanyalah penderitaan. Melalui masa-masa kehamilan dan persiapan bersalin pastilah merepotkan tanpa kehadiran seorang suami.” Tre menghela napas panjang, lanjutnya, “Sebentar lagi, dia harus memikirkan cara untuk bekerja, untuk membeli kebutuhan putra kami dan membayar tagihan. Sulit bagiku membayangkan itu!” Tre menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Pada bagian itu, batinnya tersiksa. “Fase pertama kehidupanku saat dipenjara, kira-kira sepertimu. Bedanya, aku punya banyak uang. Istri mudaku bermandi uang dan perhiasan. Dan seorang putra angkat yang kubesarkan hingga dewasa. Kau tahu apa yang mereka lakukan tanpaku? Mengambil alih perusahaan, menikah dan bersenang-senang! Tiap kali mengingat saat melamar gadis itu, aku merasa berdosa kepada mendiang istri pertamaku. Aku sudah berjanji menjaga cinta kami yang abadi, tapi … semua hilang sekejap dalam semalam.” “Jadi, kau seorang pengusaha.” “Benar, dan sangat sukses." "Apa yang terjadi dengan pekerja kantoran yang menerima hukuman ini demi menyelamatkan putranya? Kau memberiku kisah hidup yang berbeda-beda, jadi entah mana yang harus kupercaya." Tre terkekeh, teringat masa lalu Sam yang pernah diceritakan kepadanya. "Kali ini, aku mengatakan yang sebenarnya. Hanya kepada seorang sahabat aku berani jujur. Terus terang, aku malu mengatakan kenyataan yang terjadi. Bila dipikir lagi, aku tidak menyangka, masih juga bodoh soal kesetiaan. Selama seseorang berjanji, maka dengan rela kuberikan apa saja.” jelas Sam, membuat Tre semakin larut dalam renungan yang paling dalam. “Dengan kata lain, kau harus siap saat istrimu menghubungimu hanya untuk meminta restu darimu. Maaf, Tre, tapi itulah kenyataan. Siapapun harus siap ditinggalkan, termasuk dirimu.” "Maaf, itu tidak berlaku bagi Vanessa. Dia mencintaiku." ujar Tre menyangkal pendapat Sam. Mimpi buruk, jika Vanessa sampai hati melakukan itu. Walaupun Tre tahu, mustahil menyalahkan istrinya hanya karena dia ingin hidup yang lebih terjamin bersama suami yang selalu ada untuknya. Enggan memikirkan itu terlalu jauh, Tre pun berbaring. Matanya tertutup dan sebentar lagi larut dalam bunga mimpi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN